Author: Christopherus

  • Live in God’s Plan

    RENCANA TUHAN. Sahabat, bukan perkara mudah untuk memahami segenap rencana Tuhan dalam hidup kita, terutama ketika rencana-Nya berbeda dengan rencana kita. Ketika kita mengikuti rencana-Nya, kita seringkali harus melewati jalan yang berliku yang membuat kita ragu untuk terus melangkah atau berhenti dan mencari jalan lain yang lebih mudah.

    Dalam buku kumpulan khotbahnya “Pengharapan Memberi Keberanian”, pendeta Eka Darmaputera menuliskan: Selama menjadi pendeta, pertanyaan yang banyak disampaikan dalam PA, ceramah, katekisasi, atau percakapan pribadi adalah apakah ketetapan Tuhan itu ada? Apakah Tuhan benar-benar sudah punya rencana atas masing-masing kita? Sebelum saya lahir, misalnya, apakah Tuhan sudah menetapkan pada jam sekian, menit sekian, detik sekian, saya berdiri di hadapan jemaat untuk berkhotbah seperti yang sering saya lakukan?

    Apabila Tuhan telah memiliki rencana yang begitu detail, begitu rinci, lalu apa artinya segala usaha dan perencanaan kita? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Bahkan, mustahil untuk dijawab sampai tuntas. Ketika kita berbicara tentang Allah, bagaimana mugkin kita yang sangat terbatas hendak menangkap dan memahami segala sesuatu tentang Allah yang tidak terbatas? 

    Sebenarnya tak seorang pun dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas dan penuh. Misalnya, ada pertanyaan: Mengapa ada orang yang dilahirkan miskin dan cacat? Apakah Tuhan menghendakinya? Apakah Tuhan telah menetapkannya untuk cacat? Jika Tuhan menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, betapa mengerikannya Tuhan kita. Tetapi, jika bukan Tuhan yang menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Itu adalah bagian dari misteri. Bagian dari rahasia hidup yang barangkali tidak akan bisa kita jawab dan ketahui sepenuhnya.

    Sebagai manusia kita cenderung ingin tahu. Akan tetapi, sebagai makhluk, Tuhan tidak memperkenaankan kita mengetahui segala sesuatu. Tuhan tidak memberikan kita ketidakterbatasan, sehingga kita bisa memahami segala sesuatu. Bahkan tertulis di Alkitab bahwa justru berbahaya apabila kita yang terbatas ingin mengetahui tentang yang tidak terbatas. Bukankah manusia jatuh ke dalam dosa ketika manusia ingin mengetahui apa yang diketahui Tuhan dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang buruk?

    Hari ini kita  akan melajutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: Live in God’s Plan (Hidup dalam Rencana Tuhan)”.  Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 23:1-30.  Sahabat,   Yosia melancarkan reformasi di Yehuda dengan segenap kekuatan. Ia membawa segenap rakyat kembali kepada perjanjian dengan Tuhan (Ayat 1-3); menghapus segala penyembahan Baal, Asyera, dan Molokh (Ayat 4-10); merobohkan mazbah ilah yang dibangun raja sebelumnya (Ayat 11-20); serta kembali merayakan Paskah untuk Tuhan (Ayat 21-23).

    Yosia disebut sebagai raja yang berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati. Tidak ada raja sebelumnya dan sesudahnya yang sama dengan Yosia (Ayat 25). Walaupun perubahan yang dilakukan memberikan banyak harapan, namun Tuhan tidak beralih dari murka-Nya kepada Yehuda yang ditimbulkan oleh kejahatan Manasye (Ayat 26).

    Sahabat, hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh paradoks dan tak selalu dapat kita pahami. Kitab Tawarikh mencatat kerumitan dari kematian Yosia. Diceritakan bahwa Yosia melawan pesan Allah dan berperang melawan Raja Nekho dari Mesir hingga akhirnya tewas dalam peperangan di Megido (2Tawarikh 35:20-26). Walau demikian, dalam catatan Kitab 2 Raja-raja, tidak ada kisah komplikasi Yosia yang melawan pesan Allah. Hanya ketaatan dan reformasi yang dilakukan Yosia yang menjadi fokus dan sentral cerita.

    Mungkin Kitab 2 Tawarikh mencoba menjelaskan kematian dini Yosia dengan lebih mendetail yang menyebutkan kesalahan Yosia. Mungkin Kitab 2 Raja-raja lebih menekankan ketaatan Yosia, dan kematian dialaminya sebagai pemenuhan janji Allah bahwa Yosia akan mati dengan damai dan tidak akan melihat kehancuran Yehuda (2Raja-raja 22:20).

