
Author: Christopherus
-
MEMINJAMKAN BAHU bagi teman yang MEMBUTUHKAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat. Semoga kita mau meminjamkan bahu kita kepada sahabat yang sedang membutuhkan sandaran untuk mencurahkan segala kepedihannya. Sahabat, jangan pernah bermimpi akan terluput dari segala macam krisis atau masalah selama kita masih hidup di dunia. Krisis atau masalah coraknya bermacam-macam, datang tanpa bisa diduga, tanpa permisi, bisa datang sewaktu-waktu. Mengingat keterbatasan kita, maka sesungguhnya setiap manusia membutuhkan teman untuk berbagi beban hidup, Kita membutuhkan komunitas yang saling peduli, saling berbagi, dan saling menghibur dan menguatkan.
Apa yang terjadi esok tidak seorang pun yang tahu! Bisa saja hari ini semuanya tampak tenang dan wajar, sampai suatu ketika tiba-tiba masalah atau musibah, atau krisis datang menerjang, sehingga keadaan yang semula tenang berubah menjadi lautan yang bergelora.
Daud, yang hidup melekat kepada Tuhan, juga tak luput dari krisis atau masalah, Maka hari ini kita akan belajar dari pengalaman Daud yang terdapat di Mazmur 18:1-20.
Sahabat, Daud merupakan pribadi yang selalu bersyukur kepada Tuhan atas segala hal yang menimpa hidupnya, apakah itu baik atau buruk. Rasa syukur itu diungkapkan Daud secara jujur. Dalam kejujurannya terpancar kasihnya yang dalam kepada Allah. Pertanyaannya adalah bagaimana Daud bisa memiliki perasaan syukur yang mendalam kepada Allah?
Dalam hidupnya, Daud menjadikan Tuhan sebagai bukit batu, kubu pertahanan, penyelamat, Allah, gunung batu, tempat berlindung, perisai, tanduk keselamatan dan kota benteng (ayat 3). Artinya, Tuhan adalah satu-satunya tempat keselamatan yang kukuh, kuat, perkasa, dan abadi bagi Daud.
Sahabat, ketika seseorang memanjatkan syukur, pasti ada pengalaman khusus yang dialaminya saat itu. Bagaimana dengan dengan Daud? Pengalaman apa yang membuatnya berulang kali bersyukur kepada Allahnya? Ia menyatakan bahwa Tuhanlah yang telah menyelamatkan hidupnya dari musuh, ketika tali-tali maut melilitnya, banjir-banjir jahaman menimpanya, dan lolos dari berbagai perangkap maut. Saat Daud dalam kesesakan dan berteriak minta pertolongan Tuhan, ia menjumpai bahwa Allah tidak pernah mengecewakan dirinya. Allah selalu mendengar seruan hatinya (ayat 4-7).
Lalu bagaimana Tuhan menjawab Daud? Allah memerlihatkan keperkasaan dan kuasa-Nya. Kuasa Allah diungkapkan dengan kata, “Lalu goyang dan goncanglah bumi, dan dasar-dasar gunung gemetar dan goyang” (ayat 8), dan “Maka TUHAN mengguntur di langit (ayat 14). Semua ungkapan tersebut membuktikan betapa Allah sayang kepada Daud. Kasih Tuhan itulah yang memberikan Daud kekuatan untuk maju terus dalam iman dan pengharapan.
Ingatlah! Sahabat, dalam menjalani hidup ini, ada masanya setiap orang membutuhkan bahu untuk dapat berbagi beban hidup. Dalam menjalani hidup, kita perlu teman, sahabat, atau keluarga yang dapat diandalkan untuk berbagi kesedihan, sebagaimana Tuhan menjadi penolong bagi Daud untuk mendapatkan kelegaan saat ia bersandar kepada-Nya. Maukah Sahabat dan saya meminjamkan bahu bagi teman yang sedang membutuhkan? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg). -
Selama TUHAN masih DEKAT dengan KITA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena Tuhan telah memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati hari yang baru pada hari ini. Sahabat, saya mempunyai seorang rekan sepelayanan di kantor yang sering menderita sakit gigi. Saya sering berkata kepadanya, “Kalau kita sedang sakit gigi memang badan ini terasa sakit semua. Tapi ada yang lebih menyakitkan daripada pada sakit gigi yaitu sakit hati.” Apalagi kalau sakit hati karena dikhianati oleh sahabat sendiri. Aduuuh … terasa hati ini tertusuk duri.
Sahabat, memamg penderitaan karena sakit penyakit dan pengkhianatan orang terdekat merupakan dua penderitaan yang tidak mudah kita terima dan jalani. Dalam Mazmur 41:1-14 yang menjadi bacaan kita pada hari ini, Daud mengalami keduanya secara bersamaan.
