Author: Christopherus

  • Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT

    Siapa bilang saya tidak pernah sakit? Saya pernah sakit. Sahabat tentu  pernah sakit. Saya yakin setiap orang pasti pernah sakit. Sakit penyakit adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap orang. Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang menjadi sakit. Ketika seseorang sakit, dan lama dia tidak sembuh,  orang bisa merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Apakah Daud pernah sakit? Kalau pernah, bagaimana dia merespons dan mengatasinya?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 38:1-23. Sahabat, Mazmur 38  menggambarkan keadaan Daud pada waktu sakit dan dalam keadaan yang sangat buruk.  Daud menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan:  “Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.”  (ayat 8-9).

    Daud menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (ayat 4 dan 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (ayat 12).

    Pada saat yang sama, Daud merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Daud tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya.

    Sahabat, sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas tersebut. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. Belajar dari Daud, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Keluh kesah apa yang disampaikan oleh Daud dalam ayat 8-9?
    2. Pengakuan apa yang disampaikan oleh Daud pada ayat 6?
    3. Hal-hal apa saja yang membuat Daud menderita sakit? (Ayat 4-6)
    4. Apa yang dinyatakan oleh Daud di ayat 10?
    5. Kepada siapa Daud menaruh harapannya? (Ayat 16)
    6. Apa permohonan Daud di ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Tuhan, dalam kelemahanku,  nyatakanlah kekuatan-Mu. Bimbinglah aku  agar  tidak mudah  menyerah di tengah segala kelemahan dan kesakitanku.” (pg) 

  • AIR TUBA dibalas dengan AIR SUSU

    Sahabat,  dunia menggemakan ungkapan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Bagi Yusuf ungkapan tersebut tidak berlaku. Yusuf sangat yakin bahwa  Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah  (Roma 8:28 dan Kejadian 50:20).  Itulah sebabnya ia bisa mengampuni dan melupakan kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudaranya. Andaikan Yusuf mengandalkan kekuatan sendiri dan melakukan pembalasan terhadap apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudaranya, ia tidak akan mengalami peninggian dari Tuhan;  mimpi yang pernah ia terima pun tidak akan pernah menjadi kenyataan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “AIR TUBA dibalas dengn AIR SUSU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 35:1-16. Sahabat, Daud memberikan gambaran unik mengenai cara bersikap terhadap orang-orang yang membencinya dan yang ingin mencelakainya. Daud meminta pertolongan Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan yang memiliki kuasa untuk bertindak kepada mereka. Sekilas tampaknya permohonan Daud menyiratkan dendam, seakan-akan meminta supaya Tuhan mencelakai para musuhnya. Sesungguhnya penekanan Daud bukan pada dendam, melainkan pada penyerahan diri kepada Tuhan. Sebab, ia percaya pada keadilan Tuhan yang akan bertindak terhadap ketidakadilan yang menimpa umat-Nya.

    Selain itu, Daud juga tidak melakukan pembalasan. Sebaliknya, dia menunjukkan kepedulian dan empati terhadap musuhnya.  Ayat 13-14 menjadi kesaksian mengenai tindakannya bagi orang-orang yang membencinya. Dia berduka atas kemalangan mereka. Sebab dia menganggap mereka sebagai saudara sendiri. Ia tidak bergembira atas sakit mereka.

    Sahabat, pembalasan seringkali menjadi jalan pintas untuk memuaskan hasrat. Tetapi, pembalasan tidak menghentikan perbuatan jahat dan kekerasan. Meskipun pelaku kekerasan awalnya adalah korban kekerasan. Namun, mereka meniru tindakan kekerasan dengan cara membalas sakit hati dengan kekerasan terhadap musuhnya.

    Dunia ini penuh dengan kekerasan. Dunia membutuhkan empati dan pengampunan. Kita perlu berempati terhadap pelaku kekerasan dan mengampuni mereka. Empati dan pengampunan akan membuka jalan kepada pelaku kekerasan untuk bertobat.
    Mengampuni bukan berarti kalah,  justru merupakan jalan menuju kemenangan untuk meraih berkat-berkat Tuhan. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik oleh Daud  justru membalasnya dengan kejahatan, apa saja yang diperbuat oleh mereka? (Ayat 4, 7, 11, 15, dan 16)
    2. Sebaliknya apa saja yang diperbuat oleh Daud untuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya? (ayat 13 dan 14)


    Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa, “Tuhan, ajari kami untuk rendah hati  supaya kami tidak mendendam orang-orang yang berbuat jahat kepada kami, melainkan kami mampu untuk  berempati dan mengampuni orang yang berlaku jahat kepada kami.  Mampukan kami Tuhan untuk membalas air tuba dengan air susu.” (pg)

  • TERSAJI PILIHAN bagi kita

    Sahabat, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata PRASMANAN. Kalau saya langsung tertuju ada meja panjang, di situ ditata dengan apik dan menarik beberapa makanan, tamu undangan atau pembeli dipersilakan untuk memilih dan mengambil sesuai dengan seleranya atau kesukaan masing-masing. Selain itu setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan berapa banyak makanan yang hendak disantapnya. Tersaji pilihan bagi kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TERSAJI PILIHAN bagi kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, dalam karya-Nya, Tuhan menciptakan manusia dengan begitu istimewa. Manusia diberi kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Karena itu, dalam relasi dengan Allah, manusia bisa memilih untuk mendekat atau menjauh. Manusia bisa juga memilih untuk mendengarkan firman Tuhan, memerhatikannya, atau menolak firman itu dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

    Mazmur 36 menunjukkan keberadaan dua cara pilihan itu. Ada orang yang hati dan hidupnya dipenuhi dosa dan perilaku jahat (ayat 2-5). Ada pula orang benar yang berlindung dalam naungan sayap Tuhan (ayat 8). Keduanya sama-sama ciptaan Tuhan. Keduanya sama-sama menerima tawaran kasih setia Tuhan, namun respons mereka berbeda.

    Sahabat, seperti seseorang yang akan mengambil makanan secara prasmanan. Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap orang. Jika makanan yang diambil terlalu banyak, maka orang itu akan kekenyangan. Jika makanan yang dipilih semuanya berlemak, maka akan berisiko pada kesehatannya. Demikian pula halnya saat merespons kasih setia Tuhan. Orang yang menolak-Nya akan jatuh dan tidak bangkit lagi (ayat 13). Sedangkan orang yang menerima-Nya akan dikenyangkan dan mendapatkan terang kehidupan (ayat 9-10).

    Betapa berharganya kasih setia Tuhan, tanpa-Nya kita tak bisa berbuat apa-apa! Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikendalikan dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan. Jadi,  manakah yang hendak kita pilih?

    Sahabat, kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ayat 2-5 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa?
    2. Ayat 8-9 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa?
    3. Bagaimana Daud menggambarkan tentang Allah dalam ayat 6-10?
    4. Apa akibatnya bagi orang-orang yang menerima kasih setia Tuhan? (Ayat 9-10)
    5. Apa akibatnya bagi orang-orang yang menolak kasih setia Tuhan? (Ayat 13)

    Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Tuhan, kami bertekad untuk setia kepada-Mu dan siap dengan segala konsekuensinya.” (pg)