Author: Christopherus

  • Spiritual Nourishment (Memaknai Pertumbuhan Rohani Berdasarkan 1 Petrus 2:2-3)

    Dalam kehidupan sehari-hari, istilah “stunting” sering digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana anak-anak mengalami gangguan pertumbuhan fisik akibat kurangnya asupan gizi yang memadai. Stunting menyebabkan tinggi badan anak lebih rendah dari rata-rata anak seusianya dan dapat berdampak negatif pada perkembangan kognitif serta kesehatan mereka di masa depan. 

    Namun, tahukah kita bahwa ada juga yang disebut “stunting rohani”? Sama seperti tubuh fisik yang membutuhkan nutrisi yang tepat untuk tumbuh dan berkembang, demikian juga kehidupan rohani kita. Kita memerlukan “nourishment” atau nutrisi rohani yang sesuai untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

    Dalam 1 Petrus 2:2-3, Rasul Petrus menulis, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.” Ayat ini mengandung makna yang sangat mendalam tentang kebutuhan kita akan makanan rohani yang murni dan tepat untuk bertumbuh dalam iman.

    Bayangkan seorang bayi yang baru lahir. Seorang bayi sangat bergantung pada susu untuk tumbuh dan berkembang. Susu memberikan semua nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan kesehatan bayi. Dalam konteks rohani, kita adalah bayi-bayi yang baru lahir yang memerlukan air susu rohani yang murni – Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah sumber nutrisi utama yang kita butuhkan untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan.

    Namun, tidak sedikit orang Kristen yang mengalami “stunting rohani.” Mereka mungkin telah lama berada di gereja, tetapi pertumbuhan rohani mereka stagnan. Mereka tidak lagi haus akan Firman Tuhan seperti seorang bayi yang selalu ingin akan susu. Mereka puas dengan pengetahuan yang dangkal dan tidak mencari kedalaman yang lebih dalam dalam pengenalan akan Tuhan. Kondisi ini mirip dengan anak yang mengalami stunting fisik; meskipun secara fisik mereka tampak ada, tetapi mereka tidak berkembang dengan semestinya.

    Salah satu penyebab stunting rohani adalah kurangnya asupan Firman Tuhan yang murni dan berkualitas. Kita mungkin terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari sehingga melupakan waktu untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Atau mungkin kita lebih sering terpapar pada “junk food” rohani – pengajaran-pengajaran yang tidak berdasarkan kebenaran Alkitab atau yang hanya memberikan kenyamanan sesaat tanpa menantang kita untuk bertumbuh.

    Selain itu, stunting rohani juga bisa disebabkan oleh kurangnya komunitas yang mendukung pertumbuhan rohani. Seperti bayi yang membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang tuanya, kita juga membutuhkan komunitas orang percaya yang saling membangun dan menguatkan. Tanpa komunitas yang sehat, kita bisa kehilangan semangat untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman.

    Petrus mengingatkan kita bahwa kita harus selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani. Ini berarti kita harus terus menerus mencari dan mengonsumsi Firman Tuhan dengan kerinduan yang besar. Kita perlu menjadikan pembacaan dan perenungan Firman Tuhan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. Hanya dengan demikian kita bisa bertumbuh dan beroleh keselamatan.

    Spiritual Nourishment atau nutrisi rohani adalah konsep yang sangat penting dalam kehidupan iman kita. Sama seperti tubuh fisik yang memerlukan makanan yang sehat dan bergizi untuk bertumbuh, demikian juga roh kita memerlukan makanan rohani yang murni dan berkualitas – Firman Tuhan. 

    Saudaraku, stunting rohani adalah kondisi yang serius dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk bertumbuh dalam iman dan pengenalan akan Tuhan. 

    Marilah kita mengambil waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan, mencari komunitas yang mendukung, dan selalu haus akan pertumbuhan rohani. Dengan demikian, kita dapat menghindari stunting rohani dan mencapai potensi penuh yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Amin. (EBWR)

  • RUMAH MAKAN PRASMANAN SEDERHANA

    Letaknya di jalan raya ke Kawasan industri Cikarang di Jawa Barat. Berdiri sejak tahun 1986, buka dari jam 09.00 hingga 20.00, ada 20-an karyawan dan juru masak, ruang tidak pakai AC cukup kipas angin, meja kayu dan kursi plastik, juga punya fasilitas pendukung seperti beberapa toilet dan washtafel, dan hingga hari ini menjadi suatu ikon untuk rumah makan yang murah meriah di kawasan itu, favorit bagi ribuan karyawan dan direksi yang pernah bersantap di situ.

    Hidangannya sederhana saja, ada hampir 40 lauk yang dimasak enak dan gurih. Orang yang datang ambil piring sendok sendiri, mencedok nasi putih atau merah sendiri, dan mengambil sendiri hidangan-hidangan yang disajikan, boleh banyak atau sedikit, asal jangan tidak dihabiskan. Selesai santap tinggal lapor ke pemilik apa saja yang disantap, dan si ibu menghitung dengan menggunakan kalkulator, ditunjukkan ke pembeli dan kemudian membayar kontan. Kalau ada lauk yang dimakan dan lupa lapor, jika bersantap lagi ya tinggal bilang tempo hari lupa lapor lauk ini, lalu kekurangan akan ditambahkan.

    Kami sekeluarga bila berkunjung ke Bandung dari Jakarta tidak lewat tol MBZ, nyaris selalu santap siang di sini. Anak-anak sudah hafal apa menu favoritnya, cumi dan sotong, rempeyek dan sate udang, macam-macam sayur terutama tumis jamur, gorengan lengkap dan krupuk, per orang sekitar Rp 35.000. Saya ingat di tahun 1986 jika santap dengan menu nasi, daging, sayur, krupuk, teh botolan dan es krim harganya Rp 11.000, dan kini sekitar Rp 40.000.

    Rumah makan prasmanan sederhana ini demikian diberkati Tuhan, dan pemiliknya bisa memiliki lahan yang luas, membangun mushola yang bersih di situ, dan sekitar 100 meter juga ada mesjid yang warna corak hiasannya sama seperti mushola, tetapi si pemilik warung bilang itu dibangun ramai-ramai oleh warga. Dan setiap Jumat pasti ada puluhan nasi box diletakkan di tangga masjid, diambil oleh anak-anak kecil dibawa pulang, – isinya nasi, satu daging, dan satu lauk sayur seperti di rumah makan, sedangkan umat yang dewasa nampaknya tidak ada yang mengambilnya. Nah ini, tidak ada pengemis atau pengamen di daerah itu, jadi kehidupan warga nampak berkecukupan.

    Sering aku berpikir kalau saat santap di situ, mengapa di gerejaku jarang ada orang yang sedemikian berhati sosial seperti pemilik rumah makan. Untuk kolekte dan sumbangan pembangunan gereja mesti Pak Pendeta mengingatkan jemaat setiap minggu, itupun sering dibumbui bahwa memberikan persembahan itu seperti orang yang menabur, lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat. (Markus 4:20).

    Juga ayat ini sering dikutip, 2 Korintus 9:7: Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

    Wajib dikhotbahkan setahun sekali saat presentasi anggaran untuk tahun depan, yakni dari Maleakhi 3:11: “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.”

    Wah jadi untuk memberikan persembahan mesti warga jemaat dimotivasi, terutama karena ada imbalannya dari Tuhan, padahal segala persembahan itu digunakan untuk operasional gereja dan gaji rohaniwan yang ada di dalamnya.

    Apalagi jika mesti menyediakan konsumsi atau makanan kecil tiap minggu bagi jemaat usai bubaran kebaktian, mesti diabsen dulu siapa yang mau menyumbang dan untuk periode berapa lama. Bahkan di gereja sebelah baru-baru ini ada pengedaran kupon Rp 25.000 per lembar untuk dana pembangunan dan di akhir tahun akan diadakan lucky draw dengan hadiah utama pelesir ke Holy Land, kulkas, sepeda listrik, dan lain-lain maksudnya agar banyak yang menyumbang dan anggaran pembangunan dapat dipenuhi.

