Apakah kita pernah begitu sibuk melakukan perkara-perkara bagi Yesus sehingga kita tidak mempunyai waktu bersekutu secara pribadi dengan-Nya?
Bacaan Lukas 10: 38-42 memaparkan dua karakter berbeda antara Marta dan adiknya Maria. Ayat 38 berbunyi, “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya.” Marta menerima Yesus di kampungnya. Ini sangat bertolak belakang dengan Lukas 9:53, yakni orang-orang Samaria menolak Yesus singgah di kampung mereka.
Penerimaan adalah sebuah kata sangat penting dalam perbendaharaan hidup kita. Dengan menerima seseorang, kita menjadi terbuka untuk menyambutnya. Kita bahkan mengakui keberadaan orang itu di hadapan kita. Dalam hal ini, Marta sangat bahagia menerima Yesus ke dalam rumahnya.
Lebih lanjut ayat 39 berkata, “Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.” Baik Marta maupun adiknya Maria (Miriam) menerima kunjungan Yesus ke dalam rumahnya. Tapi, perbedaannya adalah bahwa Maria menerima Yesus ke dalam hatinya dan lalu mengambil posisi sebagai murid Yesus untuk mendengarkan dan belajar dari ajaran-Nya.
Fokus dari Maria adalah mendengarkan ajaran Yesus dan sekaligus menikmati kehadiran-Nya di tengah-tengah kesibukan pekerjaan. Meninggalkan kesibukan sejenak hanya untuk menikmati persekutuan dengan Yesus. Inilah sebuah keberanian besar dan juga sebuah penyerahan diri sepenuhnya pada Yesus.
Apabila kita melihat kembali ayat 39, “Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”, ini bertolak belakang dengan ayat 40, di mana “Marta sibuk sekali melayani”. Dua bersaudara dengan dua karakter yang berbeda.
Lalu, apakah Marta melakukan kesalahan dengan sibuk melayani dan menyiapkan makanan bagi Tuhan Yesus? Tidak. Tidak ada yang salah dengan Marta yang menjamu Tuhan Yesus di rumahnya. Tetapi, Marta juga harus mengetahui bahwa tujuan Yesus berkunjung ke rumahnya adalah juga untuk bersekutu dengan Marta dan saudaranya Maria. Marta lebih memilih untuk sibuk melayani dengan hidangan makanan daripada meluangkan waktu sejenak untuk mendengarkan ajaran Yesus.
Marta harus berani memberikan prioritas di antara kedua hal ini, sibuk melayani atau mendengarkan ajaran Yesus. Barangkali kita (kamu dan aku) pun pernah mengalami keadaan yang terjadi pada diri Marta. Dalam perjalanan ke gereja, mungkin kita sangat antusias untuk beribadah dengan Yesus. Namun saat tiba di gereja, fokus perhatian kita berubah ke lain sehingga kita tidak dapat menikmati kehadiran Yesus dalam ibadah jemaat.
Tuhan Yesus menegaskan bahwa memang ada waktunya bagi Marta untuk melakukan kehidupan yang sibuk, tapi juga ada waktu untuk berdiam diri dan mendengarkan Yesus (ayat 41).
Dalam ayat 42, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Maria juga sibuk tentang sesuatu yang lebih baik, yaitu “hanya satu saja yang perlu.” Maria memilih bagian yang lebih baik (bndg. Ulangan 30:19; Yosua 24:15), yakni duduk mendengarkan ajaran Yesus. Dengan kata lain, Maria lebih memilih hal rohani daripada hal fisik, pekerjaan rohani daripada pekerjaan jasmaniah (Ulangan 8:3).
Prioritas yang Maria miliki di sini adalah memilih melayani Yesus dengan mendengarkan firman-Nya dan juga menikmati kehadiran-Nya. Dalam bacaan ini, menerima firman Tuhan jauh lebih penting daripada melakukan hal jasmaniah (bdng. Ulangan 8:3; Matius 4:4; Lukas 4:4). Ini juga mengingatkan kita bahwa kesibukan yang berlebihan bisa menghalangi hubungan kita dengan Yesus Kristus. Kita semua harus memiliki waktu untuk mendengarkan dan belajar dari Yesus.
Marilah kita mengutamakan mendengarkan firman Yesus dan bersekutu dengan-Nya. Tuhan Yesus memberkati kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg)
******
Leave a Reply