Memilih Komitmen Teguh

Bila Allah memanggil kita untuk melayani atau mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya dalam penyerahan diri, apakah kita pernah merayakan panggilan itu bersama teman-teman maupun keluarga? Pertanyaan ini agaknya sulit, bukan? Boleh jadi, karena merayakan panggilan ini kurang lazim bagi sebagian orang. Lebih jauh lagi, orang yang merayakan panggilan untuk meresponi undangan Allah boleh jadi ingin menyatakan komitmen kuat terhadapnya.

Sekelompok orang percaya yang baru dibaptis di kota Darkhan, Mongolia utara, merayakan hidup baru dalam Kristus dengan sebuah perayaan bersahaja di sebuah padang terbuka. Setelah mereka dibaptis di sebuah sungai yang jernih dan dingin, mereka mulai memasang tenda-tenda dan berkemah semalam dekat sungai bersama hamba Tuhan dan sejumlah anggota jemaat. Cuma satu hal sederhana yang mereka mau lakukan sesudah menerima Tuhan Yesus ke dalam hidup baru mereka, yaitu orang-orang percaya itu berhasrat merayakan titik tolak iman dalam perjalanan spiritual mereka bersama Tuhan Yesus.

Mereka memberi ucapan syukur besar kepada Tuhan Yesus yang sudah memilih mereka untuk menjadi keluarga Allah. Mereka menyanyi, bersaksi, berdoa, dan menyembah-Nya di tengah-tengah terpaan angin padang rumput yang sejuk. Perayaan rohani di padang terbukasemacam itu bisa saja terjadi di antara orang-orang percaya Mongol. Sebab, orang Mongol pada hakikatnya adalah orang nomad. Mereka sangat bersentuhan langsung dengan padang rumput dan padang gurun yang luas dalam keseharian hidup.

Dalam bacaan Alkitab ini, 1 Raja-Raja 19:20, Elisa menanggapi panggilan Allah yang disampaikan melalui nabi Elia. Pilihan tersebut tentu tidak mudah. Sebab, mengikuti Tuhan Yesus tentunya ada risiko yang mesti ditanggung. Kita harus siap sedia untuk melayani dan bersekutu dengan-Nya, bahkan harus siap untuk berkorban. Kita mesti secara konsisten mengikuti Yesus sepanjang waktu (bdng. Matius 4:19-22; Lukas 9:23).

Dengan demikian, mengikuti Tuhan Yesus tidak ada kata istirahat. Tidak ada kata part-time dalam mengikuti-Nya. Sebuah pertanyaan muncul di sini, “Apakah yang Tuhan Yesus kehendaki dari kita?” Ia menginginkan dedikasi yang utuh. Komitmen yang penuh, bukan komitmen yang separuh! Dengan berfokus pada Tuhan Yesus, kita seharusnya tidak mengizinkan sesuatu untuk mengganggu kita dalam mengikuti-Nya.

Dalam 1 Raja-Raja 19: 20, perkataan nabi Elia menunjukkan bahwa dia sendiri tidak memanggil Elisa untuk mengikutinya. Tetapi, itulah panggilan dari Allah sendiri. Apakah Elisa akan mengikuti panggilannya atau tidak, itu menjadi keputusannya sendiri.

Ayat 21 berbunyi, “Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api. Ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.”

Di sini, Elisa sedang mengadakan jamuan makan perpisahan dengan keluarga, teman-teman, dan orang-orangnya. Ini menunjukkan, ia tidak akan pernah kembali lagi ke pekerjaannya yang semula sebagai petani kaya. Kini, hanya satu hal yang hendak ia lakukan, ia siap melayani Allah.

Ada dua alasan utama mengapa Elisa benar-benar merayakan panggilan pelayanannya. Pertama, Elisa membuat sebuah komitmen teguh untuk mengikuti gurunya nabi Elia dan akhirnya hanya menjadi seorang pelayan. Menanggapi panggilannya dengan kukuh menjadi prioritas utama dari Elisa dalam hidupnya.

Kedua, Elisa memberikan persembahan syukur kepada Tuhan yang sudah memilihnya sebagai nabi Allah. Ia menyembelih sepasang lembu jantan dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu. Lantas, ia membagikan daging itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Mereka semua bersyukur atas dedikasi iman Elisa.

Apakah kita tetap hidup dengan komitmen yang teguh dalam Yesus di tengah-tengah tantangan dan kesulitan saat ini? Kasih anugerah Allah kiranya menyertai kita masing-masing. (Petrus Eko Handoyo/pg)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *