
Cuthbert dari Lindisfarne dikenal sebagai biarawan dan uskup suci dari abad ketujuh. Ia awalnya hidup dalam kemudahan namun ia rela meninggalkan kenyamanan jabatan demi melayani jiwa-jiwa di pelosok Inggris Utara. Ketekunannya dalam pelayanan dan kasihnya kepada orang miskin menjadikannya dihormati bahkan setelah wafatnya. Dalam kesunyian biara maupun badai pelayanan, Cuthbert tetap berpegang teguh pada iman, menolak kemegahan dunia, dan menantikan perjumpaan dengan Tuhan yang setia kepada janji-Nya.
Dalam 2 Timotius 4:7-8 yang terkenal itu, Rasul Paulus menuliskan,”Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia menyediakan mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya berpura-pura, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Di ayat ini Rasul Paulus menyingkapkan tiga lambang iman: pertandingan, garis akhir, dan mahkota.
- Kata “mengakhiri” yang tertulis menggambarkan penyelesaian yang total, bukan sekedar berhenti karena lelah.
- Sedangkan frasa “memelihara iman” memiliki arti mengajak untuk mengawal warisan rohani dari tipu daya dan pencurian nilai rohani.
- Mahkota menjadi simbol pengesahan ilahi, bukan hiasan fana semata. Mahkota menjadi meterai pembenaran dari Hakim Yang Adil.
Iman yang tetap menyala hingga nafas terakhir menjadi karya kesetiaan yang sunyi: kemenangan yang tidak dipamerkan di panggung dunia, tetapi disaksikan dan dipuji di surga, mendatangkan jiwa damai bagi yang memilih kebenaran dan mewakili teladan Kristus yang menanggung salib tanpa mengharapkan pujian.
Mari kita setia mendaki jalan iman dengan ketekunan yang tidak menuntut sorak dunia, melainkan menantikan senyuman Allah yang menilai dengan keadilan kekal. Teruslah berjuang dengan gigih dalam kesunyian dan kerjakan panggilan dengan tekun dan setia. Mahkota surga hanya dikenakan di kepala yang tidak tunduk pada dunia, namun bagi yang hatinya tertuju pada Allah. (sTy)
