
Cuthbert of Lindisfarne lahir sekitar tahun 634 di Northumbria, Inggris. Ia dikenal sebagai biarawan dan gembala umat yang rendah hati, penuh kasih, dan tekun dalam doa. Ia menolak kenyamanan dan jabatan demi hidup sederhana di pulau terpencil, di mana ia bersekutu dengan alam dan Tuhan dalam kesunyian. Namun justru dari kesederhanaan itulah, banyak orang mengalami penghiburan dan kesembuhan melalui pelayanannya. Cuthbert menjadi lambang iman yang tersungkur di hadapan Allah dan memuliakan-Nya tanpa pamrih.
Naaman seorang panglima besar Aram, mengalami titik balik ketika ia rela tunduk pada cara Allah yang tampak sederhana. Air Sungai Yordan menjadi saksi bukan hanya kesembuhan jasmaninya, melainkan kelahiran barunya secara rohani. Ketika ia berkata, “Sekarang aku tahu, bahwa di seluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel.“
(2 Raja-raja 5:15 TB). Kata “tahu” memiliki arti mengenal karena mengalami secara langsung dan bukan mengetahui secara akal. Naaman tidak hanya mengetahui tentang Allah Israel namun ia mengalami kehadiran Allah yang hidup sehingga ia mengalami perubahan : dari kesombongan menuju kerendahan. Dalam kerendahan itulah perjumpaan dengan Allah terjadi sehingga berakibat pada pengenalan akan Allah yang membuat manusia tersungkur dan bersyukur di hadapan-Nya.
Seperti Cuthbert yang mengenal Allah bukan lewat wacana, tetapi melalui kesunyian yang penuh doa dan penyerahan, demikian pula iman sejati lahir dari pengalaman yada saat hati benar-benar mengenal Allah karena bersentuhan dengan kasih dan kuasa-Nya. Dalam keramaian dunia dan kesibukan hidup kita, masihkah kita meluangkan waktu untuk merasakan kehadiran-Nya dalam sepi? Mari kita kembali merindukan dan mengusahakan perjumpaan dengan Allah sehingga kita menyadari besarnya Tuhan dan kecilnya kita dihadapan-Nya. Dalam dunia yang penuh kesombongan, hanya mereka yang mau merendahkan diri di hadapan Tuhan yang akan menikmati pengalaman kehadiran-Nya. (sTy)
