Author: Christopherus

  • Mengapa Berlaku BODOH?

    Sahabat, orang bijak memberi nasihat: “Belajarlah untuk menghargai kepunyaanmu sebab selalu ada seseorang di luar sana yang sangat berharap dapat memilikinya seperti dirimu. Jangan sampai kelak engkau dipaksa untuk menghargainya tatkala itu sudah bukan milikmu lagi.”

    Nasihat tersebut mengingatkan kita supaya kita tidak berlaku BODOH, supaya kita menghargai dan menjaga baik-baik “milik” kita. Jangan sampai kita menukarkan atau menjual milik kita yang sangat berharga, dengan sesuatu yang tidak bernilai. Sesuatu yang bernilai kekal, kita tukarkan dengan sesuatu yang fana.

    Saya yakin, Sahabat  akan tersinggung jika dikatakan orang bodoh.  Tapi kenyataannya memang tidak sedikit orang yang berlaku bodoh.  Kalau kita sudah tahu bahwa apa yang kita lakukan itu salah, berdampak buruk, merugikan dan bertentangan dengan firman Tuhan, tapi masih saja kita perbuat, itulah yang disebut kebodohan atau tindakan bodoh karena kita telah salah melangkah. Lalu mengapa berlaku bodoh?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa Berlaku BODOH?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 25:27-34. Sahabat, Sebagai putra sulung, Esau memiliki hak kesulungan yang memberinya keistimewaan berupa berkat anak sulung yang kelak pasti diwariskan oleh sang ayah kepadanya (Kejadian 27:1-4). Tetapi, sayangnya, Esau bersikap tak mengacuhkan haknya tersebut. Dia memandang remeh atas hak yang sangat istimewa yang dia miliki.  

    Padahal seseorang yang memiliki hak kesulungan itu mewarisi  otoritas ilahi dari ayahnya untuk memimpin sukunya. Berhak menjadi imam bagi sukunya, dan mendapatkan warisan dalam jumlah dua kali lipat dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.  

    Maka Yakub, adik kembarnya, sangat mendambakannya, sangat  ingin mendapatnya. Dia menunggu kesempatan yang tepat untuk dapat mengambil atau merebut hak istimewa yang dimiliki kakak kembarnya.

    Nah, kesempatan yang dinanti Yakub tiba. Ketika dia sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Esau minta kepada Yakub agar dia diberi apa yang sedang dimasak oleh adiknya karena dia lelah dan lapar. Tapi Yakub minta agar masakannya itu ditukar dengan hak kesulungan yang dimiliki kakaknya. Konyolnya, Esau setuju dan mengukuhkan “transaksi” itu dengan sumpah! (ayat 31-34)


    Sahabat, mengapa Esau berlaku bodoh,  menukarkan hak kesulungan dengan semangkok sup kacang merah? Karena Esau itu orang yang berpikir pendek, orang yang hanya memikirkan kebutuhan sesaat. Esau memandang ringan tentang hak kesulungannya.

    Hidup ini ialah seni sekaligus disiplin untuk menghargai apa yang ada pada kita, yang diizinkan Tuhan menjadi kepunyaan kita. Sebab tak selamanya itu ada pada kita. Jika kita terlalu sibuk mengejar apa yang belum ada pada kita, akibatnya kita mengabaikannya, tidak melihat potensinya, bahkan memandangnya dengan sebelah mata. Padahal banyak karunia Tuhan tersimpan di situ dan menanti untuk kita hargai, syukuri, dan berdayakan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Esau bersedia menukar hak kesulungan yang dimilikinya dengan semangkok sup kacang merah?
    2. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari  perenungan kita pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Hargai dan syukuri segala sesuatu yang Tuhan izinkan menjadi kepunyaan kita. (pg).

  • JANGAN cepat MENYERAH

    Sahabat, hampir semua orang mengakui bahwa hari-hari yang sedang kita jalani saat ini adalah hari yang teramat sukar, terlebih-lebih dengan adanya pandemi Covid-19.  Pandemi adalah wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografis yang luas. 

    Pandemi Covid-19 ini benar-benar membawa dampak yang luar biasa di segala bidang kehidupan:  Ekonomi menjadi sangat sulit, krisis terjadi di mana-mana, terjadi PHK secara besar-besaran, aktivitas manusia menjadi tersendat, proses belajar mengajar  (pendidikan)  menjadi  terhambat.  Banyak orang menjadi frustasi, kehilangan semangat dan putus asa, karena merasa sudah tak kuat lagi menanggung beban hidupnya yang semakin berat.

