
Author: Christopherus
-
Nikmati KEHADIRAN dan PERTOLONGAN Allah
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Kita patut bersyukur karena Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, tapi roh yang membangkitkan kekuatan (2 Timotius 1:7). Sahabat, ketakutan adalah tanggapan emosi terhadap ancaman, suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Dari sudut psikologi ketakutan adalah wajar, salah satu emosi dasar manusia selain kebahagiaan, kesedihan dan kemarahan.
Sesungguhnya ketakutan baru akan menjadi masalah besar bila dibiarkan berlarut-larut mencengkeram hati dan pikiran kita. Karena ketika kita terus dikuasai oleh ketakutan, maka sukacita dan damai sejahtera akan ramai-ramai hengkang dari kita.
Sahabat, situasi hidup penuh ketakutan itu dialami oleh bangsa Israel ketika berada di pembuangan. Mereka sampai kehilangan harapan karena penderitaan yang mereka alami. Dalam situasi penuh ketakutan dan kehilangan harapan tersebut, Allah mengingatkan bahwa mereka adalah umat kepunyaan-Nya.
Allah menyatakan kembali kehadiran-Nya, menguatkan hati, membangun kembali harapan dan membebaskan mereka dari ketakutan melalui firman-Nya yang disampaikan oleh nabi Yesaya, “… hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:8-10)
Selanjutnya Allah berkata kepada mereka supaya jangan takut dalam penderitaan yang mereka alami karena Allah yang akan menolong mereka. Kehadiran dan pertolongan yang Allah berikan adalah wujud komitmen Allah kepada umat-Nya, “… Aku ini, TUHAN, Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: ‘Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.’” (Yesaya 41:13).
Sahabat, setelah kita belajar dari pengalaman bangsa Israel, kita tidak akan lagi merasa takut terhadap apapun yang datang menyerang kita. Kita akan menjadi seperti Daud yang berkata dengan penuh keyakinan, “Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:5). Ini merupakan kesaksian yang mengagumkan dari orang yang sungguh-sungguh mempercayai Allah. Terlepas dari apa yang terjadi, Daud akan tetap percaya pada Allah karena ia mengetahui dan mengerti kuasa Allah.
Ingatlah! Sahabat, karena rasa takut yang begitu besar, kita sering kali melupakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Padahal, hal itulah yang justru semakin memupuskan harapan kita. Karena itu, genggamlah dengan penuh keyakinan bahwa Allah selalu hadir bagi kita dan tangan-Nya selalu menggenggam kita untuk memberikan pertolongan. Karena Dia adalah Allah kita, dan kita adalah umat-Nya. Maukah Sahabat dan saya untuk senantiasa ingat bahwa Allah selalu hadir dalam segala pergumulan hidup kita? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)
-
BERBUAT BAIKLAH
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama. Sahabat, berbuat baik harus menjadi gaya hidup kita. Bahkan kebaikan itu tidak boleh dilupakan. Kebaikan adalah sifat Ilahi yang harus terpancar dalam kehidupan orang percaya. Mengapa? Karena status kita adalah anak-anak terang, “… Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran,” (Efesus 5:8-9).
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup tanpa orang lain. Manusia membutuhkan sesamanya untuk bekerja sama membangun kehidupan menjadi lebih baik. Diperlukan empati kepada sesama yang mendorong kita untuk saling memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing, “… janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.” (Ibrani 13:16)
Sahabat, ada cukup banyak orang dihadapkan pada pergumulan dalam batinnya, salah satunya adalah dalam hal berbuat baik. Ketika perbuatan baik yang dilakukannya seringkali tidak mendapatkan respons atau balasan sesuai dengan yang diharapkannya, maka dia mulai merasa bosan berbuat baik, mulai berpikir 1.000 kali sebelum berbuat baik, dan akhirnya dia benar-benar berhenti untuk melanjutkan berbuat baik.
Seorang petani menanam padi atau sayuran. Pada saat bersamaan tumbuh pula rumput atau ilalang di sawah atau ladang tersebut. Namun andaikan petani itu menanam rumput, ia tidak akan pernah mendapati padi atau sayuran turut tumbuh di sana. Demikian pula dalam kehidupan ini. Ketika kita melakukan perbuatan baik terkadang hal-hal buruk malah menyertai, entah itu berupa disalah mengerti, cercaan, cibiran, fitnahan dari orang lain. Jika demikian haruskah kita berhenti berbuat baik ketika orang lain tidak membalas kebaikan kita?Kalau kita berbuat baik hanya sekadar untuk membalas kebaikan orang lain, atau dengan tujuan mendapatkan balasan yang sama, apalah artinya, “Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Lukas 6:33). Selain itu jangan pula kita berbuat baik karena suatu tendensi atau motivasi yang kurang tepat.
Rasul Paulus menasihati, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Jadi tidak ada istilah rugi atau tekor ketika kita melakukan perbuatan baik kepada orang lain, sebab pada saatnya kita akan menuai. Penulis kitab Amsal mengingatkan kita, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri,” (Amsal 11:17). Sebagai orang percaya, berbuat baik adalah suatu keharusan, buah dari keselamatan yang telah kita terima, dan merupakan bukti kita memiliki iman yang hidup!
Ingatlah! Sahabat, seseorang yang hanya melihat ke dalam dirinya sendiri serta memerhatikan segala kebutuhannya saja, maka akan sulit untuk bisa berbelas kasih kepada sesamanya. Padahal sesungguhnya, berbuat baik kepada sesama yang lemah itu sama halnya kita sedang memiutangi Tuhan (Amsal 19:17). Berkat yang Tuhan berikan kepada kita bukanlah melulu untuk memuaskan diri kita sendiri melainkan untuk memberkati sesama juga. Karena itu, jangan lupa berbuat baik karena demikianlah yang berkenan kepada Allah. Maukah Sahabat dan saya berbuat baik? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Berbuat baiklah! (pg). -
PENGAKUAN DAUD
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita memiliki Tuhan yang menciptakan, tapi juga yang memelihara makhluk ciptaan-Nya. Sahabat, aktivitas yang padat, kesibukan dalam pekerjaan, kondisi yang tidak menentu dan cepat berubah seperti saat ini, kadang membuat kita hanya fokus pada masalah yang kita hadapi dan kekuatan sendiri. Kita lupa untuk menyerahkan diri pada Tuhan.
Pengalaman hidup kita bercerita bahwa tanpa campur tangan Allah, kehidupan akan semakin sulit dijalani. Bagi orang percaya, terkadang Allah terpaksa “mengambil” hal-hal yang kita andalkan, supaya kita belajar bergantung dan berharap hanya kepada-Nya. Sahabat, siapakah yang selama ini kita andalkan? Ketika semua orang dan semua hal tidak dapat diandalkan, masih ada Allah yang senantiasa dapat kita andalkan.Sahabat, hari ini kita akan belajar dari pengakuan Daud yang terdapat di Mazmur 28:1-9 di bawah judul: “Tuhan perisaiku”. Mazmur 28 terdiri atas tiga bagian: Pertama, seruan minta tolong (ayat 1-2). Kedua, permohonan agar jangan dibinasakan bersama orang fasik (ayat 3-5), dan ketiga, ucapan syukur, pengakuan percaya, dan doa syafaat (ayat 6-9).
Melalui Mazmur 28 kita dapat melihat pengalaman yang dialami oleh Daud ketika ia merasa ditinggalkan Allah. Sesaat ia merasa bahwa Allah tidak mendengar seruan doanya. Ia tidak tahu mengapa Allah diam. Daud merasa tidak ada lagi harapan.
Daud berpikir bahwa TUHAN hendak menghukumnya seperti orang fasik. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun (ayat 3-4). Dalam pengalaman doanya yang panjang, fajar harapan pun tiba. TUHAN menjawabnya. Karena itu ia bersyukur dan memuji TUHAN. Sebab TUHAN adalah perisai dan gunung batu tempat perlindungan yang aman dan dapat diandalkan. Itulah pengakuan Daud.
Sahabat, Mazmur 28 mengingatkan kita untuk tidak berhenti berdoa. Terkadang Allah memang terlihat begitu jauh sehingga doa kita pun sepertinya tidak pernah sampai ke telinga-Nya. Kalaupun Allah mendengar, mungkin Ia tidak mau menjawabnya.Kemudian pikiran kita mulai membentuk asumsi negatif. Misalnya: Apakah aku dihukum oleh Tuhan atau yang lebih ekstrem, apakah Tuhan itu ada? Tetapi dari Mazmur 28 kita tahu satu hal, yaitu Allah itu benar-benar ada, serta Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang berseru kepada-Nya, dari orang-orang yang berkeluh-kesah, dan dari orang-orang yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah.
