
Author: Christopherus
-
There is HOPE
Sahabat, siapa bilang hidup itu mudah? Hidup itu memang penuh dengan tantangan dan kesulitan, dan itu seringkali menjadi sebab terampasnya kebahagiaan dari hidup seseorang. Mereka berubah menjadi pribadi-pribadi kaku, dingin, dan beku karena tekanan pekerjaan dan tekanan hidup yang merubah mereka hidup seperti tanpa jiwa.
Untuk itu sebuah sikap hati yang baik untuk ditanamkan dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan adalah bekerja atau berusaha dengan PENGHARAPAN. Sangatlah penting bagi kita untuk tetap memiliki pengharapan dalam bekerja, bukan hanya melakukannya tanpa jiwa, tanpa target, tanpa impian dan harapan.
Mengapa hal itu penting? Karena tanpa pengharapan kita tak ubahnya seperti robot yang hanya berjalan sesuai program tanpa kerinduan apapun dalam hati kita. Senyumlah … Masih ada pengharapan. There is hope.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “There is HOPE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 32:1-20. Sahabat, pada ayat 1-8 nabi Yesaya mengungkapkan harapannya kepada bangsa Yehuda, yaitu terwujudnya keadilan di Israel. Telah diungkapkan di pasal 28:7-19 bahwa para pemimpin Yehuda berlaku korup dan tidak adil. Karena itu Sang Nabi mendambakan munculnya seorang raja yang berlaku adil, yang menegakkan pemerintahan atas dasar keadilan. Bila sang raja berlaku adil, bawahannya pun akan bertindak adil.
Dalam hal ini Sang Nabi mengkritik tindakan raja. Di satu sisi, jika raja atau pemimpin Yehuda adil maka jalannya kepemimpinan di seluruh Yehuda akan didasarkan atas dasar keadilan (ayat 1-8). Di sisi lain, yang terjadi adalah pemimpin di Yehuda berlaku korup sehingga ketidakadilanlah yang terjadi. Tak heran bila Sang Nabi mengharapkan Allah mengutus seorang mesias, raja yang akan menegakkan keadilan di bumi Israel. Pengharapan Sang Nabi dapat digolongkan sebagai pengharapan mesianis.
Sahabat, setelah mengungkapkan harapannya, Sang Nabi mengajarkan bahwa semua tindakan ada konsekuensinya. Ungkapan “perempuan-perempuan” pada ayat 9-20 lebih berarti kota Yerusalem (kota dalam bahasa Ibrani dipakai dalam bentuk feminin, dan kota Yerusalem sering juga disebut “putri Sion” menurut kelaziman waktu itu). Bangsa Yehuda (dalam hal ini diwakili ibukotanya, Yerusalem, yang saat itu disebut dengan “perempuan-perempuan”) merasakan aman dan tenteram. Ini tentu karena mereka mendapat perlindungan dari Mesir di bawah ancaman Asyur (ayat 9-14). Namun keamanan itu bersifat semu, sebab mereka akan hancur jika memohon perlindungan bukan dari Tuhan.
Syukur, ada saatnya Tuhan akan membela umat-Nya dan akan mencurahkan keadilan di bumi Yehuda (ayat 15-20). Ternyata masih ada pengharapan bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan bagi umat. Itulah pengharapan bagi umat di tengah kesulitan.
Sahabat, jika Sahabat merupakan salah seorang dari orang-orang yang melihat masa depan sebagai sesuatu yang suram, bahkan gelap gulita. Terangilah pandanganmu dengan pengharapan. Ini adalah salah satu buah dari iman yang seharusnya ada pada diri setiap orang percaya.Jika merasa apa yang sedang Sahabat kerjakan hari ini sepertinya menyita hidupmu secara sia-sia, berdoalah dan tanyakan kepada Tuhan dimana titik masalahnya. Izinkan Tuhan berbicara dan memberitahukan rencana-Nya kepadamu sambil terus memupuk pengharapan dalam ketaatan. Haleluya!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Berkat apa yang Sahabat pereoleh dari perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tetap miliki nyala pengharapan dalam segala sesuatu yang kita kerjakan. (pg)
-
FEAR to OTHERS Will LEAD to A SNARE
Sahabat, rasa takut sungguh manusiawi, kita semua sewaktu-waktu bisa merasa takut, tetapi kalau rasa TAKUT itu ditujukan kepada MANUSIA pastilah merugikan karena akan mendatangkan JERAT. Biasanya, orang yang takut kepada manusia hidupnya tidak akan tenang, orangnya tidak kreatif sebab ia akan terus mencari muka di dalam setiap tindakannya. Orang yang takut kepada manusia pastilah orang yang tidak percaya diri bahkan orang yang tidak percaya kepada Tuhan, sehingga hidupnya tidak tenang, ia akan terus merasa gelisah dan pada akhirnya ia akan dililit oleh permasalahan yang bagaikan jerat.
