Author: Christopherus

  • ReKat: Tolong DOAKAN saya (01 Desember 2021)

    Bacaan Sabda: Roma 15:22-33

    Pemahaman saya atas Roma 15:30-32:

    Di dalam pelayanan pemberitaan Injilnya, rasul Paulus perlu tim pelayanan, bekerja bersama dengan jemaat di Roma. Inilah bukti nyata saling mendukung, saling menopang, saling peduli melalui dukungan doa, dana, tenaga, pikiran, dan waktu. Memerhatikan bahwa di dalam pemberitaan Injil menghadapi tantangan, hambatan dari mereka yang menolak. Oleh karena itu seruan atau permintaan dukungan doa oleh rasul Paulus kepada jemaat di Roma merupakan keharusan yang mendesak.

    (Haryono)

    ***

    Pemahaman saya atas Roma 15:30-32:

    Doa itu mutlak dan sangat dibutuhkan bagi kita sebagai orang percaya. Kita harus saling mendoakan untuk kehidupan dan pelayanan kita. Jarak ataupun beda tempat tidak menjadi penghalang bagi kita untuk berdoa syafaat bagi saudara seiman, bangsa dan negara kita. Amin. Tuhan Yesus Memberkati.

    (Swan Lioe)

    ***

    Pemahaman saya atas Roma 15:30-32:

    Amiiiiiiin Pak Paul. Doa memang bukan sekadar nafas hidup orang Kristen, tetapi juga segalanya, maksud saya dalam doa ada kekuatan (energi), spirit (kuasa) yang memampukan orang percaya dapat berjalan dalam segala keadaan dan mampu bertahan dalam kondisi yang buruk sekalipun. Saya ingat sebuah slogan yang pernah diucapkan oleh seorang hamba Tuhan dari Cina,  Pdt. Bharing El Yang. Beliau berkata, “Banyak doa banyak kuasa, kurang doa kurang kuasa, tak berdoa tiada kuasa.” Pernyataan beliau  benar-benar saya imani.

    (Lidia Titik)

  • Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN

    Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang dikenal berhati-hati saat mengambil keputusan, terutama untuk keputusan-keputusan besar, yang berisiko tinggi, berdampak jangka panjang,  yang menyangkut hidupmu dan keluarga?


    Ada cukup banyak orang akhirnya mengalami kesulitan luar biasa karena gemar mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang, terburu-buru karena desakan waktu, atau ketika kondisinya tidak ideal untuk mengambil keputusan. Para ahli juga menasihatkan agar kita tidak mengambil keputusan penting dalam kondisi jiwa tidak tenang, tertekan, atau saat fisik kita dalam keadaan kelelahan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 3:19-26, dengan penekanan pada ayat 21 dan 22. Seperti layaknya seorang ayah, Salomo dengan lembut mendidik, mengajar dan menasihati anak-anak pada zamannya, dan kepada kita di zaman now. Pengamsal menyatakan kepada orang-orang Israel pada zaman itu, dan kepada kita pada zaman ini,  “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.” (ayat 21-22)

    Pertimbangan berarti menurut pendapat umum;  pendapat tentang baik dan buruk. Sedangkan kebijaksanaan berarti kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan sesuatu. Kebijaksanaan juga dimaknai kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan. Jadi, yang dimaksud dengan memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan adalah menjaga kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dan kecakapan bertindak dalam nama Tuhan.

    Karena itu jangan jauhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dari hati, pikiran dan mata kita. Peliharalah! Peliharalah dengan baik, lebih baik dan sangat baik dalam nama Tuhan. Maka hikmat itu akan menjadi kehidupan bagi jiwa kita. Maka hikmat itu akan menjadi perhiasan di leher kita. Maka hikmat itu akan bermanfaat untuk membangun kehidupan kita yang lebih takut akan Allah.

    Sahabat, sejatinya setiap hari kehidupan kita diwarnai dengan keputusan demi keputusan. Ada keputusan kecil, sedang, maupun besar dengan dampak atau risiko minimal atau risiko yang cukup besar. Mari turuti nasihat dari bacaan kita pada hari ini demi kebaikan kita. Ambil komitmen bahwa mulai saat ini, kita akan menjadikan pertimbangan dan hikmat sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap keputusan yang kita ambil!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20?
    2. Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 21-24?
    3. Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 25?
    4. Apa yang menjadi keyakinan Pengamsal dari ayat 26?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

  • IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH

    Banyak tanda atau simbol yang dipakai oleh orang-orang untuk menunjukkan identitasnya sebagai orang percaya. Bisa dengan menunjukkan kartu identitas yang tertera dalam kolom agama, atau dengan memakai simbol salib yang dipakai di leher atau digantung di dinding rumah. Ada juga yang mengungkapkannya di depan orang banyak lewat kata-kata: Haleluya, puji Tuhan, Tuhan memberkati, berkat Tuhan, dan lain-lain.

    Sahabat, sesungguhnya orang percaya memiliki dua identitas, yaitu identitas yang bersifat jasmaniah dan identitas yang bersifat rohaniah. Identitas jasmaniah orang percaya berbeda satu dengan yang lain, tetapi identitas rohaniah orang percaya bersifat seragam. Identitas jasmaniah bisa membuat seseorang merasa bangga (karena kaya, berpendidikan tinggi, tampan/cantik, berkuasa, dan sebagainya) atau merasa dirinya tidak berharga.

    Sebaliknya, bila kita berpegang pada identitas rohaniah yang kita miliki, tak ada alasan untuk merasa rendah diri. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita harus yakin bahwa di dalam Kristus, kita adalah pewaris segala berkat rohani di dalam surga. Sejak semula (sebelum dunia dijadikan), Allah telah memilih kita agar kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Allah telah menentukan kita menjadi BANGSA yang TERPILIH.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH”, maka Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Petrus 2:9-10. Sahabat, ada satu hal yang hendak kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini yaitu: bangsa yang terpilih. Dari hal tersebut, kita tahu bahwa orang percaya terpilih karena tiga alasan: Pertama,  Ia terpilih karena adanya hak khusus. Dalam Yesus Kristus, ditawarkan kepadanya hubungan baru dan intim dengan Allah. Hanya di dalam dan karena Tuhan Yesus, orang diselamatkan dan masuk ke dalam jajaran bangsa elite pilihan Allah; 

    Kedua, Ia terpilih karena ketaatan. Hak khusus membawanya pada tanggung jawab. Memang benar bahwa ketika seseorang sudah diselamatkan dalam Yesus maka ia masuk dalam bangsa pilihan, namun sebagai anggota dari bangsa pilihan, ia harus menaati aturan-aturan Allah. Memang, ia bukan lantas tidak selamat kalau tidak taat, namun ia menjadi yang terkecil di antara yang diselamatkan (1 Korintus 3:10-23);

    Ketiga, Ia terpilih untuk melayani. Kebanggaannya adalah ia dapat menjadi pelayan Allah. Hak khususnya adalah dijadikan sebagai alat untuk maksud Allah sepanjang hidupnya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan pemahamanmu tentang orang percaya sebagai bangsa yang terpilih dan apa yang menjadi tugasnya?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • GELAP Sirna, TERANG Menyala

    Kumpulan surat yang ditulis R.A. Kartini dan dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengungkapkan bahwa setiap manusia pasti mengalami masa-masa sulit, masa-masa yang gelap. Dengan perjuangan yang gigih, penuh kesabaran, dan bersandar kepada Tuhan, maka terang terbit mewarnai kehidupan. Setelah masa-masa yang gelap itu sirna, maka terang pun menyala.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GELAP Sirna, TERANG Menyala”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 60:1-14. Sahabat, Yesaya 58-66 merupakan bagian penutup dari Kitab Yesaya yang mendeklarasikan sebuah pengharapan keselamatan bagi seluruh umat manusia, runtuhnya dinding-dinding pembatas antar-bangsa, dan penyataan kemuliaan Tuhan pada akhir zaman.

    Sahabat, pembuangan ke Babel merupakan masa sulit yang dihadapi bangsa Israel. Sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan dibawa sebagai tawanan perang. Namun, Nabi Yesaya menyadari kalau semua itu terjadi karena mereka tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Meski demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kendati mereka sering menyakiti hati-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari keterpurukan hingga menuntun mereka sampai ke Yerusalem.

    Terang Tuhan tetap terbit atas bangsa Israel (ayat 1-2). Bangsa-bangsa akan datang, anak-anak pun datang, dan mereka pun berseri melihatnya (ayat 3-5). Itulah terang yang telah memimpin mereka keluar dari kegelapan. Namun, mereka malah terus hidup dalam ketidakpercayaan. Trauma masa lalu yang mereka hadapi selalu melekat di benak mereka. Mereka bahkan kerap kali meragukan kuasa Allah dengan memertanyakan apakah Allah sanggup memulihkan keadaan mereka atau tidak. Oleh karena penderitaan datang bertubi-tubi, fokus mereka pun menjadi teralihkan. Mereka lupa bahwa selama ini Allah telah menyertai hidup mereka.

    Sahabat, oleh karena itu, nabi Yesaya mengingatkan kembali agar umat Allah yang ada di pembuangan tetap percaya kepada Allah yang telah menuntun mereka selama masa kesusahan. Yesaya berseru agar mereka bangkit dari kegelapan dan menjadi terang, karena seharusnya mereka tetap percaya dan bersandar kepada Allah, bukannya malah meragukan kuasa-Nya.

    Allah pun telah menunjukkan terang itu kepada kita umat yang percaya. Oleh karena itu, jangan biarkan masa lalu yang kelam atau penderitaan yang kita alami saat ini membelenggu dan membuat kita ragu seperti orang-orang tak percaya yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bangkit dan menjadi terang sehingga kemuliaan Allah selalu nyata dalam hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa nabi Yesaya berseru agar bangsa Israel bangkit dan menjadi terang? (Ayat 1-2)
    2. Bagaimana pemahaman Sahabat tentang nubutan nabi Yesaya dalam ayat 3-7? Apa yang akan terjadi dengan bangsa Israel?
    3. Gambaran seperti apa yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya dalam ayat 8-14 ketika bangsa Israel bangkit dari keterpurukan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?

    Sahabat, jangan pernah berhenti bersyukur karena Tuhan tidak pernah berhenti memberkati hidup kita. Bersyukur adalah kunci di jagat dan akhirat. Bersyukur merupakan wujud ungkapan perasaan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan dan anugerah yang setiap hari kita rasakan. Namun, tidak jarang kita semua luput dan lupa untuk bersyukur, apalagi ketika kita sedang mendapatkan masalah dan cobaan yang berat.

    Kadang kala juga ketika kita sudah melewati cobaan tersebut, kita justru sering lupa siapa yang selama ini menolong dan melindungi kita.

    Untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 9:1-21. Sahabat melalui gubahan lirik lagu Mazmur Daud, menurut lagu Mut-Laben, kita mendapati bahwa betapa Daud merindukan untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Dengan segenap hati dan jiwanya, Daud sungguh rindu menaikkan rasa syukurnya kepada Tuhan Allah Israel yang sudah mengurapinya naik ke takhta kerajaan.

    Gubahan lirik mazmur pujian itu direkam dalam ayat 1, yang demikian bunyinya: “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mut-Laben. Mazmur Daud.” Selanjutnya di ayat 2 Daud menyatakan: “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;”

    Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan lirik lagu pujian tersebut juga menyatakan bahwa Daud sungguh ingin menuturkan tentang semua pekerjaan dan karya-karya Tuhan yang sangat dahsyat dan ajaib. Daud ingin memberitakan segala perbuatan tangan-Nya yang sangat indah dan sempurna kepada bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi.

    Daud, sungguh rindu bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Ia akan menceritakan segala perbuatan Allah yang sangat luar biasa dan mengherankan kepada bangsa-bangsa dan semua suku bangsa di seluruh permukaan bumi.

    Sahabat, akhirnya marilah kita merenungkan dua nasihat ini. Pertama, janganlah lupa untuk bersyukur. Bagaimanapun, keadaan kita, sejatinya semua itu adalah karunia Tuhan semata. Kedua, jangan selalu melihat ke atas, sesekali lihatlah ke bawah. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang menjadi tekad Daud dalam ayat 2-3?
    2. Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 4-7?
    3. Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 8-19?
    4. Rasa ungkapan syukur itu tiada habisnya, apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 20-21?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG

    Sahabat, NAMA YESUS adalah nama yang indah dan ajaib. Yesus disebut Kristus karena Dialah yang dipilih Allah menjadi penyelamat dan Tuhan. Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan, sifat-Nya yang paling penting bagi orang yang terhilang dan memerlukan keselamatan. Nama-Nya menggambarkan kasih sayang-Nya yang sangat besar, pertolongan-Nya yang tak terhingga, dan belas kasihan-Nya yang tulus. Dia adalah Imanuel, Allah yang selalu beserta dengan kita.  Dalam Perjanjian Lama, sebuah nama memantulkan sifat seseorang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesata 8:23 – 9:6. Sahabat, bacaan kita pada hari ini  menggambarkan kehidupan bangsa Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena dipimpin oleh raja yang tidak takut akan Tuhan.

    Di tengah ketakutan ini Yesaya menyuarakan janji Allah tentang kedatangan Mesias. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang besar yang mengenyahkan kegelapan. Janji ini digenapi dengan kelahiran Yesus. Nubuat Yesaya menunjukkan dua hal penting tentang Yesus, yaitu bahwa Dia adalah MANUSIA SEJATI dan ALLAH SEJATI. “Seorang anak telah lahir” menunjuk pada Yesus sebagai MANUSIA SEJATI. Adapun nama yang disandang-Nya menunjukkan bahwa Dia adalah ALLAH SEJATI: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai.

    Yesaya mencatat empat nama yang akan menandai tugas Yesus selaku Juruselamat. Itu membuktikan bahwa nama  Yesus  bukanlah nama sembarang nama, yang tidak diberikan oleh malaikat, atau pun oleh Maria dan Yusuf, melainkan datang dari surga, pemberian Allah sendiri. 

    Sahabat, natal merayakan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus Kristus sudah datang, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan damai sejahtera? Itulah tugas kita untuk memperkenalkan Yesus Sang Raja Damai, dan momen Natal adalah salah satu kesempatan yang dapat kita pakai.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong ceritakan secara singkat pemahamanmu tentang nubuatan nabi Yesaya tersebut. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • CERITAKAN dari GENERASI ke GENERASI

    Sahabat, banyak orangtua yang menjalani kehidupan sebagai orang percaya sangat baik. Mereka rajin ke gereja, mendukung dan terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Tetapi di sisi lain, mereka membiarkan anak-anak mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan apa yang mereka imani. Atas nama demokrasi dalam keluarga, mereka membiarkan anak-anak mereka mencari jalannya sendiri, asalkan tidak melakukan perbuatan kriminal. Mereka tidak mengajarkan tentang iman mereka kepada anak-anaknya. Mereka tidak menceritakan pengalaman hidup mereka bersama Tuhan dari hari ke hari.

    Untuk lebih memahami topik tentang “CERITAKAN dari Generasi ke Generasi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yoel 1:2-12. Dalam bacaan kita pada hari ini, Yoel mengingatkan seluruh generasi Israel, untuk memerhatikan apakah kekacauan yang terjadi saat itu pernah dialami pada zaman leluhur mereka (ayat 2-3). Apakah yang terjadi saat itu? Suatu kengerian besar yang pernah mereka alami akibat tulah belalang digambarkan secara jelas di sini (ayat 4). Ketika bencana itu terulang kembali, tidak seorang pun menyangkanya, baik orang yang sadar maupun orang yang mabuk oleh anggur (ayat 5-7). Semua orang secara pribadi merasakan duka karena bencana itu tidak menyisakan apa pun, termasuk apa yang ada di rumah Allah (ayat 6-9). Bencana itu menghantam semua orang, termasuk para pemilik ladang yang berjerih payah menanami ladangnya. Pada waktu itu, tanah sebagai simbol berkat berubah menjadi kutukan karena tidak ada apa pun yang dihasilkannya (ayat 10-12).

    Di masa Nabi Yoel, wabah belalang yang mengerikan merusak negeri Israel sebagai tanda penghukuman dan murka Allah atas ketidaksetiaan mereka. Kawanan belalang itu memakan habis tanaman mereka, sehingga bencana kelaparan menimpa mereka. Namun sebenarnya, Tuhan tidak ingin membinasakan mereka. Dia ingin mereka kembali kepada-Nya. Dia memerintahkan agar umat-Nya menceritakan kisah itu kepada anak-anak mereka, demikian juga kepada generasi-generasi yang kemudian, agar mereka belajar menghormati Tuhan serta tetap setia kepada-Nya.

    Dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya juga diberi tanggung jawab untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah kepada orang lain (1 Petrus 2:9). Tentunya kita tidak memaksakan kehendak kepada mereka, melainkan memberitakan dengan kasih. Ini termasuk kepada anak-anak kita secara jasmani. Bahkan jangkauannya lebih luas lagi, yakni kepada semua orang. Sebab Tuhan ingin Dia dikenal bukan hanya oleh satu generasi, melainkan sepanjang masa, dari generasi ke generasi.

    Sahabat, kita ini makhluk pembelajar, jadi bisa belajar dari apa saja bahkan dari bencana sekali pun. Kendati bukan berwujud hama belalang, negeri kita akhir-akhir ini tak sepi dari bencana. Seruan Yoel untuk bangun dan meratap mengajak kita untuk memaknai bencana atau krisis atau masalah di negara dan keluarga kita  dengan doa dan keprihatinan seraya bertanya, “Apa suara Tuhan yang hendak diperdengarkan buat bangsa dan keluarga kita?” Kiranya kita belajar untuk peka mendengar suara Tuhan dari balik bencana atau krisis  yang terjadi.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba ingat-ingat pernahkan Sahabat menceritakan pengalaman hidupmu bersama Tuhan kepada anak cucu atau orang-orang yang lebih muda? Kalau pernah, tolong bagikan salah satu pengalamanmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN

    Saat ini Pandemi Covid-19  di Indonesia semakin melandai, tapi dalam rangka liburan natal dan tahun baru 2022, pemerintah akan menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan PPKM Level 3 di seluruh Indonesia ini akan berlaku mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mencegah penyebaran virus corona saat libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

    Pada tanggal 3 Mei 2022 Yayasan Christopherus genap berusia 50 tahun. Mengingat situasi dan kondisi masih diliputi ketidakpastian, karena itu Panitia Yubileum Christopherus belum berani membuat keputusan apakah Kebaktian Syukur HUT ke-50 Christopherus akan diadakan secara onsite.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 27:1-14. Sahabat, sungguh, sangat tidak mudah menjalani kehidupan di mana segala sesuatu yang kita lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas dan tak berujung. Kita berdiam diri berdoa, namun tahun-tahun berlalu tanpa tanda jawaban. Akankah kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan pasti akan bertindak pada saat dan waktu-Nya?

    Sahabat, Daud pernah mengalaminya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sehari-harinya tinggal bersama dua ekor kambing domba di padang rumput? Tetapi Daud belajar memahami maksud Tuhan di balik ketidakpastian itu. Daud belajar untuk sabar, setia dengan panggilannya, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengangkatnya.

    Daud belajar percaya bahwa Tuhan akan mewujudkan impian-impiannya dalam waktu yang tepat. Ia barangkali berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau memegang kendali. Walaupun aku tidak melihat apa pun sedang terjadi, Engkau sedang bekerja di belakang layar.” Dan di waktu yang tepat, Tuhan membawa Daud keluar dari padang itu dan mengurapinya menjadi raja Israel. Siapa sangka?

    Sahabat, mari belajar dari Daud, meski kita tidak mampu memahami mengapa Tuhan tidak bersegera melepaskan kita dari sebuah keadaan yang tanpa kepastian, Tuhan ingin kita tetap setia, sabar, dan memegang erat janji-Nya. Ya, Tuhan sangat peduli dan memahami kehidupan kita. Dia merasakan kecemasan dan ketakutan kita. Bertahanlah untuk sedikit waktu lagi dan tetaplah setia! Di satu waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia pasti bertindak. Dia tahu saat yang tepat untuk menolong dan mengangkat kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi keyakinan Daud di ayat 1?
    2. Apa yang dipercaya oleh Daud dalam ayat 2?
    3. Mengapa Daud ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupnya? (Ayat 4-6)
    4. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-12?
    5. Apa yang diserukan Daud kepada kita di ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)