Author: Christopherus

  • The LIGHT of SALVATION Has Come

    TERANG KESELAMATAN. Syukur kepada Tuhan, pada tahun 2022 Yayasan Christopherus kembali dapat mengadakan perayaan Natal secara onsite. Perayaan Natal Yayasan Christopherus akan diselenggarakan pada hari ini 6 Desember 2022 mulai pukul 18.00, bertempat di GIA Pringgading Semarang  dengan tema: “Terang Keselamatan Telah Datang”. The light of salvation has come.

    Bagi Sahabat yang tinggal di Semarang dan sekitarnya, kiranya berkenan menghadirinya.

    Dalam rangka menyambut perayaan natal tersebut, pada hari ini kita akan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “The LIGTHT of SALVATION Has Come”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 9:1-6 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, sekitar 2000 tahun yang lalu, nabi Yesaya menyampaikan nubuatnya tentang kelahiran Raja Damai. Nabi Yesaya, salah seorang dari sepuluh nabi besar, memberi kita didikan, ajaran dan nasihat yang sungguh dahsyat bagi kita.

    Bacaan kita pada hari ini menuturkan beberapa hal yang berkaitan dengan nubuat lahirnya Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat semua manusia berdosa yang percaya kepada-Nya.

    Beberapa hal tersebut diantaranya:  Tidak selamanya akan ada kesuraman untuk negeri yang terimpit; terang telah bersinar; banyak sorak-sorak; dan sukacita yang besar. Selain itu, ia juga menyatakan kepada kita bahwa: Kuk dan gandar sudah dipatahkan-Nya; seorang Anak telah lahir bagi kita, seorang Putera telah diberikan untuk kita; dan kuasa-Nya yang besar dan damai sejahtera-Nya tidak akan berkesudahan.

     Sahabat, lalu apa makna kelahiran Yesus bagi dunia?  Bagi nabi Yesaya, kelahiran Yesus berarti datangnya TERANG KESELAMATAN  bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan.  Pada waktu itu bangsa Israel sedang berada di ambang kehancuran karena mereka di bawah penaklukan Asyur sebagai akibat dari dosa mereka sendiri. 

    Alkitab sering memakai kata KEGELAPAN untuk menyimbolkan: Kejahatan, dosa, hukuman, kesukaran, ketidakpastian dan kematian.  Sebaliknya, Akitab memakai kata TERANG sebagai simbol: Kehidupan kekal, keselamatan, pengampunan, sukacita, kebenaran dan segala sesuatu yang baik.  Itulah yang dianugerahkan Tuhan,  “… atasnya terang telah bersinar.”  Terang adalah keselamatan sempurna dari Allah melalui Pribadi Yesus Kristus. 

    Sahabat, segenap umat manusia telah berdosa dan berada di bawah kuasa dosa, dan itu hanya akan membawa kita kepada kematian dan penghukuman kekal.  Kini keselamatan sejati telah diberikan kepada kita.  Di dalam diri Yesus, Allah telah melakukan tindakan penyelamatan yang nyata.  Dalam diri Yesus, Allah telah melenyapkan kegelapan dan menggantikannya dengan TERANG YANG AJAIB. 

    Siapa terang yang ajaib itu?  Tuhan Yesus berkata,  “Akulah terang dunia;  barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”  (Yohanes 8:12).  Dalam hal ini Yesus sedang menegaskan otoritas keilahian-Nya sekaligus tindakan penyelamatan-Nya bagi umat manusia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5-6?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: YESUS merupakan hadiah terindah dari surga bagi kita, karena di dalam Dia tidak ada lagi kegelapan, melainkan ada terang, pengharapan dan kehidupan kekal! (pg).

  • Consolation in Silence

    SAHABAT SEJATI. Walter Winchell berkata: “Sahabat sejati adalah ia yang menemanimu saat semua orang pergi menjauhimu.”

    Sahabat adalah bagian dari hidup yang tak kalah pentingnya daripada keluarga atau pasangan. Sahabat adalah sosok yang selalu dapat diandalkan serta dipercaya dalam hal apa saja. Mereka juga yang berjasa membantu saat masa-masa sulit karena bersedia menawarkan pertolongan dan sandaran pada kita. Kehadirannya sudah sangat akrab layaknya saudara sendiri, sahabat juga senantiasa mendukung dan menemani kita tanpa terkecuali.

    Saat menghadapi masa-masa tidak mengenakan yang tak ayal membuat semangat patah dan sampai menimbulkan keinginan untuk menyerah. Sahabat hadir untuk membantumu bangkit dan bersama-sama hadapi kesulitan.

    Itulah pengalaman Ayub, ketika dia sedang diterjang badai hidup, ada 3 orang sahabat yang memberikan penghiburan dalam hening. Consolation in silence.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “Consolation in Silence”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 2:1-13 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, Ayub adalah salah seorang tokoh Alkitab yang identik dengan penderitaan. Ia seorang yang takut akan Allah dan menjalani hidup saleh (Ayub 1:1), namun justru itu menjadi alasan si iblis mencobainya. Ia kehilangan seluruh harta kekayaannya beserta kesepuluh anaknya, melalui serangan musuh dan bencana alam yang datang tiba-tiba (Ayub 1:13-19). Ia juga menderita penyakit kulit yang mengerikan di sekujur tubuhnya (ayat 7).

    Dalam kondisi terpuruk, Ayub tetap setia kepada Tuhan (Ayub 1:21). Komitmennya untuk tetap bertekun hidup saleh justru mendapat  penentangan dari istrinya (ayat 9). Namun Ayub beruntung karena ia memiliki tiga orang  sahabat sejati:  Elifas, Bildad dan Zofar. Ketiganya datang dari jauh untuk menunjukkan dukungan kepada Ayub.

    Sahabat, mereka menangis bersama, dan berkabung bersama. Mereka duduk di tanah bersama-sama dengan Ayub, selama tujuh hari tujuh malam, tanpa berkata sepatah kata pun, karena mereka menyadari betapa berat penderitaannya. Mereka sungguh mengerti, bahwa yang Ayub butuhkan saat itu bukanlah kata-kata nasihat, petuah yang manis, seruan pertobatan, atau tuduhan bersalah. Ia lebih membutuhkan ungkapan rasa empati, melalui kehadiran mereka di sisinya, DALAM HENING.

    Mereka tidak memosisikan diri sebagai konselor yang menangani masalah, sedangkan Ayub adalah klien yang bermasalah. Mereka datang untuk menemani, memosisikan diri serendah jurang penderitaan yang dialami Ayub.

    Sahabat, menunjukkan penghiburan kepada orang yang berduka tidak selalu harus kita ungkapkan dengan kata-kata. Sebuah pelukan, tepukan di bahu, genggaman tangan yang erat, duduk diam di dekatnya untuk beberapa waktu, kadang jauh lebih berarti. Berempati dalam hening. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang yang tengah mengalami penderitaan tidak membutuhkan banyak nasihat dan kata-kata penguatan. Dia lebih merasa tertolong ketika memiliki sahabat yang merasa sepenanggungan. (pg).

  • Becoming A House of Prayer

    RUMAH DOA. Orang percaya seharusnya menjadikan doa sebagai gaya hidup, karena doa itu ibarat nafas hidup orang percaya.  Apa yang terjadi bila kita tak lagi bernafas?  Tak bernafas berarti mati.  Orang yang tidak lagi berdoa berarti mengalami kematian rohani. 

    Sahabat, luar biasa, Kristus bertindak tegas menguduskan Bait Suci karena Ia melihat Bait Suci telah disalahgunakan.  Bait Suci yang seharusnya menjadi tempat untuk beribadah dan berdoa malah dijadikan tempat untuk berjual beli.  Karena itu Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Suci, membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati  (Markus 11:15).  Kristus menegaskan,  “… Rumah-Ku akan disebut rumah doa …”  (Markus 11:17), tempat Roh Kudus hadir, tempat umat mempersembahkan segenap keberadaan hidupnya sebagai persembahan kepada Tuhan  (Roma 12:1). 

