Author: Christopherus

  • SEPULUH EKOR UNTA

    Saudaraku, Kejadian 24:10:  “Kemudian hamba itu mengambil sepuluh ekor dari unta tuannya …”. Ini merupakan sebuah ayat yang biasa-biasa saja di kitab Kejadian, ketika hamba Abraham disuruh oleh Abraham pergi ke negeri Aram-Mesopotamia, asal Abraham, mencarikan calon istri bagi Ishak. 

    Akhirnya hamba ini tiba di pinggiran kota di Aram, di dekat sebuah sumur. Lalu dia berdoa: “Kiranya ada seorang anak gadis yang mau memberikan air minum dari buyungnya, dan anak gadis itulah yang akan menjadi calon istri bagi Ishak, anak Abraham.”

    Benarlah …  Datang seorang anak gadis yang sangat cantik parasnya, mengambil air dari sumur dari buyungnya. Hamba itu minta minum. Setelah ia selesai memberi hamba itu minum, anak gadis itu berkata: “Baiklah untuk unta-untamu juga kutimba air, sampai semuanya puas minum.”  Kemudian segeralah anak gadis ini menuangkan air yang di buyungnya itu ke dalam palungan, lalu berlarilah ia sekali lagi ke sumur atau mata air untuk menimba air dan ditimbanyalah untuk semua unta orang itu (Kejadian  24:20). Ya cerita yang nampak biasa-biasa saja.

    Nah, ada sepuluh ekor unta, berapa banyak air yang dapat diminum oleh seekor unta? Ini di Wikipedia, unta memiliki penyimpanan air yang berada di punuknya. Punuk tersebut mengandung sekitar 40 kg lemak yang menjadikan unta mampu berjalan lama tanpa makan dan minum. Dalam sepuluh menit, unta mampu meminum air sebanyak ⅓ berat badannya. Artinya, seekor unta mampu meminum 130 liter air dalam sekali minum.

    Ada 10 ekor unta, berarti semuanya akan minum 1.300 liter air. Nah anak gadis yang sangat cantik parasnya ini, kita tahu selanjutnya bahwa ia bernama Ribka, menimba air memakai buyung. Berapakah besar buyung yang dibawa Ribka, apalagi Ribka menurut website di JWA.org (Jewish Women’s Archive, Amerika) berusia sekitar 14 tahun. 

    Jelas kalau 1 buyung air itu seperti galon Aqua yang isi 19 liter, tentu Ribka sudah kepayahan memikulnya setiap hari dari sumur ke rumahnya, jadi yang dibawa Ribka boleh jadi kendi yang cukup besar, yang menampung sekitar 4 liter air, beratnya sekitar 5 kg termasuk kendi. Jika Ribka memakai kendi untuk mengambil air minum bagi 10 ekor unta yang minum 1.300 liter air, berarti dia mesti bolak-balik mengambil air dari sumur lalu menuangkan ke palungan unta sebanyak 300 kali! 

    Zaman itu belum ada pompa listrik Sanyo atau pompa air Dragon yang mudah menyalurkan air, jadi menimba air 300 kali pasti perlu waktu 2-3 jam lebih.  

    Melihat pelayanan Ribka, hamba Abraham memberikan anting-anting dan gelang emas yang dibawanya kepada Ribka dan dia menemui orangtua Ribka untuk melamarnya, kemudian Ribka dibawa pulang menemui Abraham untuk dijodohkan dengan Ishak.

    Ribka yang memberi minum 10 ekor unta dan akhirnya dijodohkan dengan Ishak menjadi sangat penting, karena hari ini kita mudah menemukan di google ada banyak website dan tafrsir sesat yang mengolok-olok usia Ribka saat dijodohkan dengan Ishak, yang mengatakan saat itu Ribka usianya 3 tahun, karena katanya di usia 3 tahun pada zaman itu sudah umum seorang anak gadis dikawinkan. Jelaslah Ribka yang mampu memberi minum untuk 10 ekor unta tidaklah dapat dilakukan oleh seorang anak usia 3 tahun.