    Dalam kelelahan yang sudah melebihi batas, biasanya orang akan diserang oleh rasa mengasihani diri sendiri.  Saat tubuh dan jiwa merasa letih lesu dan berbeban berat, ingatlah: Tuhan penolong kita. Tuhan ada di pihak kita. Jangan cepat  menyerah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JANGAN cepat MENYERAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 124:1-8 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Pemazmur begitu menyadari pertolongan Tuhan atas Israel setelah merenungkan kembali perjalanan dan sejarah hidup bangsanya. Betapa banyak musuh yang ingin menyerang dan menghancurkan, hendak menelan mereka hidup-hidup dengan amarah yang menyala-nyala (ayat 3). Mereka juga menghadapi ancaman bencana alam, yakni banjir (ayat 4).


    Meski mereka menghadapi banyak ancaman, mereka tetap luput dari semua itu. Sebab Tuhan pencipta alam semesta menyertai dan menolong mereka (ayat 6, 8). Jika Tuhan pencipta semesta telah memihak mereka, bukankah tidak ada satu ciptaan pun yang bisa menyakiti mereka? Dikatakan bahwa Israel luput seperti burung dari jerat penangkapnya, bahkan jerat itu pun telah terputus (ayat 7).

    Sahabat, sesungguhnya Mazmur 124 merupakan nyanyian ziarah Raja Daud ketika menghadapi persoalan dengan Absalom, anaknya sendiri yang memberontak (2Samuel 15). Dalam keadaan susah di pelarian, Daud mengalami pertolongan Tuhan. Hal itu membuat Daud tidak berputus asa, tetapi memiliki pengharapan yang kuat. Mazmur ini merupakan sebuah nyanyian ungkapan syukur karena Tuhan berpihak kepadanya (ayat 1-5) dan menyelamatkan jiwanya (ayat 6-7).
     

    Kondisi hidup bisa jadi membuat kita susah dan merasa frustasi. Kita sudah berusaha sekuat tenaga, tetap saja belum ada terobosan yang berarti. Kita mungkin ingin menyerah. Pertanyaannya: Sudahkah kita berpaling pada Allah dan menantikan pertolongan-Nya?

    Sahabat, sepatutnya kita bersyukur bila Tuhan masih berkenan mendidik kita melalui masalah sehingga kita boleh mendapat pengalaman berjalan bersama Dia. Dengan demikian iman kita semakin bertumbuh dan pada saatnya kita beroleh kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan-Nya.

    Berdasarkan hasil peremunganmu dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Jika Sahabat sedang ditindih dengan beban yang berat, apa yang sebaiknya engkau lakukan?
    2. Bagikanlah pengalamanmu bagaimana engkau dapat melewati Pandemi Covid-19 dengan selamat?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Hendaklah hati kita meluap dengan ungkapan syukur, sebab kita mendapati bahwa Tuhan memihak kepada kita dan meluputkan kita dari malapetaka. (pg).

  • Ketika PERUNDUNGAN Menimpa

    Sahabat, saat ini mungkin kita sering mendengar atau membaca kata PERUNDUNGAN. Kata perundungan  dalam bahasa Inggris bullying, sedangkan padanan dalam bahasa Indonesia  penindasan atau risak.

    Perundungan adalah segala bentuk penindasan atau kekerasan, yang dilakukan secara sengaja oleh satu orang atau kelompok yang lebih kuat. Tujuan dari perundungan itu untuk menyakiti orang lain dan dilakukan secara terus menerus.

    Peristiwa perundungan seringkali terjadi di: Sekolah, rumah, tempat kerja, masyarakat, sampai dunia maya. Aktivitas perundungan tidak memilih umur dan jenis kelamin. Banyak anak-anak, remaja, maupun orang dewasa sekarang ini yang mengalami perundungan. Tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui media sosial. Perundungan ternyata tidak terjadi pada zaman sekarang saja; pada masa lampau pun hal seperti itu sudah terjadi.

    Sahabat, ketika perundungan menimpa, apa yang harus kita lakukan? Memandang Tuhan dan menantikan pertolongan-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika PERUNDUNGAN Menimpa”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 123:1-4. Sahabat, dalam Mazmur 123, Pemazmur dengan jelas mengungkapkan bahwa ia pun mengalami perundungan, yaitu penghinaan dan olok-olok.

    Ada dua tipe orang yang melakukannya. Pertama, orang-orang yang merasa aman pada dirinya sendiri, yakni mereka yang merasa berkecukupan secara ekonomi dan sosial. Mereka menjadi tidak tahu diri dan meremehkan orang lain. Kedua, orang-orang yang sombong. Mereka mudah menghina dan mengolok-olok orang yang dipandangnya lebih rendah (ayat 3-4).

    Sahabat, akibat dari perundungan yang terus-menerus akan membuat seseorang mengalami penderitaan batin. Hal itulah yang dialami oleh Pemazmur, sehingga ia berlari kepada Tuhan dan memohon perlindungan serta belas kasihan-Nya. Pemazmur memohon layaknya seorang hamba laki-laki dan perempuan yang memandang kepada tangan tuan dan nyonyanya (ayat 2).

    Ketika kita dihina dan mengalami perundungan, biasanya kita menjadi tertekan, stres, bahkan ada yang sampai bunuh diri. Hal itu disebabkan sebagian besar  dari kita hanya berfokus pada situasi dan kondisi yang ada, bukan memandang kepada Tuhan. Oleh karena itu, jika saat ini ada di antara kita yang sedang berada dalam situasi yang demikian, marilah kita mengambil sikap seperti Pemazmur.

    Pertama, kita harus memandang kepada Tuhan dengan berseru dan berdoa. Sebab, ketika kita memandang kepada Tuhan, kita tidak akan takut lagi dalam menghadapi siapa pun. Kedua, menanti pertolongan Tuhan dengan setia, seperti seorang hamba yang senantiasa memandang kepada tangan tuannya hingga mendapatkan belas kasihan dari tuannya itu. Bila kita setia memandang kepada-Nya, Allah yang penuh kasih akan memberikan pertolongan kepada kita.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang perundungan?
    2. Bagikanlah, apa yang Sahabat lakukan ketika sedang ditimpa perundungan.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati kita: Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.”  (Mazmur 16:8). (pg).

  • RIBKA: Pribadi yang Suka Menolong

    Sahabat, suka menolong adalah bukti bahwa dalam diri kita kasih Allah bekerja dengan baik. Pada dasarnya manusia senang dibantu. Dengan membawa spirit suka menolong dalam kehidupan keseharian, akan terbuka kesempatan hidup kita untuk menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain. Memang tidak mudah dan terkadang merepotkan, tetapi yakinlah bahwa taburan kebaikan kita akan berbuah manis.

    Pengalaman hidup saya dan istri membuktikan bahwa firman Tuhan itu ya dan amin, apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai. Saat ini ketika kami sudah menjadi senior, kami menikmati apa yang telah kami tabur di masa muda. Bukan hanya saya dan istri yang menuai,  anak-anak kami juga sudah ikut menuai. Terpujilah Tuhan!

    Untuk lebih memahami topik tentang: “RIBKA: Pribadi yang Suka Menolong”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 24:1-67 dengan penekanan pada ayat 17-20. Sahabat, Dalam hal mencari jodoh, terlihat jelas bagaimana Tuhan menuntun Eliezer, hamba Abraham menemukan Ribka sebagai jodoh Ishak. Diceritakan bahwa Abraham sudah lanjut usia. Meskipun Sara telah wafat, Abraham masih memiliki tanggung jawab untuk mencarikan istri buat anaknya.


    Eliezer adalah pelayan Abraham yang bisa dikatakan sangat senior dan begitu setia sehingga ia dipercaya oleh tuannya untuk mengatur segala hal di rumahnya.  Bahkan Eliezer dipercaya oleh Abraham untuk tugas yang teramat penting, yaitu mencarikan jodoh untuk anaknya, yaitu Ishak. 

    Di satu sisi apa yang Abraham tugaskan ini merupakan suatu penghargaan dan kepercayaan yang luar biasa bagi Eliezer, namun di sisi lain perintah ini menuntut sebuah tanggung jawab yang besar, karena hal ini berdampak dan sangat menentukan bagi kehidupan Ishak di masa depan.  Bila salah dalam memilihkan pasangan hidup untuk Ishak, maka akibatnya akan sangat fatal.

    Setelah mengikat perjanjian dengan Abraham, pergilah Eliezer ke Aram-Mesopotamia dengan membawa berbagai barang berharga.  Sesampai di sana Eliezer merasa lelah, maka berhentilah ia di sebuah sumur di luar kota, di situlah ia melihat beberapa orang perempuan datang untuk menimba air.  Eliezer pun berdoa kepada Tuhan dan meminta tanda  (Ayat 12-14). 

    Hari itu Ribka menunjukkan kualitas pribadi yang luar biasa. Dikenal sebagai gadis yang berparas cantik (ayat 16), Ribka juga ternyata memiliki hati yang suka menolong. Kita dapat mengetahui hal itu ketika Eliezer menemuinya untuk meminta sedikit air minum, ternyata Ribka memberikan lebih dari yang diharapkan.

