Author: Christopherus

  • Tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN

    Seorang sahabat saya tanya, “Kapan terakhir  memuji Tuhan?” Dia menjawab:  “Pada saat mengikuti ibadah di hari Minggu kemarin.”  Artinya mungkin di luar jam-jam ibadah dia tidak pernah memuji Tuhan. 

    Bagaimana dengan kita?  Mungkin sama, tidak secara rutin memuji Tuhan.  Itu ironis sekali!  Apakah kasih dan kebaikan Tuhan kepada kita itu hanya dinyatakan pada saat jam-jam ibadah saja?  Bukankah setiap saat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, kita mengalami kasih dan kebaikan Tuhan? 

    Jika saat ini kita masih bisa melihat matahari terbit, jika kita masih bisa menghirup udara segar dan bernafas, jika hari ini kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang sehat, mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, lalu kita bisa sampai ke kantor atau tempat kerja dengan selamat tanpa ada halangan, bukankah semuanya itu karena anugerah Tuhan?  Tuhan yang menolong, memelihara, dan menyertai kita. Maka sudah selayaknya  jika tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “Tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 57:1-12, dengan penekanan pada ayat 10-12.  Sahabat, Mazmur 57 ditulis pada  saat Daud sedang  bersembunyi dalam gua untuk menghindar dari kejaran Saul (ayat 1). Daud begitu terdesak hingga dengan sangat memohon belas kasihan dan perlindungan dari Allah. Ia seperti berada di tengah-tengah singa yang siap melumatnya dengan gigi tajamnya (ayat 2, 5). Ia seperti berada di tengah-tengah musuh yang memasang jaring perangkap pada setiap langkahnya (ayat 7).

    Sahabat, dalam keadaan demikian, ia tetap percaya kepada Allah. Ia yakin Allah akan melindunginya seperti anak rajawali di bawah kepak sayap induknya (ayat 2). Ia tahu ketika berseru kepada Allah yang Maha Tinggi, Allah akan menyelesaikan perkaranya (ayat 3). Baginya, Allah begitu mulia hingga mengatasi langit dan bumi (ayat 6). Oleh karena itu, Daud tetap menyanyi bagi Tuhan. Ia bermazmur bagi nama-Nya dengan permainan gambus dan kecapi. Ia senantiasa bernyanyi bahkan sebelum fajar menyingsing (ayat 8-12).

    Mengapa Daud tetap memuji Tuhan sekalipun keadaannya tidak baik? Alasannya, Daud telah memasrahkan dirinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Saat kita berada dalam keadaan di luar batas kemampuan, tidak ada jalan lain selain berserah kepada-Nya. Kita wajib memercayakan diri sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Sebab, apa pun yang kita perbuat tidak akan berdampak apa-apa, malahan mungkin akan memperburuk. Kita harus membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Kita mengikuti ke mana Tuhan memimpin dan membawa kita. Dalam proses itu, kita sambil tetap bernyanyi,  memuji Dia karena ada kuasa dalam puji-pujian kepada Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu sendiri, apakah engkau tetap dapat bernyanyi memuji Tuhan di tengah pergumulan hidupmu yang menghimpit?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Tuhan, ajar kami untuk tetap memuji-Mu, sekalipun pergumulan dan tantangan berat yang sedang kami alami dan hadapi.” (pg)

  • Tatkala KEKHAWATIRAN Menyerang Pikiran Kita

    Kekhawatiran adalah sebuah perasaan gelisah, ketakutan atau kengerian terhadap sesuatu yang belum terjadi.  Perasaan-perasaan ini biasanya terkait dengan pikiran-pikiran negatif atas sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan.  Merasa kuatir berarti merasa cemas, bingung dan pikirannya terbagi-bagi. 

    Sahabat, biasanya rasa khawatir timbul saat seseorang melihat keadaan di sekitarnya tidak lagi dapat memberikan harapan untuk hidup lebih baik.  Dengan adanya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun, tentu cukup  banyak orang yang khawatir akan masa depannya. 

    Lalu apa yang harus kita perbuat tatkala  kekhawatiran menyerang pikiran kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tatkala KEKHAWATIRAN Menyerang Pikiran Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 55:1-24 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, Mazmur 55 merupakan cara Daud dan juga orang-orang sezamannya dalam menghadapi sebuah persoalan. Persoalan yang dibicarakan dalam konteks bacaan kita pada hari ini ialah ketika seseorang dikejar-kejar oleh musuh dan mara bahaya. Dalam ayat 2-9 terlihat sebuah doa memohon pertolongan.

