Author: Christopherus

  • TUHAN: Dasar dan Pusat Kehidupan

    Sahabat, memiliki DASAR yang teguh dalam kehidupan merupakan suatu hal yang esensial. Bagi orang percaya, Tuhan harus menjadi fondasi dalam seluruh area kehidupan, baik dalam membangun rumah, karier maupun keluarga. Tanpa Tuhan segalanya akan berakhir dengan kesia-siaan.

    Sedangkan PUSAT disini sama artinya dengan fokus, tujuan, arti atau makna dan nilai. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan berarti menjadikan-Nya sebagai fokus hidup, tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini. Tanpa Tuhan, hidup ini tidak bertujuan, tidak berarti, tidak bermakna dan tidak bernilai sama sekali.

    Maka kita perlu menjadikan Tuhan sebagai dasar dan pusat kehidupan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Dasar dan Pusat  Kehidupan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 127:1-5 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat,  Salomo melihat bahwa keluarga membangun rumah dan penjaga menjaga kota (ayat 1). Namun, jikalau Tuhan tidak dilibatkan, semua akan berakhir dengan kesia-siaan. Usaha dan jerih lelah manusia tidak akan menghasilkan apa-apa jikalau Tuhan tidak hadir dan turut bekerja.

    Sahabat, jangan salah mengerti,  Salomo tidak menentang segala usaha yang manusia lakukan, melainkan ia menekankan tentang keseimbangan antara bekerja dan beristirahat di dalam kehidupan manusia (ayat 2). Tuhan yang memberikan berkat bagi hidup manusia. Sesungguhnya Salomo ingin menekankan bahwa dalam bekerja maupun beristirahat, ingatlah senantiasa akan Tuhan.

    Salomo melanjutkan bahwa anak-anak adalah pemberian dan warisan yang Allah berikan kepada sebuah keluarga dalam kehidupan yang sementara ini (ayat 3-5). Artinya, baik keluarga maupun pekerjaan berasal dari Tuhan. Hargailah setiap kepercayaan yang Tuhan berikan.

    Sahabat, fondasi yang benar dalam mengerjakan segala sesuatu merupakan hal yang mutlak dipahami oleh setiap orang percaya. Di dalam setiap aspek, Tuhan harus menjadi dasar dan pusat kehidupan. Rumah tangga dibangun atas dasar takut akan Tuhan. Keamanan yang sesungguhnya hanya diperoleh di dalam Tuhan. Keamanan bukan hanya menyangkut keselamatan jiwa semata, tetapi juga kebutuhan fisik yang diperlukan hari demi hari. Dan ini semua tersedia dalam pemberian Tuhan.

    Ingatlah, kerja keras dari pagi hingga larut malam tanpa Tuhan justru akan mengorbankan banyak hal, baik kesehatan maupun relasi dengan sesama anggota keluarga. Hubungan orangtua dan anak menjadi rusak akibat orangtua yang gila kerja.

    Semua aspek kehidupan yang kita jalani, jangan sampai berlalu tanpa kemampuan untuk melihat campur tangan Tuhan di dalamnya. Tuhan berdaulat dalam kehidupan kita. Jangan pernah melupakan-Nya. Jangan Lupakan Tuhan!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenungan kita pada hari ini?
    2. Apa pemahaman Sahabat dengan frasa kunci dalam Mazmur 127: “Jikalau bukan Tuhan …”? (Ayat 1)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam  di hati: Jika Tuhan tidak ikut campur tangan dalam hidup kita, tidak ada hal baik yang dapat kita hasilkan. (pg)

  • GIGIH MEMPERJUANGKAN PEMULIHAN

    Apakah Sahabat ingin bahagia, sukses dan mudah bergaul dengan  banyak orang? Sahabat cukup mengembangkan kegigihan seperti yang dikutip Genius Beauty: Setelah 33 kali mengajukan kepada bank, Disneyland baru mendapat persetujuan. Sebanyak 134 penerbit menolak buku Chicken Soup for the Soul karangan J. Canfield dan Mark V. Hansen. Setelah gagal 10.000 kali, Thomas Alpha Edison baru menemukan bola lampu listrik. Apakah Sahabat menemukan polanya?

    Polanya: Kegigihan. Jangan mudah berputus asa atau cepat puas diri. Dua hal itu sama-sama jadi penghambat kita untuk terus dan semakin maju dalam segala hal yang baik. Tuhan kita melihat hati dan tujuan kita. Oleh sebab itu mari kita pastikan telah mengambil sikap hati dan perencanaan dengan benar. Di samping itu kita juga memastikan bahwa semua yang kita kerjakan semata-mata berdasar iman kepada Dia dan upaya terbaik yang dapat kita lakukan. Percayalah, rencana Tuhan selalu indah meski kita sering tak sanggup melihatnya. Kita perlu gigih dalam memperjuangkan pemulihan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GIGIH MEMPERJUANGKAN PEMULIHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 126:1-5 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat,  Pemazmur menunjukkan bahwa Allah sanggup memulihkan kehidupan umat-Nya, melebihi apa yang dapat  kita pahami.

    Mereka yang memberontak dan dibuang ke Babel, dibawa kembali ke Israel sesuai dengan janji-Nya. Umat Allah yang pulang dari pembuangan (ayat 1) melihat hal ini sebagai sesuatu yang sepertinya mustahil, tetapi hal tersebut merupakan sebuah kenyataan. Mulut yang penuh dengan tawa dan sukacita merupakan ekspresi dari keajaiban karya Allah di tengah-tengah mereka (ayat 1-3). Seruan dinaikkan ke hadapan Allah untuk pemulihan keadaan dari penderitaan yang telah mereka jalani (ayat 4-6).

    Pemazmur juga hendak menunjukkan bahwa ratap tangis dan air mata bukanlah kondisi yang permanen. Allah sanggup memberikan yang terbaik melalui setiap tragedi yang terjadi. Inilah alasannya umat Allah selalu hidup dalam pengharapan.

    Sahabat, prinsipnya kita harus tetap menabur di masa paceklik (ayat 5-6). Pemazmur mengingatkan bahwa perbaikan tidak terjadi dengan sendirinya. Tuhan menegaskan umat-Nya, yang berjuang memperbaiki keadaan dengan cara yang benar, akan mengenyam kelimpahan. Kuncinya adalah gigih. Orang gigih tidak takut menderita. la tidak bosan berusaha dan terus bertahan dalam keadaan yang sedang dijalaninya.

    Dasarnya adalah imannya kepada Allah Israel. Inilah yang menggerakkan semua upaya. Ini juga yang menjadi sumber kegigihannya. Orang ini tahu, arah perjuangan dan tujuan perjuangannya. Ia bukan hanya sedang berjuang untuk mengubah keadaan, melainkan juga sedang membuktikan kepada siapa dirinya berharap.

    Sahabat, di masa-masa yang sulit seperti saat ini kita harus makin mendekat dan melekat kepada Tuhan, sebab seberat dan seburuk apa pun keadaan kita Tuhan sanggup memulihkan.  Ia memiliki rancangan terbaik bagi setiap umat-Nya yang mau datang kepada-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenungan pada hari ini?
    2. Prinsip apa yang perlu Sahabat pegang dari ayat 5 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Tanamkan dalam-dalam di hati: Menabur  berarti sebuah tindakan yang kita lakukan berulang-ulang. (pg).  

  • BAGAIMANA Kita Mendapatkannya?

    Sahabat, siapakah di antara kita yang tidak menginginkan kelimpahan harta duniawi selama menumpang hidup di dunia ini? Sesungguhnya.  Tuhan tidak melarang umat yang dikasihi-Nya untuk bekerja dan berusaha agar mendapatkan berkat kasih setia, kasih karunia dan anugerah-Nya. Tuhan juga tidak melarang umat-Nya bekerja dan berusaha untuk mengumpulkan uang. Tuhan juga tidak melarang kita untuk menjadi orang kaya.

    Sesungguhnya yang perlu kita perhatikan dan cermati: Bagaimana CARA KITA MENDAPATKAN dan bagaimana CARA MENGGUNAKAN harta atau kekayaan kita? Demikian juga dengan masalah keberhasilan atau kesuksesan hidup. Kesuksesan hidup itu memang hak semua orang, tapi BAGAIMANA Kita Mendapatkannhya?  

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BAGAIMANA Kita Mendapatkannya?” , Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 27:1-40 dengan penekanan pada ayat 30-38. Sahabat, sesungguhnya berkat Tuhan yang dapat dirasakan di sekitar kita berasal dari orangtua. Orangtua yang pertama kali melatih bagaimana kita berjalan, naik sepeda, berbahasa, berkomunikasi, dan sebagainya. Waktu kita sakit, merekalah yang merawat kita. Mereka membesarkan dan membiayai pendidikan kita agar kelak kita dapat mandiri dan dewasa.

    Sahabat, Esau dan Yakub juga merasakan berkat Allah yang sama dengan manusia pada umumnya. Melalui Ishak dan Ribka, Esau dan Yakub tumbuh menjadi dewasa dengan bakat dan talenta masing-masing. Esau gemar berburu, sementara Yakub memilih di rumah untuk bercocok tanam dan beternak. Mestinya mereka berdua bisa saling melengkapi, namun sangat disayangkan Esau dan Yakub memiliki persaingan dalam hal ingin memiliki berkat yang paling banyak.

    Kisah Esau dan Yakub penuh intrik dan dramatis. Setidaknya ada dua pertikaian yang terjadi di antara keduanya. Pertama, ketika Yakub dengan licik meminta hak kesulungan Esau dan menukarnya hanya dengan roti dan semangkuk kacang merah. Kedua, ketika Esau dipanggil Ishak dan akan diberkati sebagai anak sulung, sebelum Ishak mati. Namun, Yakub dengan bantuan ibunya, Ribka mendahului semua permintaan Ishak kepada Esau sehingga Yakublah yang diberkati Ishak, bukan Esau.

    Perlu kita catat, dua kali Yakub mendapatkan keinginannya dengan cara curang; dengan tipu daya. Akan tetapi, akibat dari perbuatannya itu, Yakub harus pergi jauh dari rumahnya dan hidup dalam pelarian agar tidak dibunuh oleh Esau.

    Sahabat, harta, jabatan, kesuksesan, dan banyak hal lain di dunia ini bisa membuat kita tergoda dan lupa diri, sehingga kita tidak lagi memakai akal sehat untuk memperolehnya. Sesungguhnya, setiap orang diberkati oleh Tuhan; berkat Tuhan tersedia bagi semua orang sehingga semestinya tidak ada yang berebut dan berbuat curang untuk mendapat berkat.

    Raih dan nikmatilah berkat Tuhan dengan cara-cara yang Tuhan perkenan. Jauhkan diri dari perbuatan jahat, tipu daya dan kecurangan, sebab hanya akan mendatangkan celaka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat petik dari perenungan kita pada hari ini?
    2. Mengapa Yakub berani dan berhasil menipu Ishak, ayahnya? (Ayat  5-17 dan Kejadian 25:28)

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita:  Jauhkanlah diri dari cara-cara curang, sebab hanya akan membawa kesenangan sesaat, tetapi bencana yang berkepanjangan. (pg).

