Author: Christopherus

  • BELAJAR dari SEMANGAT KALEB

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai semangat untuk menggapai mimpi-mimpi. Sahabat, tak bisa dimungkiri, semangat menjadi satu di antara kunci keberhasilan dalam menggapai cita-cita. Hal itu dikarenakan tak sedikit orang yang kehilangan semangat saat menghadapi halangan dan tantangan. Memang jalan untuk menggapai mimpi tidak selamanya datar dan mulus, kadang menanjak, berkelok, bergelombang, berlubang dan berlumpur. Terkadang seseorang menemui hambatan, yang bisa membuatnya  terpuruk. Bahkan, tak sedikit orang yang berhenti dan melupakan impian hidupnya. Nah, dalam kondisi seperti itu, kita butuh yang namanya SEMANGAT.

    Sahabat, tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan dalam hidup bukan karena mereka  tidak berpendidikan, namun karena mereka tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup.  Sedikit saja mengalami masalah atau kesulitan langsung mengeluh, mengasihani diri sendiri secara berlebihan, dan kehilangan semangat. 

    Sekarang, perhatikan apa yang dikatakan Salomo berikut ini,   “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).  Seberat apa pun tantangan yang dihadapi janganlah kita sampai kehilangan semangat.  Mengapa?  Karena kita punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, Ia begitu peduli dengan keadaan kita.  “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”  (Yesaya 40:29).

    Sahabat, belajarlah dari Kaleb, yang tetap memiliki semangat hidup luar biasa sekalipun sudah berumur 85 tahun,  “… aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.”  (Yosua 14:11). 

    Kaleb tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan karena ia senantiasa mengarahkan pandangannya kepada janji-janji Tuhan,  “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” (Mazmur 12:7). 

    Orang yang memegang dan mengimani janji Tuhan dalam hidupnya tidak akan mudah mengeluh dan berputus asa, ia akan terus bersemangat sampai janji Tuhan digenapi dalam hidupnya.

    Sahabat, Kaleb berusia 40 tahun saat diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, dan ia terus memegang teguh apa yang Musa katakana,  “Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.”  (Yosua 14:9), Empat puluh lima tahun telah berlalu, Tuhan pun menggenapi janji-Nya.  Yosua memberikan Hebron menjadi pusakanya  (Yosua 14:13).

    Ingatlah!  Sahabat, kalau semangat itu datang dari pintu depan, maka kekhawatiran akan kabur tunggang langgang melalui pintu belakang. Bersama dengan Daud kita memohon kepada Tuhan, “Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.”  (Mazmur 119:38) Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita supaya kita tetap bersemangat. (pg)

  • KASIH yang MENGAMPUNI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kasih. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa kasih Allah itu hanya bisa kita rasakan dan nikmati. Kasih Allah itu  begitu besar. Sungguh kita tidak dapat mengukur dan menghitungnya. Daud menggambarkan kasih Allah itu “sampai ke langit” (Mazmur 36:6) dan Rasul Paulus mendeskripsikan kasih Allah, “… betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”  (Efesus 3:18-b).  Banyak cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, namun kesemuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Allah.  Kasih Allah itu sangat jauh berbeda dari kasih lain yang ada di dunia ini.

    Di mana bedanya? Untuk menjawabnya mari  kita akan belajar tentang kasih Allah dari satu perikop yang saya ambil dari 1 Yohanes 4:7-21 dengan judul “Allah adalah kasih”.

    Dalam ayat  7 dan 8 dinyatakan bahwa kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.  

    Sahabat, pernyataan  “Allah adalah kasih”  berarti kasih itu sumbernya dari Allah, dan karena Dia adalah sumber kasih, Ia tidak mungkin kekurangan kasih. Pernyataan  Allah adalah kasih  juga berarti bahwa Ia tidak dapat dipisahkan dari sifat dasarnya yaitu kasih.  Itulah sebabnya Allah Mahapengasih, Mahapenyayang dan Mahapengampun.  Jadi,  “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”  (ayat 10).

    Adapun kasih Allah kepada kita adalah kasih yang tak bersyarat,   “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8).  Itu menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”  (Mazmur 103:12).  Kita tahu bahwa  timur dan barat  tidak akan pernah bertemu. 
    Sahabat, sesungguhnya hal tersebut merupakan gambaran pengampunan Allah:  bila Ia menyingkirkan, menjauhkan, dan tidak mengingat-ingatnya lagi.  Jelas sekali bahwa walaupun kita berdosa Allah tetap mengasihi kita.  Karena Allah adalah kasih maka kasih merupakan hal yang sangat utama dalam kekristenan, itulah sebabnya Allah menghendaki agar anak-anak-Nya mewarisi karakter kasih ini.  “… jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”  (ayat 11).

    Ingatlah! Sahabat,  jikalau kita mampu mengasihi dan melepaskan pengampunan kepada orang lain, itu karena kasih dari Allah mengalir di dalam kita dan kita ada di dalam Dia,   ” … Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”  (ayat 16-b).  Dari pihak kita hanya dibutuhkan kemauan, sedangkan kemampuan itu diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya (2 Timotius 1:7).   Roh Kudus yang ada di dalam kita itulah yang memampukan kita mengasihi dan mengampuni. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengasihi kita. (pg)

  • Menjadi ORANG PERCAYA yang KUAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan untuk menjalani dan menikmati hidup dari hari ke hari. Sahabat, kata “KUAT”  hanya terdiri dari empat huruf, namun kata itu memiliki makna yang luar biasa, apalagi bila dikaitkan dalam konteks penderitaan, pencobaan, dan tantangan dalam kehidupan.

    Sahabat, kuat bisa diartikan tahan, tidak mudah goyah, dan mampu melewati saat-saat yang sulit dan menyesakan. Kualitas hidup  seperti itulah yang diharapkan dimiliki oleh setiap orang percaya,  sehingga saat badai hidup sedang menerpa, tetap bisa bertahan. Jadi kuat bukan  dalam arti seberapa besar otot yang kita miliki, kadang orang yang berotot justru bisa jadi yang paling cengeng ketika menghadapi tantangan hidup  yang berat.

    Memiliki sikap hati yang positif di segala situasi, serta kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda  merupakan kunci untuk menjadi orang percaya yang kuat.  Dengan memiliki respons hati yang positif kita akan terhindar dari rasa khawatir, takut, kecewa, cemas, putus asa dan sebagainya.  Karena memiliki respons hati yang selalu positif, orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. 

    Hidup di dunia ini memang selalu diwarnai dengan berbagai permasalahan, tetapi orang yang punya semangat memiliki kekuatan untuk menghadapinya,  “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).

    Sahabat, bagaimana supaya kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup?  Arahkan pandangan hanya kepada Tuhan, imani setiap janji firman-Nya dan tekun menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan.  “…  orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”  (Yesaya 40:31). 

    Kita menjadi orang yang kuat bila kita menyadari bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita alami  (1 Korintus 10:13), dan bersama Tuhan kita pasti sanggup menanggung segala perkara  (Filipi 4:13). 

    Maka jadilah orang percaya yang kuat di segala situasi dengan menjaga hati supaya tidak terfokus pada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, Tuhan menciptakan segala sesuatu secara seimbang. Seperti halnya perasaan bahagia dan sedih sebagai warna dalam menjalani kehidupan ini. Coba kita bayangkan jika hidup ini tidak ada masalah dan rintangan, maka mungkin hidup ini menjadi hambar dan membosankan karena tidak ada tantangan sama sekali, dan terlebih tidak akan ada yang namanya perjuangan dan kemajuan. Karena itu mari kita perhatikan nasihat dari John F. Kennedy (Presiden Amerika yang ke-35),  “Jangan berdoa untuk hidup yang mudah. Berdoalah untuk menjadi orang yang lebih kuat.” Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menguatkan kita dalam menghadapi badai hidup. (pg)

  • MEMERKATAKAN FIRMAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keyakinan akan kuasa firman Tuhan. Sahabat, ketika saya mendampingi seorang sahabat yang sedang sakit, saya sering minta dia untuk membaca satu ayat firman Tuhan yang pendek berulang kali sampai dia menjadi hafal. Kemudian saya minta dia untuk memerkatakan firman Tuhan tersebut berulang kali. Misalnya dari Amsal 24:10, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”

    Sahabat, pengalaman saya dalam mendampingi orang-orang sakit, menghafal dan memerkatakan firman itu besar sekali manfaatnya bagi sahabat saya yang sedang menjalani proses pengobatan. 

    Sesungguhnya memerkatakan hal-hal yang kita yakini  memegang peranan sangat penting untuk menerima berkat yang kita harapkan dari Tuhan, sebab memerkatakan adalah bagian dari pengakuan iman kita,    “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.” (Ibrani 4:14)

    Sahabat, untuk mendapatkan apa yang kita harapkan kita harus percaya kepada Tuhan sepenuhnya dan memerkatakannya sebagai wujud pengakuan iman, ” … ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”  (2 Korintus 4:13)

    Lalu mengapa kita perlu memerkatakan firman Tuhan? Pertama, sebagai bukti bahwa kita percaya pada firman Tuhan. Jika kita belum  memperoleh pertolongan Tuhan, maka kini saatnya mengubah apa yang kita perkatakan. Ucapkanlah Firman Allah dengan penuh keyakinan. Bagi yang lemah mari katakan, “Tuhan adalah kekuatan hidupku, kepada-Nya hatiku percaya. …” (Mazmur  28:7). Bagi yang sedang takut katakan, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur  27:1). Bagi  yang sedang sakit mari katakan,  ”Oleh bilur-bilur-Nya kamu  telah sembuh” (1 Petrus  2:24-b). dan sebagainya.

    Kedua, supaya kita dapat bertindak hati-hati, sehingga menjadi berhasil (Yosua 1:8). Sahabat, sebagai orang percaya, kita perlu menjaga setiap ucapan, sebab dalam setiap perkataan ada kuasa. Karena itu kita jangan sembrono mengeluarkan kata-kata. Kita perlu berhati-hati dalam setiap  ucapan kita.

    Sahabat, untuk itu kita perlu bergaul karib dengan Tuhan, karena dalam pelayanan sering kita diperhadapkan dengan situasi yang tidak mudah, kita butuh hikmat dari Tuhan supaya kita selalu memiliki kata-kata yang bermakna. Kata-kata yang membangun, menghibur, menguatkan dan memberikan semangat.  Kata-kata yang meneduhkan, kata-kata yang mendamaikan.

    Ingatlah! Ucapkanlah firman Tuhan  sesuai dengan kebutuhan. Kalau kita sungguh percaya, mulai perkatakan firman itu, ucapkanlah dengan bersuara,  bila perlu dengan suara yang  agak keras agar didengar oleh telinga kita. Iman timbul dari  pendengaran,  pendengaran akan firman Tuhan. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita saat kita melayani sebagai seorang pendamping. (pg)

  • LIMITED EDITION

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai rasa syukur karena setiap manusia diciptakan Tuhan secara unik. Sahabat, barang-barang yang dibuat secara terbatas (limited edition) dan eksklusif harganya tentu selangit, jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan barang-barang yang dibuat dalam jumlah banyak (kodian).

    Tuhan menciptakan setiap manusia sangat eksklusif. Di dunia ada miliaran manusia, tetapi setiap orang berbeda, tidak ada yang sama persis. Maka dihadapan Tuhan setiap manusia itu begitu berharga.

    Sahabat, pada hari ini kita akan belajar dari satu perikop yang saya ambil dari Mazmur 139:1 – 18 dengan judul: “Doa di hadapan Allah yang mahatahu.” Daud memulai Mazmur 139 dengan merayakan betapa intimnya Allah mengenal dirinya (ayat 1-6) dan tentang keberadaan Allah yang Mahahadir (ayat 7-12). Seperti penenun yang mahir, Allah tidak hanya membentuk sosok Daud, sejak masih berupa janin hingga menjadi seorang manusia (ay.13-14), tetapi juga menjadikan jiwa yang hidup, memberikan kehidupan spiritual dan kemampuan untuk bergaul intim dengan Allah.

    Merenungkan karya Allah yang begitu luar biasa, Daud merasa sangat kagum, takjub, dan memuji-muji Allah, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (ayat 14).

    Sahabat, Daud mengetahui dengan pasti bahwa dirinya bukanlah sebuah hasil kebetulan saja, atau diciptakan asal-asalan tanpa makna. Daud tahu bahwa ia ada untuk satu tujuan, dan jiwanya menyadari bahwa Tuhan telah menyiapkan segalanya dengan cara yang dahsyat dan ajaib. Dia tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang begitu sangat indah.

    Daud tidak berbicara mengenai ketampanan atau kesempurnaan secara fisik, tetapi ia melihat dirinya sebagai sebuah kesatuan yang utuh, dan ia pun mengucapkan rasa syukurnya secara penuh kepada Tuhan atas anugerah yang ia terima tersebut.

