Author: Christopherus

  • CATCH those LITTLE FOXES

    RUBAH-RUBAH KECIL. Rubah merupakan hewan omnivor (pemakan segala), tetapi makanan favoritnya  buah-buahan. Rubah merupakan binatang kecil yang suka sekali merusak hasil panenan.  Rubah mampu beradaptasi dalam segala musim dan lingkungan, bergerak secara diam-diam tapi sangat gesit, dan hanya meninggalkan jejak.  Rubah bisa dikatakan pemburu yang ulung, ahli strategi, dan lihai menarik perhatian mangsa. 

    Sahabat, kitab Kidung Agung  selain menggambarkan tentang hubungan antara Kristus sebagai kepala jemaat dengan orang percaya sebagai tubuh-Nya, juga menggambarkan tentang hubungan antara gereja-Nya dengan rumah tangga.

    Dalam kehidupan bergereja dan berumah tangga seringkali kita tidak menyadari adanya persoalan-persoalan kecil yang seringkali dianggap remeh atau sepele, tapi kalau dibiarkan dapat merusak kehidupan rumah tangga, pekerjaan, dan bahkan pelayanan gereja.  Kebanyakan fokus dan perhatian orang hanya tertuju kepada hal-hal besar, sedangkan hal yang kecil disepelekan, padahal dari yang kecil kalau terus dibiarkan dapat menjadi perkara besar yang membahayakan dan sulit teratasi kalau terlambat penanganannya.

    Beberapa penafsir menganggap rubah-rubah yang ditulis Salomo dalam Kidung Agung 2  melukiskan hal-hal kecil yang bisa merusak hubungan dalam pernikahan. Karena itu tangkaplah rubah-rubah kecil itu. Catch those little foxes.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Kidung Agung dengan topik: “CATCH those LITTLE FOXES”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 2:8-17 dengan penekanan ayat 15. Sahabat, entah apa yang istimewa dengan rubah sehingga Salomo menyebutkan hewan ini dalam syairnya (ayat 15). Mungkin ia memang benar-benar melihat sekawanan rubah ketika ia sedang jalan-jalan mengelillingi kebun anggur bersama kekasihnya.

    Sahabat, ada beberapa penafsir menganggap rubah-rubah ini melukiskan hal-hal kecil yang bisa merusak hubungan dalam pernikahan. Karena kecilnya, seringkali luput dari perhatian. Rubah posturnya mirip anjing peliharaan, tampaknya tidak berbahaya. Namun, orang yang tahu sifat rubah yang merusak tidak akan membiarkannya. Kalau sekadar dihalau, rubah-rubah  bisa datang kembali, Karena itu mereka perlu ditangkap untuk dihabisi.

    Di dalam Alkitab hubungan pernikahan dipakai  untuk menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Seperti hubungan pernikahan, hubungan kita dengan Tuhan juga sering dirusak oleh hal-hal yang tampaknya sepele. Dosa-dosa yang tidak diakui, kesibukan yang mengambil alih waktu persekutuan pribadi dengan Tuhan, kemalasan untuk bersaat teduh, kecintaan pada hobi yang melebihi kecintaan pada Tuhan. Silakan diteruskan sendiri daftarnya.

    Sahabat, sepintas tidak berbahaya, kita masih ke gereja dan masih aktif terlibat dalam  berbagai kegiatan gereja. Status kita sebagai anak Tuhan tidak berubah. Namun, kita tak lagi menikmati hubungan yang intim dan indah dengan Tuhan. Kebun anggur kita tak lagi semerbak, habis dilalap rubah. Rubah-rubah kecil apa yang harus kita tangkap dan bereskan di hadapan-Nya pada hari ini? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan sepelekan hal-hal kecil, karena perkara yang besar berawal dari perkara kecil! (pg).