    Bila kita baca di Kejadian 27:46, kita akan membaca curahan hati Ribka kepada Ishak  mengenai Esau yang telah mengambil beberapa orang istri dari kaum Het, yang dikenal kafir: “Aku telah jemu hidup karena perempuan-perempuan Het itu; jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini, semacam perempuan Het itu, apa gunanya aku hidup lagi?”  

    Syukur kepada Tuhan, dengan sigap Ishak segera merespons curahan hati Ribka: Kemudian Ishak memanggil Yakub, lalu memberkati dia serta memesankan kepadanya, katanya: “Janganlah mengambil isteri dari perempuan Kanaan. Bersiaplah, pergilah ke Padan-Aram, ke rumah Betuel, ayah ibumu, dan ambillah dari situ seorang isteri dari anak-anak Laban, saudara ibumu. …”  (Kejadian 28:1-2).

    Saudaraku, renungan bagi kita, sebagai orangtua, apakah kita memerhatikan kehidupan anak-anak kita dalam mencari pasangan hidup? Apakah kita biarkan anak-anak kita mencari calon pasangan hidup dari kalangan  orang yang di luar keselamatan Kristus? Bersediakah kita menjadi pendoa dan pemdamping bagi anak-anak kita dalam pergumulan mereka untuk mendapatkan pasangan hidup?

    Mari kita renungkan dengan hati dan pikiran yang bening nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus ini: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?” (2 Korintus 6:14-15). (Surhert). 

  • Humans are Precious

    MEMULIAKAN TUHAN.  Sahabat,Tuhan mau kita hidup dalam arah yang benar, salah satunya kita harus mengakui bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang kita terima dan punyai saat ini. Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Tuhan kita harus mengakui bahwa bakatku berasal dari-Nya, uangku berasal dari-Nya, kesehatanku berasal dari-Nya, dan seterusnya. Maka dari itu semuanya mesti dipakai untuk kemuliaan nama Tuhan. 

    Memuliakan Tuhan berarti mengakui dan menghargai kemuliaan Tuhan di atas segalanya dan membuat kemuliaan-Nya dikenal melalui hidup kita. Memuliakan Tuhan memang bukan berarti membuat Tuhan lebih mulia, karena Dia sudah mulia dan tidak kekurangan kemuliaan; kemuliaan Tuhan sudah sempurna dan tidak perlu ditambahkan oleh manusia.

    Paulus berkata bahwa kita dapat memuliakan nama-Nya melalui bagaimana kita menjalani hidup dan beraktivitas. Paulus menegaskan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bukan untuk kepentingan diri sendiri tetapi harus bertujuan untuk memuliakan Tuhan dan menyenangkan dan menghormati Dia. Bahkan hal paling sederhana sekalipun, seperti makan dan minum, juga dapat memuliakan nama Tuhan. Hal itu dilakukan agar orang yang berada di sekitarnya beroleh selamat (1 Korintus 10:31-33). 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Humans are  Precious (Manusia Sungguh Berhaga)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 8:1-10 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, ada orang-orang tertentu menganggap bahwa harga diri mereka ditentukan oleh apa yang mereka miliki, sehingga mereka memakai barang yang  branded (bermerek), makan makanan yang mahal, naik kendaraan keluaran tahun terbaru, dan tinggal di rumah yang mewah bak istana. Ketika mereka tidak sanggup menggapainya, mereka merasa menjadi orang-orang yang tidak berharga.

    Daud memuji Tuhan pencipta yang mulia dan agung ketika ia melihat hasil karya Tuhan yang luar biasa yaitu langit, bulan dan bintang-bintang. Daud menjadi merasa begitu kecil dan hina sehingga menyebut dirinya, manusia, dengan “apa” dan bukan “siapa”, seperti sebutan sebuah benda. Daud bahkan dalam keberadaannya merasa tidak layak untuk diingat dan diindahkan oleh Tuhan (Ayat 4-5). 

