Author: Christopherus

  • SAAT Tuhan MENGGENAPI Janji-Nya

    Sahabat, sudah menjadi rahasia umum bahwa menunggu adalah pekerjaan yang sangat membosankan.   Hal itu juga terjadi dalam kehidupan doa dan menanti penggenapan janji Tuhan! 

    Pada saat kita menanti datangnya jawaban doa dari Tuhan seringkali kita tidak sabar, menyerah di tengah jalan dan berhenti berharap, karena mata jasmani kita belum melihat secara nyata jawaban doa tersebut.  Padahal sesungguhnya Tuhan telah mempersiapkan berkat yang kita perlukan, hanya waktunya belum tiba, sebab Tuhan lebih tahu kapan waktu yang terbaik untuk menjawab doa-doa kita.  Dia sangat tahu dengan pasti: Kapan saatnya Tuhan menggenapi janji-Nya atas kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SAAT Tuhan MENGGENAPI Janji-Nya” , Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 105:16-22 dengan penekanan pada ayat 19. Sahabat, dalam Mazmur 105, Pemazmur mengingat masa-masa awal umat Allah dibentuk. Pada masa itu, jumlah umat Allah  tidak banyak, dengan status sebagai orang asing di negeri orang dan hidup mengembara (ayat 12-13).

    Berawal dari Tuhan memanggil Abraham keluar dari negerinya dan pergi menuju Tanah Perjanjian. Meski dengan jumlah yang tidak banyak, Abraham tetap melangkah bersama Tuhan. Dalam pengembaraan itu, mereka menjadi orang asing, namun Tuhan tidak meninggalkan umat yang baru dibentuk-Nya (ayat 14-15). Raja-raja yang jahat kepada umat mengalami penghukuman Allah (ayat 14).

    Dengan berjalannya waktu, umat Allah bertambah banyak dan hidup makmur di Tanah Kanaan. Bencana kelaparan menimpa negeri itu dan Yusuf pun dijual sebagai budak (ayat 16-17). Yusuf hidup dalam perbudakan dan kesusahan di negeri asing (ayat 18). Sekali lagi, Pemazmur melihat semua peristiwa itu dari perspektif positif.

    Sahabat, dijualnya Yusuf menjadi budak dipandang sebagai cara Tuhan mengutusnya agar dapat menyelamatkan keluarga dan bangsanya (ayat 17). Bencana dan segala kesusahan yang menimpa mereka hanya bersifat sementara, sampai Tuhan menggenapi janji-Nya (ayat 19) dan membuktikan pemeliharaan-Nya atas umat yang dikasihi-Nya (ayat 20-22). 

    Ketika bangsa Israel dilanda kelaparan yang dahsyat, Tuhan menyelamatkan umat-Nya ini dengan cara-Nya yang di luar nalar, tak dapat dimengerti dan tak terjangkau oleh jalan pemikiran manusia.  Yusuf, yang pada waktu itu masih berusia belia yaitu sekitar 17 tahun, diutus Tuhan untuk ke Mesir demi penyelamatan bangsa dan juga sanak saudaranya.  Untuk sampai ke Mesir Yusuf harus melewati perjalanan hidup yang penuh liku dan derita. 

    Sahabat, pada waktu Tuhan tiba, Yusuf  mengurus tanah Mesir sehingga negeri itu makmur dan berlimpah bahan makanan  (Kejadian 41:46-49).  Dengan demikian bangsanya, orangtua serta sanak-saudaranya datang ke Mesir dan diselamatkan dari bencana kelaparan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ketika kita menanti-nanti pertolongan Tuhan, apa yang perlu kita lakukan dan apa yang perlu kita miliki?
    2. Apa yang perlu menjadi keyakinan kita dalam menantikan pertolongan Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Terus jaga harapan, sekecil apa pun. Mukjizat dapat terjadi setiap saat.  (pg)

  • TANGGAPAN atas KENYATAAN HIDUP

    Sahabat, ketika saya masih menjadi guru Sekolah Minggu di GKMI Semarang sering saya cerita pada anak-anak tentang: “Persembahan Kain dan Habel”. Saat itu saya bercerita bahwa Habel mempersembahankan kambing domba yang tambun dan tidak bercacat cela, sedangkan Kain mempersembahkan hasil pertanian yang kurang layak. Maka persembahan Habel diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan Kain ditolak oleh Tuhan.

    Menanggapi hal tersebut hati Kain menjadi panas dan mukanya menjadi muram. Pada akhirnya Kain membunuh Habel, adik kandungnya sendiri. Kain menanggapi respons Tuhan atas persembahannya dengan penuh kemarahan. Bagaimana tanggapan kita atas kenyataan hidup yang harus kita hadapi?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TANGGAPAN atas KENYATAAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 4:1-16 dengan nas dari Ibrani 11:4.  Sahabat, Adam dan Hawa dianugerahi dua orang anak, yaitu Kain yang menjadi petani dan Habel yang menjadi peternak (ayat 2).

    Keduanya memberikan persembahan dari hasil kerja mereka (ayat 3-4). Tanpa disebutkan alasannya, persembahan Habel diterima, sedang Kain ditolak. Hal itu membuat Kain marah (ayat 6) sehingga membunuh Habel (ayat 8). Akhirnya Kain menerima murka Tuhan. Ia menjadi pelarian dan pengembara (ayat 14). Itu berarti ia tidak lagi memiliki hak atas tanah warisan.

    Apa yang membuat persembahan Kain ditolak? Mungkin ada banyak kemungkinan jawaban yang sempat kita pikirkan. Sebenarnya,  Alkitab sendiri tidak memberikan jawaban yang terang dan gamblang. Ada yang mengatakan karena Kain memiliki sifat buruk, yaitu iri hati. Hal itu ditandai dengan muramnya wajah Kain (ayat 7). Namun, wajah yang muram baru muncul karena ia merasa ditolak.

    Penulis surat Ibrani menyingkapkan sedikit alasan mengapa persembahan Habel diterima dan persembahan Kain ditolak, “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” (Ibrani 11:4)

    Sahabat, jadi kita bisa mengatakan bahwa ditolak atau diterimanya persembahan adalah hak Tuhan. Yang penting bukanlah mencari alasan mengapa persembahan ditolak, melainkan bagaimana respons seseorang. Kain memberikan tanggapan negatif. Hal itu ditandai dengan hatinya panas dan wajah muram.

    Keadaan ini menarik perhatian Tuhan dan Ia menasihati Kain bahwa dengan hati semacam itu akan membuka peluang bagi kuasa dosa (ayat 7). Teguran Tuhan ditampik oleh Kain. Tanpa mengenal belas kasih, Kain membunuh adiknya. Ia merasa bahwa tindakannya tidak diketahui oleh siapa pun. Namun, darah adiknya berseru kepada Tuhan (ayat 10).

    Sahabat, mari kita sadari bahwa kenyataan hidup tidak selamanya sesuai dengan keinginan kita. Setidaknya ada dua tanggapan atas kenyataan hidup. Pertama, tanggapan negatif telah diperlihatkan oleh Kain. Kedua, tanggapan positif dengan melihat hidup dalam rencana Tuhan. Kalau pun saat ini hidup tidak berjalan dengan baik, kita percaya kepada pemeliharaan Tuhan bahwa Ia senantiasa menopang hidup kita. Tanggapan semacam itu dapat membuat  kita masih tetap bisa bersyukur.

    Berdasarkan hasil pernunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menentukan apakah persembahan kita berkenan kepada Tuhan atau tidak? (Ibrani 11:4)
    2. Menurut pemahaman Sahabat, apa yang paling penting dalam menanggapi kenyataan hidup yang terjadi dalam hidup kita?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg) 

  • ReKat: PILIHAN TERBAIK (02 Mei 2022)

    Bacaan Sabda: Mazmur 96:1-13

    Berdasarkan hasil perenunganku  dari bacaan kita pada hari ini:

    1. Yang menjadi tugas kita sebagai komunitas orang percaya berdasarkan ayat 1-3:
    2. Kita wajib menyanyikan nyanyian baru bagi Tuhan
    3. Memuji nama-Nya
    4. Memberitakan kabar keselamatan kepada orang-orang yang belum percaya.
    5. Menceritakan kemuliaan-Nya serta perbuatan-Nya yang ajaib kepada sesama kita.
    6. Dari pernyataan Pemazmur di ayat 5-6, keyakinan  yang perlu tertanam dalam-dalam di hati kita yaitu:
    7. Tuhan yang menciptakan langit lebih dari segala ilah lainnya.
    8. Keagungan, semarak, kekuatan dan kehormatan dimiliki-Nya di tempat kudus-Nya.
    9. Dari ayat 8-10,  yang perlu kita lakukan sebagai komunitas orang percaya yaitu:
    10. Memberi kemuliaan bagi nama-Nya.
    11. Bawalah persembahan kepada Tuhan
    12. Sujud menyembah Tuhan , dan hidup takut kepada Tuhan.
    13. Memberitakan bahwa Tuhan adalah Raja dan hakim yang Maha Adil bagi kehidupan kita.

