Memilih Hospitalitas (Keramah-tamahan)

Mengapa tema hospitalitas (keramah-tamahan) menjadi penting dalam hidup kekristenan?

            Hari ini, bacaan Alkitab kita (2 Raja –Raja 4: 8-11) berhubungan dengan nabi Elisa yang melakukan pelayanan keliling bagi umat Israel. Ia seorang nabi keliling, sebab ia bepergian dari kota ke kota untuk memberitakan firman Allah.             

            Suatu hari, nabi Elisa tiba di sebuah kota kecil bernama Sunem (Ibrani, Shunaam). Kota itu terletak di antara kota Samaria dan Gunung Karmel. Nabi Elisa seringkali bepergian untuk melakukan pelayanannya melewati kota Sunem. Ayat 8 berbunyi,  “Pada suatu hari, Elisa pergi ke Sunem. Di sana tinggal seorang perempuan kaya yang mengundang dia makan. Dan seberapa kali ia dalam perjalanan, singgahlah ia ke sana untuk makan”.

            Wanita Sunem ini memang orang kaya (bdng. ayat 18). Suaminya sudah tua. Suami istri itu memiliki sejumlah pekerja yang bekerja di ladang mereka. Waktu itu sedang musim tuai gandum ketika nabi Elisa mengunjungi keluarga itu. Lebih daripada  itu, wanita Sunem tersebut memiliki  iman dalam Allah. Tetapi, suaminya nampaknya  tidak beriman teguh pada Allah. Jadi, kapan pun nabi Elisa tiba di kota Sunem, ia selalu singgah untuk makan di rumah wanita tersebut.

            Di sini, kita bisa melihat bahwa wanita Sunem dan suaminya menerima  nabi Elisa dengan sangat baik. Ini menunjukkan, mereka terbuka  kepada Allah dengan menerima  hamba Allah untuk singgah di rumah mereka. Penerimaan  merupakan suatu sikap yang penting dalam bacaan Alkitab ini. Apakah penerimaan itu?  Penerimaan adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan kepercayaan kita, nilai, karunia, dan rasa hormat kepada orang lain. Penerimaan juga merupakan kemampuan kita untuk membuat orang merasa berarti, dihormati, dan dihargai.

            Dalam ayat 9, sangatlah jelas bahwa nabi Elisa telah sangat sering mengunjungi wanita Sunem dan suaminya. Dengan demikian, Allah sudah menyentuh  hati wanita itu untuk menunjukkan hospitalitas (keramah-tamahan) kepada sang nabi. Di sini, wanita Sunem itu mengenali, nabi Elisa merupakan seorang yang ditugasi untuk melakukan pekerjaan Allah dalam arti yang sangat khusus. Oleh sebab itu, wanita Sunem dan suaminya tidak ragu-ragu  lagi untuk menjamu nabi Elisa di rumahnya.

            Ayat 10 berkata, “Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana”. Wanita Sunem dan suaminya mempunyai  kerinduan besar untuk menyediakan sebuah kamar tidur khusus bagi nabi Elisa. Tujuannya adalah agar nabi Elisa bisa tinggal dan istirahat di dalam kamarnya kapan saja ia mengunjungi wanita dan suaminya itu. Inilah sikap hospitalitas (keramah-tamahan) yang besar kepada nabi Elisa, hamba Allah. Terutama sang wanita Sunem, dia ingin  melayani Allah di setiap kesempatan. Ini sangat indah, bukan? Allah memberkati keluarga dan usahanya secara berkelimpahan.

Lihatlah frase ini sekali lagi, apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana” . Dengan menunjukkan hospitalitasnya, wanita Sunem itu mampu  membantu kelangsungan pemberitaan firman Allah yang dilakukan melalui nabi Elisa. Dalam misi penginjilan, Allah sudah menaruh kerinduan  serta komitmen dalam diri orang-orang untuk mendukung pelayanan misi. Lebih dari itu, Allah pun mengutus hamba-Nya atau misionaris untuk melaksanakan tugas misi di banyak ladang pelayanan di dunia ini.

Dalam perjalanan-perjalanan misi di padang rumput dan padang gurun Gobi di Mongolia, tim misi dan saya seringkali singgah  di sejumlah keluarga nomaden Buddhis maupun ateis (yang mana kami belum kenal), karena kami tersesat jalan. Kami diterima  dengan keterbukaan diri yang lebar. Dijamu dengan keramah-tamahan  nomaden. Dan secara mengejutkan, kami malah diberi bekal makanan untuk makan dalam perjalanan. Mereka pun dipakai  oleh Allah untuk memberikan tumpangan dan menjamu tim misi yang kelelahan dalam perjalanan.

Dalam makna yang sederhana, hospitalitas adalah suatu kemurahan hati dalam menyambut tamu, pengunjung, maupun orang asing ke dalam rumah kita. Kemurahan hati juga merupakan salah satu buah Roh (Galatia 5:22). Hospitalitas berbicara tentang sebuah hubungan antara tamu dan tuan rumah. Di sini, hospitalitas mampu membuat orang merasa diterima  dan bisa menikmati persekutuan bersama dalam Tuhan Yesus. Dan, hospitalitas merupakan salah satu karakter Kristen.

            Kita mesti ingat, hospitalitas juga merupakan sebuah karunia  khusus, yang Allah berikan kepada semua orang percaya, termasuk Saudara dan saya (bndg. 1 Petrus 4:9-10). Bacaan Alkitab kita berbicara tentang dua hal dalam hospitalitas (keramah-tamahan). Pertama, kita harus  berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada kawan-kawan kita seiman (Galatia 6:10). Kedua, kita harus  melakukan hospitalitas/keramahan (Roma 12:13). Allah juga memanggil kita (kamu  dan aku) untuk menunjukkan hospitalitas kepada setiap orang, terutama kepada saudara-saudara seiman. Allah memberkati kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).  

******

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *