Author: Christopherus

  • Firm and Fearless along with God

    MAZMUR 38. Sahabat, di dalam tradisi Gereja, Mazmur 38 ini termasuk salah satu mazmur yang disebut “Mazmur Pengakuan Dosa” (penitential psalms). Yang menarik, teologi dalam Mazmur 38 mencoba mengaitkan penderitaan yang dialami, termasuk sakit penyakit, dengan dosa Pemazmur. 

    Memang kita tidak bisa menjadikan hal tersebut menjadi satu prinsip yang kaku, memutlakkan bahwa setiap penderitaan pasti karena dosa, namun di dalam Alkitab ada tempat untuk merelasikannya, bahwa bisa saja sakit penyakit tersebut berkaitan dengan dosa kita. Itu sebabnya, tidak salah kalau setiap kali menderita atau sakit, kita melakukan introspeksi apakah kita sudah bersalah kepada Tuhan. Sahabat bahkan kalau kita membaca Mazmur 38, dalam penderitaan atau sakit penyakit yang dialami, Pemazmur mengertinya sebagai ekspresi murka atau kemarahan Tuhan.

    Sahabat, relasi yang benar dan baik dengan Tuhan, itu bukan selalu relasi dengan bayangan kita tentang Tuhan yang kasih dan tidak pernah murka. Relasi yang hidup, relasi yang benar, justru relasi yang ditandai dengan: Ketika Allah kita murka, kita tetap berani datang kepada-Nya.

    Kalau kita mempelajari iman orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama, kita mungkin mendapatkan gambaran yang berbeda dari kekristenan yang agak ke arah stoic (pemahaman yang mengajarkan ke manusia cara untuk menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan nyata). Kita tentu saja percaya kedaulatan Allah, tetapi kepercayaan akan kedaulatan Allah bukan berarti kita tidak boleh berseru kepada Tuhan, hanya boleh berserah, tidak boleh ada keinginan/permintaan, dan sebagainya; kalau seperti itu, jadi mirip Kekristenan stoik. Kalau kita membaca Mazmur 38, dan banyak lagi bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana orang percaya berani berdialog dengan Allah. 

    Mazmur 38  bukan ekspresi mengasihani diri (self-pity) atau manja (spoilt), melainkan ekspresi akan kedekatan Pemazmur dengan Allah, yang dia percaya sebagai Bapanya. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Firm and Fearless along with God (Teguh dan Tak Gentar Bersama Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 38: 1-23. Sahabat, sakit penyakit merupakan  kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh manusia. 

    Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang sakit. Di tengah kelemahan seperti itu, orang bisa dengan mudah merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Namun, bagaimana Pemazmur mengatasi kelemahan dan penyakitnya?

    Pemazmur menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (Ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (Ayat 4, 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (Ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (Ayat 12). 

    Pada saat yang sama, Pemazmur merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (Ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (Ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (Ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Pemazmur tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya.

    Sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas itu. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. 

    Sahabat, belajar dari Pemazmur, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian. Bersama dengan Tuhan, kita dapat  dengan teguh dan tak gentar  menjalani hari-hari bersama penyakit kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dengan kekuatan dan bimbingan Tuhan kita tidak akan mudah menyerah di tengah segala kelemahan kita. (pg).

  • Sungai Limmat, Zurich

    Saudaraku, dalam rangka menyambut Hari Reformasi pada tanggal 31 Oktober 2024, saya haturkan renungan ini. Tanggal 5 Januari 1527, penduduk Zurich berkerumun di kedua sisi Sungai Limmat yang bermuara di Danau Zurich untuk menyaksikan adegan mengerikan. 

    Felix Manz, dengan tangan dan kaki terikat, berjongkok di dek pondok nelayan dan menyanyikan mazmur “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” dengan penuh semangat. Dari sebuah perahu kecil, seorang pendeta menceramahinya dengan bertele-tele, sementara algojo menarik sekuat tenaga tali yang diikatkannya di leher terhukum. Teriakan putus asa terdengar di seberang danau, yakni ibu Felix Manz, yang memanggilnya dari tepi sungai dan menyuruhnya untuk tetap teguh dalam imannya.

