TERSUNGKUR LALU BERSYUKUR: (KESOMBONGAN YANG LURUH)

TERSUNGKUR LALU BERSYUKUR: (KESOMBONGAN YANG LURUH)

Blaise Pascal, ilmuwan dan filsuf besar Prancis yang pernah hidup dalam kejayaan akal dan kebanggaan pengetahuan. Namun pada malam 23 November 1654, ia mengalami pengalaman ilahi yang berdampak besar dalam hidupnya yaitu saat ia hampir tewas karena kereta kudanya nyaris terjun ke Sungai Seine.  Dalam doa yang penuh tangis, ia merasakan hadirat Allah seperti api yang menyala dalam jiwanya. Ia menulis, “Api. Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub,  bukan allah para filsuf.” Sejak “Malam Api” itu, Pascal menanggalkan kesombongan intelektualnya dan hidup dalam iman sederhana namun menyala. Ia belajar bahwa pengetahuan tanpa kerendahan hanyalah kehampaan, sedangkan tunduk di hadapan Allah justru membuka sumber hikmat sejati.

Naaman, panglima besar Aram, tersandung oleh pikirannya sendiri. Ia membayangkan Allah  bertindak sesuai dengan kehormatannya sebagai panglima. 2 Raja-raja 5:11 mengatakan,“Tetapi Naaman menjadi marah lalu pergi sambil berkata: ‘Sesungguhnya aku pikir, tentu ia keluar mendapatkan aku dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, dan menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu, lalu menyembuhkan penyakit kustaku!”   Dalam teks Ibrani, kata “pikir”  menunjuk pada keputusan hati yang menetapkan kehendaknya sendiri. Hati seperti itu menolak cara Allah yang sederhana dan menuntut tanda yang sesuai logika manusia. Ketika hati menuntun Tuhan, kuasa penyembuhan pun terhenti di ambang pintu kecongkakan. Namun saat kesombongan runtuh digantikan  kerendahan hati dan ketaatan yang mengambil tempatnya, kasih karunia pun bekerja dengan kuasa yang menyembuhkan dan memulihkan.

Seperti Pascal yang menanggalkan kebanggaan intelektualnya karena perjumpaan dengan Tuhan, Naaman pun menerima pemulihan ketika rela meruntuhkan egonya dan memberi tempat bagi kuasa Allah bekerja dalam kelemahan dirinya. Semua kebanggaan manusia tak berarti bila dihadapkan dengan Sang Pencipta Semesta.  Sebagaimana Yeremia menuliskan perkataan Tuhan yang mengatakan, “Orang arif tak boleh bangga karena kebijaksanaannya, orang kuat karena kekuatannya, dan orang kaya karena kekayaannya. Siapa mau berbangga tentang sesuatu, haruslah berbangga bahwa ia mengenal dan mengerti Aku…” (Yeremia 9:24, BIS).  Mari kita letakkan kebanggaan kita untuk dapat menikmati kebersamaan dengan Kristus.  Ingatlah bahwa hati yang menunduk lebih kuat daripada pikiran yang meninggi. (sTy).

Renungan Lainnya