Author: Christopherus

  • ReKat: TUHAN SANG PENOLONG (08 Mei 2022)

    Bacaan Sabda: Mazmur 98:1-9

    Berdasarkan hasil perenungan saya dari bacaan kita pada hari ini:

    1. Dari ayat 1-3, Pemazmur mengajak bangsa Israel untuk memuji, bermazmur, dan mengagungkan Tuhan berdasarkan nubuatan berikut:
    2. Bangsa Israel dan semua bangsa diberitahu tentang kemenangan dan keselamatan itu semata-mata berasal dari Tuhan. 
    3. Tuhanlah yang berinisiatif menyatakan diri-Nya kepada para leluhur Abraham, Ishak dan Yakub, dan kepada generasi berikutnya,  turun temurun, sampai janji kemenangan dan keselamatan itu sungguh terealisasi.
    1. Saya sudah banyak menikmati kebaikan dan pertolongan Tuhan, dan respons saya:
    2. Menjalani hidup dengan  penuh sukacita.
    3. Mengagungkan Tuhan, melalui hidup saya dan keluarga, pengucapan syukur, bernyanyi, memuji-Nya.
    4. Mengkhususkan waktu untuk berelasi dengan Tuhan melalui pembacaan Alkitab, dan berdoa syafaat untuk:  Pribadi, keluarga, jemaat, badan misi (PIPKA, Yayasan Christopherus dan lain-lain), serta pemerintah bangsa negara.

    (Haryono)

  • PENGHARAPAN: Sehelai Daun Zaitun

    Saya sering mengirimkan qoute: “Terus jaga HARAPAN, sekecil apa pun. Mukjizat dapat terjadi setiap saat” kepada Sahabat yang sedang sakit. Saya belajar dari pengalaman nabi Elia, awan  kecil sebesar telapak tangan bagi nabi Elia merupakan sinyal pengharapan hujan akan turun (1 Raja-raja 18:44).

    Sahabat, bagi penumpang kapal karam yang terdampar di pulau terpencil, raungan helikopter adalah sinyal pengharapan. Bagi pelaut yang sedang digempur dan bertempur dengan ganasnya ombak laut di malam hari, kelap-kelip cahaya mercusuar adalah sinyal pengharapan. Bagi orangtua yang hidupnya selalu dililit oleh kemiskinan, anak berprestasi di sekolah adalah sinyal pengharapan. Bagi Nuh, sehelai daun  Zaitun merupakan sinyal  pengharapan bumi akan segera kering.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PENGHARAPAN: Sehelai Daud Zaitun”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 8:1-22, dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, hujan telah berhenti. Allah mengingat untuk menolong Nuh (ayat 1). Allah meniupkan angin hingga air mulai surut (ayat 1).

    Dengan agak rinci dituturkan proses catatan waktu keluarnya Nuh dari bahtera. Untuk mengetahui keadaan, Nuh melepas burung gagak (ayat 7). Selanjutnya dilepaskan burung merpati sebanyak 2 kali (ayat 8 dan 10). Akhirnya mereka keluar dan bersyukur dengan memberikan persembahan yang harum kepada Allah (ayat 21). Tuhan pun berjanji tidak akan membinasakan bumi lagi dengan Air Bah (ayat 21).

    Pemulihan yang Allah lakukan mengingatkan kita pada cerita penciptaan. Angin yang dihembuskan Allah (ayat 1) senada dengan Roh Allah yang melayang-layang (Kejadian  1:2). Perintah untuk berkembang biak dan bertambah banyak (ayat 17) tampaknya mengulangi perintah Allah yang sama saat menciptakan manusia (Kejadian  1:28). Pemulihan lewat Air Bah ini boleh dikatakan menjadi cerita penciptaan ulang.

    Sahabat, melalui seekor merpati yang dilepaskan oleh Nuh, Allah mengirim sinyal pengharapan (ayat 11), Zaitun itu tanaman bandel, mudah tumbuh dan tak mudah dibunuh. Jadi, begitu ada tanah kering lekas tumbuhlah ia. Sehelai daun segarnya di paruh merpati mengabarkan kepada Nuh, ada sinyal pengharapan akan sebuah kehidupan lagi.

    Sahabat, di sekeliling kita mungkin ada orang yang hidupnya seperti dikepung oleh masalah, kesukaran, dan kebuntuan yang melumpuhkan. Sinyal pengharapanlah yang mereka butuhkan. Sebab tanpanya, tak tersisa kekuatan untuk bertahan dan melanjutkan langkah ke depan.

    Mungkin itu sekadar berupa: Ucapan berhikmat. Kunjungan bersahabat. Kiriman pesan atau doa pembangkit semangat. Selipan amplop berbagi berkat. Referensi atau rekomendasi ke alamat yang tepat, dan sebagainya. Siapa tahu, kebaikan sederhana kita mampu memberi sinyal pengharapan bagi mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana pemahamanmu tentang: Sehelai daun Zaitun dapat menjadi sinyal pengharapan bagi Nuh? (Ayat 11)
    2. Apa yang mendorong Nuh memberikan persembahan bakaran kepada Allah? (Ayat 20)
    3. Bagaimana respons Allah terhadap persembahan bakaran dari Nuh? (Ayat 21-22)

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Tindakan memberi sinyal pengharapan kepada sesama yang menantikannya adalah karya Tuhan. (pg).

  • KEMURAHAN TUHAN yang MENGUBAH KEADAAN

    Sahabat, masih ingat dengan nyanyian Hana (1 Samuel  2:1-10) dan  nyanyian Maria (Lukas 1:46-55)? Dalam kedua nyanyian tersebut, kedua wanita ini mengungkapkan kebaikan Tuhan yang telah mengangkat mereka masing-masing dari keadaan terhina, menurut pandangan manusia, menjadi terhormat bahkan mulia. Kedua wanita itu juga mengungkapkan keadilan Allah dengan membalikkan keberuntungan orang jahat atau fasik menjadi petaka. Kemurahan Tuhan yang mengubah keadaan kedua wanita tersebut menjadi mulia.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KEMURAHAN TUHAN yang MENGUBAH KEADAAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 107:1-43 dengan penekanan pada ayat 43. Sahabat, Mazmur 107 adalah mazmur pembuka kitab kelima Mazmur (I: 1-41; II:42-72; III: 73-89; IV: 90-106; V: 107-150).

    Tema syukur mazmur ini melanjutkan Mazmur 105 dan 106. Namun, alasan bersyukur lebih kepada pertolongan Tuhan dalam berbagai situasi kehidupan. Alasan mendasar bersyukur diberikan pada ayat 2-3, yaitu Allah telah menebus mereka. Alasan spesifik diberikan dalam ayat-ayat 4-9,10-16, 17-22, dan 23-32.  Ayat 33-43 memaparkan karya Tuhan yang mengubah situasi manusia dari keadaan tidak berdaya menjadi diberkati, sebaliknya yang merasa hebat menjadi tak berdaya (ayat 33-43).

    Mazmur  107  yang menjadi bacan kita pada hari ini  ditutup dengan pengungkapan karya Tuhan dalam berbagai aspek kehidupan yang menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang adil. Bagian ini bisa dibagi menjadi tiga bagian yang berpasangan (ayat 33-38, 39-41, 42) dan penutup yang merupakan nasihat hikmat (ayat 43).

    Bagi mereka yang hidupnya jauh dari Tuhan dan melakukan kejahatan, Tuhan bisa menjauhkan mereka dari berkat-berkat-Nya (ayat 33-34). Sebaliknya, mereka yang hidup menderita dalam kemiskinan karena perbuatan jahat orang lain, akan diberkati dengan limpah (ayat 35-38).

    Ayat 39-41 kalau dibaca dengan urutan 40-39-41, maknanya lebih mudah dipahami, yaitu orang yang terkemuka akan dihina dan direndahkan, sebaliknya orang miskin dilindungi bahkan dijadikan melimpah. Sedangkan ayat 42 mengontraskan orang benar yang melihat keadilan ditegakkan dengan penuh sukacita, sebaliknya orang yang jahat akan terbungkam olehnya.

    Sahabat, karena kemurahan Tuhan kita diselamatkan dan beroleh pengampunan dosa.  Kita tahu bahwa keselamatan dan pengampunan yang Tuhan berikan tidak bisa ditebus dengan kesalehan hidup manusia atau amal kebaikan manusia (Mazmur 103:3).   Karena itu:  “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Biarlah itu dikatakan orang-orang yang ditebus TUHAN, …”  (Ayat 1-2).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Pemazmur mengajak umat untuk bersyukur? (Ayat 2-3)
    2. Ketersesatan di padang gurun melambangkan apa? (Ayat 4-5)


    Selamat sejenak merenung.  Mari kita renungkan dalam-dalam pernyataan raja Daud berikut ini: “Siapakah aku ini, ya Tuhan … sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”  (2 Samuel 7:18). (pg)

  • GARAM: Larut tapi Tidak Hanyut

    Dengan tegas Yesus bersabda,  “Kamu adalah garam dunia.” Itulah panggilan Tuhan kepada kita sebagai orang percaya. Kita diminta menjadi garam, itu artinya kita diminta supaya bisa bermasyarakat,  bergaul  dengan siapa saja, tidak terbatas hanya dengan mereka yang seiman dan sesuku saja

    Sahabat, justru kehadiran garam itu bisa dirasakan ketika dia mau larut dalam masakan, larut dalam adonan. Tapi walaupun garam itu larut, tapi rasa asin itu tidak hilang, masih terasa.  Justru peran dan fungsinya menjadi nyata ketika garam itu sudah larut. Garam itu memang harus larut, tapi tidak hanyut, tidak tertelan oleh rasa lain. Menghadirkan perubahan. Menghadirkan pembaruan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GARAM: Larut tapi Tidak Hanyut”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 7:1-24. Sahabat,  pembaruan yang dikerjakan Tuhan sudah dimulai. Nuh dipersiapkan bersama dengan keluarga serta binatang haram dan tidak haram (ayat 1). Seminggu sebelum hujan turun mereka sudah masuk ke dalam bahtera (ayat 4).

    Tepat seperti yang dikatakan Allah, hujan turun dengan lebat selama 40 hari 40 malam (ayat 12). Air semakin lama semakin banyak seperti air bah sehingga terjadi banjir semesta yang membuat bahtera terapung-apung (ayat 18). Banjir itu membuat semua ciptaan Tuhan tewas (ayat 23). Sangat mengerikan.

    Banjir semesta melanda bumi dengan hebatnya. Kehebatan banjir itu digambarkan tingginya sampai melebihi semua gunung yang tinggi (ayat 19). Bahkan disebutkan ketinggian air di atas 15 hasta atau 7 meter dari gunung yang tinggi itu (ayat 20). Tentu semua disapu habis.

    Sahabat, bumi kembali berada dalam kondisi yang kacau. Keteraturan yang telah ditata Tuhan dalam kisah penciptaan menjadi rusak karena Air Bah. Kekacauan itu terpaksa dilakukan demi memurnikan bumi agar sesuai kembali dengan rancangan Tuhan. Lewat kekacauan itu, seolah-olah “penciptaan” kembali dirancang oleh Tuhan.

    Peristiwa kekacauan melalui Air Bah begitu mengerikan. Karena banjir semesta itu, semua makhluk hidup yang ada di darat maupun di udara mati. Hal itu terjadi karena memang Allah hendak menghapus semua yang pernah diciptakan-Nya (ayat 23) dan melakukan pembaruan atas bumi. Hanya Nuh, keluarganya dan segala makhluk yang ada di dalam bahtera yang merupakan “kaum tersisa”.

    Nuh menjadi duta pembaruan Allah atas bumi ini. Peristiwa itu di satu sisi memperlihatkan kedahsyatan kuasa Allah, namun di sisi lain menunjukkan kepedulian Allah atas bumi. Kedahsyatan Allah membuat kita menyadari betapa kecilnya kita di hadapan-Nya. Kepedulian Allah membuat Ia selalu berkarya untuk membarui tatanan di bumi.

    Sahabat, pembaruan sering kali mendapat penolakan. Tanpa pembaruan kehidupan kita akan tenggelam. Realitas yang ada di sekitar kita selalu mengalami perubahan. Dengan demikian, pembaruan adalah suatu keharusan. Kita dipanggil sebagai agen pembaruan Allah. Hal itu diawali dengan pembaruan diri sendiri. Dimulai dari diri kita sendiri.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang:

    1. Kita dipanggil sebagai garam dunia.
    2. Kita dipanggil untuk menjadi agen pembaruan.

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Karena kesetiaannya kepada Tuhan, Nuh dan keluarganya selamat! (pg)

  • AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA

    Sahabat, sejak kelas V SD saya sangat senang dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi kalau sedang membahas peribahasa,  puisi, dan pantun. Salah satu peribahasa yang saya ingat di luar kepala yaitu: “Air susu dibalas dengan air tuba” yang artinya kebaikan dibalas dengan kejahatan.

    Tentu saja kita tidak suka diperlakukan demikian oleh orang lain yang sudah kita tolong. Sekalipun kita tidak mengharapkan balasan, tetapi kita juga tidak ingin mendapat perlakuan jahat sebagai balasannya. Namun, kadang tidak kita sadari  bahwa justru hal itulah yang kita lakukan kepada Allah?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “AIR SUSU dibalas dengan AIR TUBA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 106:1-12. Sahabat, bangsa Israel memang dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk, bahkan Allah sendiri pun menyatakan demikian (Keluaran  32:9). Berulang kali mereka menyaksikan dan mengalami karya Tuhan dalam kehidupan mereka, tetap saja mereka memberontak kepada Allah.

    Mukjizat demi mukjizat mereka lihat dan alami, namun hal itu seolah-olah tidak membekas di hati dan pikiran mereka (ayat 7). Tak terhitung banyaknya pertolongan dan kemurahan Allah atas kehidupan umat-Nya. Kenyataannya, bukan rasa terima kasih yang keluar dari hati mereka, melainkan sungut-sungut dari mulut mereka. Walaupun mereka dikenal sebagai bangsa yang bebal, tetapi hal itu tidak menghalangi Allah untuk menyelamatkan mereka.

    Pemazmur berseru kepada umat Israel untuk bersyukur kepada Tuhan karena Ia baik dan kasih setia-Nya abadi (ayat 1). Di sini Pemazmur dengan gamblang mengungkapkan bahwa kebahagiaan akan dimiliki oleh mereka yang senantiasa berpegang pada hukum Allah dan berlaku adil (ayat 3).

    Sahabat, dalam Mazmur 106 kita melihat bahwa Pemazmur sedang menaikkan pujian kepada Allah karena kasih setia-Nya yang besar. Dalam pujiannya, Pemazmur menceritakan tentang pengalaman bangsa Israel ditolong Tuhan. Meskipun pada waktu itu umat Tuhan memberontak, Tuhan tetap mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya dari musuh-musuh mereka (ayat 6-11). Sekalipun berkali-kali mereka berpaling dari Tuhan, Ia tetap menyelamatkan, bahkan memelihara kehidupan mereka. Namun, kebaikan Allah dibalas dengan ketidaksetiaan umat-Nya, bagaikan air susu dibalas dengan air tuba.

    Mengapa Allah tetap mengasihi dan menyelamatkan umat-Nya? Karena Ia adalah Allah yang setia dan penuh kasih. Kasih setia-Nya begitu besar melebihi langit. Kasih dan kesetiaan-Nya tidak terpengaruh oleh perbuatan manusia. Allah berbuat seperti itu karena didorong oleh kebaikan dan kemurahan hati-Nya, bukan didasarkan pada perbuatan baik umat-Nya. Hanya karena kasih dan kesetiaan-Nya, umat diselamatkan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana pemahaman Sahabat tentang kebaikan Allah dalam hidup kita?
    2. Lalu respons apa yang dapat kita berikan atas anugerah-Nya?

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah kebaikan-Nya, jangan lupakan itu;  di luar Dia kita tak bisa berbuat apa-apa! (pg).

  • Henokh DIANGKAT oleh Allah

    Sahabat, pernahkah kita menyadari mengapa kitab Perjanjian Baru (Injil Matius), dimulai dengan silsilah Tuhan Yesus? Mengapa Perjanjian Baru tidak dimulai dengan kitab Yohanes misalnya, sehingga Perjanjian Baru diawali dengan kata-kata “Pada mulanya adalah Firman” (Yohanes 1:1)?

    Bangsa Yahudi setelah pembuangan ke Babel sangat menjaga sekali “darah biru” mereka. Mereka mencatat siapa ayah mereka, siapa kakek mereka, dan begitu seterusnya hingga dapat ditelusuri ke anak-anak Yakub. Silsilah mereka sangat penting karena mereka harus tahu apakah mereka benar-benar keturunan Yakub atau tidak. Itulah mengapa Matius saat menulis kitab Injil yang terutama ditujukan kepada bangsa Yahudi sendiri, memulai tulisannya dengan silsilah Yesus Kristus.

    Dalam silsilah Adam, Musa menulis satu catatan yang menarik dan penting untuk kita ketahui dan hayati: “… Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (kejadian 5:24)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Henokh DIANGKAT oleh Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 5:1-32 dengan penekanan pada ayat 24. Sahabat, silsilah keturunan Adam dituturkan secara lengkap dengan usianya. Silsilah ini dimulai dari Adam, tanpa Kain dan Habel, langsung meloncat pada Set (ayat 3). Silsilah disebutkan sampai dengan Nuh dan ketiga anaknya (ayat 32).

    Dari daftar silsilah yang ada, Metusalah adalah orang yang berusia paling tua, yaitu 965 tahun (ayat 27). Sedangkan yang paling muda adalah Henokh yakni 365 tahun (ayat 23). Menariknya adalah ada keterangan tambahan yang menyatakan bahwa Henokh tidak mati, melainkan diangkat oleh Allah (ayat 24).

    Dalam silsilah Adam ada hal yang menarik terkait dengan istilah gambar dan rupa Allah. Istilah tersebut hanya dikenakan kepada Adam. Sedangkan keturunan Adam disebut dengan gambar dan rupanya, yang merujuk kepada figur Adam. Pembedaan ini tidak membuat keturunan Adam menjadi tidak istimewa. Alkitab mencatat bahwa apa yang terjadi pada Henokh sungguh peristiwa istimewa. Keistimewaan Henokh karena ia tidak mati, melainkan diangkat oleh Allah.

    Dalam Alkitab, kematian kerap dianggap sebagai peristiwa negatif. Sebab kematian adalah hukuman Allah bagi Adam dan Hawa (Kejadian  2:17). Lain halnya dengan Henokh yang tidak mengalami kematian sehingga ia menjadi pribadi yang sangat istimewa dari silsilah keturunan Daud. Kunci keistimewaan Henokh terletak pada hidupnya yang bergaul dengan Allah di sepanjang usianya (ayat  22 dan 24).

    Sahabat, sebutan bergaul dengan Allah memperlihatkan kedekatan Henokh dengan Allah. Tidak disebutkan apakah orang lain yang ada dalam silsilah tersebut kurang berhubungan dekat dengan Allah. Tidak pula dinyatakan bagaimana caranya Henokh hidup bergaul dengan Allah. Yang pasti ada relasi istimewa antara Allah dan Henokh.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Menurut pemahamanmu, bagaimana caranya supaya kita mempunyai relasi yang istimewa dengan Allah? (Mazmur 25:14)
    2. Bagaimana caranya agar kita dapat menjadi pribadi yang istimewa di mata Tuhan? (Ayat 22 dan 24).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg).

  • BEDA darI YANG LAIN

    Sahabat,  ada cukup banyak orang percaya yang tidak suka dan  merasa alergi  jika membaca renungan tentang ketaatan, karena yang ada di pikirannya,  ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan:  Tidak boleh ini,  tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksinya.

    Karena itu tidaklah mengherankan jika kita lebih suka membaca renungan tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat dan sebagainya.  Sebenarnya yang harus kita sadari,   bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang dalam melakukan firman Tuhan.

    Sahabat, kehidupan pada zaman Nuh tidak jauh beda dengan kehidupan kita di akhir zaman ini: Moral manusia sangat merosot, kejahatan merajalela di mana-mana, sampai disebutkan bahwa Tuhan sangat marah melihat dosa manusia saat itu. Namun, hal tersebut  tidak berlaku bagi Nuh. Dia tetap mampu menjaga kesucian hidupnya di tengah-tengah kehidupan manusia yang menyimpang dari jalan-jalan Allah. Nuh membuat pilihan hidup yaitu hidup TAAT, Dia berani tampil beda dari yang lain.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BEDA dari YANG LAIN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 6:9-22. Sahabat, secara khusus riwayat Nuh diceritakan dengan agak rinci. Nuh disebutkan sebagai pribadi yang taat kepada Tuhan (ayat 9). Ia memiliki tiga orang anak, yaitu: Sem, Ham, dan Yafet (ayat 10). Kepadanya Tuhan memerintahkan agar Nuh membuat bahtera yang besar dan bertingkat (ayat 15). Itu sebabnya kapal itu harus menggunakan kayu yang kuat (ayat 14). Tuhan juga memerintahkan agar Nuh, istri, anak-anaknya, dan segala makhluk hidup lainnya diambil berpasang-pasangan untuk masuk ke dalam bahtera.

    Allah telah membuat keputusan untuk mengakhiri kekerasan dan kejahatan di bumi. Hanya saja tidak semuanya akan dibinasakan. Nuh dan keluarganya merupakan salah satunya. Nuh, seorang yang benar dan tidak bercela, justru menjadi jalan untuk menyelamatkan makhluk hidup lainnya. Kesalehan Nuh terlihat dalam kehidupan ibadah maupun sosialnya. Kemampuan yang luar biasa itu, seperti juga pada diri Henokh, terletak pada kehidupan Nuh yang bergaul dengan Allah (ayat 9). Hal itu terlihat ketika Nuh diminta oleh Tuhan membuat bahtera besar. Nuh menaati dan melakukan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan (ayat 22).

    Sahabat, ketaatan adalah harga mati bagi seseorang yang  ingin menikmati penggenapan janji Tuhan!  Ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu, tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang harus dimiliki setiap orang percaya.  Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri seseorang, maka melakukan firman Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan, melainkan menjadi sebuah kesukaan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi kunci, Nuh begitu istimewa di mata Tuhan? (Ayat 9)
    2. Bagaimana keadaan dunia pada Zaman Nuh? (Ayat 11 dan 12).

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Karena ketaatannya, Nuh dan keluarganya diluputkan dari bencana air bah! (pg)