    Sebelum kisah ini, ada Gerakan Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yakni Luther menempelkan “Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum” atau 95 Tesis Perdebatan tentang Kuasa Indulgensi di pintu Gereja Wittenburg Jerman. Dimulailah Gerakan Reformasi yang mengoreksi ajaran gereja Katolik saat itu, kemudian hari gerakan ini disebut sebagai Protestan, yang segera meluas ke Perancis, Swiss, dan negara-negara lainnya.

    Ajaran Reformasi Sola Scriptura mendorong para pengikut Reformasi untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal. Felix Manz awalnya adalah orang kepercayaan Huldrych Zwingli, – seorang Reformator di Zurich Swiss, dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Swiss Jerman. Kaum muda di Zurich bisa membaca bahwa ada ajaran gereja saat itu yang tidak berdasarkan Alkitab, yakni keberadaan api penyucian, pengampunan dosa dengan cara memberikan persembahan, dan baptisan bayi.

    Beberapa reformis di Swiss yang lebih progresif mulai bertemu sendiri untuk mempelajari Alkitab, sekitar tahun 1523 William Reublin mulai berkhotbah menentang baptisan bayi di desa-desa di Zurich, mendorong para orangtua untuk tidak membaptis anak-anak mereka, tapi hanya penyerahan bayi dan setelah menjadi dewasa barulah dibaptis. Gerakan ini dikenal sebagai Anabaptis, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Reformasi Zwingli.

    Pada 17 Januari 1525, Zwingli dan para penentangnya berdebat di depan umum untuk pertama kalinya. Menurut Felix Manz, baptisan hanya masuk akal jika orang yang akan dibaptis mampu menyatakan iman mereka sendiri, jadi bukan saat masih bayi. Zwingli dan dewan kota Zurich bersikap keras, dan memerintahkan semua anak atau bayi yang belum dibaptis untuk segera dibaptis dalam waktu seminggu, atau orangtua mereka harus meninggalkan wilayah Zurich. 

    Malam itu, ada baptisan orang dewasa pertama di Zurich berlangsung di rumah keluarga Felix Manz. Sepuluh hari kemudian, Felix ditangkap, dan Zwingli mencoba membujuknya untuk berubah pikiran. Namun Felix tetap keras kepala dan ditahan, namun dapat melarikan diri dari penjara dan pergi ke wilayah lain di Swiss untuk melanjutkan ajarannya. Sangat populer di kalangan petani, yang berharap bahwa penafsiran Alkitab secara harfiah akan menghasilkan perbaikan status sosial mereka dan ada penghapusan pajak.

    Pada 7 Maret 1526, konsili Zürich mengeluarkan dekrit yang menyebutkan mereka yang melakukan pembaptisan ulang bagi orang dewasa dapat dihukum. Beberapa bulan kemudian Felix ditangkap lagi dan dideportasi ke Zurich, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Dua minggu kemudian Felix Manz berhasil melarikan diri bersama dengan 13 tahanan laki-laki dan 7 tahanan perempuan, memanjat melalui lubang di atap sel dan menuruni dinding luar penjara. Ia sekali lagi berkeliling negeri untuk berkhotbah dan membaptis, hingga ditangkap dan diadili sekali lagi pada awal Desember, pengadilan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditenggelamkan ke sungai.

    Pada tanggal 5 Januari 1527, Felix Manz menjadi korban pertama yang menjadi martir Anabaptis. Pada pukul 3:00 sore hari itu, Felix Manz dibawa ke sebuah perahu ke Sungai Limmat, kedua tangannya diikat dan ditarik ke belakang, lalu sebuah tiang ditaruh di antara kedua tangannya, dan ditenggelamkan di muara Sungai Limmat Danau Zürich. Kata-kata terakhirnya yang terdengar adalah, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan nyawaku.”  Ya itulah kisah awal dari Gerakan Anabaptis.

    Pada tahun 1983, gereja Reformasi Swiss meminta maaf untuk pertama kalinya atas penderitaan yang telah ditimbulkannya kepada kaum Anabaptis. Sebuah plakat peringatan yang didirikan pada tahun 2004 di tepi Sungai Limmat mengenang Felix Manz dan rekan seimannya yakni Hans Landis, yang dipenggal di Fischmarkt, Zurich.

    Ajaran Anabaptis dan Reformasi memang ada beda di baptisan. Yang jelas Tuhan Yesus memberikan perintah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, …” (Matius 28:19). 

    Saudaraku, orang yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus mesti dibaptis. Namun dibaptis saat bayi atau saat dewasa, itulah ranah tafsir para rohaniwan di gereja masing-masing. Hal tersebut sangat tergantung dari kesepakatan, doktrin, dan denominasi, di gereja masing-masing. Yang perlu  kita pegang perintah Tuhan Yesus: “ … baptislah mereka …” (Surhert).

  • SELALU ADA KEJUTAN

    Saudaraku, kebiasaan dan pengalaman seorang individu seringkali membuat individu itu membuat persepsi kuat sehingga sering memadamkan semangat saat menghadapi masalah, padahal seringkali Tuhan memberikan banyak ‘kejutan’ dalam kehidupan.  Mari renungkan salah satu kejutan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 3:1-10.

    Pengemis di Pintu Gerbang Indah sudah lama mencari nafkah di sana dan bertemu ribuan orang yang keluar masuk ke Bait Allah untuk berdoa, sementara ia sendiri tak pernah bisa melakukannya karena tiada tempat bagi orang cacat di Bait Allah.  

    Sungguh sebuah ironi karena sebenarnya Pintu Gerbang Indah punya nama lain Pintu Gerbang Emas dan orang lokal menyebutnya Pintu Gerbang Rahmat, namun bagi orang lumpuh itu rahmat hanya ilusi walau ia berada di sana.  Ia hanya mampu memandang kemegahan Bait Allah dari jauh, memandang kebahagiaan orang yang datang dan pergi untuk berdoa, mendengarkan mereka yang bercengkerama tentang perkara rohani sementara ia tak penah tahu bagaimana rasanya berjalan, berdiri sejajar dengan orang-orang itu apalagi beribadah bersama mereka karena sejak lahir ia sudah lumpuh.  Ia mendengar bahwa Allah itu mengasihi umatnya, namun ia tak mengharapkan kasih Allah itu terlalu besar selain cukup makan pada hari ini.  

    Ketika bertemu Petrus dan Yohanes ia menduga bahwa kedua orang itu akan memberi uang sebagaimana biasa dilakukan orang-orang yang kasihan padanya namun hari itu ia menerima kejutan karena Petrus dan Yohanes mempertemukannya dengan rentetan rahmat Tuhan baginya. Bukan uang, namun kesembuhan dalam nama Yesus yang membuka rahmat yang lain :  Pemulihan sosial dan hak-hak nya untuk beribadah.  

    Tak heran respons pertama yang dilakukannya adalah berjalan, karena ia tak pernah berjalan seumur hidupnya. Hal kedua yang dilakukannya adalah masuk ke Bait Allah bersama Yohanes dan Petrus dan memuji Allah.  Ia sadar bahwa kedua hal inilah yang diinginkan seumur hidupnya yang sore itu diterimanya melalui murid Kristus.

    Tuhan MAMPU MEMBERI KEJUTAN  dalam kehidupan dan membuat manusia menyadari kelemahan mereka.  Manusia belajar dari pengalaman namun pengalaman kadang kala menghalangi mereka untuk menerima rahmat Allah yang besar.  Keterbatasan inilah sebenarnya yang membuat manusia seharusnya membuka dirinya kepada Sang Rahmat, sebagaimana rasul Paulus mengatakan : “Sungguh hebat kekayaan Allah! Sungguh besar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya!  Siapa yang dapat menyelidiki keputusan-keputusan-Nya?  Siapa yang dapat mengerti cara-caranya Ia bekerja?”  (Roma 11:33 – Versi BIMK).   

    Andaikan iman ini terus dipegang dalam hati pemuda pemudi yang sangat putus asa beberapa waktu lalu, maka mereka tak akan bunuh diri.  Andaikan iman ini dipegang dalam hati orang percaya, maka mereka akan mampu terus berjuang dalam kehidupan yang makin keras ini.  Tuhan Sang Pemilik Rahmat pasti memberikan KEJUTAN YANG TAK TERDUGA  di MASA SULIT.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Evil Temptation

    MAZMUR 37. Sahabat Mazmur 37  dapat digolongkan sebagai Mazmur Hikmat yang bersifat didaktis, bukan sebagai doa.  Pemazmur memulai Mazmur 37 dengan satu pernyataan  yang menusuk persoalan tentang bagaimana respons kita kepada ketidakadilan dalam hidup ini: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” (Ayat 1). 

    Ya, memang banyak orang yang jujur dan hidup tulus merasakan kecemburuan yang besar, ketika melihat betapa nyaman dan makmurnya hidup orang-orang yang melakukan kejahatan. Sedangkan ia sendiri harus berjuang dan mengalami kesusahan, meski hidup tulus dan jujur.

    Bukan tanpa alasan Pemazmur memulai mazmurnya dengan pernyataan tersebut. Melalui Mazmur 37 Pemazmur menegaskan betapa rentan dan terbatasnya hidup orang yang berbuat jahat (Ayat 2, 9, 10, 13, 20, 22, 35-36, 38). Itu  berarti, meski kelihatan hidup orang jahat dipenuhi dengan kelimpahan, namun sesungguhnya hidup mereka seperti telur di ujung tanduk. Begitu rentan dan begitu mudah jatuh. 

    Beda halnya dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Allah. Pemazmur menggambarkan hidup mereka itu kokoh karena ditopang Allah (Ayat 17, 19, 23-24, 30-31, 33, 39-40), penuh kelimpahan dari Allah (Ayat 9, 11, 22, 25-26, 29, 34 ), dan dipelihara selamanya oleh Allah (Ayat 18, 28, 37).

    Pemazmur mengingatkan kita bahwa di tengah kesusahan dan ketidakadilan yang kita hadapi dalam hidup ini, Allah tidak pernah tinggal diam dan mengabaikan kesusahan
    umat-Nya. Ia peduli dan memerhatikan, meski tidak selalu kita melihat jalan dan karya-Nya atas hidup kita. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

    Syukur kepada Tuhan kalau pada hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Evil Temptation (Godaan Untuk Berbuat Jahat)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 37:1-11 dan 39-40. Sahabat dalam suatu pertandingan, kadang kita mendengar  keluhan: “Kalau main curang begitu, ya, pasti menang. Percuma saja saya susah payah bermain dengan jujur jika yang menang adalah orang yang berbuat curang, tetapi tidak ketahuan juri,” 

    Memang menyesakkan hati ketika kita harus mengalami kekalahan akibat orang lain bermain curang dan tidak ketahuan oleh juri. Mungkin bukan hanya merasa sesak, tetapi kita tergoda juga untuk menempuh jalan yang curang; tergoda untuk berbuat jahat.

    Pemazmur memberikan nasihat yang konkret dan aplikatif agar kita tak marah dan iri kepada orang-orang yang berbuat jahat dan curang. Sebuah petunjuk bahwa fenomena seperti ini sudah berlangsung lama; sejak ribuan tahun yang lalu. 

    Mengapa tidak boleh iri hati atau marah kepada orang-orang yang berbuat curang? Pemazmur menggambarkan bahwa orang yang berbuat jahat atau curang itu seperti rumput dan tumbuhan hijau yang akan segera lisut dan layu. Artinya, orang-orang yang berbuat jahat atau curang tidak akan lama menikmati kemenangannya. Mengapa demikian?  Tuhan yang melihat segala sesuatu akan memberikan ganjaran kepada tiap orang menurut perbuatannya.

    Jangan pernah kita lupakan bahwa Tuhan memerhatikan segala sesuatu. Apa yang kita peroleh dengan cara yang jahat tidak akan bertahan lama. Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati: Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. (pg).