    (Swan Lioe)

  • Betapa BESAR dan MULIA Tuhanku

    Carl Boberg penulis lagu “How Great Thou Art” sangat mengagumi keindahan dan kedahsyatan alam ciptaan Tuhan, yang menggambarkan kebesaran dan kemuliaan Sang Pencipta.

    Sahabat, sesungguhnya segala sesuatu yang ada di atas muka bumi ini tidak terjadi secara kebetulan dan bukan sekadar rangkaian kejadian atau peristiwa, tetapi semua ada dalam kendali Tuhan, sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

    Alam raya dan semua yang ada di dalamnya diciptakan Tuhan dengan suatu maksud yang indah, karena Dia adalah arsitek Mahadahsyat yang tiada taranya dalam merancang dan mencipta.  Alam semesta dan cakrawala Tuhan ciptakan dengan penuh semarak dan demikian indahnya, dan Ia pun puas melihat hasil karya-Nya itu,  “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.”  (Kejadian 1:31-a)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Betapa BESAR  dan MULIA Tuhanku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 104:1-9. Sahabat, alam merupakan ciptaan Tuhan yang sangat indah. Melalui alam, Tuhan memberikan pengajaran kepada kita mengenai siapakah Dia dan siapakah manusia.

    Dia adalah Sang Pencipta, sedangkan manusia adalah ciptaan yang dikasihi-Nya. Saat kita sungguh-sungguh menikmati dan memerhatikan alam, kita dapat merasakan kekaguman kepada Tuhan. Kekaguman tersebut membawa jiwa kita bersyukur dan mulut menaikkan pujian, sebagaimana yang dialami oleh Pemazmur.

    Sahabat, Mazmur 104 merupakan  mazmur pujian kepada Tuhan. Pujian itu didasarkan pada kebesaran Tuhan yang telah menciptakan alam semesta secara teratur dan memberikan makna bagi kehidupan manusia di dunia ini. Saat manusia bertanggung jawab menjaga dan memelihara dunia ini, berarti manusia telah merawat keharmonisan relasi dengan Allah melalui ciptaan-Nya. Inilah yang disebut kesatuan yang utuh antara Allah, manusia, dan alam. Itu sebabnya, Pemazmur menyatakan sukacitanya kepada Tuhan (ayat 1).

    Kebesaran Tuhan terwujud dalam kemuliaan-Nya (ayat 1-2) dan kuasa-Nya (3-9). Dalam kemuliaan-Nya, kebesaran Tuhan tergambarkan melalui terang yang semarak dan langit yang membentang. Begitu semarak dan luas membentang, tak seorang pun yang dapat mengukur batas kebesaran Allah. Demikianlah Pemazmur menggambarkan kebesaran Tuhan yang mulia.

    Sahabat, dalam kuasa-Nya, kebesaran Tuhan diperlihatkan dengan gambaran awan-awan sebagai kendaraan-Nya (ayat 3), angin sebagai pesuruh-Nya (ayat 4), nyala api sebagai pelayan-Nya (ayat 4). Begitu besarnya kekuasaan Tuhan sehingga Ia mampu mendasarkan bumi hingga tak goyah (ayat 5) dan menyelubunginya dengan samudera raya (ayat 6). Air pun taat pada hardikan-Nya (ayat 7-8) dan batasan yang ditentukan-Nya (ayat 9).

    Langit, terang, air, awan, api, samudera raya, semuanya itu seakan-akan menjadi saksi bisu dari kebesaran-Nya. Karena alam semesta merefleksikan kemuliaan Tuhan. Marilah kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang Mahabesar, baik dalam kemuliaan-Nya maupun kuasa-Nya. Syukur kepada Allah atas kebesaran dan kemuliaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa respons kita ketika kita menyadari betapa Tuhan telah menciptakan kita secara dahsyat dengan rancangan-rancangan yang luar biasa? (Mazmur 139:14-16)
    2. Apa dampaknya bagi kita ketika kita menyadari bahwa kita diciptakan sesuai dengan rencana-Nya? (Mazmur 139:6)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati.  (pg)