
Anselmus dari Laon (tahun 1050–1117) dikenal sebagai teolog dan pendidik besar asal Perancis yang mendirikan School of Laon, pusat pembelajaran Kitab Suci yang tersohor di zamannya. Ia menekuni tafsir Alkitab dengan disiplin tinggi, namun hidupnya sederhana dan menundukkan pengetahuannya kepada kehendak Tuhan. Anselmus tidak mengejar kemegahan akademik, melainkan mengarahkan semua kepintaran untuk memuliakan Allah, menjadikan syukur dan pengabdian sebagai inti setiap pelayanannya. Kesederhanaan dan ketundukannya mencerminkan bagaimana syukur yang melebur lahir dari hati yang tunduk, bukan dari kebanggaan diri.
Mazmur 111:1 mengatakan, ”Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati dalam lingkungan orang benar dan dalam jemaah. Ayat ini dimulai dengan kata: “Haleluya” yang merupakan suatu seruan universal saat memuji Allah yang berarti: “Pujilah TUHAN!”. Selanjutnya kata Haleluya diikuti dengan kalimat : “Aku mau bersyukur…” yang menandakan sebuah tindakan aktif mengangkat tangan dengan pengakuan, pujian, dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah. Syukur sejati tidak bergantung pada kelimpahan materi, melainkan pada hati yang menunduk di hadapan keagungan Tuhan. Mazmur ini menuntun kita untuk bersyukur bukan karena keadaan, tetapi karena keberadaan Allah sendiri, dan melakukannya dalam persekutuan umat yang benar.
Seperti Anselmus yang meleburkan kepandaiannya dalam kerendahan di hadapan Tuhan, kita pun dipanggil menjadikan setiap pencapaian sebagai nyala syukur, bukan menara kebanggaan karena kesadaran bahwa pencapaian itu tidak akan didapat kalau bukan karena Tuhan. Mari terus memohon Kristus menundukkan egosentris kita sehingga hanya nama-Nya saja yang ditinggikan melalui pencapaian kita. Rasa syukur sejati lahir ketika ke-aku-an melebur di hadapan kehadiran Allah.(sTy).
