Author: Christopherus

  • Kasih Tak Bertepi, Pilihan Manusia

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Ulangan 6:5: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.”.

    Di tengah dunia yang semakin sibuk dan penuh distraksi, kasih yang tulus kepada Tuhan seolah menjadi barang langka. Kehidupan modern menawarkan begitu banyak hal yang terlihat lebih menarik daripada menjalani hidup dalam kasih kepada Sang Pencipta. 

    Dengan segala kesibukan, tujuan hidup yang berubah, dan godaan yang memikat, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak selalu mengarah pada Tuhan. Persoalan besar dari judul ini adalah: Mengapa Tuhan tidak membuat manusia secara otomatis mencintai-Nya? Mengapa Dia membiarkan manusia memiliki pilihan yang berpotensi membawa mereka jauh dari-Nya? 

    Kasih sejati selalu melibatkan pilihan. Tuhan yang Maha Pengasih tidak memaksakan cinta. Kasih yang dipaksakan tidak pernah menjadi kasih yang tulus. Jika kita tidak memiliki kebebasan untuk memilih, cinta itu hanyalah kepatuhan buta, tanpa makna. 

    Tuhan tidak menginginkan robot, melainkan hati yang rela. Kita melihat hal ini dari permulaan sejarah manusia di Taman Eden. Adam dan Hawa diberi kebebasan untuk memilih menaati Tuhan atau melanggar perintah-Nya. Sayangnya, mereka memilih untuk jatuh. Kejatuhan itu membuka jalan bagi penderitaan, rasa sakit, dan kematian. Tapi apakah ini berarti Tuhan gagal? Tidak. Justru di dalam kebebasan itu kita melihat besarnya kasih Tuhan.

    Kehidupan kita sebagai anak-anak Tuhan hari ini tidak jauh berbeda. Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan:  Apakah kita akan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau kita akan mengarahkan kasih kita kepada hal-hal lain yang lebih menarik di mata dunia? 

    Kerap kali, tanpa kita sadari, kita memilih yang kedua. Kesibukan, ambisi pribadi, kenikmatan sementara, semua itu menjadi tuhan-tuhan kecil yang mencuri tempat Tuhan di hati kita. Namun di balik itu semua, Tuhan tetap memberikan kita kebebasan. Dia tidak menghapus pilihan kita untuk mencintai atau menolak-Nya.

    Bayangkan seorang ayah yang memberikan kunci mobil kepada anaknya yang baru belajar mengemudi. Sang ayah tahu risiko yang ada, namun dia juga ingin memercayai dan memberi kesempatan kepada anaknya untuk bertumbuh. Dalam cinta yang sejati, ada risiko. Risiko bahwa kita akan salah memilih. Risiko bahwa kita mungkin berpaling. 

    Namun, kasih sejati juga memberi ruang untuk bertobat, kembali, dan mengasihi dengan tulus. Tuhan memilih untuk mencintai kita dengan cara yang sama, membiarkan kita bebas memilih, meski ada risiko kita jatuh, bahkan ketika kita sering kali salah arah.

    Saudaraku, Firman Tuhan dalam Ulangan 6:5 dengan jelas mengajarkan kita tentang jenis kasih yang Tuhan inginkan: kasih yang total, yang tidak terbagi-bagi. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Ini bukan hanya panggilan untuk kasih emosional semata, tetapi kasih yang melibatkan segenap keberadaan diri kita: Pikiran, perasaan, kehendak, dan tindakan. 

    Mengasihi Tuhan berarti mengutamakan-Nya dalam segala hal, menempatkan Dia di pusat hidup kita, meskipun ada banyak hal lain yang menarik hati kita. Namun, bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan dengan tulus di tengah dunia yang penuh dengan pilihan? Jawabannya terletak pada pengenalan akan kasih Tuhan yang lebih dahulu mengasihi kita. 

    Kita mengasihi Tuhan bukan karena kita dipaksa, tetapi karena kita sadar betapa besarnya kasih yang telah Dia curahkan kepada kita. Ketika kita merenungkan pengorbanan Kristus di kayu salib, kita melihat kasih yang tak bertepi. Tuhan tidak sekadar mengasihi kita dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan konkret yang membawa keselamatan. Kasih itu harus menjadi sumber kekuatan kita untuk membalas cinta-Nya dengan ketulusan.

    Apa yang harus kita bangun dalam diri kita sebagai anak-anak Tuhan? Pertama, kesadaran akan kebebasan kita untuk memilih. Kita harus memahami bahwa setiap hari kita memiliki pilihan untuk mengasihi Tuhan atau mengejar hal-hal lain. 

    Kedua, keinginan yang tulus untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Kasih kepada Tuhan bukanlah kewajiban yang berat, tetapi respons alami dari hati yang telah mengalami cinta-Nya. Ketiga, komitmen untuk menjaga kasih itu tetap hidup, bahkan ketika godaan datang untuk menarik kita jauh dari-Nya.

    Saudaraku, ketika kita memilih untuk mengasihi Tuhan dengan tulus, kita tidak hanya memilih kebahagiaan kekal, tetapi juga kehidupan yang penuh makna. Dalam kasih kepada Tuhan, kita menemukan siapa diri kita yang sebenarnya. 

    Dunia mungkin menawarkan begitu banyak pilihan yang terlihat menarik, tetapi pada akhirnya, hanya kasih Tuhan yang tak bertepi itu yang memuaskan hati kita. Apakah kamu memilih untuk mengasihi-Nya hari ini? Tuhan tidak akan memaksa, tetapi Dia SELALU MENUNGGU. (EBWR).

  • Life is a Choice

    MAZMUR 36. Sahabat, dunia yang kita tempati hari ini adalah dunia yang telah jatuh dalam dosa dan penuh dengan kejahatan. Setiap hari, kita mendengar, membaca, atau menonton medsos dan berita televisi tentang berbagai kejahatan di lingkungan kita, di kota tempat kita tinggal, di negara kita, serta di belahan lain dunia ini. Bagaimana tanggapan kita terhadap berita-berita seperti itu?

    Dalam Mazmur 36, Daud menyaksikan bahwa orang-orang fasik memenuhi hidup mereka dengan dosa dan kejahatan. Hati mereka tidak memiliki rasa takut terhadap Tuhan. Segala perkataan, pikiran, dan perbuatan mereka penuh dengan kejahatan dan tipu daya. 

    Menyaksikan hal seperti itu tidak membuat Daud takut, melainkan membuat Daud makin menyadari betapa besar dan berharganya kasih setia Tuhan dalam kehidupannya dan dalam kehidupan orang-orang lain yang mengenal Tuhan. Tuhan yang penuh dengan kasih setia selalu menyelamatkan, melindungi, memelihara, dan menuntun kehidupan umat-Nya. Tuhan adalah Tempat Perlindungan paling aman di dunia ini.

    Melalui pembacaan Mazmur 36 pada hari ini, marilah kita belajar untuk tidak terpaku pada dunia di sekeliling kita yang sering nampak menakutkan. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Tuhan. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Life is A Choice (Hidup itu Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, sesungguhnya hidup ini penuh dengan pilihan, dari yang sederhana hingga yang kompleks. Mulai dari urusan memilih mau pakai baju apa hari ini, hingga pilihan yang menentukan arah hidup kita di masa mendatang. Terlepas dari begitu banyaknya pilihan dalam keseharian kita, ada pilihan paling penting yang tidak boleh kita abaikan dan harus kita putuskan di dalam hidup ini, yaitu: menjalani hidup penuh dosa ataukah hidup penuh kebaikan Allah?

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud memerlihatkan kontrasnya gambar dari orang berdosa yang penuh kejahatan dan Allah yang penuh kebaikan. Digambarkan bagaimana bagi orang berdosa: Hatinya dipenuhi dosa (Ayat 2) dan hidupnya dipenuhi dengan kesalahan, kebencian serta kejahatan (Ayat 3-5). Akar dari kehidupan yang penuh dosa adalah orang berdosa tidak takut kepada Allah (Ayat 2b). 

    Gambaran ini sangat kontras sekali dengan gambaran Allah yang penuh kebaikan, seperti: kasih-Nya luas (Ayat 6), keadilan-Nya teguh (Ayat 7), Ia sumber kehidupan bagi segala ciptaan-Nya (Ayat 8-10). Oleh karena itu, bagi orang-orang yang takut akan Allah dan mengenal-Nya, hidup mereka dipenuhi oleh kasih setia dan keadilan Allah (Ayat 11). 

    Beda halnya dengan akhir hidup dari orang berdosa. Daud menegaskan di akhir mazmurnya:  “…orang-orang yang melakukan kejahatan itu jatuh; mereka dibanting dan tidak dapat bangun lagi” (Ayat 13).

    Sahabat, pertanyaan bagi kitah: Hidup manakah yang mewakili kehidupan yang kita jalani sekarang ini? Kehidupan yang tidak takut akan Allah dan penuh dengan keberdosaan? Atau kehidupan yang takut akan Allah dan penuh dengan kebaikan-Nya? Banyak orang mengaku menjalani hidup yang takut akan Allah, namun hidupnya penuh dengan dosa dan kejahatan. Tentu bukan itu yang Tuhan inginkan dari hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikekang dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan.

  • Waiting God’s Times Patiently

    MAZMUR 35. Sahabat, Mazmur 35 merupakan Nyanyian Ratapan. Nyanyian Ratapan termasuk satu bagian yang cukup besar dalam kitab Mazmur; dan ini menyatakan bahwa Firman Tuhan memberikan tempat untuk kita berespons di hadapan Tuhan dengan benar waktu kita sedang menderita.

    Kita bisa membagi Mazmur 35 dalam 2 bagian: Nyanyian Ratapan, dan Nyayian Pujian atau Ucapan Syukur. Mengingat Ratapan termasuk bagian yang besar dari Mazmur, ini berarti Tuhan juga mau mendewasakan kita melalui kita meratap di hadapan-Nya.  

    Ada orang yang di dalam penderitaan, dia tetap tidak bertumbuh. Meski dia mengalami penderitaan, kehidupannya tidak bertumbuh, karena dia tidak berespons di hadapan Tuhan, dia tidak bergumul di hadapan Tuhan,dia tidak mencari relasi dengan Tuhan, sehingga sia-sia saja penderitaan itu terjadi dalam kehidupannya, tidak menjadikan apa-apa. 

    Yang pasti, orang tidak perlu bangga karena dia menderita; tidak ada yang perlu dibanggakan dengan penderitaan. Sama juga dengan keberhasilan tidak perlu membuat kita bangga karena itu adalah berkat Tuhan, terlebih lagi, tidak ada yang perlu dibanggakan karena kita menderita. Tidak ada apa pun yang mulia dengan penderitaan. Penderitaan akan menjadi satu sarana yang baik, kalau kita berespons dengan benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dilakukan Pemazmur dalam Mazmur 35.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Waiting God’s Times Patiently (Menunggu Waktu Tuhan dengan Sabar)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 35:1-28. Sahabat, Pernahkah  diperlakukan dengan jahat oleh orang-orang yang Sahabat perlakukan dengan baik? Dalam ketidakmengertian atas perbuatan mereka, apa yang biasanya kita lakukan? Mengutuki, bersungut-sungut, mengecam, menyimpan dendam, atau mencari cara untuk membalas perbuatan mereka dengan lebih kejam?

    Daud pernah mengalaminya. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik olehnya justru membalasnya dengan kejahatan, antara lain: mereka ingin mencabut nyawanya (Ayat 4a), merancangkan kecelakaan baginya (Ayat 4b), tanpa alasan menjebaknya (Ayat 7), menuntutnya (Ayat 11), menistanya terus-menerus (Ayat 15), mengolok-oloknya (Ayat 16), memusuhinya tanpa sebab (Ayat 19), dan menipunya (Ayat 20). Padahal Daud tidak tahu apa kesalahan yang telah ia perbuat (Ayat 11). Ia berbuat baik kepada mereka (Ayat 12) dan menemani mereka yang sakit (Ayat 13-14). Karena perbuatan jahat yang tanpa alasan itu, Daud merasa hidupnya telah dirusak habis-habisan (Ayat 17).

    Menariknya, dalam ketidakmengertiannya atas kejahatan yang dialaminya, Daud tidak menyalahkan Tuhan. Ya, ia marah terhadap orang-orang yang telah berbuat jahat itu. Ia sakit hati atas kekejian mereka. Ia merasa dikhianati karena perbuatan baiknya dibalas dengan kejahatan. Tetapi semua kemarahan, sakit hati, dan perasaan dikhianati itu diserahkan kepada Allahnya.

    Kesadaran bahwa Tuhan adalah Hakim yang adil (Ayat 24), membuat Daudmenyerahkan perkaranya kepada-Nya. Daud paham, pembalasan bukanlah haknya, melainkan hak Tuhan. Daud belum jelas apa yang akan Allah lakukan atas perkaranya, dan entah sampai berapa lama Daud mengalami semuanya kejahatan itu (Ayat 17). Namun Daud tetap bersorak-sorak karena Tuhan (9) dan bersyukur kepada-Nya (Ayat 18). Daud menutup Mazmur 35 dengan doksologi yang agung atas kebesaran Tuhan (Ayat 27-28).

    Orang-orang di sekitar kita bisa berbuat jahat dan menyakitkan, tetapi percayalah bahwa kita punya Sang Hakim yang Adil. Bagian kita adalah menyerahkan hidup sepenuhnya ke dalam tangan-Nya, maka Ia akan bertindak.

    Daud sadar bahwa Tuhan mempunyai caranya sendiri dalam bertindak, entah membalas mereka saat itu juga atau di kemudian hari. Sikap Daud yang benar yaitu tetap memuji Tuhan dalam keyakinan imannya akan Tuhan, DIA MENUNGGU WAKTU TUHAN DENGAN SABAR,  bukan menuntut Tuhan bertindak sesuai dengan keinginannya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di bagian tengah Mazmur 35 ada sebuah perubahan besar yaitu ketika Daud mengakui bahwa keselamatan itu berasal dari Tuhan (Ayat 9), dan Daud tetap setia memuji Tuhan dalam segala hal (Ayat 18). (pg).

  • SATU BUKAN SERAGAM

    Saudaraku,  Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang ada pada lambang negara Garuda Pancasila.  Bhinneka Tunggal Ika memiliki arti berbeda tetapi satu.  Alkitab ternyata juga memuat nilai Bhinneka Tunggal Ika, maka mari kita merenungkan Kisah Para Rasul 2:1-40.

    Perayaan Pentakosta yang ramai menjadi makin hiruk pikuk dengan  kabar mabuknya para murid Yesus di pagi hari sehingga  rumah itu ramai dikerumuni massa.  Mereka yang mendatangi rumah itu kaget dan heran karena para murid itu bisa berbicara dalam berbagai bahasa dan massa memahami pesan yang disampaikan padahal para murid Yesus adalah orang Yahudi Galilea yang tak menguasai bahasa asing apalagi menerima mereka yang berbeda dengan bangsa dan adat mereka.  

    Yang lebih mengherankan adalah dari sekian banyak bahasa yang keluar dari mulut para murid yang tersampaikan kepada banyak orang asing itu memiliki  pesan yang sama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar. Pesan inilah yang membuat mereka membuka telinga kepada Injil dan setelah Petrus menjelaskan situasi, mereka menjadi percaya dan dibaptiskan.  

    Peristiwa Pentakosta ini menjadi titik balik dari para pengikut Yesus dari sekumpulan para penakut yang pesimis, menjadi sekumpulan orang yang berani memberitakan tentang Kristus.  Berita tentang Kristus tersebar dari Yerusalem menuju ke luar Yerusalem melalui orang-orang yang menerima Injil dan dibaptiskan.  Dari lokal menjadi global dalam satu peristiwa dengan satu berita pokok: Pekerjaan Allah yang besar.   Inilah kerja Roh Kudus yang Maha Dahsyat.  Ia menyatukan bangsa-bangsa yang berbeda dalam satu irama, satu frekuensi dalam pekerjaan-Nya.  

    Manusia membuat banyak tembok dalam kehidupan, diantaranya: Etnisitas, adat istiadat, bahasa dan dialek.  Tak jarang karenanya manusia tidak bisa bersatu dan hidup dalam pertikaian dan kesalah pahaman sehingga saling menjegal dan menjatuhkan.  Namun Roh Kudus datang untuk menyatukan perbedaan dan mengarahkannya kepada pekerjaan Allah.   Tembok pemisah warisan Menara Babel dihapuskan oleh Roh Kudus.  SATU bukan berarti SERAGAM, melainkan menghargai PERBEDAAN untuk SATU TUJUAN.   

    Indonesia disatukan oleh Pancasila, bukan berarti Indonesia harus menjadi seperti satu suku mayoritas  melainkan segala perbedaan itu dijembatani oleh Pancasila untuk satu tujuan bersama.  

    Demikian juga Roh Kudus MENJADI PENYATU  setiap orang yang percaya kepada Kristus, apa pun etnisnya, aliran gerejanya, tingkat pendidikannya ataupun usianya.  Roh Kudus menyatukan untuk membuat yang berbeda memiliki satu tujuan bersama:  Memuliakan pekerjaan Allah yang besar.  

    Saudara, masihkah hal ini menjadi tujuan bersama umat Allah?  Atau karya Roh Kudus hanya dipersempit dengan manifestasi ritual yang memperuncing perbedaan dan membuat diskriminasi baru?  Mari kembali kepada asal.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Tasting the Goodness of God

    MAZMUR 34. Sahabat, dalam Mazmur 34 Daud mengecap kebaikan Tuhan dan mengajak kita ikut menikmatinya. Saat itu, Daud baru saja lolos dari bahaya maut. Sebelumnya, karena dikejar Raja Saul bersama tentaranya yang bermaksud membunuhnya, ia pun melarikan diri sampai ke Gat. Raja Akhis, raja kota itu pun mendapat laporan dari para hambanya bahwa mereka menemukan Daud, pahlawan Israel. 

    Di tengah rasa takut yang hebat, Daud berakting seolah-olah gila. Daud pun diusir (1Samuel  21:10-15) sehingga ia dapat melarikan diri kembali. Hal tersebut sangat melegakan hati Daud sehingga ia menulis Mazmur 34. Daud bisa lolos karena Tuhan memberi hikmat dan meloloskannya (Ayar 5).

    Ketika Daud terhindar dari peristiwa mencekam itu, ia belum terbebas sepenuhnya dari bahaya. Ia masih harus bersembunyi sementara di gua Adulam (1Samuel  22:1). Namun, rasa takutnya lenyap. Dengan demikian, mengecap kebaikan Tuhan tidaklah harus menunggu segenap keadaan sudah  menjadi baik. 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Tasting the  Goodness of God (Mengecap Kebaikan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 34:1-23 dengan penekanan pada ayat 9, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” 

    Sahabat, Daud, seorang pemimpin yang dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan, sering mencari perlindungan dan kekuatan dari Tuhan dalam pengalaman hidupnya. Dalam konteks bacaan kita pada hari ini, Daud telah menemukan bahwa ketika seseorang memilih untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan, mereka akan menemukan bahwa Tuhan baik dan setia dalam memenuhi kebutuhan dan memberikan perlindungan. 

    Jadi, secara keseluruhan, bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk mengamati dan merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidup kita, serta untuk mencari perlindungan dan kebahagiaan dalam hubungan yang erat dengan-Nya. Hal ini merupakan undangan untuk hidup dengan kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita, serta untuk mengalami kegembiraan yang bersumber dari ketergantungan kita pada-Nya.

    Bacaan kita pada hari  ini mengajak kita untuk merenungkan dua hal penting: Pertama, Kebaikan Tuhan. Pemazmur menekankan bahwa Tuhan itu baik. Meskipun hidup kita penuh dengan berbagai tantangan dan kesulitan, kita dipanggil untuk memerhatikan kebaikan Tuhan di sekitar kita. Banyak kali, kebaikan Tuhan dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti berkat yang diberikan, perlindungan yang diberikan, atau kasih yang ditunjukkan kepada kita melalui orang lain. Dengan merenungkan kebaikan Tuhan, kita dapat memperoleh sikap syukur yang lebih besar dalam hidup. 

    Kedua, perlindungan dalam Tuhan. Pemazmur juga menyatakan bahwa orang yang berlindung pada Tuhan akan berbahagia. Hal ini menunjukkan pentingnya memiliki hubungan yang kuat dengan Tuhan dan memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Ketika kita mencari perlindungan dalam Tuhan, kita meletakkan keyakinan kita pada-Nya untuk memberikan bimbingan, perlindungan, dan kekuatan dalam menghadapi segala situasi. 

    Sahabat, hal tersebut membawa kedamaian dan kebahagiaan yang sejati, karena kita tahu bahwa kita tidak sendirian dalam menghadapi hidup ini. Karena itu,  kita diingatkan untuk senantiasa mencari kebaikan Tuhan dalam hidup kita dan untuk memperkuat hubungan kita dengan-Nya sebagai sumber perlindungan dan kebahagiaan yang abadi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kecaplah dan lihatlah kebaikan-kebaikan Tuhan, nikmati perlindungan dan penyertaan-Nya setiap hari. (pg).