Author: Christopherus

  • GOD of All Things

    MENONJOLKAN DIRI. Memang tidak ada satu peraturan yang melarang seseorang untuk menonjolkan diri di hadapan orang lain. Namun jangan lupa, selain diri kita, di dunia ini masih sangat banyak orang yang jauh lebih hebat. Menempatkan diri di tempat yang tinggi, itu ibarat orang berjalan di tebing yang curam.

    Sahabat, ada pepatah lama yang berbunyi,  “Di atas langit masih ada langit.” Pepatah tersebut mengajarkan  kepada kita untuk selalu mawas  dengan tidak menjadi sombong dengan apa yang kita miliki dan kita capai. Ingatlah, ketika kita merasa bahwa kita sudah berada di atas, maka perlu kita sadari  bahwa masih ada orang lain yang berada di atas kita.

    Ungkapan tersebut mau juga menyadarkan kita  bahwa sehebat bagaimanapun kita, pasti masih ada orang di luar sana yang lebih hebat dari kita. Lalu bagaimana dengan Tuhan yang kita sembah? Apakah masih ada yang lebih hebat lagi dari Dia? Ungkapan tersebut jelas TIDAK BERLAKU bagi Tuhan, sebab Dialah SATU-SATUNYA  yang DI ATAS SEGALA-GALANYA.  Tuhan  segala sesuatu.  God of all things.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “GOD of All Things”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 59:1-21. Sahabat, nabi Yesaya melukiskan bahwa bangsa Yehuda telah menyadari betapa mereka telah melakukan tindakan kejahatan dan pemberontakan terhadap Allah. Dalam penggambarannya tampaklah keadaan yang sangat menyedihkan dan tak ada yang memberi pertolongan (ayat 9-14). Bahkan, Tuhan melihat betapa dahsyatnya dosa-dosa Israel, karena itu mereka akan mendapat pembalasan. Jika Tuhan sendiri ingin menghukum mereka, lalu siapakah yang akan tampil memberi pertolongan?

    Sahabat, akhirnya bangsa Yehuda merasakan sendiri kondisi berada pada posisi seperti orang-orang yang pernah mereka tindas dan perlakukan tidak adil. Mereka menginginkan terang, tetapi justru memperoleh kegelapan. Mereka meraung-raung memohon pertolongan, tetapi tidak ada yang bersedia tampil dan memberikan pertolongan.

    Dalam situasi pasrah menerima segala konsekuensi hukuman dan tiada pertolongan yang datang, Tuhan melihat semuanya itu. Tuhan sendirilah yang mengulurkan tangan-Nya untuk menyelamatkan umat-Nya. Meskipun umat-Nya telah berdosa, Tuhan tetap MENGASIHI  dan akan MEMBEBASKAN  mereka. Tuhan ingin agar semua bangsa yang melihat perbuatan-Nya, menjadi takut dan menghormati-Nya.

    Sahabat, TUHAN DI ATAS SEGALA HAL.  Dia MENOLONG  dan

     MENYELAMATKAN  umat-Nya yang terpuruk karena dosa. Tuhan berjanji kepada mereka yang meninggalkan dosa-dosanya dan berbalik kepada-Nya. Roh-Nya akan turun kepada mereka dan firman-Nya tidak akan meninggalkan mulut mereka.

    Tuhan telah datang di dalam YESUS KRISTUS  untuk membebaskan dan menyelamatkan kita sekalipun kita masih menjadi seterunya karena dosa. Dialah Tuhan yang mengatasi dan berada di atas segala-galanya. Haleluya! Tuhan  itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat terima dari hasil perenunganmu  pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Di atas langit masih ada langit. Maka jadilah orang yang rendah hati karena Tuhan mengasihi orang-orang yang rendah hati. (pg).

