
Author: Christopherus
-
MENABUR DOA
Saudaraku, Minggu sore kemarin aku bertemu dengan seorang ibu yang menjadi anggota tim doa suatu gereja besar di Jakarta yang setiap kebaktian minggunya dihadiri lebih dari 3.000 orang di Jakarta saja, belum yang di cabang. Ibu ini penampilannya biasa-biasa saja, ya seperti jemaat umumnya, namun dia rajin seminggu sekitar dua kali datang ke gereja untuk berdoa, sesuai jadwal doa yang dipilihnya, yakni sepanjang 2 jam per sesi, dan hebatnya sesi ini ada di sepanjang hari. Jadi Si Ibu bisa memilih jam doa mana yang cocok.
Apa yang didoakan? Ya untuk kegiatan-kegiatan gereja sepanjang minggu, program gereja, dan yang terutama untuk kebaktian umum yang akan berlangsung di hari Minggu nanti, mohon dipenuhi kuasa Roh Kudus, Firman Tuhan bisa lancar disampaikan, tidak ada gangguan dari si Iblis, jemaat yang datang mendengar Firman dan pulangnya bisa bersyukur. Ya pokok-pokok doa ini seperti yang gereja kita doakan, hanya saja mungkin tidak rutin setiap hari, bahkan setiap dua jam dalam sehari.
Nah Si Ibu lalu sharing. “Pak, doa itu seperti menabur. Jadi kalau kita doa setiap saat, maka kita itu menabur, jadi kita akan siap mendapatkan hasil panennya.”
Wah …, aku kok agak bingung ya, karena di Alkitab tidak ada kata-kata yang mengaitkan doa dengan menabur. Di Alkitab, jika kita cari kata “menabur” akan dijumpai dalam 40 ayat, dengan pembagian kelompoknya:
Kata menabur digunakan dalam kaitan bercocok tanam 13 ayat. Kata menabur sebagai bentuk kiasan atau metafora 19 ayat.. Kata menabur yang dipergunakan oleh Tuhan Yesus sewaktu mengajar 8 ayat. Tapi tidak tidak ada kata menabur yang dikaitkan dengan hal berdoa.
Saudaraku, kita melihat Stefanus (Kisah Para Rasul 6-7) yang penuh dengan karunia dan kuasa, bahkan saat Stefanus disidang oleh Mahkamah Agama yang hadir melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat. Namun akhirnya Stefanus dirajam batu, Stefanus tetap berdoa: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. Jadi Stefanus tetap kokoh berdoa hingga mati dirajam batu.
Jeanne d’Arc (6 Januari 1412 – 31 Mei 1431), pahlawan Perancis, dieksekusi dengan dibakar di muka umum terutama karena mencela ajaran gereja saat itu yang menyimpang. Saksi mata menggambarkan suasana eksekusi, terikat pada tiang tinggi, Jeanne meminta dua petugas, untuk memegang salib di belakangnya. Seorang prajurit Inggris juga membuatkan salib kayu untuk ditempatkan di dadanya. Jeanne berulangkali berkata dengan suara keras menyebut nama Yesus dan memohon dan berdoa tanpa henti untuk bantuan orang suci dari surga. Mati syahid dibakar di depan umum, dalam kondisi berdoa.
Saudaraku, jadi kalau kita menabur doa dengan tujuan agar dapat menuai hasil panen berupa harta benda atau kesembuhan/kelepasan secara langsung, ya siap-siaplah kita akan mendapatkan kekecewaan yang sangat dalam, dan jangan menuduh Tuhan tidak mendengarkan doa-doa yang seperti itu.
Perhatikan beberapa ajaran Alkitab tentang berdoa, antara lain: Matius 26:41: “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Maksudnya: Berdoa supaya tidak mudah jatuh dalam pencobaan.
Mazmur 32:6: “Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui.” Efesus 6:18: “Dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya.” Maksudnya: Tekunlah berdoa.