    Sahabat, ada kesan Mazmur 55  memaksa Allah untuk bertindak. Kenapa timbul kesan seperti itu? Daud merasakan mara bahaya yang mendekat dan mengancam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah sendiri. Allah adalah sumber perlindungan dan pertolongannya. Jadi, pada dasarnya Daud sama sekali tidak memaksa Allah. Justru, doa tersebut adalah simbol kebergantungan mutlak kepada Allah.

    Daud percaya bahwa Allah akan bertindak (ayat 17). Atas keyakinan tersebut, maka manusia tidak perlu merasa khawatir. Rasa cemas dan khawatir adalah hal yang wajar. Marilah kita serahkan segala kekhawatiran kepada Allah (ayat 23). Yakinlah, Ia akan mendengar orang yang berseru kepada-Nya.

    Sahabat, kuatkanlah diri kita masing-masing saat sedang menghadapi persoalan. Marilah kita berseru kepada Allah dan mintalah pertolongan dari-Nya. Sebab, hanya Dialah satu-satunya sumber pertolongan kita. Kita tidak usah khawatir karena itu tidak memberikan solusi bagi persoalan. Kekhawatiran adalah simbol dari ketidakpercayaan kepada Allah. Kita mesti yakin bahwa Allah pasti memelihara hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana perasaan Daud saat itu? (Ayat 3, 5-6)
    2. Apa yang diinginkan Daud pada saat itu? (Ayat 7-9)
    3. Apa yang menjadi penyebab kekhawatiran, ketakutan, dan penderitaan Daud pada saat itu? (Ayat 13-15 dan 2 Samuel 15-17)
    4. Dalam kondisi hati yang berduka, apa yang diserukan Daud? (Ayat 23-24)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, janganlah larut dalam kesedihan, serahkanlah semua kekhawatiran kepada Tuhan. Ia akan memelihara dan memberikan keselamatan. (pg)

  • ReKat: IMAN yang KUKUH (26 Januari 2022)

    Bacaan Sabda: Mazmur 44 : 1 – 27

    KESAKSIAN 1:

    Kami (saya dan istri) jujur mengakui bahwa seiring bertambahnya usia, tubuh kami juga semakin melemah. Istri saya mengalami masalah dengan pengapuran sendi lutut sehingga kedua lutut istri saya diganti dengan lutut buatan dari titanium. Selain itu istri saya juga bermasalah dengan jantungnya. Terakhir  pada tanggal  17 Desember 2021 istri saya  menjalani operasi, dipasang alat pacu jantung.

    Sedangkan saya sendiri beberapa kali menjalani operasi, pertama karena kecelakaan, kedua operasi batu ginjal, kemudian  operasi hernia sebelah kiri,  operasi katarak bergantian untuk kedua mata,  dan terakhir  pada tanggal  5 Januari 2022 operasi hernia yang di sebelah kanan. 

    Bersyukur kepada Tuhan Yesus bahwa saat ini saya dan istri dalam keadaan sehat, sukacita,  dan semangat oleh karena kasih setia Tuhan Yesus.

    Benarlah firman yang tersurat di 2 Korintus 4 : 16; “Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun nanusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Sedangkan dalam Roma 8:36-37   ada tertulis:  “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba  sembelihan. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang  yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

    Demikianlah pengalaman iman kepada Tuhan di masa tua kami. Semoga jadi berkat. (Haryono).

    KESAKSIAN 2:

    Sahabat, kami sebagai orang beriman juga harus melewati saat-sat yang sulit. Berikut saya akan  menyaksikan pertolongan Tuhan dalam kehidupan saya dan keluarga. Tepatnya pada tahun 2014, anak bungsu kami  Jonathan lagi masuk kuliah di Universitas Kristen Petra Surabaya, dan beberapa bulan setelah itu saya juga memasuki masa pensiun. Ya pada saat itu kami merasa bingung , terutama anak saya, dia khawatir kalau tidak bisa melanjutkan kuliahnya.

    Syukur  pada saat itu saya tidak  merasa gentar karena saya tetap berpegang pada janji Allah di Yeremia 17: 7, Keluaran  14:14 dan beberapa ayat Firnan Tuhan yang lain. Bahkan dengan adanya masalah ini, saya merasa memiliki hubungan yang semakin erat dengan Tuhan

    Pada saat itu saya beberapa kali ke Surabaya untuk mengurus keringanan pembayaran uang kuliah dan uang ujian semesterannya. Dengan pertolongan Tuhan , kami bisa membayarnya dengan mengangsur sebanyak tiga kali. Di semester 3 dan 4, anak saya mendapatkan beasiswa.

    Suatu saat saya bertemu dengan famili yang di Jakarta dan setelah kami ngomong-ngomong dengannya, saudara saya bersedia untuk membiayai anak saya sampai lulus.

    Biarlah kesaksian ini boleh menjadi berkat bagi kita semuanya , ketika kita memiliki hubungan yang intim dengan Allah dan iman kita tidak goyah , maka Tuhan akan memberi jalan ke luar dan pertolongan kepada kita di dalam menghadapi masalah kehidupan ini. (Swan Lioe).

  • TUHAN: Sang Penolongku

    Sahabat, pepatah lama berbunyi: “Seperti telor di ujung tanduk” yang artinya suatu keadaan yang sangat berbahaya (kritis atau genting), salah sedikit bisa celaka. Mungkin ada diantara kita yang pernah mengalami situasi yang digambarkan oleh pepatah tersebut.  Atau mungkin ada diantara kita yang  pernah mengalami situasi yang mengancam keberadaan hidup kita, entah itu karena sakit penyakit, bencana alam, dibenci orang lain, atau ada orang-orang yang berniat mencelakakan kita.

    Saat ini, bahkan mungkin berbagai permasalahan hidup sedang menghimpit kehidupan kita. Harapan seolah-olah hilang dan kita kehilangan semangat menjalani kehidupan. Bahkan, mungkin saja kita sudah sampai meragukan pemeliharaan Tuhan. Kita mungkin juga meragukan: Benarkah Tuhan adalah penolongku?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Sang Penolongku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 54:1-9 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Mazmur 54 merupakan bagian dari nyanyian pengajaran Daud ketika orang Zifi datang mengatakan kepada Saul bahwa Daud bersembunyi kepada mereka (ayat 2). Saul yang tidak bisa berpikir sehat karena diliputi oleh iri hati kepada Daud berupaya membunuhnya.

    Daud pun harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari Saul dan tentaranya. Dalam situasi demikian, Daud sukar membedakan lagi mana kawan dan mana lawan. Orang-orang Zifi yang seolah-olah nampak sebagai kawan karena bersedia dijadikan tempat persembunyian Daud, ternyata berkhianat dengan memberitahu Saul bahwa Daud bersembunyi pada mereka. Satu-satunya yang dapat dijadikan tempat berharap dan tempat pertolongan tiada lain adalah Tuhan sendiri. Dalam doanya Daud memohon kepada Tuhan agar memberikan keselamatan kepada dirinya karena nama Tuhan sendiri (ayat 3).

    Atas segala pertolongan yang diberikan Tuhan, pada dasarnya, Ia tak menuntut banyak. Ia hanya meminta kita untuk mengandalkan-Nya senantiasa dan bersyukur untuk segala karya-Nya.

    Sahabat, marilah kita mengingat bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang kukuh. Dialah yang menopang kita untuk melintasi badai kehidupan. Mari kita belajar dari Daud. Ia ditimpa banyak permasalahan hidup yang amat berat. Namun, ia tetap percaya bahwa Tuhan akan menolongnya dan melepaskannya dari kesesakan. Jangan berhenti berharap kepada-Nya, sebagaimana Allah juga tak pernah berhenti mengasihi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diminta Daud kepada Allah dalam ayat 3?
    2. Apa yang diminta Daud kepada Allah dalam ayat 4?
    3. Bagaimana Daud menggambarkan situasi dan kondisi yang sedang dia alami? (Ayat 5)
    4. Apa yang menjadi keyakinan Daud dalam ayat 6?
    5. Apa yang dialami dan dilakukan Daud dalam ayat 8 dan 9?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, Dalam kesesakan, tetaplah percaya kepada TUHAN. Persembahkan syukur atas pertolongan-Nya, meski kesulitan masih kita hadapi. (pg).