Author: Christopherus

  • Strengthen the Belief to God

    MENGUATKAN KEPERCAYAAN. Dalam sebuah persekutuan Komisi Perempuan, seorang ibu berbagi, “Anak kami lahir autis, suami tidak bisa menerima. Ia menyalahkan saya. Katanya, saya tidak bisa menjaga diri selama masa kehamilan. Sejak itu sikapnya berubah, kata-katanya sering kasar,  pedas dan menyakitkan, bahkan tidak jarang main pukul. Lebih-lebih ketika ia terkena PHK. Ia menganggap saya ini biang kesialan hidupnya. Saya benar-benar habis akal. Mengurus anak yang autis, menghadapi suami yang ‘gila’, belum lagi harus mencari nafkah.”

    Sahabat, masih ingat dengan pepatah lama: “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Pepatah itu menggambarkan keadaan Ibu di atas.   Mungkin apa yang menimpa Ibu tersebut juga pernah kita rasakan, atau malahan sedang kita alami.  Orang-orang terdekat, pasangan hidup, teman, sahabat, dan kerabat yang kita harapkan dapat mendampingi, menolong, menguatkan dan meneguhkan, justru ikut memojokan kita, bahkan menambah keruwetan dan mendatangkan masalah baru. Dalam keadaan yang seperti itu, sebagai orang percaya, hendaknya kita tidak cepat putus asa, stress, dan gampang menyerah.  Mari kita belajar untuk menguatkan kepercayaan kita kepada Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Strengthen the Belief to God (Menguatkan Kepercayaan Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 30:1-31 dengan penekanan pada ayat 4-6. Sahabat, musibah tak terduga bukanlah hal yang mudah untuk diatasi. Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Daud ketika ia kembali ke Ziklag. Ia merasakan kesedihan yang mendalam karena  Ziklag telah habis dibakar dan dikalahkan. Bahkan istri dan  anak  Daud, serta orang-orang Israel yang ikut dengannya ditawan oleh orang Amalek. Belum lagi, ia hendak dilempari batu oleh rakyat Ziklag.

    Daud merasakan kesedihan dan kegalauan. Namun, gejolak perasaan itu justru menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan (Ayat 7). Ia terus membangun kepercayaan itu dengan tetap bertanya kepada Tuhan terkait langkah selanjutnya untuk keluar dari permasalahan-Nya. Tuhan pun akhirnya memberikan instruksi kepada Daud. Tuhan bahkan menganugerahkan seorang  Mesir untuk membantunya menemukan orang Amalek (Ayat 11-16).

    Sahabat, akhirnya, Daud pun berhasil mengalahkan orang Amalek. Ia  membebaskan para tawanan dari tangan orang Amalek. Ayat 19 mengatakan tidak ada satu pun, baik orang tawanan maupun barang jarahan orang Amalek yang hilang. Akhirnya, Daud pun berhasil menemui kembali istri dan anaknya. Sementara semua barang jarahan diberikan kepada para tua-tua di Yehuda (Ayat 26-31).

    Semua kejadian ini menunjukkan bahwa Tuhan selalu menjawab kebutuhan Daud. Waktu, kekuatan, dan orang-orang yang Tuhan sediakan baginya. Daud tidak pernah meragukan Allah walau dalam kedukaan. Ia justru semakin percaya pada rancangan Allah bagi hidupnya. Di sanalah kita melihat kepercayaan membuatnya mendapatkan segala yang ia butuhkan.

    Sahabat, karena itu mari kita juga terus-menerus memperkuat kepercayaan kepada Tuhan. Ketika masalah datang silih berganti, hendaknya iman kita jangan melemah. Sebaliknya, kita justru diajak untuk kian teguh percaya bahwa Tuhan akan menyediakan kebutuhan dalam menjalani pergumulan. Biarlah anugerah Tuhan menolong kita agar kita tetap percaya kepada-Nya.

    Yakinlah, peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah sebuah kebetulan, sesungguhnya ada rencana Tuhan di balik itu semua. Rasul Paulus meyakinkan kita bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). 

    Sahabat, ketika masalah berat menimpa kita, jangan panik!  Kuatkan hati untuk datang kepada Tuhan, karena dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.  (Yesaya 30:15).  Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan dan mau mendengarkan Tuhan sehingga ia dapat mengerti apa kehendak-Nya.  Daud tidak lagi lemah, semangatnya bangkit kembali.  Semangat menjadikan kita kuat, dan siap mengatasi setiap masalah yang ada.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Seberat apa pun masalah kita, jangan putus asa, tetapi kuatkan kepercayaan kita kepada Tuhan karena pertolongan-Nya selalu tepat pada waktunya! (pg).

  • The Ambition Controls

    AMBISI. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan: “Dia, orangnya sangat ambisi.” Apa itu ambisi? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambisi merupakan keinginan yang besar untuk mencapai sesuatu dalam hidup. Hal itu melibatkan motivasi yang kuat dan keteguhan dalam menetapkan tujuan yang tinggi dan berusaha keras untuk meraihnya. Ambisi bisa mendorong individu untuk terus berkembang, mencapai kesuksesan, dan memperoleh kepuasan pribadi.

    Penting untuk membedakan antara ambisi yang positif dan negatif. Ambisi yang positif dapat menjadi sumber motivasi yang kuat dalam hidup seseorang. Ketika seseorang memiliki ambisi yang jelas dan positif, mereka cenderung menetapkan tujuan yang terukur dan merencanakan langkah-langkah untuk mencapainya. Ambisi ini membantu seseorang untuk fokus pada diri sendiri, meningkatkan keterampilan, dan mengatasi rintangan yang mungkin muncul dalam perjalanan menuju tujuan tersebut.

    Sebaliknya, jika ambisi tidak diarahkan dengan baik, bisa berakibat negatif. Ambisi yang berlebihan dan tidak seimbang dapat menyebabkan seseorang menjadi rakus dan terobsesi dengan pencapaian diri, tanpa memerhatikan dampaknya pada lingkungan sekitar. Ambisi yang tidak bertanggung jawab dapat menyebabkan seseorang menggunakan cara-cara yang tidak etis atau merugikan orang lain untuk mencapai tujuan mereka.

    Ambisi  yang besar bila tidak dikendalikan dengan baik akan membuat seseorang menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Tetapi ambisi yang terkendali akan membuat seseorang maju, bila sabar menunggu waktunya Tuhan dan cara yang dipakai pun dengan cara Tuhan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “The Ambition Controls (Mengendalikan Ambisi)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 4:1-12 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Rekhab dan Baana yang bertugas sebagai kepala gerombolan, dengan matinya Abner panglima raja Saul, mereka melihat suatu kesempatan besar untuk mereka mendapat imbalan bahkan kekuasaan bila mereka menyerahkan Isyboset kepada Daud.

    Isyboset adalah anak raja Saul yang menggantikan Saul setelah Saul mati. Dalam benak Rekhab dan Baana, Isyboset merupakan saingan bahkan penghalang bagi Daud untuk menjadi raja Israel. Oleh karena itu ketika terbuka kesempatan, mereka membunuh Isyboset dan kepalanya dibawa ke hadapan Daud.

    Sahabat, namun mereka sama sekali tidak memperhitungkan kesetiaan Daud kepada raja Saul dan keturunannya. Bagi Daud, Saul dan keluarganya bukanlah musuh, meskipun Isyboset bukanlah orang yang diurapi Tuhan untuk menjadi raja. Maka tindakan Rekhab dan Baana tidak dapat diterima Daud.

    Maka bukannya hadiah atau imbalan yang Rekhab dan Baana terima dari Daud, tetapi kematianlah yang mereka terima. Daud marah dengan perbuatan mereka yang telah membunuh Isyboset, anak raja Saul.

    Walau mengetahui ketetapan Allah bagi hidupnya, Daud tidak mau melangkahi Allah untuk mewujudkan ketetapan itu. Daud selalu memberi kesempatan Allah bertindak mewujudkan kehendak-Nya berdasarkan cara dan waktu-Nya sendiri, sehingga tak ada cara-cara kotor yang pernah dia setujui.

    Sahabat, kiranya hal tersebut menjadi teladan bagi kita. Bila Tuhan memang menghendaki kita untuk menjadi sesuatu, niscaya Dia sendiri yang akan membuka jalan itu. Karena itu kendalikan ambisi, jangan sampai ambisi mengendalikan kita. Jangan terlalu berambisi sampai membuat kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ambisi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Biarlah waktunya Tuhan yang digenapi dan biarlah Tuhan sendiri yang membuka jalan bagi kita.(pg).

  • Unpredictable God’s Working Way

    PERANG. Dari beberapa sumber saya mendapat informasi bahwa pada tanggal 24 Februari 2022, Rusia melancarkan operasi militer ke Ukraina, salah satu negara tetangganya di sebelah barat daya. Operasi tersebut menandai peristiwa penting dalam perang Rusia-Ukraina yang dimulai pada tahun 2014. Invasi tersebut  juga menyebabkan sepertiga penduduk Ukraina untuk berpindah dan lainnya dari 7 juta orang Ukraina meninggalkan negaranya, yang memicu krisis pengungsi Eropa yang paling cepat sejak Perang Dunia II.

    Ketegangan dan perang Rusia dengan Ukraina belum juga selesai, tiba-tiba muncullah perang Israel dengan Hamas. Sekitar dua minggu berlalu sejak kelompok militan Palestina Hamas melancarkan serangannya terhadap Israel. Perang pecah saat kelompok Hamas yang menguasai Gaza menyerang konser yang diadakan Israel di perbatasan Gaza-Israel pada Sabtu 7 Oktober 2023. Israel pun membalas dengan mendeklarasikan perang. Menurut pihak berwenang Palestina, lebih dari 4.200 orang telah terbunuh di Gaza dan lebih dari 13.000 orang terluka sejak perang Israel-Hamas dimulai.

    Sahabat, sejarah mencatat bahwa perang itu membuat manusia menderita dan sengsara. Perang itu membinasakan ribuan manusia. Perang itu meluluh lantakan apa-apa yang telah dibangun ratusan tahun lamanya.Perang itu menyebabkan jutaan manusia pindah dari tempat tinggalnya.

    Kita sebagai orang percaya meyakini bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, termasuk perang. Maka marilah kita berdoa, minta belas kasihan Allah agar Allah berkenan turun tangan untuk mendamaikan mereka yang sedang berperang dan bertikai. Cara kerja Allah itu luar biasa. Cara kerja Allah itu tak terduga. Dia dapat memakai siapa saja untuk menjadi juru damai-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Unpredictable God’s Working Way  (Cara Kerja Allah Tidak Terduga)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 3:6-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, dalam hidup ini, di tempat kita bekerja atau di satu organisasi, kita tentu pernah bertemu orang yang tidak menyukai atau bahkan membenci kita. Ia mungkin  selalu mencari cara untuk menjatuhkan kita. Pada suatu hari karena suatu kejadian atau peristiwa, orang tersebut berbalik menjadi pendukung dan pembela kita. Sesungguhnya peristiwa tersebut benar-benar merupakan campur tangan Allah! 

    Abner adalah panglima tentara Saul. Selain berpengaruh, Abner juga sangat setia. Setelah kematian tuannya, ia tetap berpihak kepada keluarga Saul. Keberadaan Abner secara tidak langsung menjadi ancaman bagi Daud. Mengapa? Karena Abner dapat membantu Isyboset, anak Saul lainnya, untuk berperang melawan Daud. Siapa sangka, hari itu Abner mengirim utusan kepada Daud dengan pesan: “… aku akan membantu engkau untuk membawa seluruh orang Israel memihak kepadamu” (Ayat 12). Peristiwa tersebut tidak lain karena Isyboset, tanpa memeriksa terlebih dahulu kebenaran perkaranya, menuding Abner menghampiri Rizpa, gundik ayahnya (Ayat 7). Bagi Isyboset, peristiwa itu dapat disebut kemalangan karena kehilangan panglima yang setia. Namun, bagi Daud, dukungan Abner jelas merupakan keuntungan yang tidak terduga. 

    Sahabat, satu hal yang tidak terjangkau oleh logika manusia adalah cara kerja Allah. Karena itu, jangan ragu untuk berdoa memohon pertolongan-Nya. Melalui doa, kita dapat menyerahkan segala sesuatu, termasuk hubungan kita dengan sesama. Lihatlah, Allah sanggup bekerja dengan cara yang sungguh tidak terduga! Cara kerja Allah tidak terduga.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pehami tentang perang?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah bekerja untuk mendamaikan dan memulihkan hubungan, bukan memisahkan dan mencerai beraikannya. (pg).

  • True Friend

    PENGANTAR KITAB 2 SAMUEL. Sahabat, dari beberapa literatur saya mendapat informasi bahwa Kitab 2 Samuel merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kitab-kitab sejarah pada Perjanjian Lama di Alkitab Kristen.   Penulisnya tidak kenal. Temanya tentang pemerintahan Daud. Tanggal penulisan pada abad ke-10 SM.

    Jikalau 1 Samuel meliputi sejarah selama hampir satu abad, dari kelahiran Samuel hingga kematian Saul (sekitar tahun 1105-1010 SM), maka 2 Samuel hanya mencatat pemerintahan Daud, suatu masa yang lamanya 40 tahun (sekitar 1010-970 SM).

    Kitab 2 Samuel adalah sambungan dari Kitab 1 Samuel. Kitab ini memuat sejarah pemerintahan Raja Daud, mula-mula atas Yudea (daerah selatan; 2 Samuel 1–4), kemudian atas seluruh negeri termasuk daerah Israel atau utara (2 Samuel 5–24).

    Dalam kitab ini diceritakan dengan jelas dan menarik bagaimana Daud berusaha memperluas dan mengukuhkan kedudukannya. Ia harus berperang melawan musuh-musuhnya, baik di dalam maupun di luar negeri. Daud digambarkan sebagai orang yang sangat beriman, taat dan setia kepada Allah, juga sebagai orang yang mampu memperoleh kesetiaan rakyatnya..

    Tetapi ia digambarkan juga sebagai orang yang dapat bertindak kejam, dan yang tidak segan melakukan dosa-dosa besar semata-mata untuk memenuhi keinginannya dan cita-citanya. Tetapi ketika ia dihadapkan kepada dosa-dosanya oleh Natan, nabi Allah, Daud mengakui dosa-dosanya itu dan dengan rela menerima hukuman dari Allah.

    Kitab ini secara mendalam mengilustrasikan dari kehidupan pribadi dan pemerintahan Daud syarat-syarat perjanjian sebagaimana dikemukakan Musa dalam kitab Ulangan: Ketaatan pada perjanjian menghasilkan berkat-berkat Allah; pengabaian hukum Allah mengakibatkan kutukan dan hukuman (Ulangan  27:1–30:20).

    Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “True Friend (Sahabat Sejati)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Samuel 1:17-27 dengan penekanan pada ayat 26. Sahabat, bagaimana rasanya jika kita tidak memiliki sahabat selama hidup di dunia ini?  Pasti akan terasa hampa dan kesepian, tidak ada teman yang memerhatikan dan peduli dengan keberadaan kita.  Bahkan ada kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang paling malang di dunia adalah orang yang tidak memiliki sahabat.

    Daud sangat berbahagia karena ia memiliki seorang sahabat sejati bernama Yonatan.  Setelah Yonatan gugur dalam pertempuran, Daud benar-benar sangat kehilangan dia.  Inilah ungkapan isi hati Daud terhadap Yonatan,  “Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib daripada cinta perempuan.”  (Ayat 26).

    Alkitab juga mencatat betapa karibnya persahabatan keduanya:  “Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.”  (1 Samuel 18:3).

    Yonatan adalah contoh sahabat sejati.  Darinya kita dapat belajar tentang kualitas seorang sahabat.  Yonatan mengambil langkah yang sangat berani dengan menjadikan Daud sebagai sahabatnya, padahal ayahnya (Saul), sangat membenci Daud. 

    Karena kekaribannya dengan Daud, Yonatan juga harus mengalami perlakuan yang tidak baik dari ayahnya.  Pada suatu hari raja Saul mengungkapkan amarahnya kepada Yonatan,  “Anak sundal yang kurang ajar!  Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu?  Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh.  Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati.”  (1 Samuel 20:30-31). 

    Bahkan Saul juga melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya (1 Samuel 20:33).  Ketika tahu bahwa ayahnya berencana untuk membunuh Daud, Yonatan pun segera pergi ke tempat persembunyian Daud dan memberitahukan rencana jahat ayahnya itu.  Yonatan memang tidak berbuat apa-apa untuk mengurangi kebencian ayahnya terhadap Daud, tetapi ia dapat berbuat sesuatu untuk menyatakan kesetiaannya sebagai seorang sahabat Daud.  Inilah arti sahabat, tetap setia dan mengasihi di segala keadaan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sahabat yang sejati akan selalu ada dan menolong tepat waktu. (pg).

  • Authority Blinds Many People

    KEKUASAAN. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)  disebutkan jika kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk menguasai individu atau kelompok lainnya yang didasarkan pada wibawa, wewenang, kharisma atau kekuatan fisik.

    Sedangkan menurut Miriam Budiardjo dalam buku Pengantar Ilmu Politik (2015), kekuasaan merupakan kemampuan individu atau sekelompok orang untuk memengaruhi perilaku individu atau kelompok lainnya sesuai dengan yang diinginkan.

    Dewasa ini, berbicara kekuasaan memang tak hanya terdapat pada satu sektor saja, tetapi terdapat pada banyak sektor, seperti sektor politik, sektor ekonomi, sektor suatu lingkungan, dan lain-lain. Kekuasaan itu secara umum diartikan sebagai sebuah kewenangan yang sudah dimiliki oleh individu atau kelompok untuk menjalankan sesuatu, baik yang bersifat wajib atau hanya hak saja. Oleh sebab itu, kekuasaan hanya sebagai pengertian atau pemahaman saja, jika tidak diterapkan atau dijalankan.

    Kekuasaan yang telah dijalani oleh individu atau kelompok bisa ada yang memiliki dampak baik untuk lingkungan dan orang lain, serta ada juga yang memiliki dampak buruk terhadap lingkungan dan orang lain. Dengan kata lain, kekuasaan yang berada di tangan individu atau kelompok yang baik akan menghasilkan dampak yang baik juga, bahkan bisa memberikan manfaat untuk individu atau kelompok yang tidak memiliki kuasa. Semakin banyak orang yang memiliki kuasa tergerak hatinya untuk membantu orang lain, maka akan memberikan perubahan bagi kehidupannya.

    Sahabaat, kekuasaan itu sendiri bisa berasal dari jabatan pribadi atau dari garis keturunan. Dalam hal ini, jabatan pribadi bisa didapatkan ketika menjabat suatu organisasi atau lembaga yang di mana seseorang itu menjabat sebagai ketua. Ketika menjabat sebagai ketua, sudah seharusnya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk memajukan sebuah organisasi atau lembaga tersebut. Maka dari itu, seorang ketua atau pemegang kuasa harus memiliki wawasan yang luas, sehingga bisa menemukan berbagai macam cara agar organisasi atau lembaga yang dipimpinnya dapat berkembang.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab 1 Samuel dengan topik: “Authority Blinds Many People (Kekuasaan Membutakan Banyak Orang)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 31:1-13. Sahabat,  kekuasaan adalah salah satu momok yang membuat seseorang dapat melakukan hal yang tidak diperkenan Allah. Persis, hal itulah yang terjadi pada Saul. Roh Allah sudah undur darinya dan membuatnya menjadi musuh Allah (1Samuel  28:16). Ia bahkan mencoba membunuh Daud, Raja Israel yang diurapi Allah (1Samuel  19:1). Ia masih terus berperang melawan bangsa Filistin sampai akhir hidupnya. Seolah-olah, ia masih merasa sebagai orang nomor satu di Israel.

    Saul telah dibutakan kekuasaan. Ia tidak lagi peduli bahwa Roh Allah sudah pergi darinya. Ia beserta tiga orang anaknya (Yonatan, Abinadab, dan Malkisua) bersikeras untuk tetap maju berperang mengepung orang Filistin (Ayat 2). Saul lupa bahwa kekuasaan di Israel adalah milik Allah. Akibatnya, ia tidak berdaya melawan bangsa Filistin.

    Sahabat, itulah yang terjadi dalam 1 Samuel 31. Pasukan Israel banyak yang akhirnya mati terbunuh (Ayat 1). Saul dan anak-anaknya dikejar (Ayat 2). Pertempuran semakin berat dan Saul pun terluka (Ayat 3). Akhirnya Saul terdesak. Perasaan frustrasi mendorongnya untuk meminta pembawa pedangnya agar menikamkan pedang kepadanya. Namun, si pembawa pedang tidak mau melakukannya. Saul pun memilih mengakhiri hidupnya dengan menjatuhkan diri ke atas pedangnya (Ayat 4). Saul, anak-anaknya, dan seluruh pasukannya mati terbunuh.

    Orang-orang Filistin pun berpesta atas kematian Saul dan memenggal kepalanya. Sebuah akhir yang tragis bagi seorang Raja Israel yang telah dibutakan oleh kekuasaan.

    Kekuasaan adalah salah satu cobaan yang tidak mudah bagi manusia. Sepanjang sejarah umat manusia, kekuasaan membuat banyak orang menjadi buta. Mereka rela membunuh satu dengan yang lainnya demi kekuasaan. Kita sampai lupa bahwa sumber kekuasaan datang dari Allah.

    Sahabat, marilah kita bertekat agar jangan sampai dibutakan oleh kekuasaan. Kekuasaan yang Allah berikan hendaklah menjadi kesempatan bagi kita untuk melayani sesama dengan baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kekuasaan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kekuasaan bukan untuk memuaskan ambisi kita, melainkan untuk mempermuliakan nama Tuhan. (pg).

  • Key of Life Success

    BERTANYA KEPADA TUHAN. Kunci Keberhasilan  Hidup adalah bertanya kepada Tuhan sebelum bertindak. Mengapa bisa begitu? Karena di dalam Tuhan ada hikmat dan kekuatan. Di dalam Tuhan ada pertimbangan dan pengertian (Ayub 12:13)

    Kita ingin pergi ke suatu tempat dan tidak tahu arah dan jalan. Apa yang akan kita lakukan? Berdiam diri tentu tidak akan memberi jalan keluar. Satu-satunya cara adalah kita harus bertanya jika kita tidak ingin tersesat.  Entah bertanya kepada mbah Google atau orang lain. Demikianlah kehidupan. Begitu banyaknya masalah mungkin membuat kita tidak tahu lagi ke mana harus mulai melangkah. Ketika itu terjadi, apakah kita akan bertanya kepada Tuhan untuk mencari tahu jawabannya?

    Masalahnya, dalam kehidupan ini sering kali kita tidak melibatkan Tuhan ketika menghadapi persoalan atau apabila hendak mengambil keputusan. Alih-alih bertanya kepada Tuhan dalam doa, kita lebih suka mengandalkan pemikiran atau pengalaman kita sendiri. Kita lupa kalau ada banyak persoalan tidak dapat diselesaikan oleh logika manusia. Selain itu, pengalaman masa lalu belum tentu menjawab kebutuhan kita saat ini.

    Kalau bukan Tuhan, siapakah pribadi empunya strategi yang dapat menjawab setiap persoalan dan teka-teki kehidupan? Faktanya, Tuhan adalah Sang Penasihat Ajaib! Daripada-Nyalah asal segala hikmat dan kebijaksanaan. Apabila kita tidak ingin menyesal dan merugi karena salah perhitungan atau pertimbangan, jangan lagi menempatkan Tuhan di pojok kehidupan. Sebaliknya, tempatkan Dia sebagai pusat dengan melibatkan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Samuel dengan topik: “Key of Life Success (Kunci Keberhasilan Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 1 Samuel 2:1-32 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, kematian Raja Saul tidak serta-merta memuluskan jalan bagi Daud untuk naik takhta menjadi raja. Daud sendiri pun tidak tahu apa yang harus dilakukan atau ke mana ia akan melanjutkan perjalanannya. Daud pun bertanya kepada Tuhan karena ia tahu persis Tuhan akan memberitahukannya apa yang harus dilakukan.

    Tuhan meminta Daud untuk pergi ke Hebron. Di titik itu pun Daud belum mengerti maksud Tuhan hingga beberapa waktu menetap di kota itu. Sampai akhirnya orang-orang Yehuda mengurapinya dan mengangkatnya menjadi raja Yehuda.

    Sahabat, dalam situasi terjepit dan dituntut untuk segera mengambil keputusan, langkah apa yang akan kita lakukan? Akankah kita bertanya kepada Tuhan? Tentu saja dibutuhkan kerendahan hati untuk bertanya dan menerima jawaban Tuhan. Mengapa? Karena terkadang petunjuk Tuhan itu justru tidak sesuai dengan kehendak kita. Apakah kita mau tetap taat?

    Seringkali dalam perjalanan hidup, kita minta kepada Tuhan untuk memberkati apa pun yang akan kita lakukan. Itu memang baik dan sangat penting. Tapi ada satu hal yang jauh lebih baik dan lebih penting daripada hal tersebut, yaitu kita harus terlebih dahulu mencari Tuhan dalam doa-doa kita. Jauh lebih baik, jika kita bertanya dulu kepada Tuhan untuk segala sesuatu yang akan kita kerjakan, sehingga Dia akan mengarahkan kita untuk melakukan apapun yang Dia kehendaki.

    Sahabat, yakinlah bahwa arahan Tuhan selalu berbuah kebaikan pada akhirnya. Meski kita harus menjalani sebuah perjalanan yang tidak mudah dan beberapa kali bertemu hambatan, namun perjalanan kita akan berakhir dengan indah. Untuk setiap pertimbangan dan keputusan, bertanyalah kepada Tuhan untuk selalu menunjukkan jalan paling tepat. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ayub 12:13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bertanya kepada Tuhan, itulah awal kemenangan kita. (pg).