Author: Christopherus

  • ReKat: DOA membawa KEBERHASILAN (27 Desember 2021)

    Bacaan Sabda: Mazmur 20:1-10

    Tuhan sudah mengabulkan Doaku:

    Pada bulan Desember 2017 istri saya (Bu Esty) tiba-tiba terjatuh di dapur di mana kami tinggal di perumahan dosen Sekolah Tinggi Teologi  Injili Abdi Allah (STT IAA),  Pacet – Mojokerto. Langsung Bu Esty dibawa ke RS Mojosari. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter,  ternyata Bu Esty bermasalah dengan jantungnya. Kemudian dirujuk ke RS Islam Mojokerto yang peralatannya lebih lengkap. Bu Esty menjalani perawatan di RS Islam.

    Mengingat kondisi kesehatan istri, maka  pada kesempatan tutup semester Desember 2017,  saya pamit mengundurkan  diri dari mengajar di STT  IAA Pacet.  Pada 4 Januari 2018 kami pulang ke rumah  di Bogor.

    Sejak tinggal di Bogor Bu Esty menjalani pemeriksaan rutin di poliklinik jantung RS PMI Bogor. Kemudian pada bulan September 2021 oleh RS PMI dirujuk ke RSUD CIawi. Dari hasil pemeriksaan,  dokter menyatakan Bu Esty perlu menjalani operasi pasang alat pacu jantung. Kami setuju untuk kepetingan kesehatan Bu Esty. Oleh dokter RSUD Ciawi, Bu Esty dirujuk ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta.

    Sesuai jadwal maka pada 17 Desember 2021 dilaksanakan pemasangan alat pacu jantung. Proses berjalan lancar. Kemudian setelah menjalani perawatan beberapa hari, Bu Esty diperkenankan pulang.  Nanti pada 25 Maret 2022 jembali ke RS Jantung Harapan Kita Jakarta untuk keperluan pengecekan alat pacu jantungnya.

    Kami sungguh bersyukur, Tuhan telah memberi kemenangan dan pertolongan dari surge. Terima kasih untuk dukungan doa dari  keluarga, jemaat GKMI Bogor, dan teman-teman di Persekutuan Muria Wredatama (PMW). Segala hormat dan pujian hanya bagi-Mu Tuhan. (Haryono)

    ***.

    Tuhan sudah mengabulkan doaku:

    Ringkas ceritanya pada bulan Maret 2020 kami tidak bisa membayar kontrakan rumah untuk satu tahun kedepannya. Kami sudah berusaha untuk membayar semampu kami, buat 3 bulan ke depan, namun dari pihak pemilik rumah tidak bisa menerimanya. Kami mengalami kepanikan dan beberapa Hamba Tuhan mendoakan kami.

    Tepat tanggal  2 Maret 2020, kami dimintai untuk pembayaran sewa satu tahun dan mereka menolak pembayaran kami yang hanya  bisa sampai tiga bulan. Jika kami tidak bisa memenuhi, Pemilik rumah tetap minta kami untuk meninggalkan rumah itu dalam waktu sehari.  

    Pertolongan Tuhan tak pernah terlambat bagi orang percaya yang selalu berharap kepada-Nya. Ada seoang teman kami yang begitu baik, dan beliau langsung menawarkan rumahnya untuk kami tempati hingga sekarang ini.

    Luar biasa kasih Allah kepada umat-Nya, mari kita terus mengandalkan dan menomorsatukan Tuhan di dalam kondisi bagaimana pun  juga dalam kehidupan ini. Dia tidak  pernah meninggalkan kita bergumul sendiri. Tuhan Yesus Memberkati. (Swan Lioe)

  • KECIL namun DIPERKENAN TUHAN

    Kota Filadelfia merupakan kota termuda di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Kota ini dibangun Raja Attalus II pada 150 SM. Attalus membangun kota itu untuk menyatakan kasihnya kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karena itu, kota ini diberi nama Filadelfia, dari kata bahasa Yunani yang artinya “orang yang mengasihi saudara laki-lakinya”.

    Kota Filadelfia  berada di tempat yang strategis di jalur utama pos Kekaisaran dari Roma ke daerah timur, karenanya kota ini disebut “Pintu gerbang ke timur”. Kota ini juga disebut “Athena Kecil” karena banyaknya kuil di kota itu. Tidak jauh berbeda dengan kota yang lain, jemaat Filadelfia juga sedang menghadapi penganiayaan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KECIL namun DIPERKENAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:7-13 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Yesus menyurati jemaat Filadelfia untuk memuji pekerjaan mereka, ketaatan mereka kepada firman Tuhan, dan keteguhan mereka untuk tidak menyangkal nama Kristus dalam penderitaan. Dia mendorong mereka tetap tekun dan bertahan di dalam penderitaan. Tuhan berjanji kepada mereka yang setia bahwa Dia akan memelihara mereka dari kesukaran lebih besar yang akan terjadi.

