Author: Christopherus

  • SAHABAT SEJATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh persahabatan. Sahabat, seorang sahabat  tidak bisa diartikan sebagai sekadar teman, persahabatan adalah hubungan pertemanan yang selalu ada, saat suka maupun duka. Sahabat adalah seseorang yang menari bersamamu di bawah matahari, dan berjalan bersamamu di kala hujan lebat disertai petir yang bersahutan. Meskipun dalam kondisi terpisah jarak, seorang sahabat akan selalu ingat dan mendoakan. Tentunya kehadiran seorang sahabat dalam hidup merupakan anugerah yang patut disyukuri.

    Mengapa saya menyapa para pembaca dengan sebutan Sahabat? Pertama, saya ingin hadir di semua musim kehidupan mereka.  Kedua, sesungguhnya renungan yang saya bagikan merupakan pengalaman dan pergumulan saya pribadi bersama Tuhan.

    Sahabat, siapa pun kita dalam menjalani kehidupan di dunia,  pasti membutuhkan orang lain. Namun tidaklah mudah menemukan teman yang baik, apalagi teman yang setia di segala keadaan.  Teman datang dan pergi adalah hal yang biasa.  Teman dalam suka banyak, tapi bagaimana dengan teman di kala duka dan lara, tak mudah kita temukan.


    Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat, tapi juga berkenan menjadi sahabat sejati kita.  Bahkan Tuhan sendirilah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya.  Tuhan Yesus berkata,  “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.  Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”  (Yohanes 15:15-16a). 

    Tidak berhenti sampai di situ, Tuhan Yesus pun rela mengurbankan nyawa-Nya bagi kita, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Kalau Tuhan rela mengurbankan nyawa-Nya, tentu Dia tidak akan tinggal diam ketika kita sedang menghadapi permasalahan yang berat.  Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi,  sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita.  Tapi tolong perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus bedrikut ini,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5).  Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari.

    Sahabat, Tuhan berjanji Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian.  Janji Tuhan itu ya dan amin!  Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita.  Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat bagaimana pun pergumulan yang ada, kita akan tetap sanggup berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13),

    Ingatlah! Sahabat memang selalu punya tempat yang istimewa dalam hidup kita. Bersama merekalah, kita dapat berbagi suka maupun duka, menghibur dengan canda dan tawa, dan berbagi keberhasilan maupun kegagalan. Tunggu apa lagi, mari pererat tali persahabatan diantara kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan mengangkat sahabat-Nya. (pg) 

  • Tanah Liat di TANGAN SANG PANJUNAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keinginan untuk terus belajar. Sahabat, pengalaman hidup saya bercerita bahwa belajar tentang suatu hal tidak harus kita dapatkan di sekolah formal, namun bisa juga melalui kehidupan di dunia luar:  membaca buku, belajar dari pengalaman orang lain,  dan belajar melalui kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita.

    Itulah  yang dilakukan Tuhan kepada nabi Yeremia. Dia diminta oleh Tuhan untuk menjumpai seorang tukang periuk. Hari ini saya ajak Sahabat untuk belajar dari satu perikop yang  saya ambil dari kitab Yeremia 18:1-17 dengan judul “Pelajaran dari pekerjaan tukang periuk.”

    Dikisahkan, berangkatlah Yeremia untuk  mengunjungi rumah tukang periuk (panjunan) tersebut.  Ia melihat tukang periuk mengambil segumpal tanah liat dan membentuknya menjadi sebuah bejana. 

    Dalam proses pembuatan bejana tersebut,  tiba-tiba bejana yang hampir selesai menjadi retak dan rusak, namun si panjunan tidak langsung membuang bejana yang rusak itu;  dihancurkannya ke dalam tangannya dan dibentuknya kembali menjadi bejana yang lain,  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Ayat 4)

    Sahabat, perjalanan hidup kita  tak ubahnya seperti tanah liat di tangan panjunan.  Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Panjunan.  Tapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya adalah tanah liat sehingga mereka seringkali memaksakan kehendaknya kepada Tuhan;  kita suka mengatur Tuhan untuk mengikuti kemauan kita.  Kita tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan. (Yesaya 45:9)  


    Lalu, mengapa Tuhan menggambarkan manusia sebagai tanah liat?  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan hendak menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita ini lemah adanya, tak punya kekuatan apa-apa.  Sesungguhnya tanpa Tuhan turut campur tangan, kita tidak  mampu berbuat apa-apa. 

    Sahabat, berbicara tentang tanah liat, Tuhan juga mau mengingatkan bahwa kita ini tak punya arti apa-apa, tidak ada harganya, dan kotor.  Tanah itu hanya bisa diinjak-injak oleh banyak orang dan akhirnya menjadi rusak.  Namun ketika tanah itu berada dalam genggaman tangan si panjunan, maka tanah akan dibentuk sedemikian rupa menurut apa yang baik pada pemandangannya, sampai akhirnya tanah yang sebelumnya tidak berharga sama sekali menjadi sesuatu yang berharga,  yang tidak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti,  “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”  (Mazmur 113:7).

    Ingatlah! Sebagai Panjunan,  Tuhan tahu  persis yang terbaik bagi kita!  Karena itu tetaplah taat.  Bila saat ini kita sedang menghadapi proses pembentukan yang membutuhkan waktu yang lama, itu artinya Tuhan sedang membentuk kita untuk menjadi bejana indah dan berharga di pemandangan mata-Nya. Bersabarlah! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memroses kita menjadi bejana yang mulia. (pg).

  • BELAS KASIHAN ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh belas kasihan. Sahabat, belas kasihan mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasihan yang benar merupakan perasaan empati yang bekerja. Berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka.

    Sahabat, rasa belas kasihan muncul karena adanya penderitaan orang lain. Bagaimana itu bisa muncul dalam hati manusia? Jika kita bayangkan, seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, manusia akan hidup bahagia selamanya. Rasa belas kasihan mungkin tidak dibutuhkan. Tetapi, justru dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, hidup menjadi berat dan rasa belas kasihan bisa muncul dalam hati manusia yang berdosa. Lalu dari mana datangnya?

    Ceritanya berawal ketika Allah menghukum Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari taman Firdaus (Kejadian 3:23), Ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Ia berkata bahwa bumi menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan manusia harus bergumul untuk bisa hidup di dunia, untuk kemudian kembali menjadi debu (Kejadian 3:17-19).

    Lalu bagaimana Allah yang mahakasih bisa membiarkan ciptaan-Nya menderita seperti itu? Sudah tentu semua itu terjadi karena dosa manusia dan hukuman Allah sudahlah sepantasnya. Tetapi, bukankah Allah adalah Tuhan yang mahakasih?

    Benar, Allah memang mahakasih. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Karena kasih-Nya, dengan kejatuhan manusia,  Ia memulai sebuah proyek besar untuk menyelamatkan umat manusia. Sekalipun manusia akan mati secara fisik, Allah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia sehingga mereka yang percaya kepada Yesus dapat bersatu kembali dengan-Nya di surga. (Yohanes 3:16)

    Itulah  wujud rasa belas kasihan Allah yang sangat besar.  Ia mau mengurbankan diri-Nya sendiri demi manusia yang berdosa. Ia yang melihat bahwa manusia akan hidup menderita di dunia, mau memberikan kebahagiaan yang abadi kepada mereka yang beriman kepada Anak-Nya.  Allah mempunyai rasa belas kasihan karena Ia peduli akan hidup manusia. Ia menanggapi keadaan manusia dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka.

    Sahabat, yang Tuhan kehendaki adalah hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain sebagai perwujudan kasih terhadap sesama, “… Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Matius 9:13). 

    Belas kasihan adalah emosi dalam diri seseorang yang muncul akibat melihat penderitaan orang lain.  Ketika seseorang memiliki belas kasihan,  timbullah suatu usaha atau keinginan yang kuat untuk menolong dan mengurangi penderitaan mereka.  Belas kasihan itu mengacu kepada perbuatan baik kepada mereka yang terinfeksi dan terdampak Covid -19, para korban bencana alam, orang-orang yang miskin,  janda-janda, yatim piatu, mereka yang berkebutuhan khusus, dan  orang berdosa.  Ingatlah! Tuhan Yesus tidak sekadar mengajarkan tentang Kerajaan Surga dan memerintahkan orang untuk bertobat, tetapi Ia sendiri juga menunjukkan belas kasihan-Nya dengan tindakan nyata terhadap orang-orang yang sakit dan menderita yang butuh pertolongan (Matius 9:36), termasuk terhadap orang-orang berdosa yang dipandang sebelah mata oleh sesamanya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluiarga. Tuhan selalu mempunyai cara untuk menyatakan belas kasihan-Nya. (pg)

  • TETAPLAH BERSUKACITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Mendung diciptakan Tuhan bukan untuk membuat langit menjadi gelap, tetapi ia hadir untuk memberi kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun. Sahabat, kalau kita dapat melihat situasi dan kondisi di sekitar dari sudut pandang yang positf, maka kita akan dapat menikmati sukacita di setiap waktu.

    Saat ini ada cukup banyak orang yang kehilangan sukacita karena peliknya masalah yang sedang terjadi. Pandemi covid – 19 yang belum dapat diatasi dan bencana alam yang terjadi susul menyusul di beberapa wilayah di Indonesia.

    Sahabat, hari-hari ini ada cukup banyak orang yang kehilangan sukacita karena melihat keadaan dunia yang semakin hari semakin serba tidak menentu. Ada generasi milenial yang kehilangan sukacita karena merasa pesimis dengan masa depan hidupnya. Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa situasi dan kondisi yang ada di sekitar turut memengaruhi  hati dan pikiran kita.

    Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita kehilangan sukacita, meski situasinya mungkin tidak mendukung.  Tuhan menghendaki agar kita senantiasa memiliki sukacita di segala situasi, entah kita sedang susah atau senang, sedang banyak duit atau  tidak, karena sukacita adalah kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup. 

    Bagaimana supaya kita bisa bersukacita dalam segala situasi? Sesungguhnya  kunci untuk tetap mengalami sukacita berawal  dari pikiran kita,   “… seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a). 

    Sahabat, kita perlu menanamkan dalam hati dan pikiran kita beberapa hal berikut ini:  Pertama,  kita punya Tuhan yang dahsyat.  Pemazmur bersaksi,  “Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi.  Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,”  (Mazmur 47:3-4).  Sebesar apa pun masalah yang kita alami, serahkan semuanya pada Tuhan, Dia pasti sanggup menolong kita karena kuasa-Nya tak terbatas.  

    Kedua, masalah adalah proses pendewasaan iman.  Jika kita diizinkan  bergumul dengan masalah, berarti Tuhan sedang mendidik kita supaya kita makin dewasa di dalam iman.  Jadi, tetaplah bersukacita!  Seperti disaksikan oleh Ayub,  “Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).  

    Ketiga, Roh Kudus yang senantiasa mendampingi kita, siap memberi kekuatan dan penghiburan.

    Ingatlah! Sahabat, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita karena kita mempunyai Tuhan yang begitu peduli dan penuh belas kasihan,  “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”  (Mazmur 113:7).  Bahkan, Tuhan sanggup membuka jalan saat tiada jalan, membuat yang mustahil menjadi mungkin, dan menjadikan yang tiada berpengharapan menjadi penuh harapan.  Yakinlah tiada ada yang mustahil bagi Dia,  “Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.”  (Mazmur 113:9). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memberi jalan keluar. (pg)