Author: Christopherus

  • We See what Others do not See

    VISI. Sahabat, Pengamsal berkata bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat (Amsal 29:18). Kamus Besar Bahasa Indonesia mencatat visi adalah kemampuan untuk melihat pada inti persoalan, pandangan; wawasan. Dalam kehidupan rohani, orang percaya perlu punya visi.  Jika tidak, perjalanan hidup kekristenannya akan tersendat-sendat, sulit mengalami pertumbuhan rohani yang maksimal.

    Dalam komunitas orang percaya,  visi dan keinginan (cita-cita) itu jelas sangat berbeda.  Visi itu berbicara tentang sesuatu yang Tuhan taruh dalam hidup kita, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita.  Kalau keinginan dan cita-cita itu datang dan timbul dari diri sendri, sedangkan visi diperoleh dari doa kita kepada Tuhan dan jawaban Tuhan atas ketaatan kita melakukan kehendak-Nya.  

    Maka kita harus lebih bersungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan, melatih kepekaan untuk mendengar suara Tuhan melalui persekutuan yang karib dengan-Nya, sebab  TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.  (Mazmur 25:14).

     Visi mendorong kita untuk memiliki prioritas-prioritas dan membuat pilihan-pilihan hidup yang benar;  visi mendorong kita untuk memiliki semangat dan motivasi yang lebih lagi dalam melakukan segala sesuatu.  Bisa dikatakan bahwa visi sangat menentukan arah hidup seseorang.  Karena mengerti dan memahami visi yang Tuhan taruh dalam hidupnya, rasul Paulus berkomitmen: Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus  (Filipi 3:13-14).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “We See what Others do not See (Kita Melihat apa yang Orang Lain tidak Lihat)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 6:8-23 dengan penekanan pada ayat 17. Sahabat,  visi merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan.  

    Di dalam Alkitab istilah visi bersifat pewahyuan. Tuhan menyatakan kehendak dan rencana-Nya, baik itu kepada individu atau pun kelompok, khususnya kepada bangsa Israel.   Tuhan menyatakan visi-Nya bisa melalui mimpi, penglihatan atau juga melalui perantaraan nabi-nabi-Nya.  Visi juga bisa diartikan pandangan rohani.  Apa yang tidak dilihat orang lain itulah yang diwahyukan Tuhan kepada kita.  Dengan kata lain kita melihat apa yang orang lain tidak lihat.

    Karena memiliki pandangan rohani, nabi Elisa dapat melihat bala tentara surgawi dengan kuda dan kereta berapi yang jumlahnya lebih banyak daripada tentara raja Aram.  Berbeda dengan pelayan Elisa yang tidak memiliki pandangan rohani  (tidak mempunyai visi yang sama), sehingga ia sangat ketakutan ketika melihat tentara Aram telah mengepung kota Dotan.  Karena itu Elisa berdoa supaya Tuhan membuka mata rohani bujangnya itu dan Tuhan pun mengabulkan doanya.  Akhirnya pelayan Elisa itu pun dapat melihat bahwa gunung itu penuh dengan tentara surga, berkuda dengan kereta berapi mengelilingi Elisa  (Ayat 17).

    Begitu pula Musa, karena memiliki visi dari Tuhan,  Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannya ia arahkan kepada upah  (Ibrani 11:24-26).  Musa mampu melihat apa yang orang lain tidak mampu lihat, ia tahu bahwa  yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal  (2 Korintus 4:18). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 11:24-26?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Punya visi saja tak cukup, kita harus punya kemauan, keberanian, dan  energi untuk menggapainya. (pg)

  • Obedience is A Struggle

    PERJUANGAN. Sahabat, perjuangan merupakan awal dari sebuah harapan, impian untuk mewujudkan sebuah hasil yang terbaik. Sesungguhnya hidup ini tak lepas dari namanya perjuangan, bahkan sejak kecil kita sudah belajar untuk berjuang dari merangkak, berjalan hingga dapat berlari. Tidak hanya itu, sejak kecil juga kita sebenarnya sudah paham tentang pentingnya keseimbangan agar tak mengalami yang namanya terjatuh dan kita selalu belajar yang namanya jatuh bangun,  baik itu sakit atau pun tidak.

    Kita sering terlena akan keberhasilan seseorang tanpa melihat perihnya perjuangan yang mereka lakukan sebelumnya. Padahal jika kita melihat lebih jauh perjalanan hidup dibalik nikmatnya kesuksesan hidup mereka dalam pandangan kita,  maka akan  ditemukan sebuah perjuangan dan usaha keras dalam mencapai kesuksesan tersebut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Obedience is A Struggle (Ketaatan adalah Perjuangan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 5:1-27 dengan penekanan pada ayat 3 dan 14. Sahabat, Naaman adalah salah seorang tokoh di dalam Alkitab, namanya tidak asing di telinga orang percaya.  Ia sangat terkenal, berkuasa, berpengaruh dan dihormati oleh banyak orang.  Sebagai panglima raja Aram bisa dikatakan sebagai tangan kanan raja, karena itu ia sangat dikasihi oleh raja.  Naaman bukan hanya seorang jenderal, tapi juga seorang pahlawan perang yang gagah perkasa.  Kontribusinya bagi negara tak diragukan lagi.

    Meski memiliki posisi tinggi dan terpandang ada satu noda dalam hidup Naaman, yaitu penyakit kusta yang dideritanya.  Siapa pun orangnya,  dan setinggi apa pun pangkatnya jika terserang penyakit ini pasti dijauhi banyak orang;  apalagi di kalangan orang Ibrani penyakit kusta dianggap najis dan berbahaya karena dapat menular kepada orang lain.  Maka dari itu orang yang menderita sakit ini harus diasingkan dari masyarakat luas.  Tidak seorang pun yang diperbolehkan bersentuhan dengannya (Imamat 13:46).  

     
    Di rumah Naaman ada anak perempuan kecil dari Israel yang merupakan tawanan yang dibawa oleh gerombolan orang Aram saat terjadi perang, dan ia dijadikan hamba bagi istri Naaman.  Melihat tuannya sakit kusta, hamba kecil ini pun memberanikan diri menyampaikan usulan kepada istri Naaman (Ayat 3).   

    Nabi yang dimaksudkan adalah Elisa.  Sebagai anak Yahudi, ia tahu banyak tentang mukjizat-mukjizat yang dilakukan Elisa.  Ia pun bersaksi kepada majikan perempuannya tentang kedahsyatan kuasa Allah bangsa Israel yang dinyatakan melalui Elisa.  Hamba kecil ini sangat percaya jika tuannya mau datang kepada abdi Allah itu pasti akan sembuh.  

    Naaman pun tergerak hati dan mengikuti anjuran dari hamba kecil itu, lalu meminta izin kepada raja Aram untuk pergi kepada nabi Allah itu.  Ia pun pergi dengan membawa banyak persembahan (Ayat 5-b).

     
    Sahabat, setelah bertemu Elisa, abdi Allah itu, Naaman berharap beroleh kesembuhan dengan cara terhormat, misalkan melalui penumpangan tangan;  atau mungkin dia berharap kesembuhan itu langsung turun dari surga.  Namun Naaman kembali dihadapkan pada ujian kerendahan hati, karena ternyata apa yang disampaikan abdi Allah itu di luar dugaannya:   Naaman diminta mandi di sungai Yordan! (Ayat 10). Hal  itu membuat Namaan tersinggung sehingga ia pun menolak perintah Elisa (Ayat 12).   

    Ada pergumulan hebat dalam diri Naaman, antara ego, keangkuhan dan juga iman.  Namun atas desakan pegawai-pegawainya Naaman pun melakukan apa yang diperintahkan Elisa,  “Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. …” (Ayat 14-a).  Setelah tujuh kali membenamkan diri di sungai itu, mukjizat terjadi:  Naaman sembuh, bahkan pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir (Ayat 14-b).

    Sahabat, ketaatan adalah perjuangan. Berjuang untuk taat adalah bagian dari beriman. Beriman bahwa Tuhan Allah sanggup untuk melakukan lebih dari yang bisa kita pikirkan. Naaman berjuang untuk taat mandi tujuh kali di sungai Yordan. Percaya akan janji Tuhan adalah langkah awal iman, berjuang menaati perintah-Nya adalah wujud nyata iman. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman seorang hamba kecil sanggup membawa dampak besar bagi orang lain! (pg).

  • More than Enough

    CUKUP. Sahabat, cukup bukan berbicara soal berapa jumlahnya. Cukup bukan soal kepuasan hati. Cukup juga bukan hanya diucapkan oleh orang yang bisa bersyukur. Lalu apa itu cukup?

    Alkisah terdapat seorang petani di sebuah desa. Dia menemukan sebuah mata air ajaib yang bisa mengeluarkan kepingan uang emas dalam jumlah yang tak terbatas. Tentu saja si petani akan menjadi kaya raya karena mata air uang emas itu hanya akan berhenti apabila dia mengucapkan kata cukup.

    Uang emas pun mulai berjatuhan tepat di hadapannya. Sang petani segera menampung harta karun tersebut dengan beberapa ember. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan di sana. Uang emas masih terus berkucuran deras. Setelah ember-ember penuh, dia lalu menampung dalam karung-karung, tempayan-tempayan dan lain-lain.

    Belum puas dengan uang emas yang sudah memenuhi rumahnya, dia pun mulai menggali lubang besar untuk menimbun emas tersebut. Sementara air uang emas itu terus mengalir. Setelah itu dia menampung kembali uang hingga lubang tersebut penuh. Sayangnya, si petani mati tertimbun uang-uang emasnya karena mata air ajaib itu terus dibiarkan mengalir. Dia mati karena ketamakan dan kerakusannya yang membuatnya lupa mengatakan kata cukup.

    Sahabat, barangkali kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia  adalah kata CUKUP. Lalu kapan kita bisa berkata cukup?  Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. Cukup jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandek dan berpuas diri. Sesungguhnya mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan KERAKUSAN dan KESERAKAHAN  membuat kita sulit bahkan tidak bisa berkata CUKUP. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita sendiri hari ini dan di sini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “More than Enough (Lebih dari Cukup)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 4:42-44 dengan penekanan pada ayat 43. Sahabat, bencana kekeringan melanda seluruh negeri, tak terkecuali Israel. Seseorang dari Baal-Salisa membawa dua puluh roti jelai dan gandum baru kepada Elisa. Tergerak oleh belas kasihan kepada serombongan nabi berjumlah seratus orang yang kelaparan, Nabi Elisa menyuruh pelayannya untuk membagi-bagikannya. Pelayan Elisa ragu dan mempertanyakan hal yang mustahil ini: “Bagaimanakah  aku dapat menghidangkan ini  di depan seratus orang?” (Ayat 43-a). “Tidak mungkin mencukupi!” katanya lebih lanjut.

    Perkataan pelayan itu tidak memengaruhi keputusan Nabi Elisa. Elisa tetap konsisten berkata: “Berikanlah kepada orang-orang itu, supaya mereka makan,  sebab beginilah firman Tuhan: Orang akan makan, bahkan akan ada sisanya” (Ayat 43-b). Sungguh, ketika pelayan Elisa menghidangkan roti itu kepada para nabi itu, mereka semua memakannya, dan benar-benar ada sisanya.

    Bukankah dalam kehidupan ini Tuhan pernah membawa diri kita pada situasi yang penuh ketidakmungkinan? Ketika kita melihat diri kita yang demikian kecil, lemah, dan sangat terbatas, acapkali kenyataan itu membuat diri kita hanya melihat ketidakmungkinan saja. Hal itulah yang dipikirkan pelayan Elisa ketika diminta untuk menghidangkan dua puluh roti jelai  kepada seratus nabi yang kelaparan itu. Tidak mungkin cukup! 

    Sahabat, namun ketika ia bersedia berserah dan percaya kepada Tuhan dan firman-Nya, hari itu ia menyaksikan apa yang tidak mungkin itu menjadi mungkin. Apa yang menurutnya tidak cukup, dibuat oleh Tuhan menjadi LEBIH DARI CUKUP. Dalam situasi yang seakan tidak ada lagi jalan, kita hanya perlu keberanian untuk berserah, percaya, dan taat agar kita dapat melihat Tuhan bekerja menyelesaikan semuanya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang cukup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mau memakai kita yang terbatas untuk menyatakan kuasa-Nya yang tak terbatas. (pg).

  • Light Things in God’s Eyes

    KECAPI. Sahabat, dari Lembaga Alkitab Indonesia saya mendapatkan informasi bahwa kecapi (kinnor) merupakan alat musik yang pertama disebut dalam Alkitab dan satu-satunya alat musik bertali yang disebut dalam Pentateukh (Taurat). Disebutkan bahwa Yubal adalah bapa semua orang yang memainkan kecapi dan suling (Kejadian 4:21).

    Kinnor merupakan jenis Lyra (kecapi kecil) yang dimainkan dipangkuan seseorang dengan memetikan senarnya, dan yang menurut bukti sejarah dan arkeologi senarnya terbuat dari usus domba. Itu jugalah salah satu alat musik yang akan dipakai oleh Laban orang Siria itu untuk melepas Yakub seandainya tidak diam-diam pergi (Kejadian 31:27). Ukuran alat musik ini kecil sehingga dapat dibawa-bawa dengan mudah. Alat musik inilah yang dimainkan oleh Daud untuk menenangkan Raja Saul (1 Samuel 16:23).

    Kecapi memiliki bentuk dan jumlah talinya berbeda-beda, tetapi semua jenis kecapi menghasilkan bunyi yang menyenangkan. Selain digunakan untuk kegiatan peribadatan, kecapi juga sering digunakan dalam lingkungan kehidupan sehari-hari (Yesaya 23:16). Pada umumnya kecapi ini dimainkan dengan menggunakan sebuah alat petik (plectrum), seperti memainkan alat musik gitar. Namun, sepertinya Daud lebih suka memainkannya tanpa menggunakan alat petik (1 Samuel 16:16, 23; 18:10; 19:9).

    Kecapi terbuat dari kayu dan tukang-tukang yang terampil dapat membuat kecapi dari perak atau gading serta menghiasinya dengan indah. Alat-alat musik, yang dibuat atas perintah Raja Salomo seperti misalnya kecapi dan gambus untuk Bait Suci bahannya terbuat dari kayu cendana pilihan (1 Raja-raja 10:12).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Light Things in God’s Eyes (Perkara Ringan di Mata Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 3:9-27 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, ketika raja Israel  (Yoram), raja Yehuda  (Yosafat)  dan raja Edom mengadakan perjalanan jauh hendak berperang melawan Moab, di tengah perjalanan mereka kehabisan air sehingga semua orang yang turut bersamanya, termasuk tentara dan hewan yang mengikutinya, kehausan luar biasa. 

    Dalam kesulitan tersebut mereka menemui nabi Elisa atas saran dari pengawai raja Israel, untuk meminta petunjuk Tuhan.  Semula Elisa menolak, tapi karena di situ ada Yosafat, raja Yehuda, akhirnya Elisa mau juga mengabulkan permintaan mereka.  Nabi Elisa memerintahkan memanggil pemetik kecapi.  “Pada waktu pemetik kecapi itu bermain kecapi, maka kekuasaan TUHAN meliputi dia.”  (ayat 15).

    Memainkan alat musik  (kecapi)  bagi Tuhan berbicara tentang pujian dan penyembahan bagi Tuhan.  Ketika puji-pujian berkumandang, hati Tuhan disenangkan dan hadirat-Nya turun melawat umat-Nya, sebab  Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.  (Mazmur 22:4). 

    Ketika hadirat Tuhan meliputi Elisa sementara kecapi dimainkan, Tuhan menyatakan kehendak-Nya,  “Beginilah firman TUHAN: Biarlah di lembah ini dibuat parit-parit,”  (Ayat :16), meski secara kasat mata  “Kamu tidak akan mendapat angin dan hujan, namun lembah ini akan penuh dengan air, sehingga kamu serta ternak sembelihan dan hewan pengangkut dapat minum. Dan itupun adalah perkara ringan di mata TUHAN; …”  (Ayat 17-18-a), bahkan mereka mendapatkan berkat yang lebih dari Tuhan,  “… juga orang Moab akan diserahkan-Nya ke dalam tanganmu.”  (Ayat 18-b).

    Pergumulan berat apa yang sedang Sahabat hadapi?  Ekonomi keluarga kering atau gersang?  Sakit-penyakit kita divonis tidak mungkin sembuh?  Atau masalah-masalah berat lain yang secara manusia tidak ada jalan keluar?  Jangan putus asa!  Angkatlah suara dan pujilah Tuhan!  Undang hadirat-Nya memenuhi hidupmu.  Percayalah, saat Tuhan bertindak tidak ada perkara yang terlalu sukar bagi-Nya, karena Dia Mahasanggup. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mampu menjadikan segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, asal itu sesuai dengan kehendak-Nya. (pg).

  • What You Got is What You Paid

    SETIAWAN. Sahabat, ada cukup banyak orang tua di Indonesia yang memberi nama anak laki-lakinya Setiawan, Mengapa? Setiawan berarti sangat setia. Orang disebut sangat setia bila memiliki keteguhan hati dan tidak mudah tergoyahkan. Selain berhati teguh, dia juga kokoh dalam berpendirian dan mantap dalam bersikap..

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “What You Got is What You Paid (Apa yang Kamu Bayar itulah yang Kamu Dapatkan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 2:1-18 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, sepuluh tahun lamanya Elisa mengikuti Elia dalam pelayanannya sebagai nabi. Elisa yang senantiasa setia mengikuti Elia kemana pun pergi, bahkan hingga akhir langkah Elia yang terangkat ke surga dengan kereta kuda berapi.

    Hubungan Elia dan Elisa tidak lagi hanya sebatas guru dengan murid, namun jauh lebih dari itu, Elisa memperlihatkan kesetiaannya sudah seperti hubungan anak dan ayah. Hal itu terlihat dalam bacaan kita pada hari ini, yakni: Pertama, melalui permintaan Elisa yang meminta dua bagian roh Elia (Ayat 9). Sesuai dengan adat Yahudi, anak sulung berhak mendapat dua bagian warisan. Kedua, ketika Elia dibawa oleh kereta kuda berapi, Elisa berteriak, “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” (Ayat 12). 

    Namun demikian, Elisa bukan hendak meminta harta, namun roh Elia sebagai seorang nabi dapat diterimanya. Permintaan Elisa untuk menerima dua bagian roh dari Elia tentu bukan hal yang mudah, sebagaimana dikatakan oleh Elia, “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.” (Ayat 10) Sebab roh untuk bernubuat sebagai nabi bukanlah warisan yang dapat diturunkan, melainkan itu adalah pemberian Allah, dan Allah berhak memberikan karunia itu kepada siapa pun.  

    Dari bacaan kita pada hari ini dapatlah kita melihat, bahwa ternyata permintaan dari Elisa itu dikabulkan oleh Tuhan, dan Elisa menjadi penerus pelayanan Elia sebagai seorang nabi.

    Jika kita melihat bagaimana kesetiaan dan kesungguhan Elisa mengikuti Elia, kita akan teringat akan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus Tentang hamba yang setia “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. …” (Lukas 16:10a). 

    “Apa yang kamu bayar, itulah yang kamu dapatkan”demikianlah ungkapan yang sering kita baca dan dengar. Kesetiaan dan kesungguhan Elisa mengikuti Elia tidaklah sia-sia. Elisa telah memperlihatkan dirinya sebagai murid yang setia dan kesungguhannya untuk mengikuti segala perbuatan Tuhan melalui nabi Elia akhirnya mendapatkan karunia Tuhan untuk pekerjaan yang lebih besar lagi sebagai pengganti Elia.

    Sahabat, melalui bacaan kita pada hari ini, firman Tuhan hendak mengingatkan komitmen dan kesetiaan kita sebagai murid Kristus. Seperti apa kesetiaan dan kesungguhan kita dalam mengikut Yesus. Apakah kita murid Yesus yang setia dalam pengajaran-Nya? 

    Ada orang percaya yang merindukan mukjizat, berkat dan pertolongan Tuhan, namun tidak mau untuk ditempa, dibentuk dan diproses oleh Tuhan. Meminta berkat tidak pernah lupa, namun melakukan firman Tuhan selalu lupa dan mungkin saja melupakannya. 

    Baiklah kita merenungkan kembali apa yang dituliskan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Korintus,  “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15: 58)

    Sahabat, jerih payah dan persekutuan kita dengan Tuhan tidak akan sia-sia. Kesetiaan kita untuk selalu memercayakan diri pada Tuhan saatnya akan menghasilkan buah yang manis. Tuhan  berfirman:  “Hendaklah engkau  setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2: 10). Tuhan menolong kita untuk mampu menjadi murid yang setia sampai pada akhirnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang setiawan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Begitulah teladan sang setiawan: Teguh hati, bulat dalam tekad, dan kepekaan batin. Semoga teladan Elisa menginspirasi kita sebagai murid Kristus. (pg).