  • PEACEFULNESS and HAPPINESS from GOD

    DAMAI SEJAHTERA DAN KEBAHAGIAAN. Nabi Yesaya menegaskan bahwa damai sejahtera dan kebahagiaan hanya bisa didapatkan apabila orang mau melakukan firman Tuhan (Yesaya 48:18). Untuk menjadi pelaku firman dibutuhkan kerendahan hati,  hati yang mau dididik, ditegur dan diajar (Amsal 3:11 dan 6:23).  

    Sahabat, KETAATAN kepada Tuhan itulah yang mendatangkan damai sejahtera dan kebahagiaan, baik untuk hidup hari ini maupun untuk hari-hari yang akan datang.  Ketaatan adalah standar yang dipakai Tuhan untuk mengukur kehidupan rohani orang percaya.  Ukuran Tuhan bukan apa yang terlihat secara kasat mata, karena itu takkan menyentuh hati Tuhan.  Yang menyentuh hati-Nya sehingga Ia tidak akan tahan untuk tidak mencurahkan damai sejahtera dan kebahagiaan adalah ketaatan kita dalam melakukan firman-Nya.

    Sermoga kita dapat menikmati damai sejahtera dan kebahagiaan dari Tuhan. Peacefulness and happiness from God.

     Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “PEACEFULNESS and HAPPINESS from GOD”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 48:12-22 dengan penekanan pada ayat 18. Sahabat, Bangsa Israel tiga kali diminta Tuhan untuk mendengarkan (ayat 12, 14, 16).

    Kata “dengar” atau “mendengarkan” dalam bahasa Ibrani mempunyai arti tidak mengizinkan adanya pemisahan antara persepsi dengan tindakan. Jika kita benar-benar mendengarkan  peringatan, maka kita harus menaatinya. Jika kita tidak menaatinya, itu artinya kita tidak mendengarkan

    Sahabat, bangsa Israel merasa begitu tertekan selama masa pembuangan. Banyak peristiwa telah mereka alami dan membuat mereka terpuruk. Namun, Tuhan berjanji bahwa Dia akan memulihkan Israel dengan kekuatan-Nya. Dia akan mengajarkan hal-hal yang berfaedah kepada mereka, dan akan menuntun langkah hidup mereka.

    Dengan kekuatan-Nya, Allah menebus Israel, bahkan Allah akan membuat Israel menjadi bangsa yang besar. DAMAI SEJAHTERA  dan KEBAHAGIAAN akan diterima oleh bangsa Israel dengan berlimpah. Hanya saja, bangsa Israel harus bersedia mendengarkan Allah dan memperhatikan perintah-perintah-Nya. Jika mereka menaati Tuhan, maka mereka akan diberkati dengan damai sejahtera dan kebahagiaan yang YANG TIDAK AKAN BERKESUDAHAN.

    Sahabat, apakah yang menjadi tolok ukur kebahagiaan kita saat ini? Apakah harta, jabatan, ketenaran, atau keberhasilan?  Ingatlah, semua itu hanya merupakan kebahagiaan sesaat dan semu. Hanya Tuhanlah yang mampu memberi damai sejahtera dan kebahagiaan kekal, yang tidak akan bisa diberikan oleh dunia. Kita hanya perlu peka mendengar suara panggilan Tuhan, berpegang pada perintah-Nya dan menaati-Nya.

    Sebagai orang percaya dan pelayan Tuhan kita senantiasa diminta dengar-dengaran akan  firman Tuhan. Mendengar dan melakukan kehendak-Nya, maka, janji-Nya kepada Israel akan menjadi janji bagi kita juga (ayat 18-19). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12-16?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Peganglah terus perintah Tuhan sehingga kita dapat menemukan damai sejahtera dan kebahagiaan yang Ia sediakan bagi kita! (pg).

  • The Time has Come

    BEKING. Sahabat, manusia seringkali berusaha membuat RASA AMAN yang palsu. Manusia juga seringkali percaya dengan “Tempat Perlindungan” yang palsu.

