BERITAKANLAH INJIL

Selamat jumpa Para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh pengharapan. Saudara, tanggal 6 Desember 2020, merupakan HUT ke-100 Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI). Pendiri GKMI adalah bapak Tee Siem Tat (Pak Tee), seorang pengusaha di kota Kudus yang mengalami jamahan Tuhan, mengalami kesembuhan dari sakit penyakitnya.

Strategi Pemberitaan  Injil Pak Tee  berdasarkan Kisah Para Rasul 1:8. Pak Tee memahami ayat tersebut sebagai berikut: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem (= Anggota keluarga terdekat: suami, isteri, anak-anak, menantu-menantu dan cucu-cucu),  dan di seluruh Yudea (= keponakan dan sanak keluarga yang lain) dan Samaria  dan sampai ke ujung bumi (= sahabat, para pegawai, relasi dagang, dan lain-lain yang belum mengenal Tuhan Yesus)”

Saudara, Tuhan Yesus memberikan perintah kepada semua orang percaya untuk memberitakan Injil, tanpa terkecuali,  “… pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:19-20).  Itulah yang disebut Amanat Agung Tuhan! 


Rasul Paulus merupakan salah seorang pemberita Injil yang patut dan layak menjadi panutan kita  Komitmen dan dedikasi Paulus dalam mengerjakan panggilan Tuhan ini tidak perlu diragukan lagi.  Bagi Paulus, celakalah dirinya jika dia tidak memberitakan Injil, “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”  (1 Korintus 9:16)

Bagi Paulus hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan  (Filipi 1:21), Paulus mempunyai tekad, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.”  (1 Korintus 9:19).  Ungkapan  ”menjadikan diriku hamba dari semua orang” menunjukkan bahwa dalam segala hal Rasul Paulus belajar untuk meneladani Kristus  (Matius 20:26b-28).

Dalam memberitakan Injil Paulus tidak bersikap kaku, tetapi ia belajar untuk peka terhadap keadaan orang yang hendak dilayaninya serta berusaha menyesuaikan diri, agar dapat diterima dengan baik.  Bukan berarti Paulus berkompromi dengan cara hidup mereka yang tidak berkenan kepada Tuhan.  Penyesuaian diri Paulus hanya terbatas pada hal-hal yang bukan prinsip atau yang tidak bertentangan dengan firman.

Ingatlah! Bagi Paulus, dipercaya menjadi hamba-Nya sudah merupakan anugerah yang tak ternilai sehingga ia berkata,  “… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a).  Hidup Paulus benar-benar membawa dampak yang luar biasa:  Injil semakin maju dan hidupnya menjadi berkat bagi jiwa-jiwa. Karena itu,  beritakanlah Injil, baik atau tidak baik waktunya (2 Timotius 4:2).  Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas. (pg)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *