Author: Christopherus

  • DEWA JUDI

    Istilah Dewa Judi makin dikenal terlebih setelah film “God of Gamblers” tahun 1989 yang dibintangi Chow Yun Fat dan Andy Lau, dan disusul beberapa seri lagi. Di kalangan adat Tionghoa, Dewa Judi jarang disebut karena lebih dikenal Dewa Rezeki atau Dewa Keberuntungan yang terkait dengan keberuntungan dan kekayaan. 

    Dewa kelompok rezeki ini rupanya juga menjadi banyak idaman orang di berbagai kebudayaan, antara lain seperti Dewa Hermes (mitologi Yunani), Dewi Fortuna (mitologi Romawi), tujuh dewa keberuntungan dari Japan terutama Fukurokuju, Dewi Laksmi (mitologi Hindu), Dewi Sri atau dewi padi,  yang juga berarti kemakmuran, kekayaan, kesehatan, kecantikan, keberuntungan, bahkan ada Julaihud yang arcanya banyak dibuat pengrajin kayu jati dari Jepara, dan masih banyak lagi. 

    Di Tiongkok sendiri Dewa Rezeki ada beberapa, yakni Cai Shen (baju merah, topi dengan dua penutup seperti sayap) juga disebut Zhao Gong Ming atau Xuan Tan Zhen Jun yang dikawal Dewa Harta dari 4 penjuru: Timur, Barat, Selatan, Utara, disebut Dewa Harta dari Lima Jalan “Wu Lu Cai Shen”. Ada pula dewa Bigan (perdana Menteri zaman Dinasti Shang). Mengapa ada banyak dewa untuk sumber rezeki? Karena orang menginginkan segala yang detail untuk mendapatkan rezeki. jadi semua gambaran tentang dewata yang bisa mendatangkan rejeki dikreasikan. Sangat mungkin saja bila di zaman sekarang ada dewa Krypto, dewa Saham maupun dewa Dollar.

    Berikut ini  pengalaman Pak Is yang pernah bekerja bersama kami. Sebelumnya Pak Is bekerja beberapa bulan di kasino legal yang pernah dibuka di Jakarta pada zaman Gubernur DKI yang silam. Dia bercerita: Tempat kasino ini sangat mewah dan megah, ruangannya full tertutup, sinar ruangannya terang, tidak redup-redup, AC dan sirkulasi udara nyaman, toilet sangat bersih, juga disediakan ruang-ruang istirahat lengkap dengan petugas yang bisa memijat, dan ada berpuluh set makanan/minuman mewah siap selama 24 jam. Yang terutama tidak ada jam dinding atau petunjuk waktu apa pun sehingga orang lupa waktu. Sekali masuk, kalau bawa uang banyak, ya diharapkan lupa diri, lupa waktu berapa jam atau berapa hari main judi. 

    Saudaraku, di salah satu sudut ruangan ada altar untuk pemujaan dewa rejeki. Yang main judi suka bersembahyang di situ,  tentu minta menang. Karyawan kasino doa di situ, minta ketrampilan dalam mengocok kartu. Bandar atau orang kepercayaan bandar juga bersembahyang di situ, tentu mintanya supaya bandar bisa lebih menang. Seandainya Saudara   menjadi dewa rejeki di situ, pasti bingung, akan mengabulkan doa-doa yang mana, terutama doa dari pihak pemain atau dari pihak bandar?

    Main judi nampaknya mudah, kalau pas hoki  bisa menang taruhan dan menjadi kaya mendadak. Tapi kalau kalah, akan habis-habisan, bisa langsung kolaps atau jadi gila. Ini bukan sekadar permainan atau ketangkasan atau untung-untungan hoki, tapi juga ada dampak psikologis bagi pemain. Tuhan  tidak berkenan umat-Nya untuk mendapatkan rezeki dari upaya yang singkat mendadak baik seperti dari hasil main judi, penipuan, merampok, penyelundupan, manipulasi, korupsi atau hasil-hasil kejahatan lainnya.

    Saudaraku, mari kita renungan perumpamaan tentang seorang  penabur yang diceritakan Tuhan Yesus  di Matius 13:  Waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 

    Jadi sang penabur menghadapi berbagai kondisi dalam ladang pekerjaannya, ada tempat yang subur, ada yang berbatu, ada yang mudah dicocol burung dan lain-lain, kondisi hingga problema kesuburan tanah yang menyebabkan gagal tumbuh. 

    Saat bekerja tentu sang penabur juga berharap dan berdoa mohon berkat dari Tuhan agar bisa mendapatkan hasil yang baik. Setelah menabur masih perlu waktu dan tenaga untuk merawat tanaman agar tumbuh bagus, bahkan di persawahan kita melihat para petani berjaga dari hama burung. Saat panen pun perlu tenaga untuk memanen, kemudian mengolah lagi hasil panen agar dapat dijual, mendapatkan harga yang baik. Semuanya ada keringat. Untuk menumbuhkan jagung perlu sekitar 100 hari, untuk menanam padi perlu 3-4 bulan tergantung kondisi tanah, tanaman kopi perlu 3-4 tahun sebelum berbuah, bahkan kalau menanam pohon duren mungkin perlu 8-10 tahun hingga duren dipanen.

    Tuhan  mengajarkan tentang perlunya KETEKUNAN dalam pekerjaan, karena saat menabur atau memulai usaha kita belum melihat hasil akhirnya,  yang baru nampak di waktu-waktu kemudian. Entah itu berhasil, mungkin hanya biasa-biasa saja, atau malahan mungkin gagal. Firman Tuhan mengingatkan kita: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6) dan “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

    Saudaraku, pekerjaan yang benar dan diberkati Tuhan bukan berasal dari rezeki tiban mendadak. Juga bukan  diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Bekerja dan berusahalah sesuai dengan titah Tuhan supaya kita bisa menikmati buah yang manis dari hasil kerja kita. Mari wariskan berkat Tuhan kepada anak cucu, bukan kutuk.  (Surhert)

  • KEMALINGAN (02)

    Masih ingat dengan cerita Kemalingan (01)? Saudaraku, hidup terus berjalan, setiap hari Tuhan tetap menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45).

    Suatu siang saat saya belanja di supermarket, tiba-tiba seseorang datang menyalamiku. “Pak Sur, masih ingat saya? Saya pak Is, yang berapa tahun lalu ada di kantor Bapak.”

    Aku takjub melihat Pak Is. Dulu sebagai kepala gudang dia pasang berewok dan kumis, rambut setengah gondrong, kini tampak rapi meskipun keriput wajah tuanya kelihatan, tapi sinar wajahnya tampak berwibawa. 

    “Pak, selama ini saya bersyukur kalau mengingat pernah kerja di tempat Bapak, di-PHK  gara-gara kasus si Ma dulu. Kalau tidak ada peristiwa tersebut, kehidupan saya tidak berubah,” Pak Is mengawali percakapan.

    Ceritanya, saat menjadi kepala gudang Pak Is sudah Sarjana Muda Teknik dari sebuah universitas. Dia berhenti kuliah karena merasa bosan kuliah hanya itu-itu saja. Kemudian bekerja di kontraktor sebagai pengawas bangunan dan akhirnya pindah sebagai kepala gudang. Ketika di-PHK, dia sangat frustrasi, karena sekonyong-konyong kehilangan pekerjaan.

    “Untung istri saya bisa menerima kondisi saya, nangis semalam, kemudian mengajak doa bersama, tapi esoknya dia bilang supaya saya bisa menyelesaikan S-1 karena kalau cari pekerjaan lebih gampang,” cerita Pak Is. 

    Pak Is melanjutkan ceritanya: “Saya nurut saja. Datang ke Fakultas Teknik, ketemu Dekan. Saya tanya: Apakah bisa meneruskan kuliah hingga lulus?

    Pak Dekan menjawab: “Dulu nilai SKS-mu rata-rata 3,7 tapi kenapa kok tiba-tiba berhenti kuliah? Memang kamu sudah 9 tahun meninggalkan  kuliah, tapi kalau lihat prestasimu dulu, saya bisa memberikan kesempatan ke kamu satu semester dulu, baru lihat nanti.”  

    Saya pun kuliah lagi. Istri sangat mendukung, Uang belanja dihemat-hemat, bahkan dia juga jualan Pisang Goreng, Roti Soes dan lain-lain, memang cukup maju. Berdua kami bergiliran mengantarkan kue-kue. Saya kuliah sekelas dengan mahasiswa-mahasiswa yang tidak saya kenal sebelumnya. Mereka ini banyak yang anak orang kaya, datang ke kampus pakai mobil sport. Kuliahnya ya gitu-gitu saja. Saya hanya tekad lulus segera supaya bisa kerja lagi dan istri tidak terlalu ngoyo jualan roti. Syukur, nilai SKS semester itu 3,85, jadi boleh lanjut kuliah tapi tetap dihitung per semester, kalau nilai jelek ya drop-out langsung.”

    Ceritanya, Pak Is selalu menuai prestasi di kampus. Skripsinya malahan dibimbing seorang dosen yang dijuluki killer, kemudian Pak Is menjadi asistennya. Ternyata dia bakat mengajar. Jadi dosen favorit. Saat lulus nilai SKS-nya masuk dalam kelompok 10 terbaik, dan ditawarin sebagai dosen oleh Pak Dekan. Pak Is mengajar beberapa tahun, menjadi dosen favorit, lalu menjadi kepala jurusan di fakultas. Upayanya semakin bagus, dapat beasiswa S-2, kemudian beasiswa S-3 di luar negeri. Pak Is memberikan kartu namanya ke saya: DR IS … Wah … Hebat!.

    Lebih lanjut Pak Is bersaksi: “Saya sangat beryukur pada Tuhan yang telah menolong kami sekeluarga. Memang mulanya tidak enak,  kena PHK, tapi istri dan anak tetap mendukung saya. Firman Tuhan ya dan amin, Dia tidak membiarkan anak-Nya jatuh tergeletak. Tuhan menopang saya. Sepuluh tahun lebih saya jalani kehidupan baru di kampus, Tuhan menganugerahkan otak yang encer, jadi saya mudah sekali dalam belajar di kampus. Selain itu saya juga ada pengalaman kerja, jadi tahu kondisi orang membangun rumah dan gedung-gedung tinggi” 

    Tiba-tiba aku ingat peristiwa-peristiwa kemalingan di tahun-tahun yang sudah silam. Kami saat ini tidak lagi muda,  sudah makan asam garam menjalani kehidupan. Syukur aku bisa berjumpa kembali dengan Pak Is. Coba kalau dulu dia marah-marah kepada Tuhan: Mengapa di-PHK, mengapa kerjanya bisa teledor? Syukur dia tidak tawar hati pada waktu mengalami pencobaan.  

    Saudaraku, aku teringat dengan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13) 

    Belajar dari pengalaman Pak Is, aku semakin diyakinkan bahwa ketika kesesakan itu datang, janganlah hati kita menjadi tawar. Hendaknya kita tetap berpaut kepada Tuhan. Tetap tegar, jalani hidup bersama Tuhan. Teruslah berdoa dan berjuang. Lihatlah … di ujung jalan ada CAHAYA GEMILANG yang dipersiapkan oleh Tuhan. (Surhert).  

  • Fully Destroyed

    NINIWE YANG JAHAT. Sahabat, Nahum memulai kalimatnya di awal pasal  3 dengan mengatakan celakalah KOTA PENUMPAH DARAH itu, kota yang penuh dengan dosa dan kekerasan. 

    Berita Nahum tidaklah sama dengan Yunus. Sudah tidak ada berita pertobatan lagi di dalamnya, yang ada adalah berita penghakiman. Nahum mengungkapkan kemarahan Allah, kesabaran Allah terhadap Niniwe telah cukup, anugerah telah ditarik dan penghakiman dinyatakan. 

    Kalau Allah di zaman Yunus masih sayang kepada Niniwe dengan berkata kepada Yunus: Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang semuanya tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (Yunus 4:11). Maka sekarang Allah berkata kepada Nahum:  Aku sudah tidak sayang lagi kepada Niniwe.

    Sahabat,  kita telah banyak mempelajari tentang Niniwe yang terkenal dengan kekerasannya sehingga mendapatkan julukan KOTA PENUMPAH DARAH, namun sebetulnya kejahatan kota Niniwe tidak hanya sebatas pada kekerasannya saja, melainkan juga dosa-dosa keji lainnya yang selalu berjalan beriringan seturut natur dari  dosa itu sendiri. 

    Kalau Sahabat mengetahui dosa merupakan satu paket kegelapan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ide tersebut bisa kita dapatkan melalui Kitab suci yang salah satunya terdapat di dalam surat Galatia 5:19-21: “Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, marah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. …” Niniwe telah memiliki semua dosa itu, dan dosa Niniwe sudah begitu matang dan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5).

    Syukur hari ini kita dapat mempelajari bagian akhir dari kitab Nahum dengan topik: “Fully Destroyed (Dihancurkan secara Keseluruhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 3:8-19. Sahabat, Nahum membandingkan kekuatan Niniwe dengan Tebe, kota Amon, yang bentengnya adalah laut, dan memiliki sekutu yang kuat seperti Etiopia dan Mesir, yang akhirnya juga dihancurkan (Ayat 8-10). 

    Ia menggambarkan kekuatan Niniwe sebagai kekuatan yang sama sekali tidak diperhitungkan. Niniwe digambarkan sebagai orang mabuk yang tidak berdaya, kubunya seperti pohon ara dengan buah yang masak, yang jika diayunkan, maka jatuhlah buahnya (Ayat 11-12).

    Tentara Niniwe yang dahsyat dan menakutkan digambarkan hanya terdiri atas perempuan-perempuan yang lemah. Kubu-kubunya yang kuat digambarkan dengan pintu gerbang yang terbuka lebar untuk musuhnya (Ayat 13-14). Babel di bawah Nebukadnezar mulai memberontak terhadap Asyur mulai 626 SM, dan pertempuran berlangsung selama 14 tahun sampai akhirnya gabungan tentara Nebukadnezar dan Media menghancurkan kota Niniwe pada 612 SM.

    Sahabat, Niniwe diminta untuk berjuang sekuat tenaga, termasuk mempersiapkan air yang banyak untuk dipakai ketika mereka dikepung dan memperkuat kubu-kubu mereka (Ayat 14). Namun, semua persiapan itu akan sia-sia karena Niniwe akan dimakan habis dengan api dan pedang, bahkan ketika jumlah mereka sangat banyak (Ayat 15). Jumlah mereka yang begitu banyak tidak ada gunanya karena semua orang, dari penjaga sampai para pemuka akan melarikan diri secepat belalang terbang menghilang (Ayat 17-18).

    Kehancuran Niniwe merupakan kehancuran total, secara keseluruhan, yang tidak akan dipulihkan (Ayat 19). Kehancuran Niniwe telah ditunggu-tunggu oleh banyak bangsa yang merasakan perlakuan kejam Niniwe. Mereka akan bertepuk tangan mendengar kehancurannya (Ayat 19).

    Sahabat, kadang-kadang kekuatan jahat diizinkan Tuhan menjadi sangat luar biasa dan sepertinya tidak terkalahkan. Ketika sudah tiba waktunya, betapa pun dahsyatnya kekuatan tersebut, ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Jangan putus asa menghadapi kejahatan yang ada disekeliling kita! Ketika tiba waktunya, kekuatan tersebut akan hancur tanpa sisa. Dihancurkan secara keseluruhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Kota Penumpah Darah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang kita miliki bukan untuk  kita sombong dan arogan tetapi untuk kita pakai  memuliakan Tuhan. (pg).

  • KEMALINGAN (01)

    Ceritanya seusai libur Lebaran beberapa tahun silam, hari pertama masuk kantor banyak karyawan berkerumun. Mereka  bersilaturahmi. Kemudian mereka melapor bahwa gudang penyimpanan barang dan onderdil  dibobol orang, banyak barang raib. Gudang ada di belakang kantor, pagi-pagi pintunya sudah terbuka. Nah siapa yang bertugas lembur jaga kantor saat Lebaran?

     Ada tiga orang satpam secara bergilir dan ada 2 orang karyawan yang tidak mudik kemudian minta izin ikutan jaga kantor dengan tarif lembur hari raya, namanya Ef dan Ma. Kami memanggil orang-orang yang berjaga di kantor, 4 orang ada dan Si Ma tidak muncul. Mulailah diinterogasi ramai-ramai, tidak ada yang mengaku, hanya saja suatu pagi seorang satpam tidak masuk karena  mengantar istri ke Puskesmas.

    Hampir 4 jam lewat. Bagian pembukuan lapor, ada sekian puluh barang hilang, perhitungan sementara Rp 50 juta. Kepala Gudang Pak Is dicecar banyak orang karena terlambat memperbarui kartu stok. Memang 1 hari sebelum libur ada kiriman barang masuk satu kontainer, dengan alasan kartu stok akan diperbarui setelah liburan, maka catatan barang tidak diperbarui.  Nah sekarang banyak barang hilang. Pak Is nampak sangat tertekan karena menunda pekerjaan, sekarang semua orang menyalahkannya. Dia dan Si Ef kena getahnya, sementara Ma tidak ada. Kami mengundang polisi untuk melihat TKP, kemudian semua satpam, Pak Is dan Si Ef diangkut ke kantor polisi untuk disidik.

    Sore hari beberapa supervisor datang ke ruang saya. “Pak, kami prihatin karena kantor kemalingan, kami ingin ikut mencari siapa yang nyolong atau jadi dalangnya. Kami tidak mau dituduh kantor!” Saya hanya terdiam.

    “Pak, ini usulan kami semua, tadi sudah rundingan. Di Bogor Kidul ada orang pinter, dia bisa mencari orang yang nyolong. Ada saudara dan tetangga yang pernah ke sana. Ini orangnya hanya sembahyang dan kita disuruh sembahyang menurut kepercayaan masing-masing. Lalu ada kaca pengilon (kaca rias) yang ditutupi kain mori. Kaca itu setelah didoakan, kain mori dibuka, nah yang jadi maling akan nampak, bisa difoto.”

    Saya menjadi melongo. Wah ada CCTV yang tidak kelihatan nih, jadi orang pintar bisa melihatnya. “Bapak boleh ikut ramai-ramai dengan kami 4 orang ke sana, besok berangkat jam 8 pagi dari kantor. Biayanya seikhlasnya.”

    Hore… seketika hatiku bersorak mendengar solusi ini. “Besok saya ikut ya”. Tapi tiba-tiba di kupingku terdengar suara jelas: “Sur, jangan murtad! Awas kalau kamu ikutan ke sana, mobil akan terbalik di tol l!!” Suara itu terdengar jelas diulang dua kali. Aku baru sadar, seperti kena tempeleng, dan kemudian mengucap “Sorry, besok saya tidak ikutan, ada panggilan dari Komisaris soal kemalingan,” alasanku untuk membatalkan tidak ikutan.

    Esok harinya pak Is, Si Ef dan pembukuan melakukan stok opname dan pembaruan catatan. Sorenya karyawan yang pergi ke orang pintar menunjukkan foto. “Ini Pak, kaca dibuka, ada Si Ef yang berdiri di pintu, tapi di bagian dalam ada yang hitam-hitam gerak-gerik tidak jelas, katanya pakai ilmu.” Mau ngomong apa, Si Ef ada di cermin, ada fotonya. Magrib itu juga Si Ef digelandang ke kantor polisi, dia nangis-nangis pilu, bilang tidak nyolong, tapi foto dari cermin orang pintar menuduhnya.

    Bagian gudang ada 3 orang, lalu kemana perginya Si Ma? Karyawan yang ke kosnya mendapati kamarnya kosong melompong, ibu kos bilang, pergi tidak pamit dan masih punya hutang uang kos satu bulan. Rumahnya mana? Ah, di luar pulau Jawa. Ini orang dapatnya dari mana? Siapa mau susulin si Ma ke kampung halamannya?  Wah, pesawat sekali jalan Rp 3 juta, belum transpor, makan dan lain-lain.  Si Ma hilang jejak. Si Ef ditahan di polisi 2 malam. Hari ketiga aku nengokin, kasihan, nampak ada yang lebam, kata dia disuruh banyak kerjaan oleh tahanan lainnya. Kasihan, yah, laporan ke polisi dicabut, Si Ef bisa pulang.

    Tinggallah Pak Is sebagai kepala gudang yang teledor, tidak memperbarui kartu gudang. Hari ke empat, saya menandatangani surat PHK, pak Is merasa bersalah sekali dan menyatakan bersedia jika pesangonnya dipotong sebagian atas keteledorannya. Hari ke lima, istri pak Is datang, nangis-nangis, minta maaf atas kekurang-becusnya suami dalam bekerja, dan dia bilang ikhlas kalau pesangon suami dipotong. Oh …   

    Hari ke lima sore, aku mulai bisa berpikir jernih. Merenung. Sebagai atasan kok jadi orang jahat ya. Si Ef dapat sesuatu selama 2 malam di tahanan, terutama karena bukti foto dari cermin, Pembaca pasti paham kira-kira dapat apa. Pak Is di-PHK langsung atas kesalahannya, padahal dia sudah bekerja 5 tahun, pesangonnya juga dipotong sebagai ganti rugi. Istrinya nangis-nangis, suami PHK, anak 2 orang masih TK-SD. Kok aku jadi orang jahat, padahal rajin ke gereja. Hitung-hitung lagi, sudah 5 hari aku tidak berdoa, apalagi baca Alkitab … Untung aku tidak ikutan pergi ke orang pintar, kalau-kalau ikut, mungkin sudah masuk rumah sakit dan mungkin juga cacat. Gajiku mulai akhir bulan ini juga akan dipotong karena dianggap ikutan teledor saat merekrut Si Ma.

    Tiba-tiba ada suara berbisik di hatiku: Mengapa tidak berdoa! Sejak kecil kamu tahu firman-firman berikut ini: 1 Petrus 5:7:  “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Mazmur 34:16: “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong.” Mengapa kamu justru ingin ikut ke orang pintar???!!! Untung kamu masih mendengar suara Tuhan.

    Saudaraku, aku memang lemah, perlu pertolongan TUHAN setiap waktu, agar tidak salah melangkah dalam usaha mencari nafkah. Saat pulang kerja, istri dan anakku tetap bangga memiliki suami dan papa yang bisa menjaga hati dan hidupnya. Nama Tuhan dipermuliakan melalui apa yang dikerjakannya. (Surhert).

  • Cruelty brings Destruction

    ADA SAAT MENANG DAN ADA SAAT KALAH. Sahabat, beberapa kali saya jumpa dengan petinju Chris John di salah satu Depot Makan di Semarang. Chris John adalah seorang petinju Indonesia. Ia mencatatkan rekor sebagai juara dunia kelas bulu pertama yang berasal dari Indonesia. Ia mencatatkan rekor sebagai petinju kedua terlama yang menjadi juara dunia kelas bulu sepanjang masa. Ia juga mencatatkan rekor sebagai peringkat kedua dalam daftar petinju yang mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu sepanjang masa. 

