KESETIAAN SEJATI PENGIKUT KRISTUS

KESETIAAN SEJATI PENGIKUT KRISTUS

David du Plessis lahir di Afrika Selatan dan melayani sebagai pendeta dalam Gereja Apostolik sebelum pindah ke Amerika Serikat tahun 1948. Di sana, ia dikenal sebagai “Mr. Pentecost” karena setia bersaksi tentang karya Roh Kudus di dalam kegiatan-kegiatan lintas gereja. David menjadi penghubung gereja-gereja beraliran Pentakosta dengan World Council of Churches dan bahkan diundang sebagai pengamat dalam Konsili Vatikan II, yang berperan besar dalam melahirkan Charismatic Renewal. Meski  ditolak sebagian kalangan, pelayanan David du Plessis diakui dunia. David du Plessis meninggalkan sebuah warisan bahwa mengikuti Kristus menuntut keberanian melepaskan diri dari ‘tepuk tangan’ manusia menuju ketaatan yang sejati.

Tuhan Yesus menegaskan bahwa murid sejati bukan yang sekedar “anut grubyuk” (ikut-ikutan) saja  melainkan  mereka yang berani melepaskan kepentingan diri, ambisi, dan kelekatan dengan dunia dan berserah total kepada-Nya. Lukas 14:33 mengatakan, “Demikianlah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”  Melepaskan bukan berarti kehilangan melainkan menemukan makna terdalam hidup bagi Kristus. Menjadi murid Tuhan Yesus berarti melangkah dengan kesetiaan, bukan sekadar mengikuti trend. Kesetiaan mengikut Yesus akan teruji saat langkah menjadi berat ketika salib harus dipikul, namun di situlah lahir kebebasan, sukacita, dan kelimpahan sejati yang kekal.

Seperti David du Plessis yang berani melangkah dalam ketaatan, kita juga ditantang untuk beriman teguh, melepaskan gengsi, dan setia mengikuti Kristus dengan hati yang murni.  Kesetiaan bukan diukur dari banyaknya followers  melainkan dari keberanian menyerahkan seluruh hidup kepada Kristus.(sTy).

Renungan Lainnya