Melihat SELUMBAR di MATA Saudaramu

Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Ada cukup banyak orang yang senang menghakimi orang lain. Mengapa? Karena untuk memahami orang lain itu lebih sulit daripada untuk menghakimi. Sayangnya, mereka lupa dengan sabda Yesus, “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Matius 7:2)

Saudara, dalam keseharian, ada cukup banyak orang yang mudah sekali melihat dosa, kesalahan dan kekurangan orang lain, sekalipun itu kecil.  Sebaliknya kekurangan, kelemahan atau kesalahan yang ada di dalam diri sendiri, sekalipun itu besar, tak mudah dilihat, apalagi diakui.  Yesus bersabda, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”  (Matius 7:3). Maka kita perlu merenungkan dalam-dalam nasihat orang bijak berikut, “Jika Anda menginginkan ketenangan pikiran, jangan mencari-cari kesalahan orang lain. Lebih baik belajar melihat kesalahan Anda sendiri.”

Coba sejenak kita mengamati, ketika ada saudara seiman yang jatuh dalam dosa, apalagi ketika ada hamba Tuhan besar jatuh karena terlibat suatu skandal, langsung jadi viral. Grup-grup WA  langsung ribut dan sibuk memperbincangkannya. Ada cukup banyak orang yang ingin menjadi pengamat dan komentator. Mereka seolah-olah menjadi orang yang paling pakar, paling suci, paling benar, dan tak pernah melakukan kesalahan. 

Saudara, ketika ada saudara yang mengalami pergumulan berat, misalnya sakit yang tak kunjung sembuh, kita langsung jadi hakim dadakan:  menghakiminya karena banyak dosa.  Sejujurnya, adakah orang yang luput dari kesalahan?  Adakah manusia yang sempurna? Bahkan hamba Tuhan besar yang sudah diurapi Tuhan dan diperlengkapi dengan berbagai karunia pun tak luput dari kesalahan dan kekurangan.  Kita perlu menghayati nasihat Rasul Paulus berikut, “Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!”  (Roma 14:13). 

Yakobus menegaskan bahwa  “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”  (Yakobus 4:12).  Jika saat ini kita masih merasa sebagai orang yang paling benar, paling suci, dan memandang orang lain sebagai pihak yang salah dan penuh kekurangan, bertobatlah!  Yesus bersada, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”  (Matius 7:1).  Jika ada saudara kita yang lemah dan jatuh, itu adalah kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih:  memperhatikan, menolong dan menguatkan dia, jangan malah menjadi hakim atas hidupnya.

Ingatlah!  Mencari kesalahan orang lain akan mencemari pikiran kita sendiri. Karena itu marilah kita menghayati nasihat Rasul Paulus, “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”  (Galatia 6:4). Tuhan memberkati Saudara. Better days are coming. (pg)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *