DILAYAKKAN UNTUK MENERIMA KASIH ILAHI

DILAYAKKAN UNTUK MENERIMA KASIH ILAHI

 

Seorang pria Siria bernama Ishak dari Niniwe, dikenal karena kesetiaan dan pengabdiannya kepada komunitasnya. Ia hidup pada abad pertama, berperan sebagai penasihat dan pemimpin rohani di kota Niniwe. Selama hidupnya, Ishak menghadapi bencana alam dan konflik sosial yang melanda wilayahnya. Ia tetap setia dalam doa dan pelayanan, membimbing orang-orang di sekitarnya untuk bertahan dan percaya kepada Allah di tengah kesulitan. Kepedulian dan keteguhannya membuat banyak generasi mengenang pengaruhnya yang menenangkan dan membangkitkan iman.

Lebih dari yang dilakukan Ishak, Ayub menegaskan keyakinannya pada Ayub 19:26 dengan menuliskan,  “Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah.”.  Ayub percaya bahwa meskipun tubuhnya hancur dan  kekuatan fisiknya hilang, namun mata rohaninya tetap berseru kepada Allah. Dalam bahasa aslinya, frase yang diterjemahkan sebagai “tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” menunjukkan makna “penglihatan rohani dan pengharapan kepada Allah tidak dibatasi oleh penderitaan, kekecewaan, atau kehancuran fisik”.  Luar biasa.  Ayub menegaskan keberanian iman yang teguh walalupun saat segala sesuatu di dunia ini rapuh dan hancur, Penebus yang hidup tetap hadir, meneguhkan dan memelihara jiwa. Kepercayaan ini mengarahkan kita untuk melihat Allah sebagai pusat pengharapan, bukan sekedar kondisi lahiriah atau hasil duniawi.

Bagaikan Ayub yang bertahan dalam penderitaan,  Ishak dari Niniwe yang setia memimpin di tengah penderitaan. Keduanya meneguhkan iman dalam kekosongan dan tetap percaya bahwa Allah hadir, bahkan ketika segala sesuatu di sekitar mereka hancur. 

Mari tetap berpengharapan kepada Allah walau kehidupan berlangsung tak seperti yang kita inginkan.  Tubuh fana kita rentan dengan sakit penyakit dan mental kita bahkan juga bisa lelah menjalani kerasnya dunia, namun percayalah bahwa Allah tak pernah meninggalkan umatNya berjuang sendirian.  Ada Allah dalam penderitaan yang sedang kita hadapi.  Mari tetap memandang Dia yang tak pernah pergi dari hidup kita dan teruslah melangkah dalam iman percaya.  Iman sejati tetap berdiri di hadapan Allah bahkan ketika tubuh dan dunia di sekitarnya runtuh. (sTy).

Renungan Lainnya