    Ada orang-orang yang berani melakukan usaha atau kegiatan yang melanggar hukum yang berlaku di negara kita karena dia merasa mempunyai BEKING  orang kuat, yang dapat diandalkan. Bekingnya petinggi negara yang mempunyai kekuasaan yang besar dan luas. Mereka merasa telah mempunyai “allah-allah” yang dapat melindungi dan menyelematkannya.  Mereka merasa menjadi orang yang kebal hukum.

    Selain itu ada orang-orang kaya yang membuat bungker yang begitu kuat dan mempunyai banyak pengawal yang profesional. Mereka merasa mempunyai tempat perlindungan yang aman yang benar-benar dapat diandalkan.

    Akibatnya mereka merasa aman dan terbiasa melakukan pelanggaran bahkan kejahatan. Jangankan merasa bersalah, mereka malah merasa bahwa tidak ada orang lain yang tahu perbuatannya dan seolah-olah kebal terhadap hukum di negaranya dan penghakiman Allah. Kejahatannya pun terus dilakukan dengan bangga.

    Mereka lupa bahwa ada Allah yang mengatur segalanya lebih daripada yang manusia mampu pikirkan. Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah, diatur menurut kehendak-Nya, dan dipakai untuk keadilan-Nya. Saatnya telah tiba, penghakiman Allah datang atas mereka. The time has come.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan tema: “The Time has Come”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 47:1-15. Sahabat, di Yesaya pasal 46, dewa-dewa Babel dipermalukan sebagai allah yang mati, tidak berdaya, bahkan perlu diselamatkan. Dalam bacaan kita pada hari ini yang dipermalukan ialah bangsa Babel sendiri.

    Nabi Yesaya mengingatkan kepada orang Babel bahwa semua rasa aman itu hanyalah rasa aman yang semu dan palsu  (ayat 10). Apa yang mereka dan manusia percaya mampu memberi rasa aman, semuanya akan berakhir. Semua yang dirasa memberi rasa aman pasti habis dan berakhir. 

    Saatnya telah tiba. The time has come. Allah menurunkan kemuliaan Babel hingga ke posisi yang terendah (ayat 1-3). Ia bahkan mengantikan kemuliaan mereka dengan nista dan aib. Allah sendiri yang melakukan pembalasan itu (ayat 3-4). Ayat 8-15 memaparkan kedahsyatan malapetaka yang ditimpakan-Nya kepada Babel.

    Saatnya telah tiba. The time has come. Orang yang merasa diri luar biasa dan tahu segalanya, tidak akan berkenan di hadapan Tuhan. Kesombongan diruntuhkan dan semuanya dikembalikan untuk kemuliaan Allah. Tiada gunanya memakai ilmu dan kecerdasan hanya untuk kesombongan diri. Allah telah memperingatkan bahwa orang yang demikian hanya akan berakhir dalam kehancuran.

    Sahabat, kita bersyukur karena firman Tuhan selalu mengingatkan kita agar tetap rendah hati. Saatnya telah tiba untuk mengakui bahwa Allah kita sebagai Allah Yang Mahatinggi. Melalui pengakuan ini, kita akan terhindar dari kesiaan-siaan dan malapetaka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhanlah satu-satunya tempat berharap dan bersandar bagi setiap orang percaya. Dialah tempat bersandar yang  aman dan kekal. (pg)

  • TRUE LOVE

    CINTA. Sahabat, cinta bukanlah nafsu, meski terkadang kita sulit untuk membedakannya. Cinta, secara sederhana dapat diartikan sebagai rasa suka, tertarik atau perasaan sangat sayang. Sedangkan nafsu berarti dorongan yang kuat dari dalam diri untuk melakukan sesuatu, kecenderungan, keinginan, atau gairah yang tidak baik. Sungguh tidak mudah membedakan cinta dan nafsu, tetapi seiring berjalannya waktu, cinta dan nafsu akan teruji.