    Sahabat, jemaat Filadelfia dikatakan sebagai jemaat yang kekuatannya tidak seberapa, namun mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Mereka menerapkan kasih persaudaraan di sana, dan ternyata meski kekuatan mereka tidak seberapa, namun kesatuan mereka yang erat dan penuh kasih itu ternyata sanggup membawa pembedaan dan hasil yang luar biasa. Begitu luar biasa hingga Tuhan pun berkenan memuji mereka.

    Kehidupan jemaat di Filadelfia memberikan inspirasi bagi kehidupan gereja masa kini. Minoritas dengan banyak tekanan dari luar. Tetapi, gereja Tuhan harus memiliki komitmen untuk hidup menaati firman Tuhan dalam situasi apa pun. Tantangan dan kesulitan yang datang justru merupakan ujian iman dan ketaatan kita kepada Tuhan. Mari tetap tekun dan setia kepada-Nya di tengah-tengah kesukaran dan permasalahan yang kita alami.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari firman Tuhan yang terdapat di ayat 7?
    2. Apa yang menyebabkan Tuhan Yesus sangat berkenan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 8)
    3. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 10-11)
    4. Apa yang dijanjikan Tuhan dalam ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN

    Sahabat, tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka.  Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan itu dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang positif akan menghasilkan kekuatan dan peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan. 

    Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, tawar hati dan kehilangan pengharapan. 

    Untuk lebih memahami topik tentang “MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan mazmur pujian ini dilantunkan sang pemimpin biduan, menurut Yedutun. Dia dicatat sebagai seorang Lewi yang diangkat Daud untuk memimpin ibadah musik di Bait Suci. Yedutun dimaknai juga keluarga biduan atau kelompok musik ibadah di Bait Suci.

    Dikisahkan dalam bacaan kita  bahwa gubahan lirik lagu Mazmur Asaf ini menggambarkan kerinduan Pemazmur untuk berseru-seru dengan nyaringnya kepada Allah. Agar hendaknya Allah berkenan mendengarkan doa dan permohonannya. Supaya Tuhan mengabulkan permintaannya.

    Di masa lampau, Pemazmur pernah mengalami keajaiban pertolongan dan kasih Tuhan. Namun dalam kesenyapan pergumulannya kali ini, Pemazmur mengungkapkan salah satu pertanyaan: “Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya?” (Ayat 9)


    Pemazmur hanya punya dua pilihan jawaban: Ya atau tidak. Jika ya, berarti Pemazmur harus menolak segala yang pernah ia percayai tentang Allah. Jika iya, artinya Pemazmur memercayai bahwa kasih setia Allah yang tak berkesudahan itu sesungguhnya hanyalah mitos. Namun jika jawabannya tidak, berarti Pemazmur menerima bahwa Allah adalah Tuhan dan Ia tidak pernah berubah dan kasih-Nya tak berkesudahan. Manakah yang Pemazmur pilih?

    Syukur, Pemazmur memilih berkata TIDAK terhadap pertanyaan di atas dan tetap memercayai Allah. Oleh karena itu, ia tetap mengingat dan merenung (ayat 12-13). Bila pada bagian sebelumnya, Asaf mengingat dan merenung kesusahannya, penderitaannya, kemalangannya (ayat 3-11). Namun, pada bagian selanjutnya, Asaf mengingat dan merenungkan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib. Di tengah penderitaan yang begitu berat dan kesenyapan yang dia alami, Pemazmur memilih untuk merenungkan perbuatan-perbuatan dan keajaiban-keajaiban yang telah TUHAN lakukan atas Israel umat-Nya (ayat 12-13). Hal itu memberi kekuatan kepadanya, meskipun ia belum memperoleh jawaban atas seruannya agar Tuhan mendengarkan dan memerhatikan dia (ayat 2 dan 10).

    Sahabat, pada bagian ini, Asaf berseru agar ia melihat Tuhan dan menjadi gentar sebagaimana air dan samudera raya (ayat 17), bahkan tetap gentar sekalipun jejak Tuhan tak terlihat di dalam hidupnya (ayat 20). Ketika Asaf memagari emosi dan kekalutannya dengan kebenaran dan perenungan akan Tuhan, Asaf bangkit dari krisis imannya dan tetap memercayai Allah.

