Menjadi Seorang Sahabat (Bagian 2)

Apakah Saudara pernah merayakan sebuah persahabatan?  Facebook menyebut peringatan persahabatan  sebagai friendiversary. Ini sebuah peringatan saat dua orang atau lebih satu sama lain menjadi sahabat dalam kurun waktu tertentu.

Setiap di antara kita tentu membutuhkan sahabat, seorang pribadi. Ia yang peduli pada kita, saling membantu, mendengarkan, menjadi orang dekat, serta memahami di saat-saat baik maupun sulit. Allah sendiri sudah merancang hidup kita agar bisa menikmati persahabatan atau pertemanan dalam perjalanan rohani ini, bukan kesendirian (bdng. Pengkotbah 4:9-10; Ibrani 10:25).

Bacaan Alkitab kita didasarkan pada 1 Samuel​18:3-5. Ayat 3 menguraikan bagaimana Yonatan mengikat perjanjian dengan sahabatnya Daud. Dasarnya adalah bahwa Yonatan sungguh mengasihinya seperti diri sendiri. Dengan begitu, Yonatan pun membuat sebuah perjanjian persahabatan  dengan Daud. Inilah gambaran dari sahabat setia beriman.

Sebuah perjanjian bisa juga disebut persetujuan atau akad yang khusus. Inisiatifnya berasal dari Yonatan sendiri. Perjanjian ini mengandung sebuah akad atau janji tentang kesetiaan  dan persahabatan bersama. Kesetiaan  ini merupakan salah satu kualitas nilai  yang paling berharga dalam hidup. Inilah bagian pengorbanan diri  yang terpenting dari kasih.

Tuhan Yesus sendiri sudah menjadi teladan  terbaik melalui pengorbanan diri dari kasih. Yohanes 15:13 berbunyi, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”.

            Untuk menjadi setia, kita tidak dapat hidup hanya  untuk diri sendiri. Kita mesti memiliki komitmen  kuat dan bersedia menderita  bagi orang lain. Di sini, Yonatan merupakan sebuah teladan kesetiaan  yang indah. Baik Yonatan maupun Daud tidak akan pernah melanggar perjanjian mereka. Mereka mesti  setia satu dengan yang lain dan juga dengan anak-anak mereka (lih. 1 Samuel 20:42).

            Selanjutnya 1 Samuel​18:4 berkata, “Yonatan menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya”.

Yonatan menegaskan perjanjian itu dalam sebuah tindakan. Ia pun melambangkan  perjanjian itu dengan memberikan dirinya sendiri kepada Daud. Bacaan Alkitab ini memaparkan, Yonatan adalah anak raja Saul. Bila raja Saul meninggal, secara langsung Yonatan akan menjadi raja menggantikan ayahnya.

            Dalam ayat 4, Yonatan menanggalkan jubahnya. Jubah Yonatan merupakan jubah kerajaan. Jubahnya merupakan sebuah simbol  dari kerajaan Israel (bdng. 1 Samuel 15:27-28).

Apakah artinya Yonatan menanggalkan jubahnya dan memberikannya kepada Daud?  Di sini, Yonatan mentransfer atau memindahkan statusnya sebagai pewaris tahta raja kepada sahabatnya Daud. Hal ini menunjukkan, Daud akan menjadi raja Israel yang berikutnya sesudah raja Saul (1 Samuel 20:31; 23:17-18). Yonatan tidak cemburu akan hidup Daud. Bahkan, Yonatan memberikan baju perangnya kepada Daud. Baju perang itu melindungi hidup Yonatan ketika berperang dengan musuh-musuh Israel.

Tetapi, Yonatan percaya, hidup Daud lebih berharga  daripada hidupnya. Yonatan tidak bersifat egois. Ia adalah seorang sahabat setia  dan bersedia mati bagi Daud. Ini menjelaskan betapa dalamnya Yonatan mengasihi Daud.

            Sebuah pertanyaan mendasar muncul di sini, Didasarkan pada apakah persahabatan kita?  Persahabatan yang normal, atau persahabatan sejati, atau persahabatan setia beriman?

Dalam bacaan Alkitab ini, kita melihat bahwa persahabatan sejati tidaklah cukup untuk melangsungkan persahabatan itu sendiri. Namun, kita juga mesti  membangun persahabatan setia beriman.

            Seperti apakah persahabatan setia beriman antara Yonatan dan Daud? Pertama, persahabatan mereka didasarkan pada komitmen pada Allah (1 Samuel​ 20:42; 23:18). Kedua, persahabatan mereka dilandaskan pada kepentingan bersama (18:3-4). Ketiga, mereka saling mempersatukan diri  ketika persahabatan mereka diuji (23:16-17). Keempat, mereka memilih menjadi sahabat yang setia  sampai akhir hidup (20:42).

            Seperti Tuhan Yesus sendiri yang sudah menjadi sahabat  bagi setiap di antara kita, lantas kita pun dipanggil untuk menjadi sahabat  bagi orang lain. Kita pun bisa menjadi sahabat  mereka dengan menembus dinding status sosial, melewati perbedaan rasial, gender, pendidikan, kepercayaan, memberikan harapan bagi yang alami kesusahan dan kesepian, membawa perdamaian dan penegakan keadilan, maupun mampu memberikan secercah  cahaya rohani bagi yang sedang bergumul dengan keputusasaan situasi yang tak tentu dalam diri perorangan, keluarga, maupun komunitas di dunia ini. Kiranya kasih anugerah Allah melingkupi kita semua. (Petrus E. Handoyo/pg).

******

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *