Author: Christopherus

  • MENGABDI KEPADA ALLAH ATAU MAMON

    Saudaraku, saya berjumpa dengan seorang Direktur Ministry Center dan berdiskusi terkait Tuhan atau Mamon. Perhatikan dua ayat berikut yang dikatakan oleh Tuhan Yesus saat mengajar:

    Matius 6:24 (TB-1): “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan …. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”

    Lukas 16:9 (TB-1): “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur ….”

    Nah, di Matius dinyatakan bahwa kita tidak bisa setengah-setengah mengabdi kepada Allah, juga setengahnya ke Mamon. Tapi di Lukas dinyatakan bahwa kita bisa bersahabat dengan Mamon.

    “Pak Direktur, zaman Tuhan Yesus mengajar, itu di zaman Kekaisaran Romawi yang juga mendewakan banyak dewa dari zaman Yunani. Kita bisa menemukan beberapa nama dewa disebutkan di Kisah Para Rasul seperti Hermes, Zeus, juga Artemis atau Diana, diidentifikasi juga sebagai Selena, dan memiliki saudara bernama Apollo. Ini nama-nama dewa-dewi yang terkenal, mengapa tidak disebut Tuhan Yesus. Malahan menyebut Mamon, merupakan istilah Yahudi yang dapat merujuk pada uang, kekayaan, keserakahan, atau setan yang mewakili pengejaran kekayaan?.”

    Nah, Pak Direktur hanya mengguman, “Itu pergumulan kita sepanjang hidup.”

    Lho, Beliau membawahi suatu organisasi Ministry Center, memotivasi dan mendorong banyak rohaniwan dan awam untuk mengabarkan Injil, tapi mengapa juga menghadapi pergumulan seumur hidup dengan Mamon? Ya itulah kehidupan, kalau mau pergi bermisi ke suatu daerah terpencil ya mesti memikirkan berapa ongkosnya, begitu?

    Saya pernah menghadiri acara pengutusan lulusan salah satu STT di kawasan blusukan di Jakarta Timur. Para lulusannya tampilannya sederhana saja, baju tidak nampak ada yang ngejreng, tapi tidak ada yang sandalan, hanya sepatu butut. Mereka diutus pulang ke daerah asalnya, kebanyakan ke Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, NTT, Maluku, semuanya di pedalaman.

    Setelah acara seremonial ada resepsi, itulah makan siang terakhir mereka di STT yang mereka ikuti 3-4 tahun terakhir. Saya ikut mengambil makanan di meja mahasiswa, bukan untuk tamu undangan. Nasi putih ndak putih, ada tempe dan tahu goreng ukuran sekitar 3×4 cm, ukuran tahu tempe terkecil yang pernah saya rasakan, sayur bening isi labu dan bayam, dan ada satu potong ayam goreng, saya masih ingat ukurannya hingga saat ini, itu kalau kita beli paha bawah KFC ukurannya dibagi empat, jadi satu ayam goreng lebih kecil dari sendok makan. Satu orang dapat satu ayam goreng, satu tahu, satu tempe dan nasi secukupnya, ada kecap dan sambal di ujung meja.

    Usai makan saya menghampiri seorang lulusan, mau pergi kemana? Kalimantan Tengah, bawa uang berapa? Dia tunjukkan tas dan dompetnya, hanya ada 2 lembar Rp. 20.000,-  dan 2 lembar Rp. 10.000,-. Lho, cukup? Dia tunjukkan, ada satu kilogram garam dan 3 sabun yang dibawa. Lalu, dia bilang, akan nunut truk bak terbuka yang jurusan ke pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara, kemudian ikut kapal kayu yang pulang ke Kalimantan Tengah, kapal ini kosong dan cukup ngomong dengan awak kapal dalam bahasa Kalimantan Tengah, pasti gratis, dia sudah 3 kali pulang ke rumahnya saat praktik dengan cara ini. Garam dan sabun akan menjadi barang sangat berharga di pedalaman sana, sabun yang dipotong dua bisa dijadikan ongkos naik boat ke pedalaman.

    Ingat kembali kenangan ini, saya jadi mikir, para lulusan STT itu hanya dengan modal semangat menginjil yang berkobar, tidak perlu mikir Mamon lagi. Sementara itu Pak Direktur menunjukkan makalah dari Lausanne Movement 2024, yang mengetengahkan adanya banyak gereja yang mengajarkan “prosperity teaching”, kemakmuran materi terkait dengan kepercayaan kepada Kristus. Pendekatan ini mengajarkan orang-orang bahwa ketika mereka percaya kepada Tuhan, Dia akan menyediakan semua kebutuhan fisik dan kenyamanan hidup mereka. Dengan ajaran ini muncul kepercayaan yang menyesatkan bahwa siapa pun yang percaya dijamin akan mendapatkan kekayaan dan kesehatan dalam hidup ini. 

    Pendekatan “prosperity teaching” ini cenderung berpusat pada manusia daripada berpusat pada Kristus, untuk mencari pemenuhan kebutuhan duniawi manusia daripada kebutuhan mendalam akan pengampunan dosa dan rekonsiliasi dengan Tuhan. Jadi mengenal Tuhan agar supaya cepat dapat berkat, cepat mendapatkan kesehatan, cepat dapat uang, dan di ujungnya sebenarnya mengajarkan tentang mendapatkan Mamon melalui mengenal Tuhan.

    Pak Direktur menambahkan, memang tantangan besar spiritual adalah material, untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh atau spiritual memang penurut, tetapi daging lemah terhadap hal-hal materi (Matius 26:41).

    Yang bisa menguatkan spiritual agar tidak tergoda material apa? Ya hanya dengan melalui doa, dengan berdoa. BERDOALAH  yang SUNGGUH-SUNGGUH, jangan konsentrasi terpecah, Tuhan akan menunjukkan Jalan-Nya kepadamu, dan ikutlah.

    Saudaraku, memang tidak mudah memilih untuk mengabdi kepada Allah atau kepada Mamon, terlebih lagi bila ajaran tentang Mamon itu disamarkan melalui ajaran-ajaran yang menjanjikan bila menaati kehendak Allah maka akan mendapatkan kelimpahan materi dan kesehatan. Waspadalah dan berjaga-jagalah. (Surhert).

  • JAM TANGAN SWISS

    Saudaraku,  Industri jam di Swiss dimulai tak lama setelah Reformasi tahun 1517 yang dipelopori Martin Luther. Reformasi terhadap ajaran agama Katholik Roma ternyata menimbulkan perang antar pengikut agama, meluas dari Jerman ke negara-negara lain. Perang penganut agama terjadi di Perancis menyebabkan penganiayaan terhadap kaum Huguenot (Protestan Perancis), yang banyak berprofesi sebagai ahli besi dan ahli (pandai) kerajinan emas, akhirnya melarikan diri dan mengungsi ke Swiss Barat, terutama ke Jenewa. Para pandai atau pengrajin ini terkenal sebagai ahli dalam membuat perhiasan dan ukiran-ukiran yang menjadi simbol kemewahan.

    Saat itu juga terjadi revolusi di Jenewa yang dipimpin oleh John Calvin (10 Juli 1509–27 Mei 1564). Ajaran Calvin menolak segala bentuk pamer kekayaan dan penggunaan perhiasan, memaksa para pandai besi dan emas dari Perancis mencari saluran baru bagi bakat kreatif mereka, bukan lagi membuat perhiasan-perhiasan yang mencolok tetapi bagaimana membuat sesuatu yang kecil dan mahal namun dibutuhkan,  dan mereka menemukan cara membuat jam tangan yang kecil, tidak dalam bentuk yang besar dipajang di luar gedung, tapi jam kecil tidak mencolok saat dipakai, hingga tidak bisa dikategorikan sebagai perhiasan mewah tapi sebagai alat penunjuk waktu.

    Pada masa itu orang-orang hanya mengenal waktu matahari terbit dan terbenam. Waktu dianggap sebagai suatu rahasia Tuhan Allah yang menciptakan langit dan bumi, pagi, siang dan malam. Para ahli astronomi di Babil dan Mesir berusaha memetakan waktu jalannya matahari dan menciptakan jam matahari, bahkan bisa memetakan atau membagi waktu 1 hari = 24 jam. Dalam 2 Raja-raja 20:11 ada bayangan jam atau penunjuk matahari yang dibuat zaman Raja Ahas (732-715 SM), dan bayang-bayang jam matahari itu mundur ke belakang sepuluh tapak.

    Salah satu ajaran John Calvin menjelaskan tentang Kolose 3:23:  “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ini sangat memengaruhi para pandai besi pembuat jam yang bentuknya besar-besar, bagaimana bisa membuat alat yang bisa memetakan hari Tuhan dalam suatu bentuk petunjuk waktu yang pas dan tepat, jadi saat pagi hari ya jam 6 tepat, siang jam 12 tepat, juga saat matahari terbenam mesti jam 18.00 tepat, satu hari harus pas 24 jam.

    Saudaraku, saat itu bentuk jam masih dalam bentuk yang besar dan tampilannya hanya satu jarum saja menunjukkan jam. Nah bagaimana jam ini dibuat kecil hingga bisa jadi dipasang di tangan atau dimasukan kantong, lalu ada 2 jarum yang bisa menunjukkan jam dan menit, kemudian satu jarum lagi yang selalu berputar menunjukkan detik. Untuk membuat jam dalam bentuk yang kecil yang bisa otomatis jalan sendiri, mesti membuat kumparan per sebagai penggerak, juga ada berbagai roda dan perangkat kecil lainnya dalam satu jam kecil, belum lagi cara memasangnya agar semua yang kecil-kecil ini bisa terhubung rapi dan jalan sendiri.

    Para pandai dalam membuat jam tangan sangat dipengaruhi ajaran Calvin, yakni sebagai manusia boleh mendapatkan kehormatan dalam bekerja mewakili Tuhan yang membagi waktu satu hari dalam jarum-jarum jam, menit dan detik, dan menunjukkan waktu yang tepat. Bisa menciptakan jam tangan yang kecil dengan dengan segenap hati, seperti mempersembahkan kepada Tuhan dan bukan untuk manusia, suatu persembahan yang tidak boleh ada cacat celanya.

    Akhirnya, ketika peraturan pemerintahan di Jenewa yang melarang pemakaian barang mewah dilonggarkan – sekitar tahun 1600, orang-orang dapat mengenakan perhiasan lagi, keahlian pembuatan jam dapat dipadukan dengan seni dekoratif. Dalam waktu singkat, jam tangan Swiss yang diproduksi di Jenewa menjadi terkenal karena keterampilan para ahlinya, kualitas pembuatan jamnya, juga tampilan jam-jam yang semakin indah, – dan semakin mahal harganya.

    Saudaraku, menyimak lagi Kolese 3:23, Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kita mungkin tidak melakukan pekerjaan kita dengan sepenuh hati, alasannya mungkin ya lumayan dapat pekerjaan daripada nganggur, pekerjaan ternyata tidak cocok dengan bakat atau ketrampilan, dapatnya duit hanya kecil tidak cukup untuk kebutuhan-kebutuhan yang terus meningkat, menjadi generasi sandwich yang mesti membiayai hidup orangtua, dan berbagai alasan lainnya.

    Pdahal Tuhan sudah memberikan suatu pekerjaan bagi kita, namun kita tidak bersyukur atas anugerah pekerjaan ini, jadilah dalam bekerja hanya asal-asalan, asal memenuhi target atau sesuai job description, tapi tidak menampilkan kualitas yang mestinya harus menjadi lebih baik, cukup mendapatkan pujian atau predikat lumayan, itu sudah cukup.

    Nah apa jadinya kalau diri kita hanya bertujuan mendapatkan predikat lumayan, lalu keluarga juga hanya memikirkan cukup dan lumayan, satu daerah dan wilayah merasa cukup dan lumayan, begitu seterusnya dari hal-hal lingkup kecil menjadi lingkup makro, semuanya hanya menginginkan prestasi yang cukup dan lumayan, akibatnya tidak ada kemajuan bahkan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Bahkan sumber daya alam yang ada di lingkungan, yang disediakan Tuhan malahan dikorupsi atau diolah dengan tidak bertanggung jawab.