     
    Sesungguhnya setiap orang percaya adalah bait Tuhan dan bait Roh Kudus  (1 Korintus 3:16).  Ketika orang percaya mendisiplinkan diri dalam hal berdoa ia akan semakin dibersihkan dan dikuduskan oleh Tuhan, dan semakin dipakai Tuhan untuk menjadi rumah doa. Becoming a house of prayer.

    Hari kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Becoming A House of Prayer”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 56:1-8 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, dalam Markus 11:15-19,  Tuhan Yesus mengangkat nubuat nabi Yesaya untuk menekankan dan mengingatkan orang-orang yang ada di Bait Allah pada waktu itu: “… mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.” (ayat 7)

    Dalam nubuatan tersebut, nabi Yesaya menyatakan bahwa Allah akan membawa mereka ke gunung Tuhan yang suci. Mereka akan dibawa ke gunung Allah yang kudus. Di rumah-Nya, di rumah doa-Nya, Tuhan akan memberi mereka kesukaan yang ceria. Di rumah-Nya, Allah akan memberi mereka kegembiraan dan sukacita.

    Di sana, menurut nubuat nabi Yesaya, Tuhan Allah kita akan berkenan kepada korban-korban bakaran mereka yang dipersembahkan kepada-Nya. Di sana, Allah Bapa berkenan menerima persembahan korban-korban sembelihan yang mereka tujukan kepada Allah. Allah Bapa berkenan pada persembahan korban yang mereka persembahkan di atas mezbah-Nya. Pada waktu itu, Dia, Tuhan kita Yesus Kristus, menyatakan: “rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa.”

    Sejatinya, melalui Firman Tuhan Yesus ini tersirat maksud untuk memberi kita sebuah contoh bahwa rumah kita adalah rumah doa. Rumah tempat tinggal kita adalah tempat bagi kita untuk mengucapkan syukur, menyembah, memuji, memuliakan, memohon dan mengharapkan segala sesuatu kepada Allah.

    Sahabat, kata rumah  tidak hanya berbicara tentang gedung atau bangunan secara fisik, tapi gambaran dari umat Tuhan itu sendiri atau keberadaan orang percaya. Tuhan menghendaki agar kita menjadi rumah doa.   Orang percaya  yang disebut sebagai rumah doa adalah orang oercaya yang kesukaannya berdoa, memuji dan menyembah Tuhan;  seorang yang memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan setiap waktu. Orang percaya yang kesukaannya bersyafaat bagi keluarga, gereja, tetangga, teman-teman, serta bangsa dan negaranya, bahkan dunia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Markus 11:15-17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Punya hubungan yang karib dengan Tuhan berarti bukan hanya berbicara kepada Tuhan, tetapi kita juga harus bisa mendengar suara Tuhan. (pg)

  • SEEK the LORD while HE may Found

    MENCARI TUHAN. Mengapa kita mencari TUHAN? Sebab kita sangat membutuhkan kehadiran TUHAN dalam hidup kita. Manusia sejatinya harus mencari TUHAN. Jangan menghabiskan waktu kita hanya untuk mencari uang, karier, kedudukan, dan ketenaran. Tetapi kita harus berjuang mencari TUHAN dan kebenaran-Nya agar kita beroleh kehidupan yang kekal.

    Bila Firman Tuhan katakan carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, itu berarti ada waktu dimana Tuhan berkenan ditemui dan ada waktu dimana Tuhan tidak berkenan untuk ditemui. Waktu dimana Tuhan berkenan ditemui inilah merupakan KASIH KARUNIA yang harus kita RESPONS dengan sungguh-sungguh. 

    Yang menjadi persoalannya adalah apakah kita telah BENAR-BENAR MELIHAT  waktu yang Tuhan berikan sebagai sebuah kasih karunia yang tidak boleh sia-siakan? Kalau selama ini kita belum pernah berpikir bahwa waktu yang Tuhan berikan kepada kita adalah merupakan kasih karunia, maka kita sebenarnya telah melakukan begitu banyak kesia-siaan dalam hidup kita selama ini. Maka carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui. Seek the Lord while He may found.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “SEEK the LORD while HE may Found”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 55:1-13 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, bacaan kita pada hari ini menegur dan mengingatkan kita agar tidak menyia-nyiakan waktu.  Kesempatan yang ada mari kita gunakan untuk terus menerus MENCARI TUHAN. 

