
Seorang pastur dan aktivis Hak Asasi Manusia asal Inggris yang bekerja di Afrika Selatan bernama Cosmas Desmond, berjuang menentang apartheid karena iman Kristus dan keberpihakan pada tertindas. Ia memilih hidup sederhana di tengah rakyat miskin. Melalui karyanya The Discarded People, ia menyingkap pengusiran paksa penduduk kulit hitam dari kota “putih” ke tanah terpencil bantustans atau wilayah yang dikhususkan untuk orang berkulit hitam , meski harus menjadi tahanan rumah. Pelayanannya tetap hadir dalam keberanian membela yang tertindas, merangkul yang terbuang, dan menyalurkan Injil secara nyata. Tak heran kalau ia dikenang sebagai wajah belas kasih Kristus.
Mazmur 103:8 mengatakan, “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” menyingkap rahasia terdalam gereja: detak jantungnya hanyalah belas kasih Allah. Kasih setia Allah tidak sekadar sifat, tetapi arus yang mengalir, menahan murka, melampaui batas kegagalan manusia. Belas kasih itu bukan konsep lembut, melainkan kekuatan yang mengubah sejarah, meruntuhkan tembok pemisah, dan menegakkan kehidupan di tengah kehancuran. Ketika manusia gagal setia, kasih Allah tetap berlimpah, menopang Gereja agar tidak mati rasa, melainkan terus hidup sebagai saluran pengampunan dan pengharapan.
Seperti Cosmas Desmond yang tahan menghadapi risiko penolakan, hilangnya kebebasan dan kenyamanan dalam membela kebenaran, hendaklah gereja memiliki daya tahan yang sama untuk memperjuangkan keberpihakan Allah kepada yang tertindas. Hal ini dikarenakan belas kasih Allah bukan sekadar sifat lembut, melainkan denyut hidup yang menyalakan kembali Gereja di tengah dunia yang retak. Mari terus berjuang bersama. (sTy).