    Hamba itu diberinya minum sampai selesai, setelah itu giliran unta-untanya pun diberinya minum lewat air yang ditimba oleh Ribka. Bayangkan betapa repot dan melelahkannya semua itu, terlebih bagi seorang wanita. Namun, Ribka tidak ragu melakukannya karena kegemarannya membantu sesame (ayat 17-20). kebaikan Ribka hari itu yang membuka jalan baginya untuk menjadi istri dari Ishak.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, kerjakanlah beberapa tugas berikut ini:

    1. Sahabat, apa yang engkau pahami tentang pribadi yang suka menolong?
    2. Mengapa Eliezer berhasil menjalankan apa yang diamanatkan oleh Abraham kepadanya? (Ayat 12-14).

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10).  (pg).

  • KISAH PERSAHABATAN Abraham dan Efron

    Apakah perbedaan antara teman dan sahabat? Sahabat sejati adalah ia yang tetap menemanimu pada saat semua teman pergi menjauhimu. Teman biasa adalah seseorang yang hanya mengenalmu. Namun sahabat adalah ia yang mengenal kebaikan dan keburukanmu, namun tetap menerimamu dengan apa adanya. Hubungan antar  sahabat bisa begitu kuat karena bisa memaknai hubungan tersebut.

    Sahabat, sesungguhnya selain keluarga, biasanya sahabatlah orang terdekat dalam hidup, tak jarang ia menjadi satu-satunya tempat pelarian, di saat   kebingungan mencari solusi atas masalah yang sedang kita hadapi. Dengan begitu betapa besarnya peranan seorang  sahabat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KISAH PERSAHABATAN Abraham dan Efron”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 23:1-20 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat,  pada usia 127 tahun Sara meninggal di daerah asing, yaitu Hebron, tanah Kanaan.

    Kematian Sara membuat Abraham terpukul dan berduka. Selama ini Sara telah menemaninya dalam suka dan duka. Mereka mengalami bagaimana janji Tuhan tentang ahli waris digenapi dalam kehidupan mereka. Semua kenangan tentang Sara membuat Abraham meratap dan menangis.

    Sahabat, sebagai rasa hormat dan terima kasihnya, Abraham ingin memberikan tempat pembaringan terakhir yang terbaik bagi Sara. Karena itu, ia meminta izin kepada bani Het untuk menguburkan istri tercintanya di tanah asing. Abraham juga meminta agar diperbolehkan membeli sebidang ladang dan sebuah gua Makhpela untuk kuburan Sara.

    Akan tetapi, Efron bin Zohar, sang pemilik, ingin memberikan kepada Abraham secara gratis. Bagi Efron, persahabatan dan persaudaraan dengan Abraham jauh lebih bernilai daripada sebidang tanah atau sejumlah uang.

    Sahabat, kisah kematian Sara dan pertolongan Efron adalah kisah persaudaraan, persahabatan  dan cinta kasih yang melampaui sekat dan batas suku, bangsa, bahasa, dan ikatan darah. Itulah persaudaraan sejati yang dikehendaki Tuhan kepada manusia.

    Sesungguhnya manusia tidak dapat hidup sendiri. Manusia perlu berelasi dengan sesamanya. Entah itu kerabat, tetangga, teman pelayanan, teman kuliah, teman kerja,  dan lain-lainnya. Persaudaraan dan persahabatan itu sungguh penting. Allah menghendaki setiap orang dapat berbagi dengan sesamanya dalam keragaman. 

    Sahabat, hari ini kita belajar bahwa di saat-saat sulit dan menyedihkan seperti kehilangan atau kemalangan yang kita alami, di situ kita tetap dapat  merasakan kemurahan dan janji Tuhan, melalui sahabat-sahabat  kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaam kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang persahabatan.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Allah kita setia! Di tengah ketidakpastian yang terjadi Ia tetap menunjukkan kemurahan-Nya melalui sahabat-sahabat kita. (pg).

  • ReKat: SANGAT BERHARGA di Mata TUHAN (15 Juni 2022)

    Bacaan Sabda:  Mazmur 116:1-19

    Berdasarkan hasil  perenungan dari  Bacaan  Sabda pada hari ini, saya dapatkan:

    1. Dari ayat 1-4 , Pemazmur mengasihi Tuhan karena itu ia mengemukakan pengharapannya kepada Tuhan yang ia percayai,  bahwa Tuhan mendengarkan doanya serta tahu tentang keadaannya.
    2. Dalam ayat 5-6, Pemazmur menggambarkan sifat Allah sebagai berikut: Pengasih,  adil,  penyayang,  dan pemelihara.
    3. Yang akan dilakukan oleh Pemazmur sebagai respon dari kebaikan , kemurahan dan kesetiaan Allah yaitu: Pemazmur  akan mengucap syukur serta meninggikan nama Tuhan dan mempersembahkan korban syukurnya kepada Tuhan; dan juga membayar nazar kepada Tuhan.

    (Swan Lioe)