    Mencari Tuhan merupakan sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit.  Ketika jalan yang kita tempuh terbentur pada jalan buntu, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya.  Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya.  Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

    Sahabat, mengapa kita harus mencari Tuhan?  Karena Dia adalah SUMBER PERTOLONGAN SEJATI.   Sementara segala hal yang ada di dunia ini tak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita.  Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan  pada uang, kekayaan, jabatan, pengalaman, kepandaian, jaringan dan relasi. 

    Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu PUNYA CARA  untuk menolong kita.  Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah,  “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  (ayat 9). 

    Sahabat, apa yang akan kita dapatkan bila  bersungguh hati mencari Tuhan?  Kita yang mencari Allah dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan bahwa HATI KITA HIDUP KEMBALI  (Mazmur 69:33, dan Amos 5:4 dan 6a). 

    Orang-orang yang saat ini mengarahkan fokus hidupnya  untuk perkara-perkara surgawi, akan menuai manisnya sebuah KEHIDUPAN KEKAL.  Tetapi apabila kita tidak mulai saat ini  mengarahkan fokus hidup kita kepada kehidupan kekal yang akan kita hadapi nanti, maka bila waktu itu tiba, kita akan menghadapi sebuah kengerian hidup yang benar-benar sangat menakutkan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa  pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya Tuhan.” (Mazmur 9:11). (pg).

  • Faithful Love and Peace Will Never Go Away

    DAMAI SEJAHTERA. Dalam situasi terjepit dan diterpa berbagai permasalahan hidup, ada cukup banyak orang menjalani hari-harinya tanpa semangat, penuh kemurungan, takut, cemas dan khawatir.  Damai sejahtera di hati pun terbang melayang entah ke mana! 

    Sahabat, sebagai orang percaya tak seharusnya kita kehilangan damai sejahtera sekalipun harus mengalami pergumulan hidup yang berat, sebab kita punya Tuhan, Sang Raja damai  (Yesaya 9:5), Dialah sumber damai sejahtera kita. 

    Jangan pernah ragu, kasih setia dan damai sejahtera tidak akan beranjak dari kehidupan orang percaya. Faithful love and peace will never go away.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “Faithful Love and Peace Will Never Go Away”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 54:1-17 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, kesetiaan manusia bisa saja pudar dan hilang, tetapi kasih setia TUHAN tidak akan beranjak dari kehidupan kita, sekalipun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang.

    Sahabat, betapa besar janji setia Tuhan kepada kita. Keadaan dunia digambarkan dengan situasi dan keadaan yang penuh dengan berbagai bencana besar, tetapi Tuhan Allah selalu setia dengan janji-Nya untuk selalu mengiringi dan menyertai umat-Nya dengan KASIH SETIA dan DAMAI SEJAHTERA. 

    Ungkapan:  Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi Kasih Setia Tuhan tidak akan pernah beranjak daripadamu (ayat 10), sesungguhnya mau memberi kekuatan dan pengharapan serta penghiburan kepada kita bahwa Tuhan itu Allah yang Setia dengan janji-janji-Nya. Karena itu, dalam situasi dan kondisi  bagaimanapun  hidup kita sebagai orang-orang percaya, peganglah teguh janji-janji Tuhan, itulah yang menguatkan kita menghadapi kenyataan hidup.

    Sahabat, sedangkan damai sejahtera merupakan salah satu berkat rohani dari surga yang Tuhan sediakan bagi orang percaya, sebagaimana yang Tuhan janjikan,  “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”  (Yohanes 14:27). 

    Maka dari itu bila seseorang ingin memiliki damai sejahtera ia tak perlu mencarinya dengan berkelana sampai ke ujung dunia, cukup datang kepada Kristus dan menerima Dia di dalam hatinya, maka damai sejahtera itu akan Tuhan berikan. 