    Sahabat, Tuhan  mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita. Bak Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26). Kita mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (Kejadian 2:7), kita begitu berharga, maka kita tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mata-Nya (Yesaya 49:16), dan sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib.
    Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan (ayat13). Ia pun berseru, “Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” (ayat 17).

    Ingatlah! Sahabat, mulai saat ini marilah kita merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri. Mengertilah bahwa siapapun kita, merupakan ciptaan-Nya yang istimewa, indah, mulia dan berharga. Kita adalah karya orisinal Tuhan, Bapa yang begitu luar biasa, besar kasih-Nya. Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita bisa bangga menjadi diri kita sendiri. (pg)

  • MEMBERI yang TERBAIK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Sahabat, hal memberi seringkali masih menjadi perdebatan dalam komunitas orang percaya. Sesungguhnya memberi haruslah menjadi bagian hidup orang percaya.  Hal memberi tidaklah selalu berhubungan dengan berapa besar nilai atau jumlahnya, tetapi selalu berhubungan dengan seberapa tulus hati kita dalam memberi. 

    Untuk itu mari kita belajar tentang memberi persembahan dari satu perikop yang saya ambil dari Injil Markus 12:41-44 yang berjudul: “Persembahan seorang janda miskin.”

    Sahabat, seandainya pada  saat itu kita sedang berada di Bait Allah, kita akan melihat pemandangan yang kontras: di antara orang-orang kaya yang memasukkan persembahan ke dalam peti persembahan, ada seorang janda miskin yang memasukkan “hanya” dua peser, yaitu satu duit (ayat 42).  Manakah dari kedua persembahan itu yang Tuhan apresiasi?

    Markus menyatakan bahwa janda miskin itu memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan.  Peser adalah mata uang tembaga Yahudi yang paling kecil, sama dengan setengah duit.  Ditinjau dari sisi nilai uang, persembahan janda miskin tersebut memang sangat kecil, namun jika ditinjau dari sisi kemampuan, pemberian janda miskin itu sangat besar sekali, “Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”  (ayat  44)
     

    Sahabat, melalui kisah tersebut Tuhan hendak menekankan bahwa selain melihat sikap hati atau motivasi seseorang dalam memberi persembahan, Ia juga mengingatkan agar dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan hendaknya kita memberi yang terbaik dari yang kita miliki, bukan bagian yang terkecil dari yang  kita miliki. 

    Janda miskin itu memberi dari semua nafkahnya, semua yang ia miliki dipersembahkan kepada Tuhan.  Itulah yang disebut dengan korban!  Sementara orang kaya itu memberi dari kelebihannya, bisa saja itu merupakan bagian yang sangat kecil dari kekayaannya yang berlimpah-limpah dan tentu hal itu tidak mengandung nilai pengorbanan.  Apa yang diperbuat oleh janda miskin itu menunjukkan betapa ia sangat mengasihi Tuhan sehingga rela memberi semua yang dimilikinya untuk Tuhan.

    Ingatlah! Berilah yang terbaik untuk Tuhan karena sesungguhnya semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan milik Tuhan sendiri.
    Dalam soal memberi kepada Allah, janda miskin tidak perhitungan. Ia memberikan semua miliknya. Kemiskinan bukan alasan baginya untuk tidak memberi persembahan kepada Allah! Ia percaya Allah memelihara hidupnya. Ia meletakkan kepercayaannya kepada Allah, bukan pada uang yang ia miliki! Itulah persembahan yang menyukakan Tuhan! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mendidik agar kita dapat memberikan yang terbaik. (pg)

  • PENGHAMBAT MENIKMATI JANJI TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, dalam usaha kita untuk mendapatkan apa yang kita impikan, tentu akan ada faktor pendukung dan faktor penghambat. Kalau kita ingin menggapai mimpi, maka kita harus dapat menghalau dan melewati hambatan yang ada. Khususnya hambatan dari dalam diri kita sendiri: Mudah menyerah, cepat bosan, kurang sabar, kurang fokus, dan lain-lain.

    Rancangan Tuhan bagi kehidupan orang percaya adalah keberhasilan, hari-hari baik,  dan masa depan yang penuh pengharapan.  Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya bagi kita:  Hikmat, berkat, perlindungan, kesembuhan, mukjizat, pemeliharaan, penyertaan, anugerah dan juga pengampunan. 

