
Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (1896–1963) adalah uskup pribumi pertama Indonesia yang dikenal dengan semboyan “100% Katolik, 100% Indonesia.” Dalam masa pendudukan Jepang dan Revolusi Kemerdekaan, ia tampil sebagai suara moral yang meneguhkan rakyat agar setia pada Republik dan bukan kepada penjajah. Romo Soegija menjembatani gereja, rakyat, dan pemerintah melalui teladan iman yang berpadu dengan cinta tanah air. Ia juga melindungi kaum lemah, mengulurkan tangan bagi korban perang, serta mendorong Gereja hadir dalam pendidikan dan pelayanan sosial. Atas jasa besarnya, Presiden Soekarno menobatkan Romo Soegija sebagai Pahlawan Nasional.
Firman Tuhan dalam Yeremia 23:29 mengatakan, “Bukankah firman-Ku seperti api, demikianlah firman TUHAN, dan seperti palu yang menghancurkan bukit-bukit batu?”
Api itu bukan sekadar memberi hangat, melainkan membakar kepalsuan, menghancurkan belenggu dosa, dan menyalakan nyala hidup yang baru. Palu itu bukan sekadar merobohkan, melainkan kuasa yang meruntuhkan tembok penindasan dan batu-batu kesombongan.
Mensyukuri kemerdekaan berarti membiarkan firman terus menyala dalam hati, agar kemerdekaan tidak berhenti pada kenangan sejarah, melainkan melanjutkan perjuangan mewujudkan kebenaran dan kasih bagi bangsa. Firman yang membakar bukan hanya mengubah pribadi, tetapi juga menyalakan terang di tengah masyarakat yang haus akan keadilan. Seperti Romo Soegija, iman yang menyatu dengan cinta tanah air menjadikan firman sebagai api perjuangan, membakar penindasan dan menghadirkan kemerdekaan sejati. Sebuah kalimat inspiratif mengatakan bahwa kemerdekaan sejati akan lahir dari hati yang dibakar oleh Firman Tuhan dan tangan yang berjuang dalam kasih. (sTy)