  • ReKat: KEBIMBANGAN: Musuh dari Iman (13 Juni 2022)

    Bacaan Sabda: Kejadian 15:1-21

    Berdasarkan hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda: Kejadian 15:1-21, saya mendapatkan:

    1. Dari ayat 6, Abram mendapat predikat: “Bapa orang beriman” mengingat:
    1. Dari sisi Abram, karena seluruh hidupnya, hati  jiwa, raganya, terarah, tertuju, kepada Allah yang telah berfirman/ berjanji kepadanya bahwa dari anak kandungnyalah yang akan menjadi ahli warisnya.
    • Dari sisi Allah, bahwa  Allah melihat sikap hati Abram yang mengimani firman/janji-Nya, maka hal itulah yang oleh Allah diperhitungkan sbg kebenaran. Abram memiliki relasi yang intens dan yang benar dengan Allah dan Abram mentaati yang menjadi kehendak Allah. Abram tidak bimbang terhadap janji Allah yang disampaikan oleh Allah kepadanya.
    1. Abram percaya kepada janji Tuhan, karena dia sangat yakin bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu dan tidak ada rencana Allah yang gagal (Ayub 42:2).

    (Haryono)

  • KADYA CAKRA MANGGILINGAN

    Sahabat, dalam pergaulan saya di tengah komunitas orang Jawa, saya seringkali mendengar ungkapan: “Kadya Cakara Manggilingan”.  Kata Kadya berasal dari bahasa Jawa yang berarti seperti. Cakra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya sebagai cakram atau roda. Sedangkan manggilingan berasal dari bahasa Jawa dari kata dasar giling yang artinya berputar atau menggerus. Istilah kadya cakra manggilingan diartikan sebagai kehidupan ibarat roda berputar.

    Intisari atau esensi dari kadya cakra manggilingan adalah waktu. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini sudah menjadi kodrat manusia hidup di dunia, baik dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan  tahun ke tahun. Sesungguhnya ungkapan tersebut mau mengingatkan kita bahwa siapa pun diri kita, akan mengalami pasang surut kehidupan. Roda kehidupan itu terus berputar, ada kalanya kita  di atas, dan ada kalanya kita di bawah.

    Untuk lebih memahami makna topik: “KADYA CAKRA MANGGILINGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 26:1-35. Sahabat, Ishak merupakan  satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham. Ikatan perjanjian itu diteruskan kepada Yakub. Melalui Yakub lahirlah dua belas suku Israel.

    Meskipun Ishak merupakan  orang yang diberkati Allah, “orang yang spesial”, satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham.  namun ia juga mengalami pasang surutnya kehidupan seperti orang lain. Saat itu terjadi bencana kelaparan di beberapa wilayah, termasuk Gerar. Ishak berniat mengungsi ke tanah Mesir, tetapi Allah mencegahnya dan menyuruh Ishak menetap di Gerar sebagai orang asing.

    Sahabat, meski Ishak telah mendapatkan janji Allah, ia tetap merasa takut. Bagaimana Ishak bisa hidup tenang dan aman di tanah orang asing? Karena itulah, ia merasa harus berbohong dengan mengatakan kepada orang Filistin bahwa Ribka adalah saudaranya. Ishak takut kalau orang-orang tersebut akan membunuhnya apabila ia mengatakan Ribka sebagai istrinya. Mungkin ada diantara kita yang  berpendapat bahwa jawaban Ishak cerdik, namun sesungguhnya ia hanya mau cari aman bagi dirinya sendiri.

    Pada akhirnya, raja Filistin, Abimelekh, mengetahui yang sebenarnya. Ternyata reaksi Abimelekh di luar prasangka buruk Ishak. Abimelekh memberikan perintah agar siapa pun tidak boleh mengganggu keluarga Ishak. Siapa saja yang mencoba mengganggu akan dikenakan hukuman mati.

    Sahabat, Allah dapat memakai siapa pun untuk memelihara dan memberkati umat-Nya, termasuk pihak yang kita anggap sebagai musuh. Karena itu, di tengah pasang surutnya kehidupan, sepatutnya kita perlu belajar memercayai pemeliharaan Allah atas hidup kita.