    Sahabat,  untuk mendapatkan semua yang baik dari Tuhan, kita harus  memiliki karakter yang baik.  Tanpa karakter yang berkenan di hati Tuhan kita tidak akan menikmati janji-janji Tuhan,  “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”  (1 Petrus 3:12).

    Ada beberapa karakter yang seringkali menjadi penghambat orang percaya menikmati janji-janji Tuhan:  Pertama,  hati yang tidak mau percaya.  Ketidakpercayaan menjadi penghalang utama mengalami mukjizat Tuhan.  Jangan keraskan hatimu, percayalah kepada Tuhan sepenuhnya.  Tuhan Yesus berkata,  “Katamu:  jika Engkau dapat?  Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23). 

    Kedua, tidak bisa menguasai diri.  Penguasaan diri itu penting, karena itu merupakan salah satu buah-buah Roh.  Jika tidak memiliki penguasaan diri, kita seperti kota yang roboh temboknya  (Amsal 25:28), sehingga musuh akan mudah menyerang dan menjajah kita.

    Ketiga. suka berbohong.  Berbohong berarti melawan kebenaran dan orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan(Amsal 12:22).  Yesus sendiri yang  menyatakan bahwa iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

    Keempat, cepat putus asa.  Orang yang mudah putus asa  di tengah jalan pasti tidak akan pernah mencapai tujuan.  Tanpa ketekunan dan kesetiaan adalah mustahil bagi kita menikmati janji Tuhan.

    Kelima, pendendam,  tidak bisa mengampuni,  “…  jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”  (Matius 6:15). Jika kita menjadi seorang pendendam,  doa-doa kita tidak akan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu buang semua kebencian dan rasa dendam yang ada di hati (Imamat 19:17-18). 
    Ingatlah! Tuhan menjanjikan suatu kehidupan yang penuh berkat dan berkemenangan bagi kita, namun kita pun harus memberikan respons yang benar melalui sikap dan perbuatan yang benar pula. Dengan demikian janji Tuhan akan digenapi dalam hidup kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong  supaya kita dapat menikmati penggenapan janji-janji-Nya. (pg)

  • SABAT: Menikmati saat ISTIRAHAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dengan memerhatikan waktu istirahat. Sahabat, dalam menjalani kehidupan ini, manusia memang membutuhkan waktu untuk istirahat. Salomo jauh-jauh hari sudah mengingatkan   bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Ada waktu untuk bekerja, dan ada waktu untuk istirahat (Pengkhotbah 3:1). 

    Sahabat, tidur hanyalah salah satu cara untuk beristirahat. Masih ada banyak cara yang lain: Membaca buku, minum kopi, mendengarkan lagu-lagu, nonton film, berkebun, dan lain-lain. Caranya boleh berbeda, tetapi tujuan yang hendak dicapai hampir sama, yaitu supaya kondisi fisik, pikiran, dan hati menjadi lebih tenang, bening, dan segar.

    Kata  shabbat dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja shabat, dalam bahasa yang sama, yang secara harafiah berarti berhenti. Meskipun shabbat hampir secara universal diterjemahkan istirahat atau suatu masa istirahat, terjemahan yang lebih harafiah adalah berhenti, dengan maksud berhenti dari melakukan pekerjaan. Jadi, sabat adalah hari untuk orang berhenti bekerja, dengan maksud untuk beristirahat.

    Sahabat, lalu apa tujuan Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan-Nya pada hari yang ketujuh dan menguduskan hari itu? (Kejadian 2:2-3). Lalu apa maknanya bagi kita?

    Pertama, menunjukkan karya Allah itu sempurna. Segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. Allah berhenti pada hari ketujuh dan menguduskan hari itu menunjukkan bahwa Allah telah menyelesaikan semua karya penciptaan-Nya secara sempurna. Oleh karena itu, hari ketujuh adalah hari perayaan atas mahakarya itu.

    Dengan berhenti bekerja pada hari sabat, sesungguhnya  kita sedang ikut serta dalam perayaan sukacita bersama Allah dalam mengagumi dan menikmati keindahan dan kesempurnaan karya-Nya itu. Kita bersyukur dan memuji kebesaran kuasa Allah atas semua ciptaan-Nya. Kita melakukan perayaan bersama Allah terhadap karya-Nya yang sungguh mempesona.

    Dengan jalan demikian, kita sedang menempatkan Allah dalam posisi Dia yang sebenarnya dan kita menaklukkan diri di hadapan Allah yang mahakuasa yang telah menghasilkan karya terbesar dan termulia yang tiada bandingannya.

    Kedua, menunjukkan model pola kerja yang sistematis bagi kita.Tentu Allah yang Mahasempurna dan Mahatahu berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh bukan tanpa tujuan dan makna. Dikatakan demikian, karena semua yang Allah lakukan pasti ada muatan tujuan dan makna serta maksud penting bagi Dia dan bagi ciptaan-Nya.

    Pada saat Allah berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh, sesungguhnya Allah menyediakan model pola keteraturan kerja bagi kita. Hanya kepada kita yang diberikan mandat dan tugas dari Allah untuk mengelola dunia ini. Tentunya dalam pelaksanaan mandat dan tugas tersebut, kita membutuhkan waktu untuk berhenti dari pekerjaan itu. Mengapa? Karena kita yang terdiri dari unsur tubuh, jiwa, roh dengan sendirinya menyadari bahwa kita memiliki keterbasan fisik. Dengan demikian, kita tidak mampu untuk bekerja secara terus-menerus tanpa henti.

    Ingatlah! Kita membutuhkan waktu untuk memulihkan kembali kekuatan fisik kita. Itu sebabnya ada waktu untuk kita beristirahat sehingga tenaga kita bisa dipulihkan. Jauh lebih penting daripada itu, peraturan sabat mengajarkan kita bahwa hidup bukan untuk bekerja saja, tetapi juga untuk menikmati hasil kerja kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu memerhatikan kesejahteraan hidup kita. (pg)

  • Kesempatan untuk MEMERSIAPKAN DIRI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kesabaran. Sahabat, Yakobus menasihati kita untuk menantikan kedatangan Tuhan dengan penuh kesabaran (Yakobus 5:7).  Kesabaran berbicara tentang daya tahan seseorang dalam menghadapi situasi apa pun,  dan semangat yang tidak mudah patah.  Kalau kita tidak mempunyai kesabaran,  kita takkan mampu mencapai garis akhir, apalagi di masa-masa mejelang kedatangan Tuhan, kita akan menghadapi banyak kesukaran. 

    Untuk itu Rasul Petrus memeringatkan orang percaya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.  Tujuan Tuhan datang ke dunia nanti yaitu untuk menghakimi dan menghukum orang-orang yang berdosa,  bukan saja mereka yang melakukan kejahatan, namun juga mereka yang menolak karya keselamatan-Nya. 

    Disamping itu kedatangan Tuhan  juga untuk memberikan upah kepada orang percaya yang setia sampai akhir dan tekun melayani pekerjaan-Nya!  Dengan kata lain, jerih lelah kita dalam melayani pekerjaan Tuhan, diperhitungkan-Nya! 

    Sahabat, kedatangan Yesus  yang kedua itu bukan dongeng, bukan tafsiran, bukan pula  khayalan, namun suatu hal yang pasti!  Tuhan Yesus sendiri menyatakan,  “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”  (Yohanes 14:3).

    Jika kita berkenan untuk memerhatikan dan peka,  kita akan mendapati bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan satu persatu sudah digenapi  (Matius 24:3-14).  Mari pergunakan kesempatan yang ada untuk kita lebih bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan perkara-perkara rohani, mengejar perkenan Tuhan dan berjuang bagaimana supaya kehidupan kita kedapatan tak bercacat dan tak bernoda,  “Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  (2 Petrus 3:14)

    Lalu bagaimana caranya?  Jauhkan diri dari segala bentuk kecemaran, sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus  (1 Tesalonika 4:7).  Rasul Paulus mengingatkan bahwa keselamatan memang anugrah Tuhan, bukan usaha kita  (Efesus 2:8, 9), tetapi untuk mengerjakan keselamatan dan punya kehidupan tak bercacat cela, menuntut usaha dan kerja keras kita.  Rasul Petrus mengatakan,  “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, …”  (2 Petrus 3:15).Ingatlah! Sahabat, kalau sampai  hari ini Tuhan belum juga datang ke dunia untuk menjemput kita, bukan berarti Dia lalai, bukan pula berarti Dia ingkar, bukan juga berarti apa yang tertulis di Alkitab itu salah, justru ini kesempatan bagi kita memersiapkan diri sebaik mungkin. Maka jika tidak  ingin tertinggal,  mari siapkan diri menyambut Hari Tuhan dengan hidup benar! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menyelamatkan kita. (pg)