Author: Christopherus

  • Break the Worry Shackles

    KEKHAWATIRAN DAN KECEMASAN. Sahabat, ada cukup banyak orang sering menggunakan istilah kekhawatiran untuk menunjuk kondisi kecemasan dan begitu juga sebaliknya. Kekhawatiran sering dianggap sinonim dari  kecemasan. Namun, dari beberapa literatur yang saya baca, sesungguhnya kekhawatiran  dan kecemasan itu tidak sama, selain itu kekahwatiran dan kecemasan   memberikan dampak yang berbeda terhadap emosi dan kesehatan psikologis kita.

    Kekhawatiran  berbicara tentang segi kognitif atau berpikir tentang masalah atau ketakutan yang menyebabkan rasa takut itu. Khawatir adalah berpikir tentang hal-hal di depan yang menciptakan perasaan cemas. Khawatir merupakan proses berpikir. Berpikir hal-hal yang membangunkan ketakutan dan akan mencuri sukacita kita.

    Sedangkan kecemasan merupakan antisipasi terhadap ancaman-ancaman ke depan ditandai dengan kegelisahan mendalam. Misalnya, apakah kemarau kering di Indonesia benar-benar akan berakhir pada awal November 2023? Ketika kecemasan membelenggu kita,  dia akan mencuri damai kita.

    Kekhawatiran memicu pengidapnya untuk menyelesaikan masalah, sedangkan kecemasan tidak. Kekhawatiran dapat membuat kita berpikir untuk mencari solusi dan strategi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan kecemasan, ibarat roda hamster yang hanya membuat kita berputar-putar tanpa membawa ke solusi yang produktif. Hal ini karena sifat kecemasan yang meluas membuat seseorang yang mengalaminya menjadi lemah dan tidak bisa mencari penyelesaian masalah.

    Rasa khawatir menyebabkan tekanan emosional ringan, sedangkan kecemasan memberi tekanan emosional yang parah. Kecemasan merupakan kondisi psikologis yang jauh lebih kuat daripada kekhawatiran. Itulah sebabnya kecemasan dapat lebih mengganggu dan menimbulkan masalah pada pengidapnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Break the Worry Shackles (Patahkan Belenggu Kekhawatiran)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 27:1-12 dengan penekanan pada ayat 1-2. Sahabat, Alkitab mencatat bahwa sejak Daud mampu mengalahkan Goliat timbullah kebencian dan iri hati dalam diri Saul terhadapnya.  Berbagai upaya dilakukan Saul untuk dapat menghabisi nyawa Daud, tapi selalu berujung pada kegagalan. 

    Sebaliknya Daud punya kesempatan sebanyak 2 kali untuk membunuh Saul, tapi tak dilakukannya,  sehingga  berkatalah Saul kepada Daud,  “Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa jua pun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya.” Lalu pergilah Daud meneruskan perjalanannya dan pulanglah Saul ke tempatnya.  (1 Samuel 26:25).

    Daud sangat percaya bahwa Tuhan tak pernah melepaskan tangan-Nya untuk selalu menopang hidupnya, dan Ia berkuasa untuk melepaskannya dari tangan Saul.  Namun ayat 1  mengindikasikan bahwa Daud sedang mengalami keruntuhan iman sehingga kekhawatiran membayangi langkahnya.  Ia pun memutuskan untuk lari ke negeri orang Filistin. 

    Sahabat, Daud terus membayangkan hal-hal yang buruk itu akan terjadi.  Akibatnya Daud lupa akan kedahsyatan kuasa Tuhan yang berulangkali sanggup melepaskannya dari rancangan-rancangan jahat manusia dan juga melepaskannya dari binatang buas, saat ia masih menggembalakan kambing domba. 

    Demikian pula dalam hidup ini, seringkali kita mengkhawatirkan sesuatu yang buruk terjadi.  Kita membiarkan hati dan pikiran kita dibelenggu oleh kekhawatiran yang sedemikian menyiksa.

    Ahli kejiwaan meneliti dan mendeskripsikan tetang kekhawatiran:  40% kekhawatiran manusia adalah mengenai hal-hal yang tidak terjadi, 30% mengenai hal yang sudah terjadi, 12% mengenai kesehatan, dan 10% mengenai keresahan sehari-hari.  Jadi 92% kekhawatiran kita sesungguhnya tidak berdasar pada alasan yang kuat. 

    Sahabat, kekhawatiran itu ibarat kursi goyang yang tidak akan membawa kita ke mana-mana dan tidak akan mengubah keadaan kita.  Belenggu kekhawatiran itulah yang membawa Daud kehilangan akal sehatnya dengan mencari pertolongan ke negeri orang Filistin. Karena itu kita perlu mematahkan belenggu kekhawatiran yang melilit kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan Apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang sahabat pahami tentang kekhawatiran?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari belajar untuk tidak mengulang kesalahan Daud. Kita belajar memercayakan diri sepenuhnya  kepada
    pemeliharaan Tuhan. (pg).

  • Vengeance is God’s Right

    BALAS DENDAM. Sahabat, dendam yang membara sulit dipadamkan. Dendam itu akan terus-menerus menuntut korban. Pada sekitar tahun 1970-an gedung-gedung bioskop di Indonesia didominasi oleh film-film Kung Fu (Silat) yang diproduksi oleh perusahan perfilman dari Hongkong. Pada umumnya film-film pada waktu itu banyak bertemakan balas dendam. Bahkan dikisahkan, acapkali pembalasan yang dilakukan melebihi hal yang telah dialami sebelumnya.

    Balas dendam terjadi sejak awal kehidupan manusia, dan terus berlanjut sampai saat ini dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda. Ada kecenderungan orang tidak akan merasa puas kalau belum melakukan pembalasan. Bahkan, orang seakan mendapat kepuasan ketika pihak lawan lebih menderita. Mungkin itulah juga penyebab terjadinya main hakim sendiri.

    Sesungguhnya pembalasan bukanlah hak kita, melainkan haknya Tuhan. Bagi orang yang menaruh dendam atau niat pembalasan terhadap orang lain, di dalam hatinya tidak ada hal-hal yang positif, melainkan hanya rancangan-rancangan jahat. 

    Sahabat, persoalan balas dendam, tidak  diajarkan dalam Alkitab. Pengalaman hidup saya bercerita bahwa sejak saya masih mengikuti Sekolah Minggu, kemudian di Komisi Pemuda, dan kini sudah termasuk kelompok senior, gereja tempat saya berjemaat, justru mengajarkan supaya kita mengasihi musuh, mendoakan musuh, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan sangat menekankan cinta damai dan pantang kekerasan.  

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Vengeance is God’s Right (Pembalasan itu Hak Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 24:2-23 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, berbagai upaya dilakukan Saul untuk menghancurkan, dan bahkan membunuh Daud, karena itu ia terus mengejar Daud ke mana pun ia pergi.  Hidup Daud menjadi tidak tenang karena Saul.  Ketika mendengar kabar bahwa Daud berada di padang gurun En-Gedi, segeralah Saul mengajak tiga ribu orang pilihannya untuk mencari keberadaan Daud.

    Setelah sampai di tujuan, Saul masuk ke gua hendak membuang hajat, sedangkan Daud dan anak buahnya duduk tepat di belakang gua itu.  Berkatalah orang-orang itu kepada Daud:  “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.”  (Ayat 5).  Itu adalah kesempatan emas bagi Daud untuk melampiaskan dendamnya atas kejahatan yang Saul perbuat.  Tapi apa yang diperbuat Daud? Daud bangun, lalu memotong punca (ujung) jubah Saul dengan diam-diam Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul  (Ayat 5b-6).

    Sahabat, sekalipun beroleh kesempatan membalaskan dendamnya, Daud tidak melakukannya.  Sebaliknya ia mengizinkan hatinya dikuasai oleh kasih Tuhan.  Daud melarang anak buahnya untuk menyerang Saul, malah kemudian melepaskan dia pergi:  “TUHAN kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau; seperti peribahasa orang tua-tua mengatakan: Dari orang fasik timbul kefasikan. Tetapi tanganku tidak akan memukul engkau.”  (Ayat 13-14). 

    Ribuan tahun kemudian,  “Anak Daud”, yaitu Kristus, juga mengambil keputusan yang sama.  Sekalipun memiliki kuasa, Kristus tidak menggunakan kuasa itu sehingga membiarkan dirinya ditangkap, disalib, dan dipermalukan di atas kayu salib itu demi menggenapi rencana Bapa untuk keselamatan manusia.  Anak Daud berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  (Lukas 23:34).Kristus justru memohonkan pengampunan atas perbuatan jahat mereka.

    Sahabat, sebagai orang percayakita  dituntut untuk meneladani Kristus:  Kita tidak boleh melakukan pembalasan terhadap orang yang berbuat jahat, melainkan mengasihi dan mengampuni! Pembalasan itu hak Tuhan.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hatimu: Dalam relasi dengan sesama, terutama mereka yang menimbulkan ketidaknyamanan bagi kita, jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh sikap mereka, sehingga kita tak dapat menyatakan kasih. (pg).