Takut kepada manusia akan mendatangkan jerat dalam kehidupan kita. Banyak orang yang terjerat dengan apa yang akan orang lain katakan dan lakukan kepadanya. Seringkali kita berusaha untuk menyenangkan orang lain, agar mereka mengatakan dan melakukan yang baik kepada kita. Ketika kita takut dengan apa yang orang lain akan lakukan dan katakan tentang kehidupan kita, kita sebenarnya sedang menempatkan diri kita pada posisi yang rentan
Sesungguhnya takut kepada orang mendatangkan jerat. Fear to others will lead to a snare.
Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Amsal dengan topik: “FEAR to OTHERS Will LEAD to A SNARE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Amsal 29:16-27 dengan penekanan pada ayat 25. Sahabat, manusia cenderung takut kepada manusia daripada takut akan Allah. Tidak mengherankan Pengamsal berkata jika orang fasik bertambah, maka bertambah pula pelanggaran (ayat 16). Artinya, pengaruh mereka semakin besar. Mereka dapat memengaruhi orang yang tadinya tidak mau berbuat jahat ikut melakukan kejahatan, sehingga kawanan orang fasik bertambah.
Walaupun orang fasik kelihatan berkuasa dan membuat banyak orang takut dan ikut berbuat jahat, Pengamsal mengajarkan bahwa ketakutan itu hanya mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN pasti dilindungi (ayat 25).
Kita harus menyadari bahwa seberapa besar kuasa orang fasik, pada akhirnya kefasikan mereka akan menjadi jerat bagi dirinya. Orang benar akan menang atas mereka.
Pemerintah adalah instansi manusia yang sangat berkuasa di muka bumi. Karena itu, banyak orang lebih takut kepada pemerintah dan mencari muka pada pemerintah (ayat 26). Tetapi, kita harus menyadari bahwa semua pemerintah di dunia berada di bawah kekuasaan Allah, “… tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Roma 13:1).Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa seberapa besar kuasa seseorang atau sebuah pemerintahan, kekuasaan tersebut tetap ada dalam kedaulatan dan kontrol Allah. Pada akhirnya, kita semua akan mendapatkan penghakiman dari Allah. Kita harus lebih takut kepada Allah, daripada takut kepada manusia. Haleluya!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika Sahabat ingin lepas dari jeratan yang menjerat kehidupanmu, percayalah kepada Tuhan dan hormatilah Dia! (pg).
-
Mengapa MENGANDALKAN MESIR?
Sahabat, setiap orang yang mengikut Kristus dan percaya kepada-Nya selain disebut sebagai Kristen juga disebut orang percaya. Anehnya, walaupun disebut sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, masih ada diantara mereka yang tidak benar-benar percaya kepada-Nya.
Mereka tidak bergantung penuh kepada Tuhan dan mengandalkan Dia. Sebaliknya mereka cenderung mengandalkan kekuatan sendiri dan juga sesama manusia yang sedang berjaya atau punya kuasa. Ada akibat yang sangat mengerikan jika seseorang lebih mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri, bukan hanya tidak mendatangkan berkat, melainkan akan mendatangkan kutuk (Yeremia 17:5)
Sahabat, dalam Alkitab Perjanjian Lama, kata “Mesir” melambang dunia; sedangkan kuda, kereta dan pasukan berkuda melambangkan kekuatan dunia. Firman Tuhan mengingatkan agar kehidupan orang percaya tidak bergantung padanya, dan tidak bersandar atau mengandalkan apa pun yang ada di dunia ini. Lalu mengapa mengandalkan Mesir?Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Mengapa MENGANDALKAN MESIR?”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 31:1-9. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan pengulangan dari perikop-perikop sebelumnya. Ini menandakan bahwa berita itu sangat penting untuk didengarkan oleh umat, karena umat diajak untuk bertobat, yaitu dengan kembali menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Pelindung Israel.
Israel pergi ke Mesir untuk meminta pertolongan. Mereka mengira pasukan Mesir mampu menolong dalam perang menghadapi kerajaan Asyur. Israel melihat bahwa Mesir memiliki banyak pasukan berkuda yang handal (ayat 1). Oleh karena itulah, mereka langsung datang meminta pertolongan meski harus menempuh perjalanan jauh. Keputusan ini keliru karena mereka tidak datang kepada Allah. Mengapa mengandalkan Mesir?
Apa yang kemudian terjadi? Mesir justru dikalahkan Asyur. Allah memakai Asyur untuk menyadarkan bangsa Israel bahwa orang Mesir adalah manusia biasa (ayat 3). Mereka dan kuda-kudanya adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Seandainya Allah mau, bangsa Israel pun bisa ikut hancur bersama Mesir. Namun, kasih Allah masih tetap ada untuk umat pilihan-Nya. Oleh sebab itu, Dia memperingatkan bangsa Israel untuk mendekat kepada-Nya.
Sahabat, seperti halnya Allah menolong bangsa Israel, Dia juga sanggup menolong kita yang percaya kepada-Nya. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yeremia 17:7). Dia adalah Allah yang sama dari dahulu sampai selama-lamanya. Pribadi-Nya tidak berubah, begitu juga dengan kuasa dan kasih-Nya. Dia selalu dapat kita andalkan dalam segala aspek kehidupan.
Hari ini kita diingatkan untuk TIDAK MENGANDALKAN MESIR, sebaliknya mari kita mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan hanya kepada-Nya sebab pengharapan di dalam Dia tidak pernah mengecewakan. Haleluya!Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?
- Apa yang Sahabat pahmi dari Yeremia 17:7?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ada dampak yang luar biasa ketika seseorang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada-Nya, yaitu diberkati secara berlimpah dan tinggal tenang. (pg).
-
ReKat: The LORD: a MIGHTY TOWER (03 Oktober 2022)
Bacaan Sabda: Amsal 18:1-24
Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:
- Pemahaman saya dari ayat 2, 6, dan 7 sebagai berikut: Ayat 2: Perkataan orang bebal, sesungguhnya mengungkapkan jati dirinya, siapa sesungguhnya dia. Berarti pula itulah sesungguhnya keberadaan hatinya yang kemudian terlontar melalui perkataannya yang buruk. Ayat 6: Dampak dari perkataan orang bebal, jelas dan pasti menimbulkan pertengkaran dan perkelahian diantara sesamanya. Ayat 7: Dampak berikutnya, yaitulah terjerat oleh perkataannya sendiri. Kitab Amsal mengajarkan tentang nilai-nilai praktis kehidupan sehari-hari. Sesungguhnya merupakan kesempatan, peluang untuk belajar banyak hal, agar menjalani aktifitas setiap hari menampakkan perilaku yang bernilai benar.
- Pemahaman ayat 14: Menunjukan bahwa seseorang yang tidak memiliki semangat juang di dalam dirinya tidak akan tahan menderita.
(Haryono)
-
The Right Choice of being A Blessing
Sahabat, sadar atau tidak, setiap hari kita bertemu dengan begitu banyak pilihan dan keputusan kita akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Ketika kita bangun pagi, kita bisa memilih apakah mau mengambil waktu sejenak untuk benar-benar bangun terlebih dahulu, kemudian bersaat teduh; atau langsung mandi; atau langsung menikmati segelas kopi hangat; atau langsung menikmati sepiring buah segar?
Sampai kita kembali tidur kita akan terus bertemu dengan berbagai macam pilihan yang akan berbeda hasilnya tergantung dari apa yang kita pilih. Ingatlah: Pilihan tepat jadi berkat. The right choice of being a blessing.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kita Amsal dengan topik: “The Right Choice of being A Blessing.” Bacaan Sabda saya ambil dari kitab Amsal 28:1-28 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, Pengamsal dalam Amsal 28 mencoba membandingkan kehidupan orang fasik dan orang benar. Betapa orang yang terus-menerus berbuat fasik akan senantiasa dilanda ketakutan, mereka siap lari walaupun tidak ada yang mengejarnya. Meskipun mereka berpura-pura tenang, ada ketakutan- ketakutan tersembunyi yang menghantui mereka ke mana pun mereka pergi, sehingga mereka takut sekalipun tidak ada bahaya yang menimpa atau mengancam mereka.
Sebaliknya, alangkah tenteramnya orang-orang yang senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni dan bebas dari pelanggaran, dan dengan demikian menjaga diri mereka tetap ada di dalam kasih Allah, mereka menikmati keamanan dan ketenangan pikiran dengan rasa kudus: Orang benar merasa aman seperti singa, ya seperti singa muda.
Selanjutnya dalam ayat 18, Pengamsal membandingkan orang jujur dan tidak jujur. Orang yang jujur selalu aman. Orang yang berbuat jujur, yang berbicara seperti ia berpikir, yang matanya dalam segala hal hanya tertuju semata kepada kemuliaan Allah dan kebaikan saudara-saudaranya, yang tidak mau, demi apa pun di dunia, melakukan suatu hal yang tidak adil jika ia mengetahuinya, yang segala perilaku hidupnya tidak bercela, ia akan diselamatkan di kehidupan nanti. Kita mendapati sekumpulan orang-orang mulia dari orang-orang yang di dalam mulut mereka tidak terdapat dusta (Wahyu 14:5). Mereka akan aman sekarang.
Sahabat, kejujuran dan kelurusan akan menjaga orang, akan memberi mereka rasa aman yang kudus di masa-masa terburuk. Mereka bisa saja terluka, tetapi tidak bisa disakiti.
Sebaliknya, orang-orang yang palsu dan tidak jujur tidak pernah aman: Siapa berliku-liku jalannya, yang ingin mengamankan dirinya dengan perbuatan-perbuatan curang, dengan menipu dan berkhianat, atau dengan menumpuk harta benda yang diperoleh secara keji, ia akan jatuh, bahkan, ia akan langsung jatuh ke dalam lobang, bukan secara perlahan-lahan, dan dengan diberi peringatan sebelumnya, melainkan secara tiba-tiba, tanpa diberitahu sebelumnya.
Keadaannya paling tidak aman ketika ia merasa paling terlindungi. Ia langsung jatuh, sehingga tidak mempunyai waktu entah untuk berjaga-jaga melawan kehancurannya atau membuat persediaan untuk menghadapinya, karena datangnya mengejutkan, maka itu akan menjadi kengerian yang luar biasa hebat baginya.
Sahabat, jatuh bangunnya seseorang dan juga institusi tergantung pada pilihan kita sendiri. Pilihan untuk hidup dalam kefasikan atau kebenaran, kejujuran atau kedustaan, takut akan Tuhan atau mengeraskan hati, dan seterusnya. Selamat menjalani hidup dengan pilihan yang tepat. The right choice of being a blessing. Haleluya!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 20?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam kehidupan, kita selalu diperhadapkan dengan pilihan-pilihan. Karena itu, pilihlah sesuatu yang membawa kepada kehidupan. (pg).
-
TUHAN siap MENOLONG kita
Dalam menempuh perjalanan hidup, kita seringkali dihadapkan pada ujian, tantangan dan rintangan, dan tidak bisa dipungkiri hal itu membuat kita lemah, patah semangat dan frustasi. Saat berada di situasi sulit seperti itu terkadang kita baru menyadari bahwa kehadiran Tuhan dan pimpinan-Nya sangat kita butuhkan. Kita butuh pertolongan Tuhan dan sesungguhnya Tuhan siap menolong kita.
PERTOLONGAN. Semua orang yang pernah berada dalam kondisi terdesak dan tanpa daya tahu persis betapa berartinya hal tersebut. Pemazmur bercerita: “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mazmur 121:1-2)
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “TUHAN siap MENOLONG kita.” Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 30:1-17. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menceritakan bahwa pada saat itu situasi politik sangat genting dan panas. Bangsa Israel mendapat ancaman yang mengerikan. Negeri Asyur yang saat itu merupakan kekuatan adidaya, mengancam untuk menyerang dan menghancurkan mereka.
Jika dibandingkan, kekuatan militer Asyur dengan Yehuda sangat tidak seimbang. Sebagai negara adidaya, Asyur jauh lebih kuat dibandingkan Yehuda. Ini membuat Yehuda sangat gentar di dalam menghadapi kekuatan yang sangat besar itu.
Sahabat, namun yang mengherankan, Israel tidak memohon pertolongan kepada Tuhan. Padahal mereka tentu tahu pengakuan iman mereka kepada Tuhan. Mereka tahu bahwa yang membawa mereka keluar dari Mesir dan membuat mereka berhasil melawan kekuatan-kekuatan besar dalam perjalanan mereka hanya Tuhan saja. Ya, hanya karena Tuhan menyertai dan menolong mereka.Namun hal itu semua seolah hilang dari ingatan mereka karena mereka justru memohon pertolongan kepada kekuatan Mesir. Itulah sebabnya Tuhan berkata: “… Mesir yang memberi pertolongan yang tak berguna dan percuma; …” (ayat 7). Maka ajakan untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan diberikan kepada umat Yehuda. Namun jika mereka masih tetap tidak mau berbalik kepada Tuhan maka hukuman akan dijatuhkan (ayat 15-17).
Pengakuan iman bahwa pertolongan bagi kita hanya datang dari Tuhan, kiranya ada pada kita. Hal itu bermakna bahwa kita harus senantiasa menantikan pertolongan dari Tuhan, dan bukan yang lain. Ingatlah selalu sesungguhnya Tuhan siap menolong kita.Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya dipanggil untuk mencerminkan Tuhan di dunia ini. Setiap kita yang telah merasakan pertolongan, anugerah, dan kasih-Nya, seharusnya berkenan menjadi perpanjangan tangan Tuhan untuk menolong sesama. Tiap hari di sekitar kita ada orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Kiranya kita tidak hanya puas menjadi penonton-penonton yang duduk manis, tetapi menyediakan diri dipakai menjadi saluran berkat, membawa mereka mengenal Tuhan, satu-satunya Penolong yang sejati.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini,jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-5?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menolong kita agar kita dapat menolong sesama. (pg).