    Sahabat, di hari pertama dalam tahun baru 2022, mari kita berkomitmen: Tetap memercayai Allah, sekalipun jejak pertolongan-Nya tak terlihat oleh mata jasmani kita. Kiranya dengan mata rohani kita tetap memandang dan percaya kepada-Nya, Sang Penolong sejati. (pg) 

  • MENUTUP Lembaran Tahun 2021

    Pandemi Covid-19 di Indonesia sepanjang tahun 2021 mengguncang iman, hati, dan hidup kita. Namun begitu, kami berharap Sahabat dan kami tetap dapat menikmati campur tangan dan pertolongan  Tuhan dalam perziarahan hidup kita di sepanjang tahun 2021.

    Sahabat,  lika-liku perjalanan hidup kita yang penuh kegembiraan maupun kesedihan, yang meninggalkan kenangan indah dan kenangan pahit dalam ingatan. Selain itu banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Tuhan dan banyak pula yang masih menunggu waktu Tuhan. Pertanyaannya, sudah berapa jauh kita berjalan menuju arah yang lebih baik? Berapa banyak yang kita lakukan untuk  sesama? Sekarang merupakan saat yang tepat dan baik bagi kita untuk  mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan satu tahun terakhir ini.

    Kita tahu bahwa waktu yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi. Semua yang telah kita alami adalah guru terbaik yang mengajar kita dalam banyak hal. Kenangan dari setiap perjalanan dan proses yang telah kita lewati adalah pelajaran yang sangat berharga. Kita meyakini, semua itu tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan sebagai bukti kasih-Nya dalam hidup kita. Maka biarlah semua itu semakin menguatkan iman dan pengharapan kita dalam menyambut tahun  baru 2022.

    Sahabat, bersihkan hati dan buang jauh-jauh hal-hal yang menyakitkan, kepahitan, kekecewaan, kegagalan, iri, dengki, dendam dan yang lain sejenisnya. Hendaklah kita saling mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu. Tanamkan semangat yang positif, senantiasa bersyukur dan percaya pada Allah kita yang luar biasa. Simpan kenangan indah yang telah kita alami untuk dapat kita kenang dikemudian hari.  Tutup tahun ini dengan sukacita dan damai di hati. Ucapkan selamat tinggal pada tahun 2021, yang mungkin merupakan tahun yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Mari  persiapkan hati dan hidup kita menyambut tahun  baru 2022, tahun dengan lebih banyak sukacita dan harapan baru.

    Sebelum kita menutup lembaran tahun 2021, mari kita mendaraskan: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.”  (Mazmur 77:12). (pp)

  • BUKALAH PINTU HATIMU

    Laodikia terletak kira-kira 43 mil sebelah tenggara kota Filadelfia, 11 mil sebelah barat kota Kolose, dan 6 mil sebelah selatan kota Hierapolis (bnd. Kolose 4:13) di Lembah Lisius. Kota ini adalah pintu gerbang ke Efesus, batas timur kira-kira 100 mil merupakan pintu gerbang ke Siria.

    Sahabat, Laodikia menjadi pusat perdagangan yang makmur dan  berpengaruh. Industri wolnya berkembang pesat dengan produksi dan ekspor wol hitam, manufaktur pakaian sehari-hari dan pakaian mahal, serta penemuan salep mata yang efektif. Kota ini memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasi dalam bidang pengobatan mata dan telinga, dan telah mengembangkan salep untuk penyembuhan radang mata. Salep mata ini membuat sekolah kedokteran di Laodikia menjadi terkenal pada waktu itu.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BUKALAH PINTU HATIMU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:14-22, dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan kepada jemaat di Laodikia mengingat kondisi rohani mereka yang tidak dingin dan tidak panas (ayat 15). Keadaan suam-suam kuku itu seperti makanan yang menjadi basi, dan Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya (ayat 16), artinya mereka tidak dapat menyatu dengan Tuhan.

    Jemaat di Laodikia merasa hidup mereka sudah cukup dengan kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan, namun di mata Tuhan, mereka miskin dan buta rohani (ayat 17). Tuhan menasihatkan agar mereka membeli emas murni, iman sejati dari Tuhan; dan pakaian putih yaitu kekudusan yang dianugerahkan Tuhan; serta minyak untuk melumas mata mereka agar celik dalam melihat kebenaran (ayat 18). Sesungguhnya itulah kekayaan rohani yang dibutuhkan oleh setiap orang percaya

    Sahabat, Allah menginginkan setiap jemaat-Nya bertumbuh dan berkembang, Allah tidak menginginkan kita berdiri di tempat, tidak maju tidak mundur. Mereka akan mengalami stagnasi dengan tidak bergeming terhadap perubahan atau mereka tidak ada respons untuk bergerak dan maju bagi pertumbuhan rohaninya.

    Oleh karena itu Allah berdiri di muka pintu dan mengetuk, Allah berusaha mengetuk pintu hati kita yang sudah tertutup. Kadang-kadang kita merasa tidak butuh Tuhan, tidak butuh apa-apa lagi. Keadaan sepeti ini sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kerohanian kita mungkin akan menjadi lemah dan mati. Diri kita menjadi suam, tidak maju dan tidak mundur, bahkan kita sering menjadi apatis terhadap segala kegiatan, pergumulan,  dan perubahan dalam gereja.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan yang disampaikan kepada jemaat di mana? (Ayat 14)
    2. Bagaimana kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 15)
    3. Apa reaksi Tuhan terhadap kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 16)
    4. Mengapa jemaat tersebut kerohaniannya mengalami stagnasi? (Ayat 17)
    5. Apa yang harus dilakukan oleh jemaat tersebut agar mengalami pemulihan? (Ayat 18)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • IBADAH: Ungkapan Iman

    Ibadah adalah ungkapan iman kita. Apakah artinya? Ibadah yang hidup terpancar dari iman yang dinamis, nyata, dan melewati pergumulan bersama dengan Allah. Adalah hal yang mulia untuk menghadirkan iman kita dalam setiap ibadah dan mengungkapkannya kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.

    Sahabat, bagaimana sikap hati kita saat memersiapkan diri dalam ibadah? Adakah kita berdoa memohon Tuhan untuk menyadarkan kita akan keberdosaan dan kebutuhan kita akan kasih anugerah-Nya? Atau pernahkah kita pergi beribadah dengan maksud untuk bisa memberi yang terbaik kepada Allah?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IBADAH: Ungkapan Iman”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 24:1-10. Sahabat, Mazmur  24 mungkin dipakai dalam ibadah di bait Allah untuk merayakan Allah sebagai Raja, Pencipta alam semesta (ayat 1-2). Sebagai Raja, Allah berhak menuntut seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia, tunduk menyembah Dia dan taat pada firman-Nya.

    Dalam tradisi Perjanjian Lama, Mazmur 24 adalah nyanyian bangsa Israel ketika mereka berjalan ke Gunung Sinai untuk beribadah kepada Allah. Mazmur 24 disusun dengan tatanan, misalnya: Pernyataan siapakah Allah, Pencipta semesta dan Raja yang berdaulat. Inilah Allah yang disembah orang Israel sehingga mereka tidak boleh memandang sebelah mata ibadah kepada Allah leluhur mereka. Karena itu, mereka perlu memersiapkan diri sebaik mungkin.

    Sedangkan ayat 3-6 berperan sebagai pengujian diri, yaitu hal apa saja yang diharapkan Allah dari umat saat mereka datang menyembah-Nya. Mereka tidak boleh dicemari dengan motivasi atau niat yang cemar. Seluruh hidup mereka harus mencerminkan sifat Allah.

    Prosesi perjalanan menuju Bait Allah akan membawa umat mencapai Pintu Gerbang Bait Allah di mana para imam akan berseru dari dalam: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” dan umat akan menjawab dari luar gerbang, “TUHAN, jaya dan perkasa. TUHAN, perkasa dalam peperangan!” Sahut-menyahut ini diulang saat umat melihat pintu gerbang Bait Allah terbuka untuk menyambut orang-orang yang rindu berbakti kepada Allah (ayat 9-10). Sungguh sebuah cara yang megah untuk memulai ibadah!

    Sahabat, puncak ibadah ialah undangan bagi Allah untuk bertaktha di bait-Nya yang kudus (ayat 7-10). Kemudian berkumandanglah paduan suara secara bersahut-sahutan, mungkin antara kaum Lewi dengan para imam dan diikuti oleh segenap umat yang ikut beribadah. Bayangkan kemegahan ibadah dan suara pujian yang menggema dan memancar keluar dari pelataran di mana umat berkumpul.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu secara pribadi, apa yang Sahabat lakukan ketika akan mengikuti ibadah di gerejamu. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat mensyukuri untuk tahun baru 2022 yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tuhan memberkati. (pg)