Mazmur 41 merupakan penutup dari buku I (pasal 1-41) kitab Mazmur. Mazmur 1 membuka dan Mazmur 41 menutup dengan frasa “Berbahagialah orang yang …” (1:1; 41:2). Mazmur 41 menyimpulkan buku yang berisikan aneka ragam doa dengan pelajaran hikmat.
Sahabat, Daud mulai mengajar dengan pernyataan, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah” (ayat 2-a). Orang seperti itu akan mengalami dipedulikan Tuhan saat ia sendiri lemah (ayat 1b-3). Daud memakai contoh dirinya (ayat 5-10). Ia pernah sakit karena berdosa kepada Tuhan. Sakitnya sangat parah sehingga banyak orang percaya ia tidak akan sembuh. Orang-orang yang membenci dia akan memanfaatkan situasi sakitnya untuk menekan dia. Mereka menggosipkan dirinya bahwa Tuhan telah meninggalkannya, maka ia pasti akan mati. Teman dekatnya ikut-ikutan menghujat. Tak ada yang percaya dia akan sembuh dari sakitnya.
Daud mengalami hal itu saat orang datang menjenguknya, tetapi hati mereka penuh dusta dan kejahatan (ayat 7-9). Ia ungkapkan perasaan itu lewat kalimat, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (ayat 10). Mereka mengira Daud tidak akan selamat dari sakit jasmaninya (ayat 9) dan tidak akan bangkit lagi, karena kejahatan dan pengkhianatan yang dialaminya (ayat 6). Tidak demikian yang terjadi, meski situasi hidupnya belum berubah.
Sahabat, walau sakit penyakit dan pengkhianatan masih ia alami, tetapi Daud berserah penuh kepada Tuhan, “Tuhan kasihanilah aku, sembuhkanlah aku, ….” (ayat 5) dan “… ya Tuhan, kasihanilah aku dan tegakkanlah aku, …” (ayat 11). Bagi Daud, tidak jadi soal seberapa parah sakit penyakit yang ia alami, seberapa besar kejahatan yang dirancangkan oleh musuh-musuhnya, dan seberapa menusuk pengkhianatan yang dilakukan oleh sahabat karibnya.Selama Tuhan masih dekat dengan-Nya, Daud tahu bahwa ia masih punya penolong yang setia, sehingga ia dengan iman dapat berkata, “Tetapi aku, Engkau menopang aku karena ketulusanku, Engkau membuat aku tegak di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Amin, ya amin.” (ayat 13-14)
Ingatlah! Sahabat, jangan takut apa yang terjadi dalam hidup kita. Selama Tuhan masih dekat dengan kita, tidak ada sesuatu pun yang dapat menjatuhkan kita. Jalanilah hidup dalam ketulusan dan kepercayaan kepada Tuhan, maka Ia akan menegakkan langkah kaki kita. Maukah Sahabat dan saya menjalaninya? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg) -
SYUKURI dan NIKMATI Kehidupan sebagai ORANG PERCAYA
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita karena kita memiliki Tuhan yang begitu setia memerhatikan kehidupan kita. Sahabat, pergumulan klasik yang dirasakan oleh cukup banyak orang percaya: Mengapa ada cukup banyak orang yang takut akan Tuhan mengalami berbagai kesusahan dan ditimpa masalah berat, sebaliknya orang-orang yang tidak peduli dengan Allah sepertinya aman-aman saja, bahkan menikmati berbagai kemujuran?
Sejak zaman dahulu sampai sekarang, ada cukup banyak orang percaya merasa iri hati kepada orang fasik yang hidupnya sepertinya penuh dengan kemakmuran dan kenyamanan. Begitu pula dengan Pemazmur dalam Mazmur 73:1-28. Ia hampir terpeleset karena cemburu melihat kehidupan orang fasik yang menambah harta benda dan senang selamanya (ayat 12).
Sahabat, lalu apa yang harus kita lakukan ketika jatuh pada pemikiran yang sama dan tergoda untuk hidup seperti orang fasik? Seperti Pemazmur, kita harus terus berpegang pada Tuhan, walaupun kita tidak mengerti dan hati kita belum dapat menerimanya. Pemazmur mengatakan bahwa meski hatinya terasa pahit dan buah pinggangnya tertusuk-tusuk rasanya; meski merasa dungu dan tidak mengerti, ia tetap di dekat TUHAN (ayat 21-23).Perikop yang kita selidiki, pelajari dan renungkan pada hari ini merupakan mazmur pujian Asaf. Ia, penulis banyak Mazmur, seorang kepala pemimpin pujian yang diangkat Raja Daud (1 Tawarikh 16:5), juga bergumul dengan kenyataan ini. Ia memerhatikan kejayaan orang-orang fasik dengan banyak kemujuran (ayat 3-b), sehat-sehat (ayat 4), tidak mengalami kesusahan (ayat 5). Karenanya mereka menjadi sombong dan terus dalam kejahatan mereka (ayat 7-9), bahkan mengira Allah tidak mengetahuinya (ayat 11).
Sahabat, Asaf, seorang yang berhati tulus dan mengandalkan Tuhan (ayat 13), mulai ragu akan imannya. Ia merasa kesetiaannya sia-sia belaka (ayat 13), dan ia nyaris tergelincir (ayat 2).
Namun Asaf memutuskan setia dan tetap mencari Allah (ayat 17), serta berpegang kepada-Nya, sekalipun banyak hal tak dipahaminya (ayat 22-23). Ia berserah pada tuntunan Allah yang membawanya pada kemuliaan (ayat 24). Ia sadar bahwa miliknya yang paling berharga adalah Allah yang kekal (ayat 25-26). Ia pun mengerti bahwa situasi makmur dan mujur yang mereka alami itu bersifat sementara, suatu jerat, karena mereka ada di tempat-tempat licin (ayat 18-a), serta akan berakhir dalam kehancuran dan kebinasaan (ayat 18b-20).
Sahabat, sekalipun kita menghadapi banyak hal sulit yang tidak kita mengerti, seperti Asaf, hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mendekat kepada Allah dan menjadikan-Nya tempat perlindungan kita (ayat 28).
Ingatlah! Sahabat, kehidupan orang percaya selalu penuh dengan tantangan, termasuk tantangan dari dalam diri sendiri yang cenderung untuk mudah iri hati kepada orang yang dapat mereguk kenikmatan dan kelimpahan duniawi. Sesungguhnya kebahagiaan yang sejati hanya dapat diperoleh dalam Tuhan, dan bukan dalam apa yang ditawarkan dunia. Tidak perlu iri terhadap orang lain, syukuri dan nikmati kehidupan kita sebagai orang percaya yang diberkati oleh penyertaan Tuhan. Maukah Sahabat dan saya melakukannya. Tuhan memberkati Sahabat dengan keluarga. (pg) -
Sambutlah UNDANGAN YESUS
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh ketenangan karena kita memiliki Tuhan yang sangat peduli dengan segala pergumulan hidup kita. Sahabat, ketika sedang menulis renungan ini, saya dikejutkan dengan berita yang saya terima dari kerabat dan sahabat yang berdomisili di Kudus. Di Kudus saat ini terjadi lonjakan yang sangat drastis orang-orang yang terinfeksi Covid – 19. Semula yang terinfeksi sekitar 60 orang setiap hari, saat ini mencapai sekitar 480 orang setiap hari. Maka saat ini semua akses untuk masuk ke Kudus untuk sementara waktu ditutup. Selain itu dua tempat wisata religi juga ditutup.
Tentu masyarakat yang tinggal di kota Kudus saat ini menjadi gelisah, takut, dan khawatir karena orang yang terinfeksi Covid-19 terus bertambah. Untuk wilayah Jawa Tengah lonjakan Covid-19 bukan hanya di Kudus saja, tapi juga di Sragen, Wonogiri, dan Karanganyar.
Sahabat, ketika saat ini beban hidup semakin menindih, dengarlah undangan dari Tuhan kita Yesus Kristus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” (Matius 11:28-30)
Mungkin ada diantara pembaca yang bingung, kata-Nya Yesus mau memberi kelegaan, mengapa justru Tuhan Yesus minta kita memikul kuk dan beban-Nya? Betul, tapi Yesus memberikan jaminan yang melegakan bahwa kuk dan beban-Nya itu ringan. Lalu apa yang dimaksud dengan kuk dan beban oleh Yesus? Kuk melambangkan ketundukan dan ketaatan kita. Dengan demikian memikul kuk-Nya berarti tunduk dan taat kepada perintah-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan beban adalah perintah. Beban-Nya ringan karena kita tidak memikulnya seorang diri; Roh Kudus akan menyertai, menolong, dan memberi kita kekuatan untuk melakukannya (Yohanes 14:16).
Selain itu beban-Nya ringan karena tidak melebihi kekuatan dan kemampuan kita (1 Korintus 10:13). Beban-Nya ringan karena tidak akan melukai dan melumpuhkan kita, tetapi justru mendatangkan kelegaan dan ketenangan jiwa. Jadi, jalanilah hari-hari dengan ketundukan dan ketaatan pada pimpinan-Nya karena kita jugalah yang akan menikmati hasilnya. Bukannya mati tertimpa beban, kita malah akan dihidupkan karenanya!
Sahabat, kita tidak mampu memikul beban hidup sendirian, maka Rasul Petrus memberi nasihat, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7). Bahkan Tuhan sendiri telah berjanji, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5-b).Karena itu kuatkan diri dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus! Keadaan dunia ini boleh saja berubah, tetapi kita punya Tuhan yang tidak pernah berubah: kuasa, kasih, kemurahan dan kebaikan-Nya tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibrani 13:8). Tuhan Yesus tetaplah sebagai jalan dan kebenaran dan hidup bagi orang percaya.
Ingatlah! Sahabat, tidur memang akan mengistirahatkan tubuh kita tetapi tidak dapat mengistirahatkan jiwa kita. Hanya ada satu Pribadi yang bisa mengistirahatkan jiwa: Tuhan Yesus. Hanya Dia yang bisa memberi kita ketenangan batin. Maukah Sahabat dan saya menerima undangan dari Yesus? Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg)
-
AIR MATA yang Membawa PERTOBATAN dan PEMULIHAN
Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh harap. Semoga kita semua dapat mewariskan iman kita kepada generasi penerus, anak cucu kita. Sahabat, hampir pasti semua orangtua ingin meninggalkan warisan dalam bentuk harta. Semoga kita juga punya kerinduan yang kuat untuk dapat mewariskan “harta yang kekal” kepada anak cucu kita yaitu WARISAN IMAN KEPADA YESUS KRISTUS.
Untuk itu saya ajak Sahabat untuk menggali berkat dari kehidupan raja Manasye yang terdapat dalam kitab 2 Tawarikh 33:1-20. Meski telah menorehkan tinta emas dalam perjalanan karirnya, namun dalam kehidupan keluarganya, Hizkia bisa dikatakan kurang berhasil sebagai ayah karena tidak meninggalkan warisan iman kepada anaknya.
Sahabat, dalam bacaan kita hari ini dikisahkan tentang anak Raja Hizkia yang bernama Manasye. Anak tersebut lahir dalam masa perpanjangan umur Hizkia selama 15 tahun. Hanya saja anak tersebut tidak mengikuti jejak ayahnya yang saleh, karena pada kenyataannya Manasye adalah raja Yehuda yang paling jahat.
Sahabat, kealpaan Hizkia mewariskan iman kepada anaknya berakibat fatal: Manasye tumbuh menjadi orang yang jahat. Kejahatannya sebanding dengan orang-orang Kanaan, bahkan jauh lebih jahat dari mereka. Sebagai raja ia merasa dirinya mampu, kuat, dan punya kuasa dan harta yang melimpah. Itulah sebabnya ia tidak lagi menghiraukan firman Tuhan. Ia hidup dalam ketidaktaatan!
Manasye lebih memilih mendengarkan nasihat dari penasihatnya yang jahat dan menuruti rakyatnya daripada mendengarkan nasihat dari nabi Tuhan. Lebih keji lagi, Manasye mendirikan bukit-bukit pengorbanan kepada dewa-dewa. Tidak hanya itu, ia juga rela mengorbankan anak-anaknya sendiri sebagai persembahan kepada Baal. Sungguh hati Manasye sudah benar-benar sesat! (ayat 1-9)
Sahabat, saat ditegur dan diingatkan Tuhan ia tidak bergeming, “Kemudian berfirmanlah Tuhan kepada Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukannya. Oleh sebab itu Tuhan mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel.” (ayat 10-11). Manasye benar-benar dipermalukan!
Meski demikian Tuhan panjang sabar dan penuh kasih. Tuhan tetap mengasihi umat-Nya. Maka supaya tidak terlalu jauh tersesat dengan terpaksa Tuhan akhirnya menghukum Manasye. Tujuannya bukan untuk menghancurkan tetapi supaya bangsa ini bertobat. Maka dalam keadaan terjepit itulah Manasye baru menyadari kesalahannya. Ia datang kepada Tuhan dan minta pengampunan. Mendengar kesungguhan hati Manasye akhirnya hati Tuhan pun luluh. Tuhan pun melepaskan dia dari tangan raja Asyur. Lalu Manasye mulai hidup dalam pertobatan dengan menghancurkan dewa-dewa baal; patung-patung dan bukit-bukit pengorbanan pun dimusnahkannya. Akhirnya Manasye mengalami pemulihan.
Ingatlah! Sahabat, TUHAN acap kali mengizinkan datangnya badai sebagai “shock therapy” yang bertujuan menyadarkan segala kejahatan kita. Namun Tuhan memerhatikan derita kita. Seruan hati dan tangisan penyesalan akan kesalahan-kesalahan kita diperhatikan-Nya. Ada kekuatan dibalik tetesan air mata kita di hadapan Tuhan! Air mata yang membawa pertobatan dan pemulihan. Setiap tetesan air mata kita ditampung-Nya! Dia adalah Bapa yang baik yang menyediakan pengampunan dan melupakan segala pelanggaran-pelanggaran kita. Dengan kasih-Nya, Ia memulihkan keadaan kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. (pg).



