
Author: Christopherus
-
Sacred Pause: Resting the Spirit
Mari kita membaca dan merenungkan Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Di era modern saat ini, kehidupan berjalan dengan kecepatan yang luar biasa. Kemajuan teknologi telah mengubah cara kita berkomunikasi, bekerja, dan hidup. Informasi terus mengalir tanpa henti, dan kita sering kali merasa terjebak dalam tuntutan untuk selalu terhubung, responsif, dan produktif. Budaya serba cepat ini, meskipun membawa banyak manfaat, juga menimbulkan beban yang berat bagi jiwa.
Kelelahan emosional dan spiritual menjadi hal yang biasa di tengah kesibukan ini. Dalam konteks ini, istilah “Sacred Pause” atau jeda suci menjadi semakin relevan. Sacred Pause adalah momen yang kita ambil untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, untuk merenung dan menyegarkan kembali roh kita di hadapan Tuhan. Ini bukan sekadar istirahat fisik, tetapi juga istirahat yang mendalam bagi jiwa, “Resting the Spirit”. Pada saat kita mengizinkan diri kita untuk berhenti dan mendekat kepada Tuhan, kita menemukan kelegaan yang sejati seperti yang dijanjikan Yesus dalam Matius 11:28.
Yesus mengundang kita yang letih lesu dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya. Ini adalah panggilan yang penuh kasih untuk melepaskan segala beban kita dan menemukan kedamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Resting the Spirit berarti menyerahkan segala kekhawatiran, ketakutan, dan stres kita kepada Tuhan. Ini adalah tindakan iman di mana kita memilih untuk memercayakan hidup kita kepada-Nya, percaya bahwa Dia mampu memberikan kelegaan yang kita butuhkan.
Namun, mengambil Sacred Pause dalam kehidupan modern bukanlah hal yang mudah. Budaya kita cenderung memandang kesibukan sebagai tanda produktivitas dan keberhasilan. Ada tekanan sosial untuk terus bergerak maju, dan seringkali kita merasa bersalah jika berhenti sejenak. Ini menjadi tantangan besar bagi orang Kristen masa kini, bagaimana kita dapat menemukan waktu untuk beristirahat dalam Tuhan di tengah segala tuntutan hidup?
Untuk bisa melakukan Sacred Pause, kita perlu memprioritaskan waktu untuk berdiam diri di hadapan Tuhan. Ini bisa berupa waktu doa, membaca Alkitab, atau hanya duduk dalam keheningan, merenungkan kasih dan kebaikan-Nya. Tantangannya adalah bagaimana kita melawan dorongan untuk selalu aktif dan memilih untuk taat pada ajakan Tuhan untuk beristirahat.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menjaga kesehatan spiritual kita. Sacred Pause adalah BAGIAN PENTING dari KEHIDUPAN yang SEIMBANG, DI mana kita tidak hanya fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab, tetapi juga pada pemulihan jiwa kita. Kita perlu ingat bahwa kedamaian sejati hanya dapat ditemukan dalam kehadiran Tuhan.
Saudaraku, Matius 11:28 mengajarkan kita bahwa kelegaan sejati datang saat kita melepaskan beban kita kepada Yesus. Ini adalah panggilan untuk mengandalkan Dia, bukan pada kekuatan kita sendiri. Di tengah tantangan kehidupan modern, mari kita berkomitmen untuk secara teratur mengambil Sacred Pause, menemukan ketenangan di dalam Tuhan, dan membiarkan roh kita diperbarui. Hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup yang sehat secara spiritual, siap menghadapi setiap tantangan dengan hati yang tenang dan penuh percaya. (EBWR)
-
Pray Until Something Happens
MAZMUR 28. Sahabat, Mazmur 28 terdiri atas tiga bagian, yaitu: Seruan minta tolong (Ayat 1-2), permohonan agar jangan dibinasakan bersama orang fasik (Ayat 3-5), dan ucapan syukur, pengakuan percaya, dan doa syafaat (Ayat 6-9).
Melalui Mazmur 28 kita dapat melihat pengalaman yang dialami oleh Daud ketika ia merasa ditinggalkan Allah. Sesaat ia merasa bahwa Allah tidak mendengar seruan doanya. Ia tidak tahu mengapa Allah diam. Daud merasa tidak ada lagi harapan.
Pemazmur berpikir bahwa TUHAN hendak menghukumnya seperti orang fasik. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun (Ayat 3-4). Dalam pengalaman doanya yang panjang, fajar harapan pun tiba. TUHAN menjawabnya. Karena itu ia bersyukur dan memuji TUHAN, sebab TUHAN adalah perisai dan gunung batu tempat perlindungan yang aman dan dapat diandalkan.
Sahabat, Mazmur dari Daud ini mengajarkan kita untuk tidak berhenti berdoa. Terkadang Allah memang terlihat begitu jauh sehingga doa kita pun sepertinya tidak pernah sampai ke telinga-Nya.Kalaupun Allah mendengar, mungkin Ia tidak mau menjawabnya. Pikiran kita mulai membentuk asumsi negatif. Misalnya: apakah aku dihukum oleh Tuhan atau Tuhan itu tidak pernah ada. Tetapi dari mazmur ini kita tahu satu hal, yaitu Allah mendengar dan menjawab doa orang-orang yang berseru kepada-Nya, dari orang-orang yang berkeluh-kesah, dan dari orang-orang yang menggantungkan harapannya hanya kepada Allah.
Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Pray Until Something Happens (Berdoa Sampai Sesuatu Terjadi). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 28:1-9 dengan penekanan pada ayat 6.
Sahabat, pengalaman kita bercerita, sangat tidak mengenakkan bukan bila ada saudara, teman, pacar, istri atau suami yang diam tak mau bicara pada kita. Ditambah lagi pada saat itu adalah saat-saat di mana kita sangat membutuhkan mereka. Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa lagi yang peduli pada kita. Itu masih manusiawi?
Tampaknya itu yang dirasakan Daud pada bacaan kita hari ini. Daud adalah orang kepercayaan Tuhan. Dia begitu taat dan mengasihi Tuhan. Namun mengapa dia berkata-kata dalam doanya seolah-olah Allah membisu dan tidak mau mendengarnya? Daud berpikir apakah Tuhan sedang menghukumnya karena dia berbuat salah? Tapi Daud tidak merasa ada kesalahan yang sedang diperbuatnya.
Apakah kemudian Daud berhenti berdoa? Apakah Daud malah menjadi seorang yang mengutuki Tuhan? Tentu saja tidak. Dia malah semakin giat berseru kepada Tuhan dan tidak peduli apakah nanti seruannya didengar atau tidak oleh Tuhan. Hingga pada akhirnya, Daud berkata, “Terpujilah Tuhan karena Ia telah mendengar suara permohonanku.” (Ayat 6). Kesetiaannya untuk tetap berpengharapan kepada Allah membuahkan hasil dan Tuhan pun menjawab doanya.
Sahabat, apakah akhir-akhir ini sedang mengalami persoalan yang cukup berat? Apakah Sahabat sekarang sedang bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak segera menjawab doa dan keluh kesahmu?
Yakinlah, Allah tidak pernah menutup telinga dan memalingkan wajah-Nya untukmu. . Kalau Sahabat belum menerima jawaban doa, hanya ada dua jawabannya, Sahabat bukan Anak Tuhan yang taat, atau Tuhan masih ingin melihat kesetiaan Sahabat seperti halnya Daud.
Maka bacaan kita pada hari ini ingin mengajarkan untuk tidak pernah berhenti berdoa. Maka janganlah terlalu cepat untuk menghakimi dan menolak Tuhan. Seberapa banyak dan berat persoalan kita, Tidak ada yang tidak bisa diselesaikan-Nya. Berharaplah pada Tuhan, maka Dia akan menolong kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan ajar aku untuk tidak berhenti berdoa dan berharap hanya kepada-Mu. (pg).
-
EXCELSIOR!
Saudaraku, Stan Lee merupakan seorang komikus legendaris Marvel yang selalu mengucapkan dan menuliskan satu kata di bagian penutup sesi wawancara : EXCELSIOR!. Dengan Excelsior, Stan Lee menunjukkan optimisme dan daya juang dalam setiap karyanya yang terbukti mampu menjadi karya yang mendunia dan dicintai semua lapisan usia.
Tentunya cukup banyak orang tak asing dengan superhero ciptaan Stan Lee seperti Spiderman, Hulk, dan lain sebagainya. Apa arti Excelsior yang sering diserukan Stan Lee? Berasal dari Bahasa latin, Excelsior memiliki arti: TERUS NAIK, LEBIH TINGGI, TERUS NAIK LEBIH TINGGI.
Kitab Yesaya menuliskan dengan indahnya kondisi iman orang yang memercayakan diri kepada Allah. Jika membaca dan merenungkan Yesaya 40:27-31, maka penulis Yesaya mengomentari ucapan pesimis orang Israel yang meragukan perhatian dan perlindungan Tuhan di masa pembuangan.
Alih-alih pesimis, penulis Yesaya justru menuliskan bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang baru seumpama rajawali yang terbang tinggi. Karakter rajawali dipakai untuk menjadi gambaran tentang KEKUATAN dan DAYA JUANG yang TANGGUH. Seekor rajawali tak gentar menghadapi badai dan bahkan ia mampu terbang lebih tinggi di atas awan badai itu untuk mendapatkan arus angin yang lebih tenang.
Dalam Gambaran Yesaya, orang Israel akan diberi kekuatan oleh Tuhan sehingga dalam kondisi terpuruk seburuk apa pun, ia akan tetap kuat untuk tetap “terbang” lebih tinggi hingga menemukan ketenangan pada akhirnya.
Bagi seekor rajawali, badai hanya sebuah lapisan udara yang bila ia mampu menaklukkannya maka akan didapati lapisan ketenangan di atas badai itu. Excelsior!
Kekuatan untuk terus naik dalam kehidupan dibutuhkan oleh setiap orang yang percaya, bukan untuk kebanggaan dan pencapaian melainkan untuk melewati setiap permasalahan dalam kehidupannya. Selama manusia hidup, masalah akan datang silih berganti dan manusia tak akan berhenti untuk memacu dirinya dengan target-target yang baru.
Namun manusia dibatasi oleh ambang batas kekuatan yang unik, yang mampu membuat mereka letih secara fisik dan mental, jasmani dan rohani. Dalam keadaan krisis seperti inilah manusia perlu untuk menyadari bahwa mereka butuh kekuatan tak terbatas untuk memberikan semangat baru sehingga membuat mereka memiliki daya juang konstan untuk melewati lapisan masalahnya.
Saudaraku, itulah KEKUATAN TUHAN. Hanya dengan memercayai Tuhan saja maka manusia akan mampu menembus lapisan masalah itu, terbang lebih tinggi untuk menikmati perlindungan dan pemeliharaan-Nya.
Mari beranikan diri untuk bersandar pada kekuatan Tuhan saat dalam masa kelam. Percayalah lapisan masa sulit ini akan mampu ditembus dengan daya juang yang ditopang penuh oleh rasa percaya kepada Sang Khalik. Mari terus naik lebih tinggi. EXCELSIOR! Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)
-
TAK TERDUGA
Saudaraku, seorang ibu membuat satu dana khusus dalam pembukuan bulanan sederhana yang dibuatnya, yang dinamai dana tak terduga. Dana tak terduga dipakai untuk antisipasi kejadian yang tak masuk dalam rencana pengeluaran agar tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Para murid Yesus pernah mengalami hal tak terduga dan untung saja Yesus hadir di situ sehingga mereka selamat. Mari merenungkan Yohanes 21:1-14.
Tidak ada lagi alasan untuk tetap berkumpul tanpa tujuan pasti. Maka para murid mulai bergerak untuk kembali menjala, kembali ke profesi semula setelah kematian Yesus. Namun keanehan demi keanehan mulai terjadi:
Pertama, Mereka gagal mendapat ikan walau sudah semalaman berusaha. Sebagai nelayan professional, mereka mengenal benar Danau Galilea. Tapi mereka gagal malam itu. Mereka terjebak dengan situasi tak terduga, bahkan ketrampilan dan pengalaman tak dapat menolong mereka.
Kedua, Yesus hadir dan menyapa dengan panggilan “anak-anak” kepada para murid (Yohanes 21:5). Panggilan seperti itu bahkan tak pernah Yesus sampaikan saat Ia bersama mereka. Yesus paham benar kalau para murid dalam keadaan khawatir tentang masa depan mereka sepeninggal Dia, maka Ia menyapa mereka seperti seorang Bapa kepada anak-anaknya.
Ketiga, Konten pertanyaan Yesus tentang lauk pauk. Yesus menampilkan sisi keibuan dengan menanyakan tentang makanan tambahan, pendamping makanan utama untuk memastikan rasa puas mereka. Para murid mendengarkan perintah Yesus dan Dia memberikan apa yang mereka cari, bahkan berlimpah ruah. Sungguh aneh, mereka sudah mencarinya semalaman dan gagal namun Yesus memberi mereka dalam sekejap.
Para murid belajar bahwa Yesus sanggup untuk memenuhi dan memelihara segenap kehidupan mereka, bahkan hal yang menjadi kebutuhan tambahan mereka maka mereka perlu untuk menjaga sikap ketaatan kepada-Nya. Yesus menggenapi janji-Nya untuk memelihara mereka, maka mereka perlu untuk tetap respek dengan kehadiran-Nya. Pengalaman mereka puluhan tahun tentang JALA MENJALA tak membuat mereka mampu menghadapi saat TAK TERDUGA.
BEKERJA a itu sebuah KEHARUSAN untuk memenuhi KEBUTUHAN, namun mendengarkan Tuhan dalam setiap usaha kita bukanlah hal yang mudah. Segala pengalaman, kekuatan, kepandaian kadangkala tidak berguna saat menghadapi peristiwa yang tak terduga.
Saudaraku, bila Kristus selalu beserta dan ada sikap respek dari anak-anak-Nya, maka KEADAAN TAK TERDUGA itu akan MENJADI BERKAT bagi mereka. Mari LIBATKAN KRISTUS dalam KEHIDUPAN agar HAL TAK TERDUGA dapat dihadapi dengan KEPALA YANG TEGAK karena Ia sendiri berkata, “Sebab itu ingatlah; janganlah khawatir tentang hidupmu, yaitu apa yang akan kalian makan dan minum, atau apa yang akan kalian pakai. Bukankah hidup lebih dari makanan, dan badan lebih dari pakaian?” (Matius 6:25, BIS). Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)