    Dalam pemeliharaan-Nya, segala kekhawatiran dan ketakutan bisa kita transformasikan menjadi berkat. Mungkin saja kita dapat dipakai Allah untuk menjadi jalan berkat yang mendatangkan kebaikan dalam kehidupan sesama. Belajarlah dari Ishak, di tengah surutnya kehidupan, dia tetap menabur, dengan jalan itu dia dapat menuai seratus kali lipat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Teladan apa yang Sahabat peroleh dari Ishak dari ayat 1-6?
    3. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari tindakan Ishak di ayat 12-13?

    Selamat sejenak merenung. Tanamkan dalam-dalam di hati kita: Milikilah ketaatan, jangan berhenti menabur, niscaya berkat-Nya dicurahkan atas kehidupan kita. (pg)

  • Tidak GOYANG saat GONCANGAN Menerjang

    Sahabat, badai dalam hidup diibaratkan sebagai GUNCANGAN, terpaan kuat berupa peristiwa atau kejadian yang kedatangannya tak diharapkan, yang menimbulkan kehidupan yang semula tenang dan nyaman menjadi porak poranda. Apakah itu kehilangan untuk selamanya orang yang dikasihi, kejatuhan dalam karier dan bisnis, mengidap sakit penyakit. Badai lebih sering diasosiasikan dengan hal negatif, suram, pedih, gelap, dan kesedihan.

    Adakah tempat perlindungan yang kokoh kuat, tatkala guncangan datang menerjang? Setiap makhluk yang hidup di dunia ini membutuhkan tempat yang aman untuk tinggal, berdiam, dan berlindung, bukan? Namun, apakah kita menemukannya? Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang tidak akan goyang tatkala guncangan datang menerjang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tidak GOYANG saat GONCANGAN Menerjang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 125:1-5. Sahabat,  Pemazmur menggambarkan orang yang percaya kepada Tuhan seperti gunung Sion, sebab Sion terkenal sebagai gunung pilihan Allah, tempat kudus Allah, serta sebagai kota benteng. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan mendapatkan perlindungan, sehingga tidak akan goyah (ayat 1).

    Perlindungan Tuhan juga layaknya Yerusalem yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Melalui letak geografis Yerusalem ini, Pemazmur hendak memberitahukan bahwa Tuhan senantiasa berada di sekeliling orang-orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka menjadi kuat dan tidak berubah, juga aman dan terlindungi. Mereka akan hidup aman dalam jaring pengaman kehidupan (ayat 2).

    Sahabat, oleh sebab itu, jika umat Tuhan hendak memperoleh keamanan sepenuhnya, ada yang harus dilakukan. Pertama, percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Kedua, menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan. Ketiga, hidup dalam ketulusan hati. Keempat, tidak menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ayat 3-5).

    Jika kita melakukan semua itu, maka kita tidak perlu khawatir dan takut terhadap segala ancaman dunia. Sebab Tuhan memerhatikan dan mengutus malaikat-malaikat-Nya berkemah di sekeliling kita.

    Sahabat, mungkin banyak di antara kita sedang ketakutan, bahkan mungkin sedang mengalami musibah, penyakit, bencana alam, dan lainnya. Hari ini kita mau belajar percaya  dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan.

    Sebab itu, di mana pun kita berada, tidak ada alasan untuk takut dan gentar, ataupun khawatir. Sebab Tuhan ada bersama-sama dengan kita dan Dia mengendalikan semua itu dengan kuasa-Nya. Hanya, jika hal itu diizinkan Tuhan terjadi atas kita, maka apa yang Ia inginkan adalah agar kita memiliki pengalaman rohani bersama-Nya. Tak Ada Lagi Khawatir. Tidak goyang saat guncangan menerjang.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang guncangan?
    2. Apa yang harus Sahabat lakukan agar tidak goyang saat guncangan menerjang?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: “ … kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut” (Ibrani 12:28). (pg)