    Ia juga tercatat sebagai petinju Indonesia kelima yang berhasil meraih gelar juara dunia, setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, Ajib Albarado dan Suwito Lagola. Namun, rekor tak terkalah Chris John musnah di tangan petinju Simpiwe Vetyeka pada tahun 2013. Petinju kelas dunia dan rekor tak terkalahkan pun akhirnya akan kalah juga. Sesungguhnya semua ada masanya. Ada saat menang dan ada saat kalah. 

    Sahabat, di dunia ini tidak ada yang kekal. Artis, musisi, seniman, atlet, politikus, dan lain-lain, pasti akan mengalami pasang surut kehidupan. Tidak ada orang yang jaya terus. Tidak ada orang yang menang terus.

     Ada yang berpendapat bahwa kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, tidak selamanya berada di atas, kadangkala berada di bawah.  Pendapat itu ada benarnya!  Ada saatnya seseorang berada di puncak karier, berhasil dan punya segalanya, tapi ada waktunya ia harus mengalami kegagalan dan harus merangkak dari bawah lagi.  

    Ada kalanya kita bersukacita karena hal-hal yang menyenangkan, tapi suatu waktu kita juga harus menangis, bersedih dan berduka karena mengalami masalah atau kesesakan.  Suatu kali kita bisa berbangga hati memiliki tubuh atletis, sehat dan kencang, tapi itu tak akan bertahan lama, dalam beberapa tahun kemudian tubuh kita tak seindah dulu;  masa-masa itu pasti akan lewat.  Oleh karena itu Salomo menasihati,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).  Tidak ada alasan bagi kita memegahkan diri dan sombong, apalagi berlaku semena-mena,  sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Nahum dengan topik: “Cruelty brings Destruction (Kekejaman Mendatangkan Kehancuran)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 2:3-13. Sahabat, kejahatan Niniwe sudah tidak bisa didiamkan lagi. Kota yang besar dan hebat itu telah membuat bangsa-bangsa lain sangat menderita, termasuk Yehuda. Peringatan yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Nahum supaya bertobat dan melakukan kebaikan pun sama sekali tidak dipedulikan.

    Kondisi itu sangat berbeda dari kondisi masyarakat Niniwe pada zaman Nabi Yunus. Setelah diperingatkan Tuhan melalui Nabi Yunus, mereka mau bertobat sehingga Tuhan tidak jadi menjatuhkan malapetaka. Kini kekejian mereka membuat Tuhan murka, dan mereka sangat keras kepala dan semaunya sendiri. Terhadap orang-orang seperti itu Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa Ia adalah lawan mereka (Ayat 13). Ia akan melawan segala bentuk kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya. Ia menghendaki agar manusia hidup rukun, bukan saling menindas, merampas, dan membinasakan. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu sejak mulanya baik, bahkan sangat baik, tetapi apa yang diperbuat manusia adalah kekejaman.

    Perlawanan Tuhan yang dahsyat terhadap bangsa Asyur yang keji tersebut tercatat dalam sejarah (Pertempuran Niniwe, 612 SM). Tuhan memakai bangsa Babel dan Media untuk melawan dan menaklukkan Asyur. Negeri Asyur yang sebelumnya menjadi bangsa yang hebat, saat itu mengalami kekalahan telak. Dengan nada ejekan, Nahum menulis bagaimana kehebatan bangsa Asyur itu pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah ketandusan, hati yang tawar, dan lutut yang goyah. Niniwe tidak berdaya. Kota itu ditinggalkan oleh penduduknya dan tidak memiliki kebanggaan apa-apa lagi.

    Sahabat, melalui kisah ini kita diingatkan bahwa kehebatan yang berbuahkan kekejaman justru mendatangkan kehancuran. Kita diingatkan agar kegagahan dan kekuatan yang kita miliki tidak membuat kita menjadi semena-mena, bahkan berlaku kejam terhadap sesama. Kegagahan manusia hanyalah sementara, sebab seketika juga Tuhan semesta alam bisa menjadi lawannya, dan Ia akan menghancurkan itu semua. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita diingatkan bahwa kehebatan dan kejayaan yang berbuah kekejaman justru mendatangkan kehancuran. (pg).