Author: Christopherus

  • Ketika TUHAN Terasa BEGITU JAUH

    Salah satu lagu Bimbo yang menjadi favorit saya  berjudul: “Tuhan”.  Penggalan liriknya berbunyi, “Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat.”  Para seniman  tampaknya sering digelisahkan oleh kehadiran Tuhan. Kapankah kehadiran Tuhan menjadi persoalan bagi kita? Ketika TUHAN TERASA BEGITU JAUH. Lalu, kapankah Dia terasa begitu jauh? Ketika semua hal dalam hidup ini menjadi porak poranda seperti saat ini.

    Sahabat, nabi Habakuk menyaksikan hal-hal yang membuatnya putus asa ketika bangsa Yehuda berubah setia kepada Tuhan. Habakuk sudah berseru kepada Tuhan lewat doa-doanya agar Tuhan bertindak mengganjar kelaliman bangsa itu, tapi Tuhan sepertinya terdiam; walaupun pada akhirnya Tuhan bertindak menghukum bangsa Yehuda dengan penyerbuan orang Kasdim (Habakuk 1:5-11).

    Tindakan Tuhan membuat Habakuk resah dan gelisah, dan lewat pewahyuan Roh Kudus, muncullah pernyataannya yang melegenda: “orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” (Habakuk 2:4). Orang benar akan hidup oleh iman. Di bagian akhir kitab Habakuk kita bisa membaca, ia menemukan alasan untuk tetap bersyukur (Habakuk 3:17-18) meskipun segala sesuatu yang ia doakan tak cepat dijawab oleh Tuhan. Ia tetap setia menunggu, meyakini bahwa Tuhan tak pernah diam untuk segala ketidakadilan yang disaksikannya. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah tidur.

    Sahabat, sangat mudah kehilangan kepercayaan ketika harapan dan impian kita tak segera mewujud. Namun, iman sejati mewujud dalam hati yang bersukacita, menanti, dan percaya, bahwa rancangan dan tindakan Tuhan selalu mewujud pada waktu-Nya.

    Bacaan Sabda: Habakuk 1:2-4. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

  • DUA UNSUR PENTING: Iman dan Perbuatan

    Ada dua unsur penting,  iman dan perbuatan.  Seseorang dapat dikatakan memiliki iman bila ia percaya meski belum melihat bukti;  selain itu, seorang beriman taat melakukan apa yang dia imani, apa pun risikonya.  Jadi, iman juga harus disertai perbuatan atau tindakan nyata. 

    Sahabat, jika kita berbicara mengenai iman tetapi tidak bertindak sesuai dengan apa yang kita percayai, hal itu adalah sia-sia.  Iman yang sejati bukanlah sekadar perkataan, namun harus diwujudkan ke dalam gaya hidup kita.  Iman yang disertai dengan tindakan pasti membuahkan hasil. 

    Rahab, perempuan sundal dalam kitab Yosua 2, merupakan penduduk kota Yerikho. Rahab telah mendengar tentang kuasa Allah Israel yang mengalahkan banyak bangsa, dan ia tahu orang Israel sedang menuju Yerikho sementara Allah menyerahkan kota itu ke tangan mereka.  Ketika dua orang pengintai Israel datang ke Yerikho, Rahab melihat itu sebagai kesempatan emas dan ia bertindak  (Yosua 2:1-20).     

    Sahabat, ketaatan Rahab mengaitkan tali kirmizi menunjukkan imannya pada perkataan para pengintai itu, yang secara tidak langsung merupakan janji Tuhan.  Karena iman pengharapan yang ditaruhnya pada Allahnya yang baru dia kenal, dan disertai tindakan nyata sebagai respons terhadap imannya, Rahab dan segenap keluarganya diselamatkan ketika orang Israel menguasai dan menghancurkan kota Yerikho.  Pelajaran dari hidup Rahab sudah jelas:  iman yang disertai tindakan selalu membuahkan hasil! (Yosua 2:21)

    Bacaan Sabda: Yakobus 2:14-26. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

  • JALAN TUHAN

    Sesungguhnya untuk mencapai suatu tujuan, hal yang paling kita butuhkan adalah jalan, sebab tanpa adanya jalan sampai kapan pun kita tidak akan pernah mencapai tempat yang hendak kita tuju.  Begitu juga bila kita salah dalam memilih jalan akan berakibat sangat fatal dan tidak akan pernah membawa kita ke tempat tujuan,  “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”  (Amsal 14:12).

    Sahabat, Daud berkata,  “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.”  (Mazmur 25:10).  Sayang, tidak semua orang mau menempuh jalan Tuhan, mereka lebih memilih berjalan menurut pengertian dan kehendaknya sendiri.  Pikir mereka jalan Tuhan itu penuh aturan atau rambu-rambu,  “… lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.”  (Matius 7:13-14). 

    Ada ungkapan yang mengatakan, “You are what you believe.”  Artinya apa yang kita percayai akan menentukan bagaimana sikap dan perilaku kita.  Jika kita percaya kepada uang maka perjalanan hidup kita akan sama seperti uang yang mengalami fluktuasi, yaitu keadaan turun-naik harga;  ketidaktepatan atau guncangan.  Namun bila kita percaya kepada Tuhan Yesus dan memercayakan hidup sepenuhnya kepada-Nya, keberadaan hidup kita akan seteguh batu karang yang tidak mudah diombang-ambingkan oleh badai apa pun.

    Bacaan Sabda: Amsal 3:5-8 dan Mazmur 143:8. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

  • SUKACITA SEJATI: Buah dari Karya Iman

    Sukacita adalah sebuah ungkapan rasa ketika kita berhasil menggapai keinginan hati kita. Namun, pernahkah kita mengaitkan sukacita dengan pemeliharaan Allah secara nyata dalam hidup? Lalu bagaimana kita mendapatkan sukacita sejati?

    Sahabat, Daud menjelaskan perihal sukacita sejati ketika ia menguraikan keberhasilan seorang raja yang berjalan bersama Tuhan. Kebanggaan diperoleh bukan sekadar karena keberhasilan dalam kehidupan atau pun kemenangan dalam peperangan, melainkan semata-mata karena karya Allah dalam hidup orang beriman.

    Memang tidak mudah meletakkan segala orientasi hidup kita kepada Allah. Namun, oleh Kristus kita telah diberikan pemahaman tentang Allah yang benar dan ditunjukkan tentang keberadaan Allah secara nyata dalam hidup (Yohanes 1:18; dan 17:3). Jalan untuk mendapatkan sukacita hanyalah dengan menerapkan iman sejati dalam kehidupan keseharian.

    Sahabat, iman yang sejati akan menghadirkan sukacita karena karya Allah dalam hidup orang percaya. Persoalannya adalah apakah kita mendasarkan sukacita pada hal yang bersifat sementara, atau hanya untuk memuaskan keinginan mata dan kedagingan kita. Sesungguhnya, sukacita sejati adalah buah dari karya iman yang kita terima dari Allah!

    Bacaan Sabda: Mazmur 21:1-14. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)

  • Kuasa Tuhan BEKERJA Untuk Kita

    Saat keadaan aman dan segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar, kita sangat mudah dan ringan saja untuk berkata bahwa kita beriman dan percaya kepada Tuhan. Bagaimana jika dalam situasi serba darurat dan mencekam seperti saat ini?

    Sahabat, sesungguhnya Allah di dalam nama Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman, bahkan di tengah kesulitan yang dahsyat sekali pun.  Keamanan, meskipun dalam situasi yang sulit,  akan tetap menjadi milik setiap orang yang tahu bahwa Allah adalah pembebasnya.  Putus asa pun tidak akan dialami.

    Memercayai dengan sungguh bahwa Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman,  membuat seseorang berada dalam sebuah kedamaian yang sempurna, tiada rasa panik, sebab ia tahu Tuhan akan menjaganya. 

    Sahabat, apa pun yang terjadi dalam hidup ini, menjaga pikiran untuk selalu tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus serta memelihara firman-Nya dalam hati adalah dua hal yang sangat penting.  Dalam perlindungan-Nya kita akan hidup dalam damai, bahkan melihat kuasa Tuhan bekerja untuk kita. 

    Bacaan Sabda: Yesaya 26:1-21. Sahabat, mari kita renungkan sejenak. Berkat apa saja yang kita dapatkan dari perenungan kita saat ini? Tuhan memberkati. (pg)