Author: Christopherus

  • ALLAH: KOTA BENTENGku

    Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar atau membaca ungkapan: “Setiap orang punya salibnya sendiri-sendiri.”  Ungkapan tersebut mau bertutur bahwa setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak ada seorang pun  yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tidak dapat terhindar dari problematika dan dinamika kehidupan. Berita baiknya: Pergumulan bisa saja datang silih berganti, namun, ada satu yang tetap sama, yakni Allah sumber pertolongan kita. Allah: Kota Bentengku.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: KOTA BENTENGku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 46:1-12. Sahabat, Pemazmur mengingatkan bahwa kita punya Allah yang adalah kota benteng kita. Perhatikan bagaimana Pemazmur sangat menegaskan hal tersebut dengan menyebutkannya sebanyak dua kali, yaitu di ayat 8 dan 12. Sebagai kota benteng, Allah adalah “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ayat 2).

    Bahkan, Pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (ayat 2-3). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia.

    Sahabat, Allah adalah kota benteng kita yang teguh. Oleh karena itu, Pemazmur mendorong kita agar di tengah kesukaran yang  kita alami, kita memandang pekerjaan Tuhan (ayat 9) dan berdiam diri di hadapan-Nya (ayat 11).

    Frase “pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 9) mengacu pada tindakan mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita dan di bumi ini. Ingat dan lihatlah sekelilingmu! Perhatikan betapa Allah punya kuasa untuk mengatur segala sesuatu demi kebaikan kita.

    Sedangkan frase “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (ayat 11) menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, hendaknya kita berdiam diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sebaiknya mengandalkan Tuhan.

    Sekalipun bencana alam menimpa, didera sakit penyakit, kemiskinan, pengkhianatan, atau persoalan hidup apapun yang membuat kita takut dan gentar, maka pandanglah kepada Tuhan. Andalkanlah Dia senantiasa karena Dialah kota benteng kita yang teguh. Allah: Kota Bentengku.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pemahamanmu tentang: “Allah: Kota Bentengku.” Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa: “Tuhan, tuntunlah dan mampukan aku untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya.  Biarlah melalui pergumulan yang hadir dalam hidupku,  aku semakin mengenal dan merasakan kasih-Mu.” (pg) 

  • LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH

    Sahabat, di komunitas orang percaya dikenal beberapa jenis nyanyian yaitu himne,  lagu-lagu segar (lagu pujian populer), lagu-lagu penyembahan, dan lain-lain. Sedangkan di masyarakat umum dikenal banyak macam jenis nyanyian atau lagu. Ada lagu pop, lagu ndang ndut, lagu mars, lagu melow, lagu balada, lagu cadas, dan lain-lain. Lalu apa yang dimaksud dengan Lantunan Pengajaran dan Kidung Kasih?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 45:1-18. Sahabat, Mazmur 45 merupakan nyanyian yang disampaikan oleh bani Korah pada waktu pernikahan raja. Uniknya, bani Korah menyatakan nyanyian tersebut bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran. Bahkan nyanyian pengajaran ditempatkan terlebih dahulu sebelum penyebutan nyanyian kasih.

    Sahabat, bukankah nyanyian pada waktu pernikahan lebih cocok disebut sebgai nyanyian kasih? Tetapi, mengapa bani Korah juga menyebutnya sebagai nyanyian pengajaran? Ternyata selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya (ayat  3, 4, 10, 11, 12), nyanyian tersebut juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan (ayat 5, 7, 8), melebihi keelokan fisik semata.

    Selain itu, mazmur tersebut juga mengajarkan betapa pentingnya ketundukkan dan hormat dari sang mempelai perempuan kepada raja karena ia adalah tuannya (ayat 12). Tindakan mempelai laki-laki yang didasarkan pada kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan, ditanggapi dengan hormat dan ketundukkan dari mempelai perempuan. Nah, konsep yang sama juga dapat kita jumpai  di  surat-surat Paulus, khususnya surat Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19.

    Sahabat, menariknya, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Ibrani 1:8-9, penulis Surat Ibrani mengutip bagian mazmur ini untuk merujuk kepada pribadi Yesus Kristus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata:…” (Ibrani1:8a). Itu  berarti, mazmur ini bukan sekadar mazmur yang dinyanyikan dalam rangka pernikahan raja, tetapi juga merupakan mazmur mesianis yang menggambarkan tentang keagungan pribadi dan relasi Yesus Kristus dengan gereja-Nya. Yesus yang di dalam kebenaran dan keadilan telah menunjukkan kasih-Nya bagi kita yang adalah gereja-Nya dan umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada-Nya di sepanjang hidup kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana Pemazmur menggambarkan karakter seorang pemimpin (raja) dalam ayat 5, 7, dan 8?
    2. Pengajaran apa yang hendak disampaikan oleh Pemazmur dalam ayat 3-4 dan 10-12?
    3. Ternyata Mazmur 45 juga merupakan Mazmur Mesianis, bagaimana Pemazmur menggambarkan  relasi Yesus dengan gereja-Nya?

    Selamat sejenak merenung.  Semoga kita dimampukan untuk dapat menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada Yesus di sepanjang hidup kita. (pg)

  • IMAN yang KUKUH

    Sahabat, bak air laut, ada pasang surutnya, demikian juga dengan perjalanan hidup kita, ada pasang surutnya. Masa lalu yang baik bukan jaminan bahwa keadaan akan selalu baik. Ada saatnya kita  mengalami kesusahan di tengah dunia ini, baik karena perbuatan diri sendiri, orang lain, atau karena sistem/keadaan dunia yang jahat dan berdosa. Bagaimana respons kita menghadapi pasang surut kehidupan. Bagaimana perjalanan relasi kita dengan Allah dalam menghadapi pasang surut kehidupan? Apakah kita punya iman yang kukuh?  Iman yang tidak mudah goyah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IMAN yang KUKUH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 44:1-27. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah refleksi Pemazmur. Ia menggambarkan penziarahan bangsa Israel bersama dengan Allah di dalam sejarah. Sekilas, perikop ini sedang bercerita tentang seruan bangsa Israel kepada Allah ketika mengalami penindasan. Namun jika dibaca secara utuh dan teliti, ternyata ada sebuah dinamika yang lebih mendalam.

    Mazmur 44 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (ayat 1-9). Bagian kedua, Pemazmur memaparkan kehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan.

    Sahabat, sekali pun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (ayat 18-22). Pada bagian terakhir, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (ayat 23-27).

    Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang atau pun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya.

    Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (ayat 5).

    Sahabat, pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekali pun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu, bagaimana imanmu kepada Allah ketika engkau sedang menghadapi masa surut dalam kehidupanmu? 

    Selamat sejenak merenung. Sudahkah Sahabat  mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan mengalami Dia di dalam hidupmu? (pg)

  • RUANG KOSONG di HATI MANUSIA

    Blaise Pascal asal Perancis, seorang penemu teori tentang probabilitas, dan menaruh minat di bidang filsafat dan agama berkata bahwa ada sebuah ruang kosong di hati manusia yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus. Sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang mampu mengisi ruang kosong tersebut baik harta, kekuasaan, maupun pemuasan keinginan lahiriah.

    Untuk lebih memahami topik  tentang: “RUANG KOSONG di HATI MANUSIA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Pemazmur menyatakan, jiwanya merindukan Tuhan seperti rusa merindukan sungai yang berair (ayat  2). Dalam situasi seperti itulah, Yesus Kristus hadir sebagai jawaban karena Dia telah datang sebagai Air Hidup (Yohanes 4:10) dan Roti Hidup (Yohanes 6:35). Di dalam Yesus, manusia menemukan kepuasan dan kebahagiaan sejati.

    Menurut nabi Yesaya, jika kita memerhatikan perintah Tuhan, kita akan memperoleh damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti (Yesaya 48:18). Sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera (Rama 15:33 dan 16:20).

    Sahabat, bila saat ini kamu merasakan adanya kekosongan hati yang membuat kamu merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, berarti kamu perlu semakin mendekat kepada Tuhan, agar Dia mendekat kepadamu (Yakobus 4:8). Sebaliknya, jika Sahabat menjauh dari Tuhan dengan terus mengejar hal-hal duniawi yang nikmat bagi daging, ruang kosong di hatimu  akan semakin menganga, menenggelamkan kepuasan dan kebahagiaan yang seharusnya menjadi bagianmu.

    Kita dapat mengundang Tuhan mengisi ruang kosong di hati kita  dengan damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Maka, kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung oleh baik-buruknya situasi dan kondisi.

    Sahabat, kenikmatan duniawi membuahkan kekosongan batin;  sedangkan Tuhan menawarkan kepuasan dan kebahagiaan. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dilukiskan oleh Pemazmur dalam ayat 2 dan 3?
    2. Apa yang diingat Pemazmur dalam ayat 5?
    3. Dalam ayat 7 Pemazmur ingin menggambarkan tentang apa?
    4. Apa yang ingin digambarkan oleh Pemazmur dalam ayat 4 dan 10-11?
    5. Apa yang dilakukan Pemazmur dalam ayat 2 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa, “Tuhan, terima kasih saat kami merindukan-Mu, di situ Engkau selalu hadir dan menyapa kami.” (pg)

  • Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN

    Tidak seorang pun yang hidupnya selalu lancar dan baik. Seorang yang sehebat dan sekuat apa pun pasti suatu saat lemah, sakit, atau terluka, baik secara fisik maupun emosi. Orang percaya pun mengalami hal yang sama.

    Sesungguhnya menderita sakit atau mengalami penderitaan tubuh yang disebabkan oleh penyakit itu bukanlah kehendak Tuhan, karena Dia tidak senang melihat umat-Nya menderita, sama halnya ketika Ia melihat umat-Nya hidup dalam dosa.  Itulah sebabnya, Tuhan Yesus rela menanggung segala dosa dan penyakit kita, melalui kematian-Nya di bukit Golgota (1 Petrus 2:24).  Ia melakukan itu sekali dan berlaku untuk selama-lamanya  (Ibrani 9:26-b).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, Dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, ada orang-orang yang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (ayat 6). Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (ayat 10). Para pembencinya mengatakan bahwa Daud menderita  penyakit jahanam/berat (ayat 9).

    Bagaimana sikap Daud  menghadapi sakit penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (ayat 4). Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (ayat 14) seolah-olah Allah telah menyembuhkannya.

    Sahabat, adakah hari ini ada diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Di tangan Tuhan ada kesembuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan  berikut ini:

    1. Dalam ayat 2-4, siapa yang dikatakan orang yang berbahagia dan apa saja yang akan diperolehnya dari Tuhan?
    2. Apa yang menjadi doa dan harapan Daud di ayat 5?
    3. Apa yang dikatakan dan diperbuat oleh musuh-musuh Daud? (Ayat 6-9)
    4. Apa yang telah dilakukan oleh seorang sahabat karib Daud? (Ayat 10)
    5. Apa yang Tuhan telah lakukan untuk Daud? (Ayat 13)


    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita mengikrarkan keyakinan kita,  “Tuhan, aku percaya dalam tangan-Mu ada kesembuhan.” (pg)