    Saudaraku, para ahli atau pandai besi dan perhiasan di Swiss 400 tahun, meski hanya menggunakan alat-alat manual, tidak memakai alat-alat listrik, bahkan di rumahnya hanya diterangi oleh lampu minyak, tapi a bisa menghasilkan jam-jam tangan yang kecil, indah dan tepat waktu, Bagaimana dengan kita saat ini? (Surhert)

  • Kerendahan Hati Mendahului Kehormatan

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan Amsal 18:12.

    Di sebuah kota modern, hidup seorang pria bernama Jeresh. Dia adalah seorang pengusaha sukses dan sangat bangga dengan pencapaiannya. Dalam setiap pertemuan, dia selalu berbicara tentang kekayaan dan kesuksesannya, menganggap bahwa semua orang di sekitarnya harus menghormatinya. Dalam kesehariannya, Jeresh seringkali memandang rendah orang-orang disekitarnya. Jeresh berpikir tidak ada orang lain sebaik dirinya, sehingga dia tidak membutuhkan bantuan siapapun.

    Namun tiba-tiba ada satu kejadian yang membuat bisnisnya mengalami masalah besar. Kesombongannya membuat Jeresh enggan mendengarkan nasihat orang lain. Dia mengabaikan peringatan dari rekan-rekannya dan tetap berpegang teguh pada caranya sendiri. Akibatnya, perusahaannya bangkrut. 

    Setelah jatuh, Jeresh mulai berubah. Dia belajar mendengarkan orang lain, mengakui kelemahannya, dan mulai bekerja keras dengan sikap yang lebih rendah hati. Perlahan-lahan, dia mulai bangkit kembali, namun kali ini dengan sikap yang mau menghargai orang-orang di sekitarnya, bukan karena kekayaannya, tetapi karena kerendahan hatinya.

    Kisah Jeresh mengajarkan kita bahwa kesombongan hanya akan membawa kehancuran. Tuhan memandang kerendahan hati sebagai jalan menuju kehormatan. Ketika kita bersikap rendah hati, kita membuka pintu bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita dan mengangkat kita pada waktunya.

    Kerendahan hati tidak berarti kita memiliki kualitas diri yang rendah, tetapi kita mengakui bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan bukan dari kemampuan kita sendiri. Hanya dengan sikap kerendahakan hati, kita bisa mendapatkan kehormatan sejati dari Tuhan.

    Dalam kehidupan, kita sering melihat bagaimana orang yang penuh dengan kesombongan, jatuh ke dalam kehinaan. Sebaliknya, orang yang rendah hati sering kali berakhir dengan kehormatan yang lebih besar, meskipun awalnya mereka mungkin tidak terlihat menonjol.

    Saudaraku, Amsal 18:12 mengingatkan kita untuk menjadi orang-orang yang rendah hati, sekalipun ada banyak alasan untuk kita memegahkan diri di depan orang-orang yang tidak sebanding dengan kita.

    Yesus adalah teladan sejati akan kerendahan hati. Dia adalah Tuhan, yang mau menjadi manusia. Seberapa pun beratnya menjadi manusia, Yesus tetap dengan rendah hati menyelesaikan semua misinya di dunia ini. Banyaknya orang yang tidak percaya, menghina-Nya, melecehkan-Nya, bahkan menyalibkan-Nya, tidak membuat Yesus memegahkan diri, dan membalas dengan cara yang sama orang-orang yang telah berbuat jahat kepada-Nya.

    Refleksi : 

    Mungkin saat ini kita sedang diberkati oleh Tuhan dengan kekayaan, kesehatan, jabatan yang tinggi, mari kita belajar untuk terus rendah hati, dengan tidak memandang rendah orang-orang yang ada di bawah kita.

