Author: Christopherus

  • Menjadi KACA atau BAJA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Sesungguhnya sakit itu mengingatkan kita bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh kita. Ada anggota tubuh kita yang kurang berfungsi dengan semestinya. Orang bijak mengingatkan kita, “Rasa sakit yang Anda rasakan hari ini, akan menjadi kekuatan yang Anda rasakan besok.”

    Muhammad Ali (Petinju legendaris asal Amerika) berkata, “Saya tidak menghitung sit-up saya; saya baru menghitungnya ketika mulai sakit, karena hanya ketika mulai sakit itulah yang penting (berarti).”

    Saudara, ada pepatah lama yang mengatakan,  “Palu menghancurkan kaca, palu membentuk baja.”  Apa maknanya?  Kaca memiliki sifat mudah sekali retak, pecah dan hancur apabila terkena benturan.  Sedangkan baja itu kuat, kokoh dan tidak mudah pecah.  Pepatah ini berbicara tentang reaksi seseorang terhadap masalah. 

    Apakah kita bersifat seperti kaca yang rentan terhadap masalah, sehingga mudah sekali kita kecewa, hancur, putus asa, marah, tersinggung, sakit hati, frustasi, mengasihani diri sendiri secara berlebihan, dan mudah menyalahkan orang lain?  Sedikit benturan saja sudah lebih dari cukup untuk menghempaskan sukacita kita.

    Sebagai orang percaya seharusnya kita memiliki sikap seperti baja yang berkarakter kuat dan tangguh.  Seseorang yang bermental baja akan selalu berpikiran positif, optimis dan tetap bisa mengucap syukur meski berada dalam tekanan dan himpitan.  Ia bisa mengambil sebuah pelajaran berharga dari setiap masalah yang terjadi.  Masalah baginya adalah sebuah proses yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih tangguh, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.”  (Mazmur 126:5)
     

    Kita tahu bahwa sepotong besi baja akan menjadi sebuah alat yang berguna bagi kehidupan manusia setelah terlebih dahulu dibentuk dan ditempa dengan palu.  Memang setiap pukulan terasa menyakitkan dan terkadang kita harus bercucuran air mata dan berdarah-darah,  namun semua itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita. 

    Sesungguhnya, masalah merupakan salah satu cara yang dipakai Tuhan untuk membentuk, memproses, memurnikan dan menguji kualitas iman dan pribadi kita.  “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). 

    Karena itu jangan pernah lari dari masalah, namun hadapilah masalah dengan iman.  Belajarlah dari pengalaman Daud!  Ia tidak gentar sedikit pun ketika harus berhadapan dengan Goliat, bahkan dengan penuh iman berkata,  “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”  (1 Samuel 17:45).

    Ingatlah! Jadilah orang percaya yang bermental baja, yang tetap kuat meski diterpa berbagai masalah! Orang bijak mengingatkan, “Kekuatan adalah hasil dari pergumulan. Jika tidak ada rasa sakit, tidak ada keuntungan.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Menemukan KEBERANIAN dalam ROH KUDUS

    Dengan kuasa apakah orang percaya memiliki keberanian untuk bersaksi tentang Yesus Kristus?  Bacaan Alkitab Kisah Para Rasul (KPR) 4:1-13 menjelaskan rasul Petrus dan rasul Yohanes memiliki keberanian dalam Roh Kudus untuk memberitakan kabar baik Kristus di tengah-tengah keadaan sulit dan ancaman-ancaman dari para pemimpin Yahudi dan pengawal Bait Allah.  Roh Kudus membuat iman mereka dalam Yesus menjadi lebih kuat.

                Kuasa Roh Kudus yang begitu menakjubkan, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul (KPR) secara keseluruhan, juga memiliki peranan sangat penting dalam pemberitaan misi di antara para rasul Kristus dan orang percaya. Perjalanan-perjalanan misi dari rasul Paulus dan timnya yang ditopang dengan pertolongan Roh Kudus pun dijabarkan dengan panjang lebar di dalam Kisah Para Rasul (bdng. 13:1-21:16)

                KPR 4:3-4 berbunyi, “Mereka ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam. Tetapi di antara orang yang mendengar ajaran itu banyak yang menjadi percaya, sehingga jumlah mereka menjadi kira-kira lima ribu orang laki-laki.”

                Rasul Petrus dan rasul Yohanes tidak takut pada para pemimpin Yahudi yang memenjarakan mereka tanpa alasan yang jelas. Kedua rasul tetap berdiri teguh untuk memberitakan berita tentang Yesus Kristus. Apa hasil dari pemberitaan mereka di Bait Allah? Banyak orang yang mendengarkan kabar baik kini menjadi percaya. Sekitar 5.000 laki-laki percaya pada Yesus. Jumlah ini belum termasuk wanita dan anak-anak.

                Di sini, memberitakan kabar baik Kristus selalu penuh bahaya dan ancaman. Beberapa orang menerima kabar baik itu. Sebagian menolaknya. Sebagian malah marah. Beberapa orang tidak tahu bagaimana menanggapi kabar baik itu. Dengan melihat hal-hal itu, kita sering  menjadi putus asa. Karena, kita merasa  bahwa kita kurang cukup baik untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus.

    Ayat 8 berkata, “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua…” Bacaan Alkitab ini menunjukkan bahwa kedatangan Roh Kudus ke dalam hidup orang percaya membuat perubahan yang sangat besar. Roh Kudus membuat iman mereka dalam Yesus lebih kuat dan mereka berkomitmen tinggi dalam pemberitaan kabar baik Kristus di antara banyak orang.

    Di sini, Roh Kudus menolong rasul Petrus berbicara pada para pemimpin Yahudi yang berpengaruh. Rasul Petrus juga bersaksi kepada para pemimpin tentang imannya dalam Yesus Kristus. Rasul Petrus berani dan tidak takut pada mereka. Kata-katanya bijak dan benar (bdng. Markus 13:11).

    Pada pertengahan tahun 1997, Pdm. Paul Gunawan dan saya pribadi menemani Dr. David Shenk (misionaris kawakan Amerika yang melayani di Afrika saat itu) dan tim Eastern Mennonite Mission berkunjung ke kota Jepara. Tujuan mereka adalah untuk sharing pelayanan misi di antara para hamba Tuhan GKMI (Gereja Kristen ​Muria Indonesia) yang diadakan di GKMI Jepara. Suatu siang, Dr. David Shenk dan timnya sedang menikmati keindahan pantai Jepara. Ia lantas melihat sekelompok anak muda yang sedang bernyanyi dan menyembah Allah.  Karena diliputi rasa penasaran, Dr. Shenk mendekati kelompok itu. “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian di sini? tanyanya serius kepada beberapa anak muda di situ. “Roh Kudus”, jawab seorang pemuda dengan penuh keyakinan. Roh Kudus sendiri memungkinkan kaum muda itu berkumpul untuk menyembah Allah.

                Rasul Petrus pada akhir kesaksiannya mengungkapkan imannya yang terdalam kepada para pemimpin Yahudi. Ayat 12 berbunyi, Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”.

    Inilah sebuah pengakuan yang sangat indah, bukan? Keselamatan hanya ditemukan dalam Yesus sendiri. Tak ada seorangpun di dunia ini yang bisa menyelamatkan kita dari dosa dan pelanggaran-pelanggaran kita. Namun, kini hanya  ada satu Juru Selamat. Ia Yesus Kristus. Bila kita mempercayai-Nya, kita memiliki keselamatan (bdng. KPR 10:43).

    Kita bisa melihat kuasa Roh Kudus di sini. Ia sebagai seorang Pribadi. Ia memberi keberanian dan kepercayaan pada rasul Petrus dan rasul Yohanes. Bila Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, selalu ada hidup yang diubah, sukacita, dan pertumbuhan rohani. Kiranya Roh Kudus menolong kita mengenal Yesus Kristus lebih jauh dan memperkuat iman kita hari demi hari. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *******

  • ALLAH tetap MEMEGANG KENDALI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat dan kita tetap semangat menjalani dan menikmati hari baru yang Tuhan sediakan bagi kita. Saya tahu saat ini kita menghadapi situasi yang sangat sulit, pandemi Covid – 19. Namun ingatlah, bagaimanapun keadaannya, Allah tetap memegang kendali. Allah yang hebat.

    Nasihat orang bijak, “Jangan katakan pada Tuhan seberapa besar  masalah yang kamu hadapi, tapi katakan kepada masalahmu seberapa besar Tuhanmu.”


    Saat ini ada cukup banyak orang yang menjadi pesimis dalam menatap masa depannya. Mereka sudah sambat (mengeluh). Memang tak bisa dipungkiri bahwa di hari-hari ini kita semakin diperhadapkan dengan tantangan yang tidak semakin mudah, juga beban hidup yang semakin hari terasa semakin berat. 

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi pesimis: orang yang bersikap atau berpandangan tidak mempunyai harapan baik (khawatir kalah, rugi, celaka, dan sebagainya); orang yang mudah putus (tipis) harapan.

    Saudara, sesulit bagaimanapun keadaannya dan seberat apapun beban hidup yang ada, kita harus tetap optimis dan jangan pesimis, apalagi menyerah kalah pada keadaan.  Hidup kita adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).

    Mengapa kita harus tetap optimis dalam menjalani hidup?  Karena kita punya Tuhan yang tak perlu diragukan kekuatan dan kuasa-Nya.  Karena itu kita tak perlu takut menghadapi apapun.  Jika Tuhan ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?  (Roma 8:31-b).  Jika Tuhan bekerja tidak ada perkara yang mustahil bagi-Nya.  Sekalipun berada di tengah-tengah penderitaan, kalau kita senantiasa berjalan bersama Tuhan dan hidup mengandalkan Dia, maka kita akan melihat pemulihan dinyatakan atas hidup kita.  “Ketika TUHAN memulihkan keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.”  (Mazmur 126:1).  Tuhan melakukan perkara-perkara yang besar bukan bermaksud untuk unjuk kebolehan tentang ke-Ilahian-Nya, tetapi Dia memang adalah Tuhan yang Mahabesar dan ajaib segala perbuatan-Nya.

    Bersemangatlah dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang menjamin masa depan kita secara pasti.  “… masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.”  (Amsal 23:18).  Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada dunia ini, itu sia-sia belaka.  Berharaplah hanya kepada Tuhan dan tetap nantikanlah Dia, sebab orang yang berharap kepada-Nya takkan mendapat malu.  Jangan pernah takut dalam menjalani hidup, sebab kita punya Tuhan yang tidak pernah gagal segala rencana-Nya  (Ayub 42:2).

    Ingatlah! Di dalam Tuhan kita memiliki jaminan hidup yang berkemenangan, karena Dia adalah Tuhan yang besar yang mengasihi kita.  Pemazmur mengingatkan kita, “Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah.” (Mazmur 95:3). Oral Roberts (Penginjil asal Amerika) berkata, “Yang terpenting bukanlah ukuran iman saudara, tetapi siapa di balik iman saudara, yaitu Allah sendiri.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg).

  • Milikilah INTEGRITAS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Paulus Hartono (Pendeta GKMI asal Solo) berkata, “Kalau kita sudah mendapatkan ‘jeneng (nama)’, maka  ‘jenang’ (rezeki/berkat) akan datang dengan sendirinya.” Salomo mengingatkan kita, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (Amsal 22:1). Sesungguhnya integritas menjadi salah satu kunci keberhasilan hidup.

    Apa itu integritas? Menurut  C.S. Lewis (Penulis dari Britania Raya), “Integritas adalah melakukan hal yang benar walaupun tidak ada orang yang melihat.”  Sedangkan Samuel Johson (Penulis asal Inggris) berkata, “Tidak mungkin ada persahabatan tanpa ada kepercayaan dan tidak ada kepercayaan tanpa integritas.”

    Saudara, Simon Petrus merupakan satu dari tiga orang murid Yesus yang sering bersama-sama dengan Gurunya. Di mana pun Yesus melayani, ketiga orang itu selalu turut serta. Selain Petrus ada Yakobus dan Yohanes yang dikenal begitu dekat dengan Sang Guru. Contohnya saat Yesus membangkitkan anak Yairus mereka ada bersama-Nya. Demikian  juga ketika Yesus dimuliakan di atas bukit, ketiga orang itu juga turut menyaksikan momen tersebut.

    Meskipun demikian Petrus pernah mengkhianati Yesus. Memang sebelumnya  ia sempat sesumbar, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku  takkan menyangkal Engkau.” (Matius 26:35a). Ternyata apa yang diperbuat Petrus berbeda dengan apa yang pernah dia ucapkan. Pada waktu ayam berkokok,  Petrus telah menyangkal Yesus tiga kali. Selain itu setelah Yesus  disalibkan, ketiga orang murid tersebut kembali kepada kehidupan lamanya, menjadi nelayan.

    Saudara, memang tidak mudah memiliki integritas, karena integritas berbicara tentang kesetiaan, komitmen dan totalitas secara keseluruhan. Apa yang kita ucapkan itulah yang harus kita lakukan! Sebagai orang percaya kita dituntut menjadi orang-orang yang berintegritas. Bila kita berkata aku mengasihi Tuhan, atau Tuhan adalah yang utama dalam hidupku, maka kita harus membuktikannya dengan tindakan. Sejauh mana kita mengasihi Dia dan benarkah Ia prioritas utama dalam hidup kita? Apakah buktinya?

    Tuhan Yesus tetap menunjukkan kesabaran-Nya kepada Petrus, meskipun dia sempat gagal dan kehilangan integrtias. Tuhan tetap mengasihi, sekalipun dia sudah berkhianat dan menyakiti hati-Nya. Ketika bertemu kembali dengan Petrus. Yesus masih memberinya kesempatan untuk kembali melayani. Yesus bertanya kepada Petrus sampai 3 kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (Yohanes 21:15-19). Akhirnya Petrus tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan, dia merespon panggilan Tuhan untuk menggembalakan domba-domba-Nya.

    Ingatlah! Junius (Filsuf asal Belanda) berkata, “Integritas seseorang dinilai dari tingkah lakunya, bukan dari pengakuannya.” Sekarang, mari kita hayati nasihat Salomo, “Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar. Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ, …” (Amsal 2:20-21). Tuhan memberkati Saudara. Better days are coming. (pg)