Yesaya 16:6 dan 12: “Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kecongkakannya, keangkuhannya dan kegemasannya, dan tentang cakap anginnya yang tidak benar. Maka sekalipun Moab pergi beribadah dan bersusah payah di atas bukit pengorbanan dan masuk ke tempat kudusnya untuk berdoa, ia tidak akan mencapai apa-apa.” Maksudnya: Kalau hidup tetap fasik, ya percuma saja bila berdoa.
Yesaya 59:1-2: “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Maksudnya: Mohon ampun dulu kepada Tuhan, karena dosa menghalangi doa kita. (Surhert).
-
Believe in the Faithful Love of God
MATANYA TIDAK BERCAHAYA. Sahabat, kalau kita membaca Mazmur 13, Pemazmur memulai doanya dengan pertanyaan “Berapa lama lagi Tuhan?” Pertanyaan itu diulangi sampai lima kali dalam 6 ayat. Hal itu menunjukkan betapa kuatnya perasaan Pemazmur seolah-olah dirinya ditinggalkan Allah. Artinya, derita yang dirasakan Pemazmur sangat berat dan sudah mencapai batas yang dapat ditanggungnya.
Sebenarnya apa pokok masalah yang sedang dihadapi Pemazmur? Apakah dirinya sakit parah? Apakah nyawanya terancam? Ternyata tidak. Jika demikian, mengapa Pemazmur mengatakan MATANYA TIDAK BERCAHAYA ? Bila mata Pemazmur tidak bercahaya, hal itu berarti Allah tidak bersama dengannya. Apakah benar Allah sudah tidak menyertai Pemazmur?
Sahabat, Mazmur 19:9 menyatakan bahwa mata seseorang akan bercahaya karena firman Tuhan. Jika dilihat dari sudut pandang Mazmur 19:9, maka ungkapan Pemazmur menunjukkan bahwa Allah tidak lagi berfirman kepadanya. Tidak adanya firman Allah itulah yang membuat hati Pemazmur goyah. Ia seolah-olah kehilangan pegangan dan tuntunan hidup karena selama ini hidupnya berlandaskan pada firman Allah. Itulah alasannya pemazmur meratap, “Berapa lama lagi Tuhan?”
Ada batas kekuatan manusia untuk bertahan menghadapi persoalan hidup. Jika kita merenungkan ungkapan hati Daud dalam kitab Mazmur ini, tentu kita dapat menarik kesimpulan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Ya, Daud merasa sangat lelah dan tidak mampu lagi menghadapi beragam persoalan yang bertubi-tubi menimpanya.
Syukut kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Believe in the Faithful Love of God (Percaya Kepada Kasih Setia Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 13:1-6 dengan penekanan pada ayat 6-a. Sahabat, doa Pemazmur dalam bacaan kita pada hari ini berisi banyak pertanyaan: “Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus menerus?”; “Berapa lama lagi Kau sembunyikan wajah-Mu terhadap aku?”; “Berapa lama lagi aku harus menaruh kekhawatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?”; “Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?”.Bukankah doa-doa seperti itu juga yang sering kita ucapkan kepada Tuhan untuk menyatakan ketidakmampuan kita mengatasi persoalan hidup? Menurut saya, ungkapan hati seperti ini sangat wajar muncul dalam pikiran atau ucapan kita. Daud pun merasa seolah-olah Tuhan meninggalkannya. Tetapi, satu ucapan terakhir yang patut kita cermati dan kita teladani: Daud tetap menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan! Itulah yang membuatnya dapat bertahan dan tampil sebagai pemenang pada akhirnya.
Apakah yang memampukan Daud bertahan? KASIH SETIA TUHAN. Kasih setia-Nya menyediakan perlindungan dan kekuatan baginya sehingga ia mampu bertahan jauh melampaui batas kemampuannya sebagai manusia.Begitu juga, di tengah pergolakan badai hidup, Sahabat, dan saya dapat mengandalkan kasih setia Tuhan. Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak, tetapi kita akan menyaksikan kuasa-Nya menolong dan meneguhkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ungkapan: “Matanya tidak bercahaya”?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kasih setia Tuhan, dengan apakah kita akan bertahan dalam menghdapi berbagai persolan hidup? (pg).