    Lalu adakah CINTA SEJATI? TRUE LOVE? Cinta sejati bukanlah semata-mata proses dari mata langsung turun ke hati, bukan juga terjadi pada pandangan pertama. Cinta sejati butuh proses, perlu diuji, sebab itu butuh kesabaran untuk membuktikannya. Cinta sejati itu memberi, bukan mengambil, apalagi merampas. Cinta sejati adalah mengasihi, menghormati dan memberi yang terbaik bagi orang yang kita kasihi. Bukan cinta sejati namanya jika kita mencintai seseorang hanya karena nafsu atau mencari keuntungan apa yang bisa diperoleh dari orang yang kita cintai.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita mulai belajar dari kitab Kidung Agung dengan tema: “TRUE LOVE”. Bacaan Sabda saya ambil dari Kidung Agung 1:1-17. Sahabat, Kidung Agung adalah kitab yang paling gamblang mengekspresikan cinta, karena memang ditulis sebagai syair-syair cinta Raja Salomo. Kitab ini adalah salah satu tulisan suci yang dibacakan pada hari raya Paskah umat Yahudi.

    Para penafsir sepakat bahwa kitab ini memberikan model seksualitas yang sehat sebagaimana rancangan Tuhan, yaitu hubungan antara laki-laki dan perempuan dan dinikmati dalam ikatan pernikahan yang suci.

    Sahabat, cinta sejati tidak memandang PERBEDAAN sebagai PENGHALANG, apalagi kalau perbedaan itu dipakai untuk membeda-bedakan sesama berdasarkan SARA. Hal itu sedikit tergambarkan dalam puisi pertama dari Kidung Agung. Bagian ini terbagi menjadi:  Ayat 2-4a: Suara sang  perempuan. Ayat 4b: Suara para sahabat. Ayat 5-7: Kembali suara sang perempuan, dan ayat 8: Kembali suara para sahabat. Fungsi suara para sahabat ini menjadi pemberi semangat untuk pasangan tersebut supaya tetap setia satu sama lain, walaupun dihadang tantangan.

    Meskipun status sosial berbeda, sang  perempuan mungkin seorang dari kelas rakyat pekerja (ayat 6), sebaliknya sang kekasih adalah raja (ayat 4). Hal tersebut tidak menghalangi hasrat cinta yang tulus bahkan bisa dikatakan sedikit pencemburu (ayat 3b), yaitu keinginan mencium serta menikmati keharuman badan sang kekasih, bahkan ingin segera memuncak pada paduan kasih di mahligai pernikahan.

    Sahabat, namun hasrat yang begitu besar ini BELUM TERCAPAI. ADA PENGHALANG yang harus diterobos. Bayangkan gunjingan dari kalangan istana mengenai sang  perempuan karena KERENDAHAN STATUS SOSIALNYA (ayat 6). Dengan percaya diri, sang perempuan mengatakan DIRINYA CANTIK (ayat 5). HITAM KULITNYA disebabkan oleh sinar matahari yang membakarnya JUSTRU MENARIK SANG RAJA. Entah karena sang perempuan itu hitam manis, atau karena karakter pekerja kerasnya.

    Kerinduan sang perempuan diungkapkan lewat keinginannya mengenal lebih baik lagi sang kekasih, bukan dari luar saja, seperti pengembara di antara teman-teman sang kekasih. Keberanian untuk menyatakan kerinduan ini akan dibalas oleh sang kekasih pada pasal 2. Di ayat 8 sang perempuan seolah mendapatkan penguatan untuk tetap mencari. Haleluya. Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Cinta sejati tidak surut oleh tantangan, melainkan setia dan fokus pada panggilan mulia Allah pada pasangan yang diberkati-Nya. (pg)

  • MORE than EVERYTHING

    MURID KRISTUS. Untuk menjadi murid Kristus kita harus lebih MENGUTAMAKAN TUHAN  dan mengasihi-Nya lebih daripada segala yang kita kasihi di dunia ini! Tuhan lebih dari segalanya. More than everything.