    Damai sejahtera yang sejati itu pemberian dari Tuhan. Jadi, bukanlah hal yang mustahil orang percaya mengalami damai sejahtera, sekalipun berada di tengah dunia yang bergelora! Mari bersama dengan raja Daud kita berdoa: “TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!”  (Mazmur 29:11). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu  dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Nilai hidup apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-10?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Janji pemulihan Tuhan  bukan hanya berlaku bagi bangsa Israel yang hidup pada masa lalu, tapi juga berlaku bagi semua orang percaya yang merupakan  “Israel-Israel  rohani” pada masa kini. (pg).

  • Accepting with the Open Arms

    BERKAT PEMBERIAN TUHAN. Berikut saya kutip 2 bait dari puisi WS Rendra yang terakhir:

    Ketika Orang memuji MILIKKU,
    aku berkata bahwa ini HANYA TITIPAN saja.

    Bahwa mobilku adalah titipan- NYA,
    Bahwa rumahku adalah titipan- NYA,
    Bahwa hartaku adalah titipan- NYA,
    Bahwa putra-putriku hanyalah titipan- NYA …

    Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh- NYA ?

    Malahan ketika diminta kembali,
    kusebut itu MUSIBAH,
    kusebut itu UJIAN,
    kusebut itu PETAKA,
    kusebut itu apa saja …
    Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah DERITA …

    Sahabat, jauh sebelum puisi Rendra di atas lahir, Marthin Luther memberi nasihat kepada kita: “Apabila kita menerima berkat Tuhan, terimalah dengan tangan terbuka dan tetaplah terbuka, supaya apabila Tuhan mengambil kembali berkat-Nya itu, tangan kita tidak terluka.”

    Sebagai orang percaya, kita perlu mempraktikkan nasihat dari Marthin Luther tersebut: Menerima berkat Tuhan dengan tangan terbuka. Accepting with the open arms.

    Hari ini kita akan belajar dari salah satu Kitab Syair dalam PL, kitab Ayub dengan topik: “Accepting with the Open Arms”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 1:1-22 dengan penekanan pada ayat 21-b. Sahabat, Ayub beroleh pujian dari Tuhan karena hidupnya berkenan di hati Tuhan.  Jika Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa Ayub adalah orang yang saleh, jujur dan menjauhi kejahatan, berarti ia benar-benar tidak tercela, baik dalam perkataan dan perbuatan.  Ayub memiliki kehidupan yang benar luar-dalam, tidak ada kepura-puraan atau kemunafikan.  Tuhan sendirilah yang menilainya.  Luar biasa!

    Melalui kisah Ayub kita belajar bagaimana MEMANDANG BERKAT PEMBERIAN TUHAN. Ayub sadar bahwa segala miliknya berasal dari Tuhan, bukan miliknya sendiri. Ketika berkat pemberian Tuhan diambil kembali, ia tidak mengeluh atau protes keras kepada Tuhan karena ia percaya bahwa Tuhan memiliki maksud tersembunyi dalam kehidupannya. Meskipun ia belum mengerti sepenuhnya, ia belajar tetap bersandar kepada Tuhan.

    Sahabat, kita juga dapat belajar bagaimana cara menjalani kehidupan iman. Ayub orang yang takut akan Tuhan. Namun, kehidupannya justru dilanda berbagai kesusahan dan dukacita.

    Selama kita mengembara di dunia, kita pasti mengalami pasang surut kehidupan. Kadang-kadang disinari oleh mentari yang cerah, namun kadang-kadang juga dinaungi awan hitam. Kadang-kadang kita mungkin merasakan bahwa Tuhan mengambil berkat yang sudah diberikan-Nya kepada kita. Namun percayalah, berkat yang  lebih indah justru telah disediakan bagi kita yang senantiasa menantikan waktu-Nya. Apa pun yang terjadi dalam hidup, kasih-Nya tidak pernah meninggalkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita memang tidak selalu dapat memahami rencana dan rancangan Tuhan, tetapi yakinlah Dia senantiasa menyediakan keindahan bagi orang yang takut akan Dia. (pg).