    Atau justru kita sedang berada di posisi terendah dalam hidup kita,  banyak orang mungkin menghina kita, tidak menganggap kita, mengabaikan, kita. Mari kita tetap berteladan kepada Yesus. Sekalipun sulit, kita harus tetap percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang adil, yang tidak akan selamanya membuat kita dalam situasi yang sama. 

    Mari kita selalu ingat, Ketika Tuhan melepaskan kita dari masa yang sulit, jangan pernah membalas orang-orang yang telah menghina bahkan mengabaikan kita. Tetap menjadi orang yang rendah hati, tetap mau menolong orang-orang disekitar (termasuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepada kita).

    Pesan:

    Bagi Bapak, Ibu, kakak, adik, dan anak-anak yang ingin belajar musik dan vokal, silakan bergabung dengan Sekolah Musik Christopherus. Hubungi HP.: 081292081227.  (Inthan). 

  • Blessed Those who are Forgiven

    MAZMUR 32. Sahabat, Mazmur 32 dibuka dengan pernyataan bahwa orang yang berbahagia  adalah orang yang diampuni pelanggarannya dan dosanya ditutupi (Ayat 1). Dalam Mazmur 32 kita dapat melihat perbedaan yang kontras antara orang yang hidup dalam dosa dan orang yang diampuni Tuhan dosanya. Kita mendapat pengajaran yang berharga melalui pengalaman hidup Daud ketika dia melakukan dosa dan ketika Tuhan mengampuni dosanya.

    Dosa itu akan membuat kita lemah dan lelah, dosa itu adalah beban yang berat dan seperti terik panas yang mengeringkan sampai ke tulang-tulang. Tuhan Yesus mengatakan bahwa dosa itu adalah penyakit mematikan yang segera harus disembuhkan sebagaimana yang dikatakan-Nya,  “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Matius 9: 12). 

    Dosa adalah penyakit yang mematikan yang segera harus ditangani dan penawarnya hanya satu yaitu Tuhan Yesus. Mukjizat terbesar yang pernah dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita manusia adalah pengampunan dosa. Namun yang terpenting adalah orang yang diampuni dosanya mau untuk diajar dan dituntun kepada jalan yang benar (Ayat 8). 

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tooik: “Blessed Those who are Forgiven (Berbahagialah Mereka yang Diampuni). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 32:1-11. Sahabat, kita sadar, dalam kehidupan ini salah satu problem yang harus kita selesaikan di hadapan Tuhan adalah persoalan rasa bersalah. 

    Manusia bisa berusaha menekan perasaan bersalah ini dan mengalihkannya pada hal-hal yang lain, atau melakukan semacam kompensasi melalui moralitas, melalui agama, ataupun kebudayaan. Tetapi, apa pun yang dilakukan manusia, kecuali dia kembali kepada Tuhan, sebetulnya tidak ada kebahagiaan yang sejati, tidak ada jalan keluar yang sesungguhnya dari rasa bersalah. Itu sebabnya Saudara membaca di ayat pertama dikatakan: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!”

    Sahabat,  lihat di sini, berapa jauhnya yang disebut “berbahagia” oleh Tuhan dibandingkan dengan kebahagiaan yang ada di dalam dunia. Di dalam dunia ini, mereka punya konsep kebahagiaannya sendiri; tetapi Sahabaat perhatikan, perasaan bersalah ini kalau tidak diselesaikan, tidak mungkin manusia mendapatkan kebahagiaan yang sejati. 

    Orang seringkali berpikir bahwa pengakuan dosa itu sesuatu yang hiper-religius, semacam penyakit, atau seolah-olah sesuatu yang terlalu radikal secara keagamaan. Tetapi kalau kita membaca dalam bacaan kita pada hari ini, sebetulnya Tuhan memberikan suatu jalan yang bukan hanya benar secara teologis namun juga manusiawi, ada aspek kemanusiaannya, bahwa manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan. 