  • CLOSER to GOD

    KECEWA.  Ayub dikecewakan oleh sahabat-sahabatnya. Ayub mengharapkan sahabat-sahabatnya datang untuk menguatkannya. Alih-alih menguatkan, Ayub justru mengalami luka yang semakin menganga melalui anggapan mereka bahwa Ayub telah mendapat karma atas perbuatannya

    Sahabat, maka tak heran LAI memberi judul Ayub 6:1 – 7:21: “Ayub kecewa terhadap sahabat-sahabatnya.” Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Ayub dengan topik: “CLOSER to GOD (MENDEKATKAN Diri Kepada TUHAN)”. Bacaan Sabda saya ambil dari Ayub 6:1 – 7:21. Sahabat, dewasa ini ada sebagian orang percaya yang berpandangan bahwa Tuhan akan menganugerahkan kemakmuran dan kesehatan kepada setiap anak-Nya. Mereka beranggapan, orang percaya tidak seharusnya mengalami kesusahan, apalagi kemiskinan.

    Kitab Ayub membantah keyakinan tersebut. Ayub bukan saja kehilangan hartanya dan menjadi miskin, ia pun menderita sakit yang membuat kulitnya dipenuhi oleh ulat (7:5). Sungguh suatu penderitaan yang teramat sangat berat!

    Memang, Kitab Ayub penuh dengan kepedihan dan barang siapa membacanya dengan saksama, akan merasakan kepedihan yang dalam. Pasal 6 dan 7 merupakan salah satu bagian yang paling menyedihkan dari Kitab Ayub dan bahkan dari segenap kitab di Alkitab.

    Sahabat, menerima tuduhan semena-mena atau penilaian keliru tentu menimbulkan beban penderitaan Ayub semakin berat. Kini Ayub menuduh balik para sahabatnya sebagai tidak sungguh menyadari kedalaman derita Ayub (6:2). Juga, sikap dan komentar mereka memperlihatkan bahwa merekalah yang sebenarnya gentar menghadapi penderitaan (6:21).

    Ayub menggambarkan derita tersebut sebagai kesakitan ganda. Bukan saja karena ia harus menanggung kemalangan bertubi-tubi, tetapi juga karena kemalangan itu dalam tafsiran para sahabatnya sebagai tindakan Allah langsung melawan Ayub. Bila itu benar, Ayub melihatnya sebagai anak panah dan racun dari Allah menciptakan kedahsyatan dalam hidupnya (6:4).

    Sahabat, ucapan Ayub memohon kematian memang terasa biasa kita dengar dari orang-orang yang sedang menderita hebat. Namun, ada perbedaan antara permintaan untuk mati kebanyakan orang dengan  yang diucapkan Ayub. Bagi Ayub kematian bukanlah ungkapan keputusasaan tetapi ungkapan iman tentang kebahagiaan yang akan dimasukinya di balik kematian bersama Tuhan. Memang hal tersebut belum diungkapkan sampai pasal 19. Kematian adalah fakta kefanaan manusia (6:11-12). Tetapi lebih daripada itu, kematian merupakan kegirangan sebab ia tahu bahwa dirinya benar (6:10).

    Coba kita simak ungkapan Ayub: “Kiranya Allah berkenan meremukkan aku, kiranya Ia melepaskan tangan-Nya dan menghabisi nyawaku!” (ayat 6:9,10; 7:16,20). Dalam menghadapi penderitaan, kita bisa memilih untuk melakukan kedua hal berikut: Pertama: Mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua: Menjauhkan diri dari Tuhan.

    Mendekatkan diri kepada-Nya tidaklah berarti bahwa kita sudah dapat menerima semua penderitaan tersebut. Mendekatkan diri kepada Tuhan berarti kita membawa semua kepedihan, kebingungan, dan kekecewaan ini kepada-Nya. Dalam ketidakmengertian tentang penderitaan yang dialaminya, Ayub tidak lari dari Tuhan, justru sebaliknya, ia MENDEKATKAN DIRINYA  kepada TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 6:15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Belajarlah dari Ayub untuk tetap yakin pada kasih Allah yang akan menolong umat-Nya yang hidup dalam kebenaran. (pg).

  • A Pleasing Worship to God

    MAKNA IBADAH. Ritual keagamaan tanpa kesejatian makna sesungguhnya memuakkan hati Tuhan. Sebab bila demikian, kesalehan seseorang hanya bersifat lahiriah semata. Ibadah kepada TUHAN menjadi tidak berkenan kepada-Nya, ketika ibadah bukanlah ekspresi dari penghormatan, kasih dan ketundukan kita kepada TUHAN.

    Sahabat, ibadah kepada TUHAN mengungkapkan penghormatan, kasih, dan ketundukan kepada TUHAN karena ibadah yang sejati timbul dari hati dan dinyatakan dalam perbuatan. Hal-hal lahiriah dari ibadah tidak berarti jika bukan merupakan ekspresi batiniah. Bila ibadah adalah ekspresi batiniah, tak akan timbul pertentangan antara ibadah dan perbuatan sehari-hari. Yang terpenting dalam ibadah bukan korban, melainkan orang. Orang yang beribadah menentukan korban yang dipersembahkan, namun korban tidak menggambarkan orang yang beribadah.

    Mari kita menjalankan ibadah yang berkenan kepada Tuhan.  A pleasing worship to God.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “A Pleasing Worship to God”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 58:1-14. Sahabat, orang Israel yang mengaku diri sebagai umat Tuhan berlaku begitu religius. Setiap hari mereka beribadah kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Mereka juga setia melakukan perintah Tuhan (ayat 2). Dengan melakukan semua itu, umat merasa telah menyukakan hati Tuhan. Oleh karena itu alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari bahwa ibadah mereka tidak membuat berkat Tuhan turun atas mereka (ayat 3).

    Sahabat, mengapa Allah tidak menghiraukan ibadah umat? Karena tindakan religius umat ternyata penuh kemunafikan. Mereka berpuasa, tetapi tidak menunjukkan sikap ketundukan dengan mengorbankan segala hasrat mereka. Mereka tetap mengejar kepentingan pribadi dan memperlakukan orang lain dengan tidak layak (ayat 3-4). Puasa mereka tidak bertujuan meratapi keberdosaan mereka, melainkan memanipulasi agar Tuhan memberkati mereka.

    Jelas itu bukanlah jenis puasa yang diterima Allah. Puasa semacam itu hanya membuat orang menundukkan kepala dan bukan menundukkan hati di hadapan Allah. Mereka berpuasa dengan menggunakan pakaian berkabung, tetapi bukan karena meratapi ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Mereka mengira bahwa ibadah yang ditunjukkan dengan puasa dan pakaian kabung, lebih penting daripada sikap dan tingkah laku mereka. Pemahaman mereka ternyata berbanding terbalik dengan KONSEP TUHAN TENTANG IBADAH.

    Sahabat, Tuhan berjanji menyertai, bahkan memuaskan kebutuhan kita, ketika dalam puasa kita MERELAKAN BAGIAN KITA  untuk memenuhi kebutuhan orang lain (ayat 11). Sikap itu dikatakan akan membangun reruntuhan yang sudah lama tak bisa dihuni (ayat 12).

    Perlu kita garis bawahi  bahwa ibadah yang dikehendaki Tuhan harus mewujud pada tindakan, misalnya melepaskan orang dari penindasan dan ketidakadilan (ayat  6) atau menolong orang yang berkekurangan (ayat 7). Sabat pun harus dilakukan sepenuhnya untuk Tuhan dan bukan cari-cari alasan untuk tidak memenuhinya (ayat 13). Bila mereka beribadah sesuai yang diinginkan Tuhan, barulah Dia memberkati mereka (ayat 8-12, 14).

    Mari kita  MAWAS apakah kita beribadah hanya untuk kepentingan dan kepuasan diri semata, ataukah kita sungguh ingin menyenangkan Tuhan? Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6-7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ibadah yang Allah kehendaki adalah ibadah yang berorientasi kepada kepentingan Allah dan pengenalan yang benar akan kehendak-Nya, bukan kepada kepentingan diri sendiri. (pg).

  • ReKat: Tongue of A Disciple (27 November 2022)

    Bacaan Sabda: Yesaya 50:4-11

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Pesan yang saya peroleh dari perenungan firman Tuhan pada hari ini: Lidah merupakan salah satu anggota tubuh kita  yang kecil namun memiliki peranan besar dalam perjalanan kehidupan seseorang. Lidah dapat digunakan untuk tujuan yang baik atau merusak, hal itu tergantung dari manusia yang menggunakannya. Sebagai murid Kristus, kita harus menggunakan lidah kita untuk membawa kasih dan kabar baik yang memuliakan nama Tuhan melalui kehidupan kita. Kita sebagai orang percaya perlu memiliki lidah dan telinga seorang murid. Kita gunakan lidah kita untuk memperkatakan firman-Nya, untuk mewartakan kebaikan-Nya,   menghibur , memberi kekuatan, dan semangat bagi orang yang lemah. Begitu juga dengan telinga, kita harus menjadi lebih peka untuk mendengar suara dan kehendak Allah.
    2. Saya memahami ayat 7-9 sebagai berikut: Kita tidak akan mendapat malu karena Tuhan akan membenarkan, menolong, dan membela kita.

