Author: Christopherus

  • Siapakah SAUDARA Kita?

    Siapakah saudara kita? Secara jasmani atau berdasarkan keturunan, mereka yang satu ayah dan satu ibu dengan kita, serta pertautan keluarga dari kedua belah  pihak. Secara rohani, mereka yang seiman. Secara politik, mereka yang sebangsa setanah air.


    Sahabat, kehidupan kekristenan itu unik dan luar biasa, berbeda dengan agama atau kepercayaan lain.  Apa uniknya?  Semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat  (pengikut Kristus)  disebut bersaudara, padahal secara biologis kita lahir berbeda, tidak ada hubungan darah (Efesus 2:19).

    Persaudaraan adalah hal yang baik untuk selalu dirawat, baik persaudaraan karena adanya hubungan darah maupun persaudaraan karena kita disatukan dalam perjumpaan kita dalam perjalanan hidup (salah satunya dalam kehidupan berjemaat). 

    Sahabat, Paulus mengingatkan kepada jemaat Roma bagaimana mestinya mereka berlaku dalam kehidupan  persaudaraan iman; bagaimana tindakan kita sebagai saudara (Roma 15:1-2)

    Melalui karya penebusan Kristus semua orang percaya dibawa ke dalam satu persekutuan dalam diri Kristus sendiri dengan Bapa, karena Kristus telah menebus kita dengan darah-Nya sendiri, artinya Ia menganggap kita saudara-Nya  (Ibrani 2:11-13). 

    Sahabat, untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Siapakah Saudara Kita?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Matius 25:31-46. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Tuhan Yesus menawarkan pengertian yang tak terduga. Siapa saja yang disebut sebagai saudara-Nya?
    2. Apa yang harus kita perbuat kepada mereka yang disebut sebagai saudara Tuhan Yesus tersebut?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • ReKat: Hanya DEKAT ALLAH aku TENANG (23 September 2021)

    Bacaan Sabda: Mazmur 62 : 1-13

    1. Yang menjadi dasar bagi Daud sehingga ia menjadi tenang adalah bahwa  pada Allah ada keselamatan dan harapan.
    2. Ajakan Daud kepada umat: Percaya kepada Allah dan mencurahkan isi hati kepada-Nya (berdoa). Adapun alasan Daud mengajak umat melakukan hal tersebut: 
    3. Allah tempat perlindungan kita.
    4. Kuasa itu berasal dari Allah ketika kita mendengar Firman-Nya.
    5. Allah adalah sumber Kasih Setia.
    6. Allah membalas setiap orang menurut perbuatannya.

    (Lidia)

  • JANGAN TAWAR HATI

    Hidup itu penuh dinamika. Kadang kita merasa hidup begitu cerah, namun kadang juga merasa hidup ini begitu suram. Suramnya hidup biasanya kita alami jika kita berhadapan dengan sakit penyakit, masalah dalam keluarga,  atau pergumulan hidup lainnya.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita  bahwa akan ada saatnya kita mengalami kesesakan akibat masalah-masalah kehidupan. Kita dapat merasakan kesesakan ketika muncul sakit penyakit, bisnis yang tidak berjalan lancar, atau ketika musibah terjadi. Hidup yang penuh kesesakan hendaknya dihadapi dengan tenang dan kita jaga agar tidak menjadi tawar hati,

    Tawar hati diartikan sebagai suasana hati yang tidak gembira, tidak bernafsu, tidak bersemangat, atau tidak menaruh perhatian. Tawar hati adalah merupakan suatu kondisi emosional negatif atau energi negatif yang akan merusak hidup dan kesehatan seseorang. 

    Tawar hati merupakan akumulatif dari beragam energi negatif sepeti patah semangat, pesimis, tidak mempunyai pengharapan, tidak berdaya, putus asa dan perasaan negatif lainnya. Tawar hati dipicu oleh persoalan yang berkaitan dengan kesehatan, masalah finansial, persoalan dalam keluarga, problematika dalam dunia kerja, persoalan sosial yang tidak sehat dan sebagainya.

    Sahabat, dalam masa kesukaran, pada umumnya orang cenderung kecil hati, semangat menjadi menurun, energi positif menjadi berkurang, dan energi negatif semakin mendominasi. Roh kita menjadi lemah, dan diikuti oleh serangan fisik, berupa sakit penyakit yang bermunculan. 

    Untuk menggali lebih dalam topik tentang tawar hati, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 24:10. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut:

    1. Secara implisit apa yang ingin dinyatakan oleh bacaan kita pada hari ini?
    2. Berdasarkan bacaan kita pada hari ini, apa yang menyebabkan kita menjadi tawar hati?
    3. Apa yang dimaksud dengan kata “kekuatan” dalam bacaan kita pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • BERSAMA TUHAN MELEWATI LEMBAH KEKELAMAN

    Orang bijak berkata, “Tidak ada pesta yang tidak berakhir, dan tidak ada badai yang tidak berlalu”, yang artinya di dunia ini tidak ada yang kekal, semuanya akan berlalu, termasuk pesta dan badai, termasuk kesenangan dan kesusahan.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita pasti pernah mengalami dan merasakan masa-masa yang sulit, serasa berada dalam lembah kekelaman. Maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 23:1-6.

    Dalam Mazmur 23, Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam ayat 4 Daud menyatakan,  “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku” (ayat 4)

    Sahabat, dalam ayat 4 Daud menyebutkan bahwa ada dua benda yang selalu dibawa oleh gembala yaitu gada dan tongkat. Gada terbuat dari akar pohon dengan panjang tidak lebih dari 40-50 cm.  Itu adalah senjata ampuh untuk melawan hewan-hewan buas yang hendak memangsa domba-dombanya.  Gada ini adalah gambaran tentang jaminan perlindungan dan pembelaan Tuhan dari para musuh.

    Sedangkan tongkat berfungsi untuk menepuk-nepuk tubuh domba ketika domba mulai berjalan melenceng arah atau menjauhi kawanannya.  Tongkat ini berbentuk melengkung di bagian pangkalnya seperti gagang payung, agar dapat mengait badan atau leher domba yang jatuh terperosok di lubang atau di jurang.  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dimaksud dengan “lembah kekelaman” di ayat  4 dalam kehidupan kita?
    2. Apa makna atau arti kata “berjalan” di ayat 4?
    3. Mengapa kita tidak perlu takut ketika harus berjalan atau melewati lembah kekelaman?
    4. Apa yang Tuhan janjikan ketika kita tetap setia berjalan bersama dengan Tuhan melewati lembah kekelaman? (ayat 5 dan 6)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MELESTARIKAN LINGKUNGAN

    Sahabat, bukan rahasia lagi bahwa kerusakan lingkungan terbesar terjadi akibat ulah manusia. Bukannya melakukan eksplorasi, manusia justru mengeksploitasi alam. Berbagai bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor berkaitan erat dengan rusaknya lingkungan di sekitarnya. Pemanasan global yang sekarang sering dikampanyekan juga merupakan akibat kerusakan alam.

    Sesungguhnya Kewajiban untuk memelihara lingkungan dan alam semesta merupakan  perintah Tuhan.  Walaupun demikian, topik melestarikan lingkungan jarang dibahas dalam kotbah di gereja maupun tulisan renungan, mungkin  karena anggapan bahwa hal tersebut hanya menyangkut hal duniawi dan merupakan kewajiban pemerintah.

    Sahabat, sejak penciptaan dunia beserta isinya,  Tuhan mengingatkan kita bahwa selama hidup di dunia kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup kita. Hal itu bukan saja menyangkut tanggung jawab kita atas keadaan alam, kesehatan lingkungan dan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut cara hidup dan tindak-tanduk kita yang bisa memengaruhi orang-orang di sekitar kita.

    Dalam segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, kita harus sadar bahwa kita adalah wakil dan duta besar kerajaan Tuhan di dunia. Selain itu, kabar baik yang kita sampaikan kepada seisi dunia, bukan saja mengenai kebahagiaan di surga tetapi juga mengenai keadilan sosial dan kesehatan lingkungan yang seharusnya bisa dinikmati setiap manusia di dunia.

    Untuk menggali lebih dalam topik tentang melestarikan lingkungan, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 2:15 dan Ulangan 20:19-20. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bangsa Israel ketika memerangi musuh mereka? (Ulangan 20:19-20)
    2. Di kitab Kejadian dinyatakan bahwa seluruh alam semesta ini merupakan karya Tuhan yang diciptakan dengan sangat baik. Tugas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia? (Kejadian 2:15)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Lupa BERTERIMA KASIH

    Kami ingat dengan nasihat dari orang bijak: “Tuliskanlah segala kebaikan yang kamu terima di loh hatimu, sebaliknya tuliskanlah segala kebaikan yang telah kamu perbuat untuk orang lain di pasir dekat laut.” Kami terus mengingat dan berusaha mempraktikkan nasihat tersebut.

    Sahabat untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Lupa BERTERIMA KASIH”, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Lukas 17:11-19. 

    Dikisahkan saat itu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Ia baru masuk ke sebuah desa. Saat itulah, ada sepuluh orang kusta meminta belas kasih-Nya dan memohon kepada Yesus agar ditahirkan.

    Sahabat, orang Yahudi menganggap penyakit kusta sebagai hukuman atas dosa tertentu dan mengucilkan penderitanya. Itulah sebabnya mereka hanya berteriak dari kejauhan, “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (ayat 13). Mereka tidak dapat mendekati Yesus karena hukum Ibrani melarang orang kusta mendekati siapa pun.

    Sepuluh orang kusta itu tidak langsung meminta Yesus memberi kesembuhan. Mereka hanya meminta belas kasih-Nya agar sudi melihat penderitaan mereka.

    Sahabat, Yesus mendengar teriakan mereka dan menunjukkan kasih-Nya. Akan tetapi, apa yang Ia lakukan kemudian? Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Ia pun tidak menjanjikan kesembuhan. Yesus terlebih dahulu ingin menguji ketaatan mereka. Ia memerintahkan agar mereka pergi menemui imam (ayat 14).

    Ternyata, para penderita kusta itu memiliki iman untuk menaati Yesus. Mereka menerima ujian dan membuktikan ketaatannya. Setelah itu, kesembuhan pun terjadi.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Mengapa kita perlu berterima kasih kepada Tuhan?
    2. Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 17 dan 18?
    3. Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 19?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)