    Tetapi Daud tidak berhenti pada perasaan yang kecil dan hina karena ia menemukan bahwa Tuhan membuat manusia hampir sama seperti Allah. Dia memahkotai manusia dengan kemuliaan dan hormat, bahkan membuat manusia berkuasa atas segala buatan tangan-Nya. Manusia begitu berharga di hadapan Tuhan karena telah diciptakan dengan baik, diberi karunia-karunia dan kepercayaan (Ayat 6-9).

    Sahabat, tugas kita adalah mengelola alam ini supaya menjadi wadah yang asri dan harmonis. Ingatlah bahwa kita diciptakan sebagai makhluk mulia supaya hidup kita penuh dengan kehormatan dan kemuliaan. 

    Mari tunjukan kepada dunia bahwa kita benar adalah makhluk mulia yang diciptakan Allah serupa dan segambar dengan Dia. Tunjukan itu dalam lingkungan kerja, lingkungan belajar kita, dan di mana pun kita berada. Mari isi hidup kita dengan perilaku hidup yang mulia dan memuliakan Tuhan. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang hidup yang mulia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:Marilah kita menyampaikan pemahaman yang benar bahwa Tuhan, Sang Pencipta, sungguh mengasihi dan menghargai mereka apa adanya karena mereka sungguh berharga di mata-Nya. (pg) 

  • God, the Fairest Judge

    HAKIM. Sahabat, dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa Hakim  pada zaman Israel kuno adalah istilah untuk pemimpin bangsa Israel pada periode setelah memasuki tanah Kanaan di bawah pimpinan Yosua dan sebelum zaman kerajaan Israel (kira-kira 1405-1025 SM). Sejarah periode ini dicatat dalam Kitab Hakim-hakim. 

    Seorang hakim adalah “penguasa atau pemimpin militer, sekaligus orang yang memimpin pengadilan hukum”. Pada waktu itu, 12 suku Israel menempati tanah yang menjadi bagian mereka dari pembagian oleh Musa di Kitab Ulangan dan tidak ada pemerintahan pusat, maupun tata hukum masyarakat, selain hukum Taurat. 

    Ayat terakhir Kitab Hakim-hakim menyimpulkan: “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” (Hakim-hakim 21:25). Di waktu-waktu kesusahan, maka muncullah pemimpin-pemimpin yang disebut “hakim”.

    Dalam Kitab Hakim-hakim tampak satu pola berputar yang menunjukkan perlunya seorang “hakim”: Bangsa Israel meninggalkan ibadah pada TUHAN, kesusahan menimpa sebagai hukuman TUHAN, bangsa Israel menjerit kepada TUHAN, TUHAN menolong dengan membangkitkan seorang “hakim” untuk suatu periode tertentu (Hakim-hakim 2:10-23). 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God, the Fairest Judge (Allah, Hakim yang Paling Adil)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 7:1-18. Sahabat, kita mungkin pernah diperlakukan secara tidak adil, dan itu menyakitkan. Besar hasrat hati untuk membalas, tetapi dalam hasrat yang menggebu itu ada bisik hati yang mengingatkan bahwa ditegakkannya keadilan adalah bagian dari kedaulatan Tuhan.

    Pemazmur pun mengalami ketidakadilan. Ia menyadari bahwa dalam ketidakberdayaan yang dirasakannya, hanya Tuhan yang menjadi sumber perlindungan (Ayat 2-3). Di dalam Tuhan ada keselamatan sejati.

    Menariknya, Pemazmur juga melakukan introspeksi diri (Ayat 4-6). Apabila ia juga melakukan kelaliman dan ketidakadilan, Tuhan juga akan menimpakan hukuman kepadanya. Sering kali kita menganggap bahwa pihak lain berbuat tidak adil, tetapi pada saat yang sama pernahkah kita bertanya apakah kita telah berlaku adil dan penuh kasih kepada sesama? Jangan-jangan kita melakukan hal yang sama.

    Sahabat, Tuhan memang penuh kasih, tetapi Ia juga mahaadil. Mazmur 7 menggambarkan Allah sebagai Hakim yang adil. Orang benar akan dibela-Nya, sementara orang lalim akan mendapat ganjarannya (Ayat 10). Gambaran keadilan Allah diungkapkan Pemazmur melalui gambaran tentang Allah yang mengasah pedang dan melenturkan busurnya seperti pejuang yang akan maju ke medan perang (Ayat 13-15). Dunia mungkin diam di hadapan mereka yang lalim, tetapi Allah pasti akan bertindak. Demikianlah keyakinan yang diserukan Pemazmur.

    Pada akhir pasal ini, diungkapkan bahwa Tuhan bertakhta dalam keadilan dan keagungan (Ayat 18). Tidak ada yang luput dari pengadilan-Nya, maka sudah menjadi tugas setiap umat untuk berlaku adil terhadap sesama.

    Sahabat, ketidakadilan memang akan terus terjadi, tetapi yakinlah bahwa Tuhan tidak pernah tinggal diam atas mereka yang melakukannya. Maka dari itu, penting bagi orang percaya untuk tidak ikut dalam arus dan godaan dunia yang membenarkan, apalagi melazimkan, perilaku tidak adil dan manipulatif terhadap sesama. Jika kita tahu rasanya diperlakukan secara tidak adil, sudah seharusnya kita senantiasa berlaku adil kepada sesama dan memperjuangkan keadilan itu! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Percayakan diri kita kepada Tuhan karena Dia selalu bertindak adil. (pg).

  • HIDUP itu PERJUANGAN

    Saudaraku, mari kita membaca dan merefleksikan Filipi 4:12-13: “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

    Orang-orang yang melihat fotoku di atas saat berada di bandara Cochin di India ini mungkin ada yang berpikir seperti: “Wah asyik ya jalan – jalan terus”, atau “Wah kapan ya aku juga bisa sampai ke sana”, atau “Nikmatnya kerja sambil jalan – jalan”, bahkan “Wah gilaa.. kemarin baru tempat A, sekarang sudah menclok ke tempat B”.  Atau malah mungkin ada yang sebaliknya, “Baru bisa ke India saja sudah bangga”, atau “Hmm gitu aja sudah dipamerin” dan kalimat-kalimat nyinyir lainnya. Yah, seperti itulah hidup. Kita menilai dan diberi penilaian. Kita membuat interpretasi dan diberi interpretasi. Kita melihat dan dilihat. Vice Versa.

    Saudaraku, untuk bisa berpose manis dengan latar belakang tulisan Kerala itu, berapa besar usaha yang harus kulakukankan?

    Dimulai dari jam 3.45 pagi bangun dan bersiap untuk berangkat pada  jam 4.30. Perjalanan dua setengah jam untuk sampai di airport Semarang untuk mengejar pesawat 7.45 ke Jakarta.  Di Jakarta, dari Terminal 3 aku dan temanku harus pindah ke Terminal 2 untuk menyambung pesawat ke Kuala Lumpur jam 12.30. Tiba di Kuala Lumpur jam 17.00, kami harus nongkrong di Kuala Lumpur International Airport selama kurang lebih 5 jam untuk melanjutkan pesawat ke Cochin.

    KUL – COC yang berdurasi sekitar 4.5 jam itu menerbangkan kami sampai di sana pukul 1.00 dini hari (kalau di Indonesia berarti sudah pukul 2.30 pagi). Bisa dihitung, mulai dari bangun jam 3.45 WIB, sampai di bandara Cochin jam 2.30 pagi (atau jam 4.00 pagi WIB) hari berikutnya. 

    Lalu, apakah sudah selesai perjuangan? NO. Kita masih harus menempuh jarak 150 km dengan mobil yang membutuhkan waktu 3.5 jam!!! Jadi akhirnya kami tiba di hotel pukul 6.00 pagi WIB. Butuh sekitar 26 jam total waktu yang kubutuhkan di jalanan hari itu. Pada saat aku baru akan mulai membaringkan badan di tempat tidur, anak-anakku di Indonesia sudah mulai sibuk bersiap ke sekolah!

    Jadi seperti itulah hidup. HIDUP  itu PENUH dengan PERJUANGAN. Hidup itu tidak mudah. Tetapi Hidup itu juga adalah anugerah yang besar dari Tuhan, yang harus dikelola dengan bijaksana dan benar. Hidup adalah tentang bagaimana kita membawa dan memberi diri untuk menjadi berkat dan berdampak. Berdampak baik bagi Tuhan dan bagi sesama.

    Di dalam Hidup,  untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar. Semakin besar penghargaan atau kepercayaan yang diterima, akan semakin besar dan mahal juga harga yang harus dibayar. Ketika sedang dipercaya untuk mengelola proyek yang besar, pasti akan ada fasilitas dan kesejahteraan yang mengikuti. Akan ada otoritas dan kekuatan yang membuat kita bisa memberi instruksi kepada orang-orang yang menjadi anak buah kita. Tapi di sisi lain, pastilah banyak waktu, tenaga dan pikiran yang harus diberikan untuk bisa mengerjakan kepercayaan besar ini. Ada stres dan tekanan yang jauh lebih besar. Ada tanggungjawab yang berat yang harus dipikul di pundak. 

    Demkian juga sebaliknya. Kalau maunya hanya ingin mengerjakan hal-hal yang remeh, atau bahkan maunya bermalas-malasan, pasti hasilnya pun tidak akan maksimal. Kalau sedikit-sedikit cengeng dan menyerah, ya hasilnya akan begitu-begitu saja. Biasa. Standar. Mainstream.

    Seperti yang kutulis di paragraf pertama di atas, orang seringkali menilai apa pun yang mereka lihat. Itu tidak salah. Itu hak mereka. Namun, aku ingin mengingatkan kita untuk memastikan bahwa penilaian itu bukan hanya sebuah asumsi pribadi. Belajarlah terlebih dahulu untuk melihat lebih dekat dan mendengar lebih banyak sebelum memberi penilaian. Supaya penilaianmu bukanlah penilaian yang salah. Karena kalau salah, itu bisa menjadi fitnah. Kita tahu sekali, di zaman sekarang ini seringkali kebenaran justru tertimbun oleh banyaknya berita-berita viral yang belum tentu benar.

    Lalu dari sisi kita sendiri, pada saat kita dinilai atau dikomentari, berbesar hatilah ketika penilaian itu mungkin sesuatu hal yang tidak benar, tidak sesuai dengan kenyataan yang kita alami atau bahkan cenderung mengarah kepada fitnah. Tetap rendah hatilah ketika penilaian itu bersifat meninggikan dan memuji kita. Jangan menjadi sombong. Kita tidak bisa mengontrol orang lain akan berkata seperti apa tentang kita. Tapi kita bisa mengendalikan hati dan sikap kita menghadapi penilaian itu. Tetaplah bersikap positif dan bijaksana.

    Akhirnya, teruslah berjuang untuk hidup kita. Apakah Saudara mau dan ingin  dipercaya untuk melakukan dan menerima hal – hal yang besar? Lakukan segala sesuatu dengan taat, setia dan benar. Jangan gampang menyerah, apalagi mengeluh. God will bless your ways and choices.  Selamat Mengisi Hidup! Selamat BERDOA dan BERJUANG! (Novi Reksanto)

  • Strong with God in Facing Problems

    MAZMUR 6. Sahabat Mazmur 6 mempunyai pesan teologis yang sangat dalam. Iman Pemazmur ini patut mendapat pujian. Kasih setia Allah pasti menang atas kuasa maut. Pemazmur benar-benar percaya pada Tuhan dan berbalik kepada-Nya. Ada 3 poin penting yang dapat dipelajari dari Daud, yakni: 

    Pertama, berseru dan datang kepada Tuhan. Seberat apa pun pergumulan kita, hanya dalam Tuhanlah kita mendapatkan kelegaan (bdk. 1 Korintus 10:13). Itu artinya, Tuhan tidak menjanjikan bahwa hidup selalu mulus, aman, tanpa masalah dan pergumulan.  Namun, Dia berjanji tidak akan membiarkan umat-Nya dicobai melebihi kekuatannya. Dia akan memberikan jalan keluar. 

    Kedua, merendahkan diri, meminta belas kasihan, dan pengampunan Tuhan. 

    Pergumulan dan pencobaan dapat mengarahkan kita untuk mengevaluasi diri, membentuk diri menjadi lebih baik, dan menuntun kita lebih bergantung kepada-Nya. Walaupun kita manusia adalah makhluk yang berdosa dan bersalah namun kita percaya semuanya itu akan diubah menjadi baik oleh Tuhan. 

    Kita merasa diri kita amat bersalah bila kita sendiri mempersalahkan diri, tetapi kita yakin ketika Tuhan bersabda baik, semuanya akan menjadi baik meskipun pada kenyataannya diri kita penuh dengan kesalahan. 

    Ketiga, percaya penuh kepada pertolongan Tuhan. Pada akhir doanya, Daud mendapat kelegaan dan keyakinan akan pertolongan Tuhan dan ini memberinya kekuatan. Masalah pasti akan terus ada selama kita masih hidup di dunia. Hadapilah masalah dan pergumulan bersama dengan Tuhan. Andalkan Dia, maka kita akan kuat, optimis, dan semangat. Kita akan dimampukan menang atas setiap pergumulan. Hal ini merupakan peryataan iman yang paling tinggi. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Strong with God  in Facing Problems (Kuat Bersama Allah dalam Menghadapi Masalah)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 6:1-11. Sahabat, pergumulan sering kali membuat kita merana, lemah, takut, dan tak berdaya. Bahkan terkadang kita mempertanyakan mengapa Tuhan diam saja. Ketika pergumulan itu semakin berat, tidak sedikit juga orang percaya yang “lari” dan mencari jawaban di luar Tuhan. Bacaan kita pada hari ini mengajar kita bagaimana Daud menghadapi pergumulannya dengan DOA.

    Dalam Mazmur 6, Daud mengungkapkan isi hatinya kepada Tuhan, meminta belas kasihan-Nya, dan bertanya kepada Tuhan berapa lama lagi dia harus merana dan menderita (Ayat 3-4). Sepanjang hidupnya Daud berkali-kali menghadapi bahaya, ancaman, dan pergumulan. 

    Ketika dia menggembalakan ternak pun, ancaman binatang buas selalu mengintai, belum lagi pergumulannya dikejar-kejar oleh Raja Saul yang ingin membunuhnya, dan pergumulan lainnya. Setiap malam dia meratap dan menggenangi tempat tidurnya dengan air mata, agar Tuhan meluputkan dan menyelamatkannya dari bahaya maut yang mengancamnya (Ayat 5-8).

    Ada 3 poin penting yang dapat dipelajari dari Daud, yakni: Pertama, berseru dan datang kepada Tuhan. Seberat apa pun pergumulan kita, hanya dalam Tuhanlah kita mendapatkan kelegaan (bdk. 1 Korintus 10:13). Artinya, Tuhan tidak menjanjikan bahwa hidup selalu mulus, aman, tanpa masalah dan pergumulan. Namun, Dia berjanji tidak akan membiarkan umat-Nya dicobai melebihi kekuatannya. Dia akan memberi jalan keluar.

    Kedua, merendahkan diri, meminta belas kasihan, dan pengampunan Tuhan (Ayat 2, 3, dan 5). Pergumulan dan pencobaan dapat mengarahkan kita untuk mengevaluasi diri, membentuk diri menjadi lebih baik, dan menuntun kita lebih bergantung kepada-Nya. Ketiga, percaya penuh kepada pertolongan Tuhan. Pada akhir doanya, Daud mendapat kelegaan dan keyakinan akan pertolongan Tuhan dan ini memberinya kekuatan (Ayat 8-11).

    Sahabat, masalah pasti akan terus ada selama kita masih hidup di dunia. Hadapilah masalah dan pergumulan bersama dengan Tuhan. ANDALKAN DIA,  maka kita akan kuat, optimis, dan semangat. Kita akan dimampukan menang atas setiap pergumulan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, ceritakanlah secara singkat bagaimana Sahabat bisa menjadi pemenang dalam menghadapi pergumulan hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita dipanggil untuk sanggup dan berani mempertahankan iman kita secara pribadi meskipun harus menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. (pg)