    Justru manusia boleh mengaku dosanya di hadapan Tuhan ini sesuatu yang manusiawi, sedangkan yang tidak manusiawi adalah ketika manusia sudah bersalah tapi tidak ada tempat atau pribadi untuk dia mengaku dosanya. Mengapa? Karena manusia akan terus dihantui perasaan bersalah tanpa ada jalan keluar. Bahkan di dalam ayat 3, dikatakan tentang pengalaman Pemazmur yang awalnya dia berdiam diri, tidak mau mengaku dosa, dan di dalam saat  seperti itu  tulang-tulangnya menjadi lesu, dia mengeluh sepanjang hari, tangan Tuhan menekan dia dengan berat.

    Meskipun demikian, Mazmur 32 juga mengatakan bahwa pengakuan dosa ini mesti dilakukan dengan kejujuran, dengan integritas. Kita tidak boleh menganggap sepi anugerah atau belas kasihan Tuhan. Kita tidak dipanggil untuk mempermainkan kesabaran atau anugerah Tuhan. Itu sebabnya Sahaba baca di ayat 2 dikatakan: “Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!” Apa maksudnya “tidak berjiwa penipu”? Yaitu jangan berpura-pura seperti kelihatan menyesal padahal tidak menyesal, jangan berpura-pura seperti mengaku dosa tapi sebetulnya tidak ada pertobatan. 

    Ada kaitan antara mazmur pengakuan dosa (penitential psalm) pasal 32 ini dengan penitential yang lain yang mungkin paling terkenal, yaitu Mazmur 51. Kalau Sahabat membaca Mazmur 51, dikatakan di ayat 19: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk … .” Sahabat lihat di ayat ini, pengakuan dosa jelas bukan sesuatu yang murahan, bukan suatu praktik yang easy going, yah, pastilah diampuni Tuhan,  melainkan ada pertobatan yang sejati.

    Berbahagialah mereka yang diampuni dosanya oleh Tuhan; di sini kebahagiaannya bukan berhenti pada diampuni dosanya saja, tetapi di sini disebut berbahagia karena hanya orang yang diampuni dosanyalah yang bisa hidupnya masuk ke dalam kekudusan yang disediakan oleh Tuhan. 

    Kita berbahagia karena kita tidak harus dan tidak lagi menjadi hamba dosa, sebaliknya kita boleh menjadi hamba kebenaran. Ini adalah kebahagiaan orang-orang yang percaya kepada Tuhan, percaya kepada Kristus. Kita tidak harus menyelesaikan dengan kekuatan kita sendiri perasaan bersalah itu, apalagi tangan Tuhan yang menekan. Kita datang kepada Tuhan di dalam pertobatan yang sejati, dan Tuhan yang setia dan adil itu mengampuni Sahabat dan saya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan pernah menyesali kejujuran yang Sahabat lakukan, karena nilainya begitu tingggi di hadapan Allah. (pg).

  • Elia dan Overthinking: Belajar Percaya di Tengah Ketakutan

    Saudaraku, renungan kali ini saya tulis berdasarkan 1 Raja-Raja 19:4 dan 12.

    Dalam dunia yang serba cepat ini, kita sering kali tenggelam dalam overthinking, terus memikirkan masalah hingga semuanya terasa lebih besar dari yang sebenarnya. Kita terjebak dalam kekhawatiran dan skenario terburuk yang belum tentu terjadi. Padahal, semakin kita memikirkannya, semakin kita kehilangan ketenangan. Bagaimana jika kita, seperti Elia, bisa belajar untuk berhenti sejenak dan memercayai Tuhan di tengah semua kebingungan?

    Elia, seorang nabi yang penuh kuasa, baru saja menyaksikan kemenangan besar di Gunung Karmel, ketika Tuhan membuktikan diri-Nya lebih besar dari Baal. Namun, tak lama setelah itu, ancaman Izebel membuatnya lari ketakutan. Di tengah ketakutannya, Elia duduk di bawah pohon arar dan meminta Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. “Cukuplah itu, ya Tuhan, ambillah nyawaku”, katanya dalam keputusasaan (1 Raja-Raja 19:4). Elia yang berani ini, tiba-tiba terjebak dalam overthinking, merasa kalah dan tidak berguna, meskipun baru saja meraih kemenangan besar.

