Author: Christopherus

  • Samuel is not An Angel

    MALAIKAT. Dari Alkitab Edisi Studi saya mendapat informasi bahwa kata malaikat seakar dengan kata Ibrani yang berarti UTUSAN. Dalam Alkitab, malaikat membawa pesan dari Allah kepada manusia. Malaikat menyampaikan pesan atau memberi perintah secara  langsung (Kejadian  16:7-12; Bilangan 22:22-35; Lukas 1:11-20, 26-38), ataupun lewat mimpi (Kejadian 31:10-13; Matius 1:20-21). Malaikat sering hadir dalam penglihatan. Mereka mengarahkan orang kepada penglihatan dan menafsirkan maknanya (Zakharia 1:7-17, 5:5-11; Kisah Para Rasul 10:3-23; Wahyu 10:1-11).

    Namun, malaikat lebih dari sekadar pembawa pesan. Mereka melaksanakan kehendak Allah dengan bertindak sebagai wakil Allah. Mereka melindungi umat Allah (Keluaran 14:19, 23:23; Mazmur 34:7; Daniel 6:22) atau menghukumnya ketika mereka berdosa kepada Allah (1 Samuel 24:11-17). Malaikat juga menghukum musuh umat Allah atau menghukum kuasa jahat lain (Keluaran 12:23, 29:30; Yesaya 37:36; Matius 13:49-50; Wahyu 14:14-20, 20:1-3). Malaikat datang melayani Yesus sesudah diuji oleh iblis di gurun (Matius 4:11). Sesudah Yesus wafat di salib dan dikuburkan, malaikat melepaskan Yesus dari kubur (Matius 28:2).

    Malaikat sering digambarkan dalam karya seni sebagai makhluk bersayap dan berjubah panjang. Namun, dalam Alkitab mereka menampakkan diri dalam berbagai wujud. Beberapa malaikat dalam Alkitab mempunyai nama. Daniel menyebutkan Gabriel (Daniel 9:21), yang juga menampakkan diri kepada Maria (Lukas 1:26-28), dan Mikhael, salah satu malaikat pelindung yang terkuat (Daniel 10:13). Mungkin Iblis tadinya merupakan bagian dari dewan malaikat (Ayub 1:6; Zakharia 3:1). Dalam masa Perjanjian Baru, malaikat kian dikenal sebagai makhluk rohani yang menolong Allah berperang melawan iblis, roh-roh jahat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Samuel is not An Angel (Samuel Bukan Malaikat)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 12:1-25. Sahabat, hidup Samuel tidak sempurna. Dia manusia biasa seperti kita. Dia bukan malaikat. Seperti anak-anak Imam Eli yang jahat (1 Samuel 2:12-17, 29), anak-anak Samuel mengejar laba, menerima suap dan memutarbalikkan keadilan (1 Samuel 8:3).

    Berbeda dengan Eli yang ditolak Tuhan (1 Samuel 2:30-36), Samuel tetap hidup berkenan kepada Tuhan. Ia menjaga hidupnya bersih di hadapan Tuhan dan umat, menjadi teladan (Ayat 4), pendoa syafaat, dan setia mengajar umat (Ayat 23-24).

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini diawali dengan kesaksian umat atas kehidupan Samuel menjelang akhir masa pelayanannya, saat ia akan undur diri. Seumur hidupnya hingga saat itu Samuel terus hidup di bawah sorotan publik. Semua orang bisa melihat bagaimana Samuel menjalani hidup yang berintegritas.

    Walaupun Tuhan bisa memakai siapa saja, tetapi kehidupan Samuel yang bersih dan berintegritas memberikan keleluasaan baginya untuk menjadi pemimpin yang efektif bagi Tuhan. Kita menyaksikan bagaimana dengan singkat, gamblang, dan efektif, Samuel dapat menuturkan pengalaman hidup bangsa Israel dan menyodorkan kepada mereka kenyataan bahwa mereka telah berdosa kepada Tuhan. Tuhan pun menunjukkan kepada umat bahwa Ia berkenan kepada Samuel dengan memberikan tanda alam yang anomali (Ayat 18).

    Umat Israel masih memiliki kepekaan terhadap kebenaran firman Tuhan sehingga mereka mudah dinasihati oleh Samuel (Ayat 19). Tuhan juga berbelaskasihan kepada umat-Nya yang penuh kelemahan. Yang penting mereka sadar dosa, bertobat, dan mau menundukkan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Ayat 24). Samuel sendiri, walau secara formal sudah menyelesaikan pelayanannya, tetap peduli dan mendoakan mereka agar hidup sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan (Ayat 23).

    Sahabat, sebagaimana Samuel, diantara kita tidak ada yang sempurna. Kita manusia biasa, bukan malaikat. Banyak kelemahan kita yang bisa menjatuhkan kita atau merusak kesaksian kita akan Tuhan. Akan tetapi, anugerah dan penyertaan-Nya akan memampukan kita menjalani hidup berintegritas, sehingga kita pun dapat mengakhiri pelayanan kita dengan gemilang di hadapan Tuhan dan menjadi teladan bagi sesama. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Manusia tetaplah manusia. Sehebat bagaimanapun dia, ia tetaplah manusia yang punya kekurangan. Hanya Allahlah yang Empunya kesempurnaan. (pg).

  • Evidence of God’s Participation

    PENYERTAAN TUHAN. Selama kita menjalani hidup,   pasti tidak bisa lepas dari yang namanya pergumulan, musibah, kegagalan, kesulitan, dan sebagainya. Ketika hidup kita berjalan baik dan lancar, hampir pasti kita dapat merasakan arti penyertaan Tuhan. Namun, ketika keadaan sebaliknya,  kita mengalami pergumulan yang berat, mungkin dalam hati kita timbul tanda tanya besar:  “Mengapa Tuhan tidak menyertai saya???”

    Lalu apa arti penyertaan Tuhan bagi kita yang percaya kepada Yesus? Penyertaan Tuhan bukan berarti Tuhan menjaga kita sedemikian rupa sampai tidak ada satu pun masalah yang datang menghampiri kita. Ketika kita berjalan bersama dengan Yesus bukan berarti kita tidak akan mengalami kesulitan dan pergumulan hidup.

    Sesungguhnya arti penyertaan Tuhan adalah kita percaya Tuhan selalu ada bersama dengan kita, sekalipun harus melewati padang gurun, lautan, dan badai kehidupan. Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Karena itu, janganlah bersungut-sungut kalau kesulitan dan pergumulan datang dalam hidup. Janganlah menyalahkan orang lain apalagi menyalahkan Tuhan. Tetaplah teguh dan mantap berjalan bersama Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel 11:1-15 dengan topik: “The Evident of God’s Participation (Bukti Penyertaan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 11:1-15. Sahabat, menciptakan persatuan dan kesatuan bukanlah hal yang mudah. Ada saja kelompok yang ragu, memusuhi dan secara frontal melawan. Untuk itu, dibutuhkan ketekunan untuk menyatakan kebenaran. Waktulah yang akan membuktikan.

    Sahabat, ketika Saul dinobatkan menjadi raja, ada kelompok yang meragukan bahkan memusuhinya (1 Samuel 10:27). Namun, selalu ada kesempatan yang diberikan Allah untuk menunjukkan bukti bahwa tidak ada yang perlu diragukan. Saat itu, daerah Yabesh-Gilead dikepung oleh orang-orang Amon. Orang Amon mengancam penduduk Yabesh-Gilead: Mata kanan mereka akan dicungkil. Ancaman tersebut mendatangkan rasa malu kepada segenap orang Israel.

    Mendengar hal tersebut, Saul yang dikuasai oleh Roh Allah mengajak segenap orang Israel untuk bersama-sama melawan Nahas dan orang-orang Amon. Ia berhasil menggerakkan orang-orang Israel untuk bersatu mengalahkan musuh.

    Kemenangan Saul tersebut membuat Samuel bermaksud untuk membunuh orang-orang yang tidak suka akan penobatan Saul. Namun, Saul mencegah hal itu. la mengajak semua orang untuk fokus kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka. Akhirnya, Samuel bersama segenap umat Israel ke Gilgal untuk meneguhkan jabatan Saul sebagai raja. Mereka bersukaria atas semua hal itu.

    Sahabat, bukti itu perlu untuk mehapus  keraguan. Jika ada kesempatan untuk membuktikan kebenaran, pergunakanlah sebaik-baiknya kesempatan tersebut. Seperti yang dialami oleh Saul, kita sadar bahwa hanya karena kuasa dan kekuatan Allah saja kebenaran itu terbukti.

    Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan hati agar dipenuhi oleh Roh Allah. Roh Allah akan menolong kita memanfaatkan kesempatan untuk menyatakan bukti, memampukan kita mengasihi, dan melakukan kebaikan kepada orang yang tidak senang dan melawan kita. Kisah Saul telah menunjukkan hal tersebut (Ayat 13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang  penyertaan Tuhan selama ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan  selalu menyertai kita, memberikan penghiburan dan kekuatan untuk melewati semua pergumulan hidup. (pg).

  • SABAT YANG BERMANFAAT

    Saudaraku, pernahkah Yesus marah?  Mungkin kita hanya mengingat kemarahan Yesus saat membersihkan Bait Allah dari para penjual dan penukar uang yang menghisap rakyat yang akan menyampaikan korban.  Namun ternyata Injil Markus beberapa kali mencatat kemarahan dan sikap agresif Yesus.  Markus 3 :1-6 menceritakan kemarahan Yesus yang pertama.  Mari kita renungkan bersama.

    Ketentuan Sabat bagi orang Yahudi begitu mengikat dan dipatuhi.  Oleh karena Yesus pernah mengizinkan murid-muridNya memetik gandum pada hari Sabat (Markus 2 : 23-28), maka Yesus berada dalam pantauan khusus orang Farisi. Mereka menunggu sikap Yesus ketika ada seorang sakit yang meminta pertolongan. 

    Menurut Kitab Injil Menurut Orang-orang Ibrani, orang itu adalah seorang tukang batu yang tangan kanannya sakit karena suatu penyakit padahal tangan itu adalah sumber nafkahnya.  Karena Yesus melihat situasi Ini darurat dan berkaitan dengan kehidupan sebuah keluarga, maka Yesus mengambil TINDAKAN MENYEMBUHKAN.

    Itu bukan berarti Yesus sengaja melanggar Hukum Taurat karena ingin melawan para Farisi.  Sebagai seorang guru, Yesus tahu bahwa ada beberapa kondisi dimana Hukum Sabat tidak berlaku.  Misalnya:  menolong seorang perempuan yang melahirkan,  menolong seperlunya kepada orang sakit (yang tindakan pertolongannya tidak bisa ditunda), dan lain-lain. 

    Karena itu  Yesus menanyakan kepada orang Farisi apakah menolong orang yang sakit sebelah tangan itu adalah kasus khusus atau bukan.  Yesus memandang urgensi kasus orang itu untuk segera ditangani dengan mengambil dispensasi Hukum Sabat, namun orang Farisi tidak menangkap maksudnya.  Mereka fokus untuk mencari kesalahan Yesus.

    Sikap marah Yesus tertuju pada kekerasan hati mereka, yang diam-diam sudah menjatuhkan vonis kepada Yesus.  Mereka kaku dan lurus memegang Hukum Sabat sehingga mereka bagaikan juri yang menunggu dan melihat kesalahan Yesus dibandingkan dengan kebutuhan untuk menolong orang yang sangat membutuhkan pertolongan. 

    Mereka memilih diam karena ingin tahu apa yang akan Yesus lakukan untuk menentukan vonis mereka pada Yesus.  Mereka lebih peduli untuk menghakimi Yesus dibandingkan menolong orang yang mendesak butuh pertolongan itu.  Yesus sungguh marah dan geram karena sikap mereka (Markus 2 : 5).

    Ada banyak orang yang taat pada aturan termasuk doktrin namun pada akhirnya malah menjadi hakim bagi sesamanya.  Sebenarnya aturan dalam Firman Tuhan dituliskan agar manusia makin berperikemanusiaan dan doktrin bukan dibuat untuk memecah belah manusia. 

    Ketika seseorang mulai memakai aturan dan doktrin untuk menilai dan menjatuhkan vonis kepada orang lain dan tidak lagi mengedepankan sisi analisis masalah dan prioritas tindakan yang transformatif, maka bisa dikatakan bahwa orang itu mabuk agama.  Sungguh ironi kalau aturan yang seharusnya membuat pelaksananya menjadi penuh kasih seperti Allah, namun malah menjadi makin garang karena memakai aturan menjadi palu penentu vonis bagi sesamanya. 

