
Justinus Martir adalah seorang filsuf Yunani yang kemudian menjadi pengikut Kristus. Ia hidup pada abad kedua dan menjadi Kristen ketika Kekaisaran Romawi gencar menindas orang Kristen. Ia pernah mencari kebenaran melalui berbagai aliran filsafat namun ia hanya menemukan kepenuhan kebenaran dalam Kristus. Saat itu siapapun yang beriman kepada Kristus dianggap sebagai penjahat namun Justinus tetap gigih mengajar tentang kebenaran Injil di kota Roma. Ia tidak gentar menghadapi ancaman karena Injil dan bahkan ketika ia pada akhirnya dihukum mati pada tahun 165 M, ia tetap teguh mengakui Kristus sebagai kebenaran sejati.
Lukas 18:7 mengatakan,” Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?”. Dalam ayat ini, kata “membenarkan” memiliki arti “membela dengan penuh keadilan , mengangkat martabat yang diinjak”. Sungguh indah. Firman ini menyingkap sisi lembut sekaligus keteguhan hati Allah yang tidak sekadar menolong, tetapi juga memulihkan iman orang percaya yang seringkali diremehkan. Doa yang terus dinaikkan oleh mereka bukanlah tanda keputusasaan, melainkan gema hati yang menolak tunduk pada sunyi. Ketekunan doa bukan sekadar permintaan yang diulang melainkan pergumulan hati yang menolak menyerah pada waktu yang terasa lama. Saat langit tampak tak menjawab, justru di sanalah iman diuji menjadi emas murni di atas tungku kesetiaan. Keteguhan iman Justinus mencerminkan pesan Firman ini, bahwa iman yang tetap bertahan di bawah tekanan akan melihat pembelaan Allah pada waktunya. Hidup yang teguh berserah merupakan kemenangan rohani melawan keputusasaan yang mencoba memadamkan nyala iman.
Bila saat ini kita merasa kesulitan menghimpit hingga merasa begitu sesak, mari terus panjatkan doa dengan hati yang teguh. Jangan berhenti berdoa walau seakan doa bagaikan menembus ruang kosong yang tak segera mendapat jawaban. Teruslah berdoa dengan gigih karena Tuhan mendengar doa orang pilihan-Nya. Ingatlah bahwa
doa yang tidak berhenti merupakan nafas iman yang menolak mati. (sTy)
