BELAS KASIH ALLAH ADALAH DETAK JANTUNG GEREJA :  KERAJAAN TAK TERGUNCANG

BELAS KASIH ALLAH ADALAH DETAK JANTUNG GEREJA :  KERAJAAN TAK TERGUNCANG

Pemimpin AEAM (Association of Evangelicals of Africa and Madagascar) yang bernama Byang Henry Kato (1936–1975) adalah seorang teolog injili asal Nigeria dikenal  sangat menjaga kemurnian Injil.  Ia menulis buku: Theological Pitfalls in Africa (Jebakan-Jebakan Teologis di Afrika). Meski Kato wafat dalam usia muda namun pelayanannya menyala dengan api Injil. Ia meneguhkan fondasi teologi injili yang berpijak kokoh pada Firman Tuhan dan menolak setiap bentuk sinkretisme yang merusak kemurnian iman. Melalui tulisannya, Kato berseru agar Afrika menemukan jati diri dalam Kristus, bukan dalam tradisi rapuh. Dan melalui kepemimpinannya di AEAM,  Kato menginspirasi Gereja Afrika berdiri teguh dalam kerajaan yang tak terguncangkan.

Ibrani 12:28 mengatakan, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”   Ayat ini menyingkapkan paradoks yaitu dunia yang terus berguncang dan kasih Allah yang membimbing kita untuk masuk pada kerajaan tak terguncangkan. Kata Yunani asaleutos berarti tidak bisa digeser, tak dapat digoyahkan. Gereja hanya hidup karena detak belas kasih Allah, bukan karena program atau kekuatan manusia. Belas kasih itu menjadi jantung Gereja, yang menyalurkan kehidupan, sekalipun tubuh dunia ini retak.

Saat syukur dinaikkan, ibadah bukan lagi rutinitas, melainkan respons pada kasih yang merengkuh dan menopang. Hanya dalam rengkuhan-Nya, setiap guncangan dunia kehilangan cengkeramannya.  Belas kasih Allah merupakan detak jantung yang membuat Gereja hidup di tengah guncangan dunia. (sTy).

Renungan Lainnya