    Nampaknya di lingkungan gerejaku untuk managemen persembahan kok cukup rumit dan mesti melibatkan banyak orang.

    Saudaraku, yakin percayalah, jika kita bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai ajaran Alkitab, yakni menghasilkan produk atau jasa yang baik kualitasnya, pas timbangannya, tidak menipu bahan-bahan atau materialnya dan tidak memeras buruh, maka mata Tuhan akan melihat apa yang engkau buat. Dan sangat mudah bagi Tuhan untuk menurunkan berkat, sesuai Firman Tuhan: Mazmur 115:11-13: “Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! — Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka. TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati … orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar.” (Surhert).

  • TURUN LAYAR

    Ini tentang salah satu company terpanjang usianya di dunia, namanya The Royal Mint (TRM), ada di Kerajaan Inggris. Berdiri sejak tahun 886 Masehi (DCCCLXXXVI) pada abad ke-9, merupakan perusahaan pembuat koin bagi Kerajaan Inggris (UK, United Kingdom). Lokasi perusahaan dari semula satu komplek dengan istana Kerajaan, ada di bagian belakang, menerbitkan uang logam koin resmi yang dipakai transaksi, dan atas perintah Raja diedarkan oleh Bendahara Negara atau Treasury ke berbagai pelosok negeri, bahkan ke seluruh dunia. Ini dilakukan selama beratus-ratus tahun, sejak tahun 886, sudah 1.138 tahun hingga tahun 2024.

    Setiap Kerajaan pasti memiliki dan mengedarkan uang sendiri, terutama uang logam koin sebelum penggunaan uang kertas menjadi lazim. Bentuk koin berbagai macam, umumnya bundar, ada pula yang kotak, dan materialnya paling umum dari nickel karena tahan lama dan mengkilap (di Indonesia Rp1000 koin). Ada juga uang dari logam emas dan logam perak, dipakai untuk koin pecahan besar, sedangkan copper (tembaga) dan brass (kuningan) bersama nickel dipakai untuk koin pecahan kecil guna transaksi sehari-hari.

    Uniknya koin produksi TRM bisa turun temurun dipakai oleh Raja-raja Inggris dari tahun 886 hingga hari ini, terutama karena Wangsa atau dinasti Kerajaan Inggris runut turun temurun, tidak ada pergantian kekuasaan. Di negara atau kerajaan-kerajaan lainnya memiliki koin sendiri, namun jika terjadi pergantian kekuasaan atau negara dijajah oleh negara lain maka pemerintah baru umumnya mengganti koin dan diproduksi oleh anak buahnya sendiri, dan celakanya para pembuat koin jaman sebelumnya sering dibinasakan atau dibunuh dengan maksud agar tidak bisa menerbitkan koin palsu di jaman pemerintah baru.

    Ada Direktur TRM yang sangat terkenal, yakni fisikawan Sir Isaac Newton (25 Des 1642 – 20 Mar 1726/27 –beda kalender Julian dan Gregorian) yang menjabat sebagai Direktur atau Master of Mint sejak tahun 1699 hingga akhir hayatnya. TRM sendiri juga menjadi pemasok dan eksportir uang logam ke lebih dari 60 negara setiap tahunnya, juga memproduksi bullion atau logam emas.

    Nah ada berita yang mengejutkan pada bulan April 2024, ternyata divisi pembuatan koin TRM turun layar, bukan bangkrut, alasan utamanya karena pesanan koin dari negara-negara pelanggannya jauh menurun, harga logam material naik tajam, dan produksinya terkenal awet bagus jadi bisa digunakan bertahun-tahun tanpa perlu diganti, juga HM Treasury UK tidak memesan lagi koin karena transaksi yang menggunakan koin banyak beralih menjadi digital, tidak perlu uang logam koin.

    Saudaraku, perhatikan, itu company milik Raja Inggris yang umurnya 1.138 tahun ternyata turun layar di tahun 2024. Nah kalau gereja, yang katanya milik Tuhan, bisa berlangsung kekal tidak bakalan tutup? Siapa bilang? Di Eropa, Amerika dan Australia kita melihat puluhan bahkan ratusan gereja tutup, lalu gedungnya diambil alih pemerintah sebagai ikon budaya masa lalu dan untuk pembiayaan maintenance maka pemerintah mengenakan “church tax” bulanan kepada warga.

    Bagaimana supaya  gereja tidak  turun layar bahkan semakin beretumbuh? Masing-masing gereja harus berdoa dan berjuang untuk menjadi JEMAAT YANG DISUKAI BANYAK ORANG. Untuk itu mari kita merenung Kisah Para Rasul 2:38-47 dengan penekanan pada ayat 47. 

    Saudaraku, beragam usaha manusia agar diri mereka disukai. Ada yang mati-matian menjaga penampilan fisiknya. Sebagian berupaya agar populer. Cukup banyak pula yang bermurah hati dan berbagi dengan banyak orang. Ada yang selalu melontarkan lelucon dan banyak bercanda. Namun kerap usaha-usaha ini berakhir dengan kekecewaan. Sebab relasi yang terjalin bersifat dangkal dan tidak permanen.

    Cerita berbeda dengan jemaat mula-mula. Bukan hanya satu atau dua jemaat saja yang disukai, melainkan segenap kelompok mereka. Padahal biasanya orang tidak suka dengan kumpulan orang bila dirinya tidak tergolong ke dalam kumpulan itu. Orang juga sering merasa terganggu jika ada kelompok, apalagi kelompok besar, mengadakan acara yang asing bagi mereka. 

    Apakah rahasianya sehingga jemaat mula-mula bahkan semakin bertambah jumlahnya? Mereka ternyata telah bertobat dan menerima karunia Roh Kudus (Ayat 38). Kesatuan dan saling berbagi terus terpelihara (Ayat 44). Juga senantiasa mengenang dan bersyukur atas pengorbanan Kristus yang menebus dosa (Ayat 46). Selain itu, mereka hidup tulus, tidak punya agenda terselubung agar diri mereka diuntungkan dan disukai.

    Jika diri kita atau gereja tidak bertumbuh, patutlah kita becermin kepada jemaat mula-mula. Benar bahwa kita tidak bisa meniru sepenuhnya kehidupan orang percaya yang pernah sukses di masa silam. Namun kita dapat meneladani jemaat mula-mula yang mengejar KASIH YANG TULUS. Kasih itu muncul oleh pengenalan dan relasi mereka dengan Kristus Yesus.   

    Saudaraku, rahasia menjadi diri dan jemaat yang bertumbuh adalah mengenal Yesus melalui doa dan pembacaan Alkitab, serta mengembangkan kasih yang tulus kepada semua orang. (Surhert).

  • Pure Promise

    PERAK MURNI. Sahabat, Perak Murni didefinisikan sebagai perak murni 99,9%, tetapi terlalu lunak untuk sebagian besar kegunaan, dan 925 sterling silver sebenarnya adalah paduan perak. 925 sterling silver mengandung 92,5% perak, dan sisanya 7,5% adalah logam lain, yang paling umum adalah tembaga. 

    Menambahkan logam berbiaya lebih rendah-digunakan untuk mengeraskan paduan yang dihasilkan sehingga logam dapat dicetak menjadi bentuk yang tidak akan berubah selama penggunaan.

    Perak murni kehilangan kilaunya selama bersentuhan dengan udara.Perak murni, seperti emas, tidak menghitamkan atau mengoksidasi permukaan. Ini adalah logam paduan yang menarik korosi.

    Gosok sepotong perak murni yang tampak berkilau dengan ibu jari,  dan kita mungkin menemukan noda samar di kulit ibu jari, yang menunjukkan bahwa 925 sterling silver mulai kehilangan kilaunya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Pure Promise (Janji yang Murni)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 12:1-9 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, di masa sekarang pemurnian perak dilakukan dengan proses elektrolisis, yaitu dengan memasukkan beberapa unsur kimia, maka biji-biji perak akan terpisah dari kotoran atau logam lainnya sehingga dihasilkan perak murni. 

    Di masa Perjanjian Lama, untuk mendapatkan perak terbaik harus melalui pemurnian dengan dipanaskan diatas api sampai tujuh kali. Jika ditanyakan hasilnya, tentu saja proses yang membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang akan menghasilkan perak kualitas terbaik.

    Raja Daud mengibaratkan janji Allah seperti perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah (Ayat 7). Ada tiga hal penting untuk kita pahami dalam bacaan kita pada hari ini. Pertama, perak teruji menyatakan bahwa janji Allah adalah janji yang murni dan ditepati. Allah tidak pernah ingkar janji. Jika Ia berbicara, Ia akan menepatinya. 

    Kedua, tujuh kali dimurnikan yang artinya Allah mempertimbangkan baik-baik sebelum mengucapkan janji-Nya. Angka tujuh adalah angka yang sering muncul di Alkitab yang banyak dipercayai para ahli tafsir sebagai angka kesempurnaan.

    Ketiga, dapur peleburan di tanah, yang melambangkan kesabaran, seperti para perajin perak Ibrani yang melakukan pembakaran perak dengan duduk sabar semalaman di dapur peleburan di tanah untuk menjaga agar api tetap hidup, dan tungku berada pada suhu sempurna.

    Sahabat, analogi janji Allah dan perak murni yang dinyatakan Daud dalam Mazmur 12 menggambarkan demikian sempurnanya janji Allah. Karena janji tersebut telah teruji, maka sebelum pantas menerimanya, kita juga harus tahan uji dalam menjalani kehidupan. Jika kehidupan kita terasa seperti dibakar tujuh kali dalam tungku yang membara, ingatlah bahwa proses yang panjang dan detail akan memberikan hasil yang terbaik.  Bertahanlah dalam ujian kehidupan, ALLAH TIDAK PERNAH INGKAT JANJI. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semoga Allah menolong kita untuk tetap setia berpegang pada janji-Nya, sebab Dia setia. (pg).

  • Live Courageously

    ORANG BENAR. Sahabat, banyak orang menginginkan hidupnya sebagai orang benar. Namun menjadi orang benar yang senantiasa benar-benar hidup dalam kebenaran tidaklah semudah mengatakannya. Dalam Alkitab, Daniel adalah orang benar, yang senantiasa berpegang pada kebenaran yang sudah diketahuinya. 

    Apa buktinya? Tuhan berfirman kepada Yehezkiel ketika Ia hendak menghukum dosa orang Israel: “Dan biarpun Nuh, Daniel dan Ayub berada di tengah-tengahnya, demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, mereka tidak akan menyelamatkan baik anak laki-laki maupun anak perempuan, melainkan mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka,” (Yehezkiel 14:20). Luar biasa, pujian yang diberikan Tuhan pada Daniel, bahwa kebenaran itu dihidupinya, ternyata benar-benar penting hingga diulang tiga kali (Yehezkiel 14:14,16,20). 

    Daniel adalah satu dari empat pemuda Yehuda yang ditawan Nebukadnezar raja Babel, saat menaklukan Yoyakim Raja Yehuda di Yerusalem, yakni Hananya yang dinamai Sadrakh, Misael yang dinamai Mesakh dan Azarya yang dinamai Abednego. Karena mereka tidak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak dan memiliki pengertian tentang ilmu, mereka pun diajarkan tulisan dan bahasa Kasdim selama tiga tahun untuk bekerja di istana Raja. Lalu, Raja juga menetapkan makanan enak dan anggur yang biasa diminumnya untuk diberikan kepada empat pemuda tersebut. Namun, Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan itu. 

    Jadi, Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat, dan mendapatkan pengertian tentang berbagai penglihatan dan mimpi. Ketika Raja memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, terbuktilah Daniel 10 kali lebih cerdas dari semua orang berilmu dan ahli jampi di seluruh kerajaannya. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Live Courageously (Hiduplah Dengan Berani)”. Bacaan Sabda diambil dari : Mazmur 11:1-7. Sahabat, diperlukan keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan dalam menghidupi kebenaran firman Tuhan.

    Pemazmur tidak takut dengan ancaman ataupun bahaya yang ia hadapi karena ia tahu bahwa tidak ada satu pun manusia yang luput dari pandangan Allah (Ayat 1-4). Allah menguji setiap hati, baik orang benar maupun orang fasik (Ayat 5). Allah tidak membiarkan orang-orang fasik dengan segala kekerasan mereka. Keadilan Allah akan menghukum dan membinasakan mereka (Ayat 6). Sedangkan, bagi orang-orang benar, mereka akan memandang wajah Allah (Ayat 7).

    Pemazmur sadar betul bahwa menghidupi kebenaran di dalam Allah penuh dengan risiko yang harus dihadapi. Meski demikian, ia tidak lari untuk menghindari segala risiko itu. Meski nyawanya terancam oleh karena mempertahankan kebenaran Allah, ia tidak takut. Ia justru menghadapinya dengan berani. Imannya kepada Allah menjadi dasar yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dasar ini tidak boleh hancur hanya karena kenyataan hidup serta situasi kehidupan yang mengancam kehidupan.

    Keberanian Pemazmur ini datang bukan dari dirinya, melainkan dari pengenalannya akan Allah. Ia percaya bahwa Allah tidak akan tinggal diam. Ia akan bertindak dalam kasih dan keadilan-Nya. Inilah yang menjadi jaminan bagi Pemazmur dalam menghadapi berbagai ancaman yang datang. Allah adalah satu-satunya tempat perlindungan yang paling aman baginya. Ia hanya perlu hidup takut akan Allah dan hidup dalam ketaatan kepada kehendak Allah.

    Selalu ada pilihan untuk lari mencari keamanan dan kenyamanan diri. Namun, iman kepada Allah harus tetap menjadi dasar dalam kehidupan orang percaya.

    Sahabat, sebagai orang percaya, tujuan kita bukanlah untuk hidup aman dan nyaman di dunia ini, melainkan hidup benar di hadapan Tuhan. Jika iman kita mulai terancam oleh kenyataan pahit dalam hidup ini, ingatlah bahwa ada Allah yang siap menyelamatkan kita. Mari kita jalani hidup ini dengan berani karena ada Allah bersama kita dan siap menyelamatkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang benar?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mata Tuhan memandang orang benar dengan kasih-Nya. (pg).

  • PERSEMBAHAN HIDUP

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Roma 12:1:  “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

    Ayat tersebut  sering dikhotbahkan untuk tema bagaimana kita bisa beribadah dengan benar. Juga ayat tersebut sering dibacakan  sebelum kantong kolekte diedarkan dengan tujuan agar jemaat dapat memberikan persembahan yang terbaik. 

    Jika kita menelisik kapan ayat Roma 12:1 ditulis, kita akan mengetahui bahwa ayat tersebut ditulis oleh Rasul Paulus antara tahun 55 dan 56 M, ditujukan khususnya untuk jemaat Kristen yang ada di kota Roma. 

    Nah di tahun-tahun itu Kaisar Nero menjadi penguasa Kekaisaran Romawi, memerintah dari tahun 54M sampai tahun 68M, terkenal sebagai tirani dan kekejaman, melakukan banyak eksekusi, termasuk ibunya dan saudara kandung adopsinya, juga kaisar yang membakar kota Roma, dan membunuh ratusan umat Kristen yang dituduh membakar Roma sebagai pemberontakan.