    (Swan Lioe)

  • REPENTANCE OPPORTUNITY

    TUHAN MEMBERI KESEMPATAN. Ada ungkapan yang sering kita dengar: “Kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali.” Ungkapan tersebut hendak mengingatkan: Kita sering melewatkan atau bahkan membuang kesempatan yang datang, hingga akhirnya kesempatan yang sama tidak kunjung datang lagi. Lalu bagaimana dengan kesempatan untuk bertobat? Apakah itu juga hanya datang satu kali seumur hidup kita? Tuhan senantiasa membuka peluang pertobatan. Repentance opportunity.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: “REPENTANCE OPPORTUNITY”. Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 57:14-21. Sahabat, di pasal 56, Yesaya menjelaskan bahwa Allah berkenan terhadap orang-orang yang melakukan kebenaran, walaupun orang itu semula tidak termasuk dalam bilangan umat-Nya (Yesaya 56:1-8). Namun ternyata umat sendiri telah berlaku jahat (Yesaya  56:9-57:13). Bahkan para pemimpin juga berbuat jahat.

    Orang-orang Yehuda hidup jauh dari perkenanan Allah, tidak sesuai dengan identitas sebagai umat Allah. Mereka menggantikan penyembahan kepada Allah dengan berhala-berhala. Kemudian muncul kesadaran bahwa mereka membutuhkan penghiburan.

    Nabi Yesaya memberitakan, hanya Allah yang dapat memberikan penghiburan. Namun, ada syaratnya: Mereka harus mengadakan pertobatan dan membuang segala bentuk batu sandungan yang menghalangi berkat Allah (ayat 14). Allah hanya akan menghibur dan menghidupkan orang-orang yang remuk dan rendah hati (ayat 15).

    Sahabat, namun ada kontras antara orang yang rendah hati dan orang yang tetap jahat (fasik). Orang yang jahat tidak memiliki ketenangan dalam hidup karena tidak memiliki damai sejahtera (ayat 20-21). Bagaimana mungkin mereka memiliki damai sejahtera jika hidup dikuasai ketamakan dan pemenuhan keinginan diri?

    Dari kedua jenis orang tersebut di atas, jelas Tuhan lebih menyukai orang yang menyadari dosanya dan kemudian merendahkan dirinya di hadapan Allah. Maka jangan pernah mengeraskan hati karena itu adalah tanda keangkuhan diri dan jelas Tuhan tidak menyukainya. Ingatlah bahwa Tuhan selalu membuka jalan bagi setiap orang yang mau datang kepada-Nya untuk memohon pengampunan-Nya. Tuhan selalu membuka PELUANG PERTOBATAN.

    Sahabat, setelah kembali dari pembuangan di Babel, bangsa Yehuda bergumul dengan keinginan mendapat pengampunan dari Allah. Nabi Yesaya menyerukan bahwa Allah tidak akan terus berbantahan. Untuk mendapat pengampunan Allah, mereka harus sejalan dengan pilihan Allah, bukan dengan pilihan hati mereka sendiri! Mereka harus sungguh-sungguh menyadari dosa yang mereka perbuat dan menyesalinya.

    Allah itu penuh kasih dan kemurahan. Dia mengampuni mereka yang menyesal dan mengakui dosanya. Bahkan Allah akan menganugerahkan semangat dan kehidupan yang baru.

    Kesempatan untuk bertobat selalu Allah berikan kepada manusia selama Ia masih memberikan kehidupan. Barulah setelah kematian, tidak akan ada lagi kesempatan itu. Allah memberi kesempatan kepada setiap orang yang menyadari dan menyesali segala kesalahannya untuk memperoleh kasih, kemurahan, dan pengampunan-Nya. Karena itu, dengan penuh kasih, Allah terus memanggil kita untuk datang kepada-Nya dalam pertobatan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”  (Mazmur 51:19). (pg),

  • CONQUERING FEARS with JESUS

    MENENANGKAN DIRI.  Dalam situasi tertentu, kita kadang mengalami kepanikan dan sulit untuk menjadi tenang. Padahal, ketenangan dibutuhkan supaya kita dapat melihat dengan jelas, berpikir lebih jernih, dan mengambil keputusan dengan tepat.

    Sahabat, dalam ketenangan diri, kita dapat menyadari keberadaan dan kuasa Tuhan. Dalam ketenangan kita dapat memusatkan perhatian dan mendaraskan doa dengan penuh keyakinan. Mari taklukan segala ketakutan bersama Yesus. Conquering fears with Jesus.

    Hari ini saya dipercaya oleh Persekutuan Karangroto GKMI Progo untuk menyampaikan firman Tuhan dalam kebaktian syukur HUT mereka yang ke-20 dengan mengangkat tema: “Menaklukkan Segala Ketakutan Bersama Yesus”. Maka saya mengajak Sahabat untuk belajar dari Injil Matius dengan topik: “CONQUERING FEARS with JESUS”. Bacaan Sabda saya ambil dari Matius 14:22-33 dengan penekanan pada ayat 27.

    Sahabat, dalam Injil Matius tercatat dua kali para murid mengalami ketakutan yang luar biasa diterpa angin dan ombak pada perahu mereka. Pertama, dalam Matius 8:23 – 27.   Waktu itu Yesus ada bersama-sama dengan mereka namun sedang tidur.  Maka segeralah mereka membangunkan Yesus untuk minta pertolongan, lalu  Yesus menghardik angin dan danau itu, maka danau itu menjadi teduh sekali  (ayat 26-b).

    Kedua, dalam Matius 14:22-33. Waktu itu  para murid tertimpa masalah yang sama.  Bedanya, Yesus sedang tidak bersama dengan mereka karena Ia  naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri  (ayat 23).  Jadi dalam pergumulan yang berat ini mereka sepertinya harus berjuang sendirian melawan badai dan ombak tanpa penyertaan Tuhan, karena  perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai  (ayat 24). 

    Tidaklah mengherankan mereka menjadi sangat ketakutan yang kian menjadi-jadi ketika tiba-tiba mereka melihat sesosok manusia mendekati mereka dengan berjalan di atas air.  Spontan mereka pun berteriak,  “Itu hantu!”  (ayat 26).  Mereka tidak menyadari bahwa yang berjalan di atas air dan mendekat kepada mereka adalah Yesus dan bukan hantu. 

    Kemudian Tuhan Yesus menenangkan mereka dengan berkata,  “Aku ini, jangan takut!”  (ayat 27).  Kata Aku ini menunjuk tentang keberadaan Yesus yang adalah manifestasi diri dari Allah sendiri, sebagaimana Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Musa dengan berkata,  “AKU ADALAH AKU.”  (Keluaran 3:14).  Ini adalah penegasan bahwa Dia adalah Tuhan yang sangat peduli;  Tuhan yang senantiasa hadir di tengah-tengah umat-Nya untuk memberi pertolongan;  Dia adalah Imanuel, Tuhan yang selalu beserta kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita   sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:20-b).

    Sahabat, kita juga diundang untuk mengalami pengalaman bersama dengan Tuhan. Sekalipun sungguh tidak kita harapkan, tetapi kadang kehidupan kita bisa tiba-tiba berubah dari tenang menjadi seperti diombang-ambingkan oleh angin sakal. Kepanikan dan ketakutan justru akan memperburuk situasi.

    Untuk mengatasinya, kita membutuhkan ketenangan. Ketenangan adalah berkat Tuhan. Kehadiran Tuhan di dalam doa kita akan mendatangkan ketenangan. Berhubung kehadiran Tuhan memberi ketenangan dan perubahan, demikian pula kehadiran kita juga diharapkan memberi ketenangan dan perubahan dalam kehidupan keluarga dan sesama kita. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dapatkan dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat, selalu tepat pada waktunya. (pg).