    Sering kali, kita pun terjebak dalam pola yang sama. Kita merasa takut dan tidak berharga ketika dihadapkan pada masalah yang tampak besar. Pikiran kita dipenuhi kecemasan, dan kita lupa bahwa Tuhan yang menyertai kita kemarin masih ada bersama kita hari ini. Seperti Elia, kita sering melupakan siapa yang berdaulat di tengah badai kita. Ketakutan dan overthinking membuat kita buta terhadap kuasa Tuhan.

    Namun, Tuhan tidak meninggalkan Elia dalam keadaan putus asa. Dia tidak muncul dalam gemuruh angin, gempa, atau api, melainkan dalam suara angin sepoi-sepoi (1 Raja-Raja 19:12). Tuhan mengingatkan Elia, dan juga kita, bahwa Dia hadir dalam keheningan, bukan dalam kebisingan. Di tengah kekacauan pikiran dan kecemasan, Tuhan berbicara dengan lembut, memberi kita ketenangan.

    Pelajaran ini sangat relevan bagi kita hari ini. Kita hidup dalam dunia yang bising, di mana segala sesuatu bergerak cepat dan sering kali membuat kita terjebak dalam overthinking. Namun, Tuhan memanggil kita untuk berhenti sejenak, tenang, dan mendengarkan suara-Nya. Dia mengajarkan kita bahwa kepercayaan kepada-Nya tidak memerlukan kepanikan atau usaha berlebihan, melainkan keyakinan bahwa Dia bekerja dalam cara yang mungkin tidak selalu terlihat.

    Jadi, bagaimana kita mengatasi overthinking dalam hidup sehari-hari? Pertama, KITA HARUS MENGALIHKAN FOKUS KITA,  dari masalah yang tampak besar ke Tuhan yang lebih besar. Ketika pikiran kita dipenuhi dengan kecemasan, kita harus memilih untuk menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Elia merasa sendirian, tapi Tuhan memberitahunya bahwa masih ada ribuan orang yang setia. Ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita merasa terisolasi dalam masalah kita, Tuhan selalu memiliki rencana, dan kita tidak pernah benar-benar sendirian.

    Kedua, KITA HARUS MENDENGARKAN TUHAN DALAM KETENANGAN. Dalam dunia yang sibuk, kita cenderung mencari jawaban dalam kebisingan, lebih banyak kerja, lebih banyak analisis, lebih banyak usaha. Namun, Tuhan mengundang kita untuk berhenti dan mendengarkan. Dalam momen tenang itu, kita dapat merasakan kehadiran-Nya yang memberi damai. Overthinking hanya akan membawa kita lebih jauh dari Tuhan, tetapi kepercayaan pada-Nya membawa kita mendekat pada ketenangan sejati.

    Ketiga, KITA HARUS PERCAYA PADA RENCANA TUHAN,  bahkan ketika kita tidak mengerti semua detailnya. Elia merasa segalanya sudah berakhir, tapi Tuhan masih memiliki rencana besar untuknya. Begitu juga dengan kita. Ketika kita merasa tidak ada jalan keluar, Tuhan sedang bekerja dalam keheningan. Dia memanggil kita untuk percaya, untuk melepaskan kendali, dan membiarkan Dia memimpin.

    Kisah Elia mengajarkan bahwa overthinking adalah lawan dari iman. Ketika kita terus memikirkan semua yang bisa salah, kita lupa bahwa Tuhan yang berkuasa. Namun, ketika kita menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan dan memilih untuk percaya, kita menemukan ketenangan. Seperti Elia, kita dipanggil untuk berhenti sejenak dan mendengarkan suara Tuhan yang lembut di tengah kekacauan pikiran.

    Percaya kepada Tuhan tidak berarti kita memahami segala sesuatu; itu berarti kita berserah, bahkan ketika jalan di depan kita tampak gelap. Tuhan tidak hanya bekerja dalam hal-hal besar, tetapi juga dalam momen-momen kecil yang penuh kedamaian. Di tengah badai pikiran kita, Dia memanggil kita untuk percaya, berhenti overthinking, dan menemukan damai dalam hadirat-Nya. (EBWR).