Ingatlah! Sahabat, mulailah setiap hari dengan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan. Akuilah Dia dalam setiap langkah dan andalkan Dia dalam setiap aktivitas kita. Jangan takut dengan apa yang sedang terjadi, tetapi takutlah jika kita mulai menjauh dari Tuhan. Yakinlah bahwa di dalam Tuhan kita akan mendapat kekuatan dan kemenangan. Marilah dengan penuh keyakinan kita mengaku bahwa Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Maukah Sahabat dan saya melakukannya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg). -
MENGIMANI DOAMU
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan penuh syukur karena kita punya komunitas yang dapat saling mendoakan, saling menghibur, dan saling menguatkan. Sahabat, Martin Luther, salah seorang tokoh reformasi, mengatakan bahwa salah satu bentuk pelayanan yang dapat dikerjakan oleh orang percaya yaitu berdoa. Ada cukup banyak orang yang beranggapan bahwa berdoa merupakan hal yang sepele, gampang, kurang bernilai, hanya tinggal ngomong saja. Namun, sesungguhnya untuk memahami dan menyelaraskan doa kita agar sesuai dengan kehendak Allah sangatlah sulit, sebab ego kita seringkali mendahulukan apa yang kita inginkan. Belum lagi kalau kita harus berdoa dengan iman. Mengimani doa kita.
Sahabat, saya yakin setiap hari kita berdoa kepada Tuhan. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah berdoa dengan iman? Karena doa tanpa iman dan percaya adalah kesia-sian. Hanya dengan iman percaya kita dapat meraih janji Tuhan. Mari kita perhatikan sabda Tuhan Yesus, “ … apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.” (Matius 21:22)Untuk memahami masalah doa dengan penuh kepercayaan, kita akan berefleksi dari Injil Markus 11:20-26 di bawah judul: “Pohon ara yang sudah kering. Nasihat Yesus tentang doa.”
Sahabat, pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara yang dikutuk Yesus sudah menjadi kering sampai ke akarnya (ayat 20-21). Maka, Yesus, Sang Guru Agung, kemudian berbicara tentang iman dan doa. Yesus selalu menekankan besarnya peran doa. Menurut Sang Guru, doa yang dipanjatkan kepada Bapa Surgawi akan menjadi nyata bila diucapkan dengan penuh iman (ayat 23-24). Lebih lanjut Sang Guru berkata bahwa yang terpenting dalam doa: iman, pengampunan, dan kerendahan hati. Tanpa ketiga hal tersebut, mustahil Tuhan akan mengabulkan doa kita (ayat 26).
Ketika Pandemi Covid-19 melanda dunia, termasuk Indonesia, tentunya juga termasuk kota Semarang. Akibatnya ada cukup banyak orang yang terinfeksi Covid-19 dan yang terdampak Covid-19, termasuk Panti Asuhan (PA) Christopherus. Kemudian Pengurus, Pengasuh, dan anak-anak Panti berseru kepada Tuhan agar Tuhan mencukupkan kebutuhan mereka. Puji Tuhan!, Tuhan Yesus mendengar seruan dan doa-doa mereka. Tuhan menolong mereka melalui kegiatan pembuatan dan penjualan telor asin. Walau pun dalam situasi krisis ekonomi, Tuhan menggerakan banyak anak-anak-Nya dan berbagai pihak untuk memberikan bantuan kepada PA Christopherus, sehingga terjadi mukjizat, kebutuhan mereka dari hari ke hari dapat terus terpenuhi.
Sahabat, Tuhan Yesus menjamin bahwa doa dan permohonan orang beriman akan dijawab Allah. Oleh karena itu, doa kita haruslah berdasarkan iman kepada-Nya saja. Doa juga mestinya berdasarkan pengakuan bahwa tanpa belas kasih-Nya kita tidak mampu mengatasi semua masalah yang menimpa hidup kita. Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yakobus 5:16). Jangan pernah meragukan kuasa Tuhan, sebab mereka yang bimbang tidak akan memperoleh apapun (Yakobus 1:6-7).
Ingatlah! Sahabat, hal terpenting yang juga harus dilakukan dalam doa adalah belajar untuk mengampuni, melepaskan pengampunan bagi setiap orang yang pernah bersalah dan menyakiti kita. Mari kita tanamkan dalam hati, kita hanya mungkin berharap pengampunan dari Tuhan jika telah berupaya mengampuni orang lain. Dalam hal ini kerendahan hati kita merupakan dasar utamanya. Maukah Sahabat dan saya mengampuni setiap orang yang pernah menggoreskan luka di hati kita? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)