    Sahabat, adakah yang melebihi Tuhan?  TENTU TIDAK ADA. Maka atas dasar itulah kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dan mengasihi Dia lebih dari apa pun dan siapa pun.  Dalam kehidupan sehari-hari ada cukup banyak orang percaya yang menempatkan Tuhan sebagai nomor sekian dalam hidupnya, karena mereka lebih mengutamakan harta, bisnis, hobi, pencapaian-pencapaian dan lain sebagainya.

    Syukur kepada Tuhan. Luar biasa. Berkat anugerah Tuhan, hari ini kita dapat sampai pada bagian terakhir dari kitab Pengkhotbah. Sekarang kita semakin mengetahui bahwa kitab Pengkhotbah sarat dengan perenungan dari seorang yang sudah menjalani kehidupan dalam segala kelimpahan harta benda, pengetahuan, dan pengalaman hidup. Kehidupan yang penuh pasang surut dan berakhir pada kesimpulan bahwa kehidupan yang dijalani tanpa disertai rasa takut akan Tuhan, semuanya adalah kesia-siaan belaka (kata “sia-sia” tercatat 37 kali dalam kitab pengkhotbah).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Pengkhotbah dengan topik: “MORE than EVERYTHING”. Bacaan Sabda saya ambil dari Pengkhotbah 12:9-14. Sahabat, kata kunci dari kitab Pengkhotbah yang diulang-ulang sepanjang kitabnya adalah “sia-sia”. Umumnya, kesan yang muncul ketika membaca kitab Pengkhotbah adalah sikap pesimis terhadap kehidupan. Namun sesungguhnya tidak demikian,  Pengkhotbah sedang mempresentasikan sebuah fakta: Kehidupan manusia, di bawah matahari, tanpa Tuhan adalah sebuah kesia-siaan.

    Sangat menarik, di akhir kitabnya, Pengkhotbah memberikan sebuah kesimpulan klimaks, sekaligus jawaban atas kesia-siaan hidup manusia, yaitu kita harus hidup takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-Nya. Di luar Tuhan, kehidupan manusia akan berakhir dengan kesia-siaan, baik di dunia maupun dalam kekekalan (ayat 13-14).

    Sahabat, Takut akan Tuhan dan melakukan perintah-Nya merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Takut akan Tuhan membawa kita mendekat kepada-Nya, menyembah-Nya, dan menghormati-Nya. Namun, itu semua harus diwujudkan dengan tindakan nyata, yaitu dengan melakukan perintah dan firman-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Oleh karena itu, Pengkhotbah mengungkapkan bahwa seluruh tindak-tanduk manusia (baik atau jahat) akan dipertanggungjawabkan di hadapan takhta pengadilan Allah. Semua akan dinilai berdasarkan cara hidup dan segenap  tindakan kita: Apakah sesuai dengan perintah-Nya atau tidak? Hal tersebut sebagai penentu apakah hidup kita akan berakhir sia-sia atau masuk ke dalam kekekalan yang penuh kebahagiaan dan kedamaian (ayat 14).

    Hari ini kita diberi dua pilihan, yaitu hidup dalam kesia-siaan atau hidup bermakna. Jika ingin hidup bermakna, jadikanlah TUHAN yang TERUTAMA dalam hidup kita. Tidak peduli apakah kita kaya atau miskin, sehat atau  sakit, berpendidikan tinggi atau rendah, JIKA HIDUP TANPA TUHAN SEMUA AKAN BERAKHIR SIA-SIA.  

    Oleh karena itu, marilah kita takut akan Tuhan dan menempatkan-Nya DI ATAS SEGALANYA. More than everything. Dengan begitu, hidup kita akan berakhir dengan sukacita kekal. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesukaan kita terhadap perintah Allah mencerminkan kasih sekaligus ukuran penghormatan kepada-Nya. (pg).