    Sahabat, memang hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh kerumitan dan paradoks, karena manusia terbatas dalam memahami keseluruhan rencana Tuhan. Mati dalam peperangan bisa jadi termasuk kematian dalam damai, dibandingkan dengan mati dalam kehancuran Yehuda karena murka Allah. Atas seluruh kerumitan itu, Yosia memilih taat. Dengan sepenuh hati dan kekuatan, Yosia mengajak umat bertobat dan meruntuhkan penyembahan berhala. Di tengah paradoks hidup dan misteri rencana Allah, tetaplah taat dan setia kepada Tuhan! Tetaplah hidup dalam rencana Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang tidak berkenan dengan Allah harus kita buang dan musnahkan agar reformasi rohani kita alami dan pembebasan seutuhnya akan terjadi. (pg).

  • U L E (2)

    Ini cerita tentang ULE atau Uang Layak Edar yang lain, yakni Si Rp50.000. Dibuat dari bahan serat kapas. Ada gambar desain uang yang rumit. Ada gambar Pahlawan Nasional, ada berbagai fitur pengaman seperti tinta yang tahan lama, cetakan khusus yang disebut 3-D yang dapat dilihat, diraba,  dan  diterawang, lalu ada nomor seri yang dicetak secara khusus. 

    Yang terutama, penerbitan uang memiliki tujuan sebagai alat penukar atau alat pembayar dan pengukur harga, yang mendukung tujuan bernegara yaitu mencapai masyarakat adil dan makmur. Karena itu di atas uang disematkan gambar lambang negara “Garuda Pancasila” sebagai bentuk simbol kedaulatan negara dan identitas nasional. Juga ada tulisan misi: “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia Mengeluarkan Rupiah Sebagai Alat Pembayaran Yang Sah Dengan Nilai Lima Puluh Ribu Rupiah”.

    Sejak kinyis-kinyis dari Bank Indonesia Jakarta dikirim ke BI Surabaya lalu diedarkan di bank-bank setempat dan masuk mesin ATM. Pas ada pedagang di Pasar Atom mengambil di ATM, masuk dompet ditekuk, agak lama, tapi kemudian diberikan sebagai uang kembalian ke pembeli. Maka berputarlah Si Rp50.000 dari tangan ke dompet ke saku ke dashboard mobil, kantong celana, eh dibawa sopir bus ke Madiun, dibelikan pecel, lalu dibawa orang lagi jalan keliling,  naik dokar,  naik mobil, akhirnya tiba di Pasar Klewer Solo,dikaretin tiap seratus lembar,  disetorkan ke salah satu bank. Karena Si Rp50.000 masih bagus dan masuk kategori ULE, dia dapat dengan mudah dihitung dan keluar dari mesin ATM. Kali ini diambil calon ART yang hendak berangkat jadi TKW di Singapura.

    Si Rp50.000 katut terbawa di dompetnya, jadilah dia tinggal di Singapura beberapa waktu lamanya. Pas hari lbur pergi  ke Mustafa Center, uang Rp50.000 niatnya mau dibelikan odol, eh ditolak penjual: ”Ini tidak laku disini, tuh tukarkan dulu ke money changer”. Jalanlah dia ke tempat yang ditunjuk, ditukar ke Singapura dollar, hanya dapat Sin$ 4.00 dan beberapa puluh sen, tidak cukup untuk beli odol, hanya bisa beli sebotol air putih. 

    Kemudian Si Rp50.000 dibawa pedagang valas naik feri ke Batam, disetorkan di bank, karena masih bagus, masuk mesin ATM lagi di airport. Kali ini Si Rp50.000 ditarik pelancong yang hendak ke Bali, di sana, pindah tangan beberapa kali, tahu-tahu sampai di Semarang. Saat dibayarkan oleh Aliong ke tukang buah, dikipas-kipas sebagai penglaris, eh terjatuh, pas hujan, hanyut di air dan sempat kelindas motor bebek yang lewat. Tetap dikejar tukang buah, ketangkap, eh keambil, dan transaksi selesai, ada senyum terima kasih dari si penjual buah. 

    Malamnya uang digelar di atas koran, masih basah-basah dikit, malahan disetrika sama istrinya supaya cepat kering. Warnanya agak pudar dan uang jadi lusuh. Esoknya dibelikan meterai di kantor pos, petugas lihat-lihat teliti, oh uang asli, diterima. Besoknya lagi disetorkan ke BI, karena sudah masuk kategori UTLE, Uang Tidak Layak Edar, diadministrasikan petugas, dan dari arsip BI diketahui Si Rp50.000 sudah beredar sejak 16 bulan silam. Nah, akhirnya dimusnahkan.

    Umurnya 16 bulan. Singkat atau panjang? Saat Raja Firaun bertanya kepada Yakub (Kejadian 47:8-9): “Sudah berapa tahun umurmu?” Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya …”

    Saudaraku, ULE 16 bulan atau usia Yakub yang 130 tahun, mana yang lebih panjang? Sama-sama menjadi pengembara, pindah tempat berkali-kali, dan sebagian besar situasinya buruk adanya. Si Rp50.000 mengalami masa disayang saat masih kinyis-kinyis, lalu dilipat-lipat, dikaretin, ditolak-tolak di luar negeri, masuk mesin ATM dipukul oleh bilah mesin, jatuh ke air, bahkan disetrika hingga warnanya pudar. Namun tetap mengemban misi sebagai alat pembayaran yang sah, dan lambang kedaulatan negara Garuda Pancasila tetap tertera di gambarnya.

    Saudaraku, apakah kita sadar, saat kita mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, maka Allah menempatkan Roh Kudus yang memeteraikan kita? Kita punya misi sebagai garam dan terang bagi dunia, dan mengemban tugas mulia untuk pergi dan menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus, dan dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan Yesus perintahkan? (Matius 28:19-20)

    Kita sama-sama mengalami penderitaan dalam kehidupan, pernah mengalami masa disayang saat masih punya kelimpahan harta benda kinyis-kinyis. Lalu melewati masa dilipat-lipat berbagai tipu daya dan cobaan, serasa dikaretin karena akibat perbuatan yang tidak benar, ditolak-tolak oleh lingkungan sekitar, hingga hati merasa dipukul berbagai kesedihan, jatuh ke air dan bahkan sakit menderita berpanjangan. Apakah ketika menjalani  semua ini warna kehidupan kita menjadi pudar? 

    Saudaraku, mari kita sejenak hening, dengan hati bening merenungkan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes:  “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wahyu 22:12 dan 14). (Surhert). 

  • TULUS TANPA GIMIK

    Saudaraku,  zaman sekarang manusia hidup untuk dilihat orang.  Beberapa konten kreator merekayasa suatu kejadian demi mendapatkan perhatian.    Orang-orang itu menunjukkan kehidupan yang bahagia, penuh cinta di depan kamera namun itu ternyata hanya Gimik (Gimik adalah gerak gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran – KBBI).  Ternyata Rasul Paulus pernah mengingatkan jemaat Roma untuk berhati-hati dengan sikap ini. Mari renungkan bersama Roma 12:9-14.

    Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di kota Roma untuk belajar mengasihi dengan tulus iklas (Ayat 9) dengan berlandaskan kepada kasih di dalam Kristus yang wafat di kayu salib.  Jemaat saat itu disadarkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membangun tubuh Kristus dengan penuh keiklasan dan menjauhi kepura-puraan (dalam pertunjukan teater Yunani, bagaikan aktor yang berperan sesuai dengan memakai topeng yang dipakainya).  Mereka bersikap nampaknya penuh perhatian dan saling berbagi namun itu semua dilakukan hanya sebatas formalitas dan penuh keterpaksaan atau dalam istilah populer sekarang adalah gimik.  Paulus menghimbau jemaat untuk menjauhi gimik dan hidup dalam ketulusan sesuai teladan Sang Kristus.  Kasih bukan gimik, kasih harus muncul dari hati.

    Hari Valentine  dirayakan sebagai hari kasih sayang yang oleh sebagian besar orang, dipakai sebagai saat untuk menyatakan perhatian dan cinta dengan bunga dan cokelat.  Banyak orang bahagia tanpa sempat memikirkan cinta yang diterima itu sungguh-sungguh atau hanya sekadar gimik belaka, agar nampak manis di depan kamera padahal hatinya tidak demikian.  Maka pesan Paulus sungguh relevan untuk semua saja yang merayakan Hari Valentine: Milikilah kasih yang tulus berdasarkan Kristus.  Kasih yang tulus menurut Roma 12 : 9-14 yaitu: 

    1. Memandang jijik segala yang jahat dan yang tidak sopan (Ayat 9a)
    2. Membiasakan diri melakukan apa yang baik (Ayat 9b)
    3. Menghargai sesama (Ayat 10)
    4. Antusias dan penuh inisiatif dalam melayani Tuhan dengan hati yang murni   (Ayat 12)
    5. Hidup dalam kemurahan dan pengampunan (Ayat 13 dan 14)

    Kasih yang tulus tanpa gimik akan dapat dimiliki bila setiap orang menerima dan hidup dalam anugerah Kristus (Roma 5:8-9).  Mari bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah menyadari dan menghidupi anugerah pengampunan Kristus?  Mustahil bisa mengasihi dengan tulus bila hati masih kosong dengan anugerah pengampunan-Nya. 

    Saudaraku, dunia sudah lelah dengan gimik dan skeptis dengan kasih yang tulus.  Banyak orang terutama anak muda yang menikmati gimik kasih yang pengaruhnya bagaikan ekstasi yang hanya sesaat dan merusak. Sebagaimana himbauan Paulus, mari orang-orang percaya Kristus terus bekerja mengobarkan kasih yang muncul dari ketulusan hati dalam anugerah Allah sehingga dunia ini mengenal kasih sejati.  Selamat merayakan hari Valentine. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

  • It’s All About Obedience

    BERKAT. Sahabat, pada suatu hari saya bertemu dengan teman lama dalam Persekutuan Mahasiswa di satu Mal. Dengan senyum-senyum kecil dia berkata: “Password Pak Pendeta itu Tuhan  memberkati.”

    Coba hitung, dalam sehari, berapa kali kita menggunakan kata berkat? Saat berdoa, kita meminta agar Tuhan memberkati kita, serta memberkati orang-orang yang kita kasihi. Kita berdoa agar Dia memberkati usaha kita. Saat berkomunikasi, baik secara lisan maupun pesan elektronik, ada cukup banyak diantara kita  mengakhirinya dengan berkata, “Tuhan memberkati” atau disingkat GBU (God Bless You). Namun, apa konsep pemahaman kita mengenai berkat?

    Ada cukup banyak  orang percaya  dengan mudahnya menghubungkan kata berkat dengan materi, yakni harta benda dan kekayaan, juga kesehatan fisik, memiliki keturunan, panjang umur, dan kesuksesan usahanya. 

    Itu tidak sepenuhnya salah. Namun dalam Alkitab, berkat adalah segala sesuatu yang Allah berikan kepada anak-anak-Nya. Jadi berkat itu juga berupa perlindungan dan perkenanan Tuhan atas kita. Termasuk damai sejahtera dan sukacita yang kita alami karena mengenal dan menaati Dia. Juga ketika kita dapat menutup mata dengan damai dan tidak melihat bencana yang akan ditimpakan Tuhan. Bahkan Pengampunan dosa dan keselamatan di dalam Kristus merupakan  berkat terbesar yang Allah berikan bagi kita.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “It’s All About Obedience (Semua Tentang Kesetiaan)”. Bacaan sabda diambil dari 2 Raja-raja 22:1-20. Sahabat, sejarah Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda dipenuhi dengan raja-raja yang jahat, karena memang lebih mudah dan masuk akal untuk berteman dengan kerajaan-kerajaan besar di sekitar mereka untuk bertahan hidup. Bahkan, Hizkia pun, yang digambarkan sebagai raja yang baik dan menyembah Allah Israel, juga tergoda untuk mengikat janji dengan Babel (2 Raja-raja  20:12-21).

    Lain halnya dengan Raja Yosia. Ketika Taurat Tuhan ditemukan dan dibacakan Imam Hilkia (Ayat 8-11), Yosia berkabung akan dosa bangsanya, bertobat, dan meminta petunjuk Tuhan (Ayat 12-19). Tindakan Yosia membuktikan bahwa ia memiliki keberanian dan kejernihan hati.

    Sahabat, namun pertobatan dan reformasi yang dilakukan Yosia tidak mengubah rencana hukuman Tuhan untuk Yehuda (Ayat 16). Paradoks teologis ini tidak diselesaikan oleh kisah yang kita baca. Yosia mungkin adalah Raja Yehuda terbaik yang berusaha melakukan reformasi rohani. Walau demikian, bagaimana kalau ketaatan ini tidak menghasilkan upah yang baik dari Tuhan, tetapi malah hukuman?

    Dalam Kitab Taurat yang ditemukan Yosia, memang jelas tertulis kutukan akan menjadi akibat ketidaktaatan Yehuda. Reformasi yang dilakukan Yosia tidak akan menyelamatkan Yehuda dari kehancuran akibat ketidaktaatan. Selain itu, Tuhan memang memberikan kelegaan pada Yosia sehingga ia tidak akan menyaksikan kehancuran itu (Ayat 20).

    Kutuk kehancuran memang tak dapat diubah, namun Yosia tetap bekerja keras demi MENGUBAH KETIDAKTAATAN menjadi KETAATAN. Justru di sinilah letak keistimewaan Yosia. Ketaatannya BUKAN KARENA  iming-iming UPAH atau BERKAT. Dengan mendalam Yosia menyadari dosa bangsanya, dan dengan sekuat tenaga ia melakukan REFORMASI.

    Sahabat, cukup banyak orang percaya lebih menyukai ajaran yang menjanjikan banyak berkat. Padahal, Allah yang dipercayai Yosia bukanlah mesin pembagi berkat. Justru Yosia menunjukkan hati yang setia kepada Tuhan walaupun “rugi”. Buat Yosia, bukan berkat yang terutama, namun KETAATAN; bukan kemudahan, namun KESETIAAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita sungguh sungguh bertobat, maka Allah akan memberikan anugerah dan berkat-Nya di tengah-tengah pendisiplinan-Nya. (pg).

  • TIDAK LELAH MENDENGARKAN

    Saudaraku,  sebuah film yang dirilis tahun 2003 berjudul Bruce Almighty menceritakan tentang Bruce, seorang laki-laki yang selalu tidak beruntung dan suatu saat bertemu dengan figur Tuhan yang memberinya kesempatan untuk melaksanakan tugas Tuhan.   Hal yang paling mengganggu Bruce saat bertugas menjadi Tuhan adalah ia harus mendengar, menyeleksi dan merespons lantunan doa dari segenap orang di dunia. Doa itu terus bergema di telinganya selama 24 jam tanpa jeda.  Saat itu Bruce yang adalah manusia merasa kelelahan dengan berisiknya suara doa dari manusia di dunia, ia menjadi marah dan frustrasi.  Maka betapa bersyukurnya manusia memiliki Tuhan yang tak pernah merasa lelah dengan doa manusia sebagaimana dikisahkan dalam  Lukas 18: 15-17.  Mari renungkan.

    Kemarahan para murid kepada para orangtua yang membawa anak-anaknya yang masih kecil (mungkin usia balita)  kepada Yesus sebenarnya beralasan.  Para murid yang sudah sangat sibuk dengan begitu banyaknya orang yang ingin menemui Yesus, tentunya sangat terganggu dengan para orangtua yang sengaja menyodorkan anak-anak di gendongan mereka kepada Yesus.   Tidak heran para murid menegur keras para orangtua yang “ambisius” itu. 

    Sementara itu para orangtua sengaja membawa anak balitanya kepada Yesus agar mendapat perhatian dan diberkati oleh Yesus yang saat itu merupakah tokoh yang populer.  Disentuh oleh seorang Guru pasti merupakan sebuah keinginan supaya anak mereka memperoleh doa yang terbaik.  Hal ini yang tidak bisa dilihat oleh para murid karena banyaknya tugas yang harus mereka kerjakan untuk menjaga dan menyeleksi siapa saja yang bisa bertemu dengan Sang Guru.

    Yesus melihat keinginan dan kerinduan para orangtua itu dan Ia bersikap pro kepada mereka.  Di sela kesibukan-Nya melayani dan mengajar, Yesus memahami isi hati para orangtua itu dan meminta para murid membiarkan mereka mendekat.  

    Inilah hati Kristus yang luar biasa karena Dia melihat setiap kerinduan umat-Nya.  Ia benar-benar memahami isi hati manusia sehingga memberikan perhatian secara pribadi.  Tuhan tidak pernah lelah mendengar doa yang dipanjatkan dari setiap orang dan akan memberikan respons sesuai dengan kebutuhan mereka, bahkan doa orang yang tertindas dan tersingkir dari lingkungan sosial manusia.  

    Pemazmur dalam Mazmur 50:15 mengatakan, ”Berserulah  kepada-Ku pada waktu kesesakan  Aku akan meluputkan  engkau, dan engkau akan memuliakan  Aku.”  Manusia bisa saja memandang kepada jabatan, materi, popularitas dan kelas sosial untuk memerhatikan seruan sesamanya, namun Tuhan tidak.  

    Tuhan memahami dan mendengar setiap seruan umat-Nya dan tidak menghakimi setiap permohonan mereka yang datang kepada-Nya.  Mari selalu menyatakan setiap kerinduan hati kepada Tuhan karena Ia akan memerhatikan.  Dialah Sang El-Roi, Allah yang melihat.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)