    Mari belajar berhikmat dan menimba hikmat dari Sang Hikmat  senantiasa agar jebakan untuk meritualkan ajaran bisa diminimalisir.  Mari membuat Sabat menjadi manfaat bukan menjadi mudharat (yang menyakiti) bagi sesama. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • God is Working to Help Us

    EBEN-HAEZAR. Sahabat,  Eben-Haezer berasal dari bahasa Ibrani. Kata Eben artinya batu  dan kata Ezer artinya penolong.  Jadi secara harafiah Eben-Haezer dapat diartikan batu pertolongan.  Batu itu didirikan oleh Samuel bukan untuk mereka sembah, tapi sebagai batu peringatan kemenangan bangsa Israel atas bangsa Filistin dan juga untuk menegaskan bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber pertolongan dan kemenangan bagi mereka, bukan yang lain.  Tanpa Tuhan, bangsa Israel bukanlah siapa-siapa!

    Lalu apa  yang melatarbelakangi didirikannya batu peringatan tersebut?  Bangsa Israel telah  meninggalkan tabut Tuhan di Kiryat-Yearim selama  dua puluh tahun, padahal tabut itu merupakan  lambang penyertaan Tuhan.  Bukan hanya itu, mereka juga hidup menjauh dari Tuhan dan menyembah kepada Baal.  Akibatnya mereka mengalami kekalahan demi kekalahan dan menjadi bulan-bulanan bangsa lain, sungguh telah lenyap kemuliaan dari Israel.  (1 Samuel 4:21).  Bangsa Israel tidak lagi mengalami penyertaan Tuhan!  Melalui Samuel, bangsa Israel ditegur Tuhan dengan keras supaya mereka segera bertobat.  Untunglah mereka segera merespons teguran.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “God is  Working to Help Us (Tuhan Terus Bekerja Menolong Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 7:2-17 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, peletakan batu, Eben-Heazer merupakan sebuah momen untuk mengingat pertolongan Allah, dan sebagai ucapan syukur atas pertolongan Allah, juga untuk memuliakan Allah.

    Hal tersebut  sekaligus diharapkan menjadi momentum  bagi bangsa Israel untuk terus mengingat kebaikan Tuhan yang mereka  terima saat itu, sehingga mendorong mereka untuk terus memercayai Allah, yang hidup, yang dapat dipercayai dan diandalkan. Karena itulah merupakan momen yang pertama mereka merasakan kembali pertolongan Allah  setelah mereka bertobat.

    Sahabat, ungkapan: “Sampai di sini Tuhan telah menolong kita”, tidak berbicara tentang pertolongan Tuhan yang telah selesai, namun berbicara tentang:  Inilah pertolongan Tuhan, yang sudah dimulai dan akan berlanjut terus. 

    Apa yang  dilakukan Samuel seharusnya membantu kita untuk dapat memperhatikan “momen-momen” dalam hidup kita, saat-saat yang perlu kita ingat, saat Allah bekerja dengan dahsyat menolong kita.  

    Pengalaman hidup kita bercerita  bahwa  momen terbaik, yang pernah kita alami adalah ketika Tuhan  membuka  dosa kita dan membawa kita kepada pertobatan untuk menerima pengampunan-Nya.  Karena setiap teguran Tuhan, kita pahami sebagai bagian dari pembentukan Tuhan terhadap hidup kita.  Ada kelegaan yang luar biasa, ada rasa syukur yang tidak terhingga dan ada dorongan untuk menjadi orang yang lebih baik. Memercayai Firman-Nya dan ada kemauan yang kuat untuk melakukan Firman-Nya  setelah mengalami momen pemulihan.

    Itulah yang kita bayangkan juga terjadi pada bangsa Israel, ketika mereka mengalami kemenangan atas bangsa Filistin. Bukan sekadar kemenangan secara fisik (menang perang), tapi yang lebih penting mereka menang untuk memercayai Allah, dan untuk bersandar pada Allah, sekalipun ada kekuatan besar yang mengancam. 

    Sahabat, hidup kita sebagai komunitas orang percaya, perlu memiliki kepekaan untuk mengetahui momen-momen yang Tuhan berikan, untuk kita syukuri sebagai bagian dari pertolongan Tuhan dalam membentuk kita. Melihat setiap peristiwa dalam hidup kita, sebagai momen Tuhan membentuk kita, itu akan melahirkan rasa syukur dan perubahan hidup. 

    Karena itu, kita harus punya komitmen bahwa saat kita menikmati keberhasilan dalam pelayanan, dalam keluarga, dalam kesehatan,  dalam studi dan dalam pekerjaan,  maka ingatlah selalu bahwa Tuhan terus bekerja menolong kita. Eben-Haezer!!! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Eben-Haezer?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang percaya kita diingatkan untuk tidak melupakan pertolongan Tuhan dalam hidup kita dan senantiasa hidup dalam ketaatan. (pg).

  • See Clearly and Be Wise

    TEOKRASI. Sahabat, Teokrasi berasal dari bahasa Yunani Theo yang berarti Tuhan dan cratein yang berarti pemerintahan. Secara sederhana, Teokrasi dapat diartikan sebagai pemerintahan oleh Tuhan. Secara epistemologi, Teokrasi adalah suatu sistem  pemerintahan yang dijalankan oleh seseorang dengan mengatasnamakan Tuhan.

    Dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa Teokrasi merupakan sebuah sistem politik yang pada praktik menjalankan pemerintahannya berpegang pada kedaulatan Tuhan. Secara fundamental, Teokrasi memang dititikberatkan pada wakil Tuhan dan pemimpin umat.

    Namun pada zaman sekarang, Teokrasi yang murni sudah sangat jarang, atau bahkan tidak ada negara yang menerapkan sistem politik tersebut. Negara Kota Vatikan dan Republik Islam Iran memiliki sistem Teokrasi dengan jenis Teokrasinya masing-masing.

    Dalam Teokrasi, kedaulatan tertinggi bersifat mutlak dan suci karena kedaulatan tertinggi berada di tangan Tuhan dan pemimpinnya mengklaim dirinya mendapatkan kekuasaan dari Tuhan.

    Teokrasi muncul pertama kali di daratan Eropa pada abad pertengahan yang dipelopori oleh seorang Kaisar Romawi bernama Augustinus. Pada akhir abad keenam, Gereja Romawi mulai mengorganisasikan institusi kepausannya di bawah komando Paus Gregory I yang dikenal sebagai “the Great”. Dialah yang membangun awal  mula birokrasi kepausan (Papacy’s Power).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “See Clearly and Be Wise (Melihat Secara Jernih dan Jadilah Bijak)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 8:1-22 dengan penekanan pada ayat 7.  Sahabat, tetap melihat dengan mata jernih itu gampang-gampang susah. Gampang, ketika kita punya niat dan konsistensi. Susah, ketika niat dan upaya kita untuk konsisten digoyahkan oleh rintangan yang kita hadapi.

    Sahabat, seiring perjalanan waktu, Samuel menjadi tua. Ia digantikan oleh kedua anaknya, yakni Yoel dan Abia. Mereka menjadi hakim di Bersyeba. Namun sayang, keduanya tidak hidup seperti ayah mereka. Keduanya lebih senang mengejar laba, menerima suap, dan memutarbalikkan keadilan. Terhadap hal tersebut, bangsa Israel menjadi sangat kecewa. Oleh sebab itu, berkumpullah tua-tua Israel menghadap Samuel. Mereka meminta Samuel mengangkat raja atas mereka (Ayat 5).

    Permintaan tersebut sangat mengesalkan hati Samuel (Ayat 6). Ia kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta petunjuk. Setelah itu, Samuel memberi pertimbangan-pertimbangan kepada bangsa Israel seandainya mereka mempunyai seorang raja (Ayat 10-18). Situasi akan sangat berbeda dibanding jika mereka tetap hanya mempunyai hakim. Namun, mereka tetap mendesak Samuel untuk mengangkat raja atas mereka. Mereka menjadi TIDAK BISA BERPIKIR JERNIH  LAGI hanya karena persoalan kelakukan buruk hakim baru pengganti Samuel.

    Mestinya, mereka berpikir tentang MENGGANTI ORANGNYA,  bukan mengganti STRUKTUR atau SISTEM PEMERINTAHAN yang ada. Sistem yang sebenarnya sudah baik karena dalam sistem tersebut tidak ada orang yang dituankan dan tidak ada orang yang dijadikan hamba. Semua sama di hadapan Allah. Kedudukan hakim hanyalah wakil Allah untuk membimbing umat hidup dalam jalan-Nya.

    Sahabat, belajar dari kisah tersebut, marilah kita berhati-hati terhadap persoalan yang sedang kita hadapi. Kalut dan kusutnya persoalan dapat mengaburkan jernihnya kebenaran. Jangan sampai persoalan tersebut membuat kita gelap mata dan tidak bisa melihat segala sesuatunya secara jernih! Tetaplah tenang, lihatlah segala sesuatu secara jernih dan jadilah bijaksana! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jaminan hidup sejati bukan datang dari manusia, tapi datang dari Tuhan. (pg).