    Ratusan orang Kristen dijadikan budak dan tawanan, dibawa ke arena Koleseum yang dihadiri hingga 50.000 penonton, dijadikan tontonan untuk melawan serigala, singa dan tawanan-tawanan perang dari berbagai daerah jajahan Romawi yang dilatih sebagai gladiator. Orang-orang hukuman, budak dan tawanan harus mati di arena ini, jika ada yang masih sekarat, maka gladiator harus memenggal lehernya dan suara erangan terakhir ini sangat dinikmati oleh Nero dan rakyatnya.

    Orang Kristen saat itu bisa menyelamatkan diri, hanya lari meninggalkan kota Roma namun dikejar-kejar pasukan Romawi, bisa selamat atau tertangkap. Namun cara yang paling selamat dan tetap bisa hidup yakni bila menyangkal sebagai orang Kristen, mengaku sebagai rakyat Romawi yang menyembah puluhan dewa-dewi dan ikutan melakukan perbuatan a-susila dalam kuil-kuil salah satu dewata perempuan. 

    Tapi kalau tetap setia pada Tuhan Yesus, ya siap-siap saja segera tertangkap atau ditangkap, disiksa dan menunggu waktu dijadikan giliran sebagai umpan di arena gladiator.

    Saudaraku, karena itu apa yang disebutkan di Roma 12:1 supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati; Ini menjadi ujian dan tantangan yang sesungguhnya, hidup atau mati bagi umat Kristen saat itu, siap mempersembahkan diri sepenuhnya, tetap menjaga kekudusan di tengah kebobrokan moral rakyat Romawi, hingga berani menghadapi kematian dengan cara-cara yang paling keji dan menyakitkan di arena gladiator.

    Apa arti ibadah? Tuhan sendiri memfirmankan kepada orang Israel untuk melaksanakan ibadah, dan perintah ini diturunkan segera setelah Sepuluh Perintah Allah diucapkan oleh Tuhan sendiri.

    Keluaran 20:22-24:  Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Kamu sendiri telah menyaksikan, bahwa Aku berbicara dengan kamu dari langit.  Janganlah kamu membuat di samping-Ku allah perak, juga allah emas janganlah kamu buat bagimu. Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau.” 

    Arti ibadah sesuai perintah Tuhan ini: Ketaatan pada Tuhan, tidak menduakan Tuhan, diwujudkan dengan membuat mezbah bakaran,

    Mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah, di setiap tempat yang ditentukan oleh Tuhan sendiri, berarti di setiap tempat kehidupan kita sehari-hari bisa menjadi tempat untuk beribadah, dan Tuhan akan datang untuk memberkati.

    Bagi orang-orang Kristen pada abad pertama di Kerajaan Roma, memang tidak bisa membuat mezbah bagi Tuhan, namun arena gladiator menjadi mezbah yang ditonton puluhan ribu rakyat Romawi, dan yang menjadi korban bakaran bukan kambing domba atau sapi, tapi justru dirinya sendiri, yang darahnya dicurahkan karena kekejaman Kaisar Nero. 

    Saat itu, Tuhan tidak datang turun dari surga melawat dan menolong umatnya, bahkan tidak terdengar berkat-berkat dari Tuhan, hanya sorak sorai penonton yang senang menyaksikan adegan kejam berdarah. Tapi ini yang menjadi persembahan yang hidup, ibadah yang sejati.

    Saudaraku, sekarang kita mungkin tidak mengalami masa tirani dan kekejaman seperi zaman Nero, semuanya kelihatan aman, enak dan lancar, namun jangan kita lengah, karena singa atau binatang buas yang dulu ada di arena gladiator sekarang ini tidak nampak wujudnya, tapi sudah berganti dengan berbagai pencobaan dan kenikmatan duniawi. Di zaman yang serba mudah dan enak ini, tetaplah bersiap menjadi persembahan yang hidup, mempersembahkan diri kita seutuhnya, jiwa dan raga untuk kemuliaan Tuhan. (Surhert).