
Author: Christopherus
-
MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG AJAIB
Sahabat, kita sebagai orangtua biasanya suka sekali bercerita kepada anak-anak kita tentang hidup kita dulunya seperti apa. Masa kecil kita seperti apa? Ketika anak-anak kita beranjak menjadi remaja dan pemuda, kita biasanya juga menceritakan masa pacaran yang kita jalani. Kita juga menceritakan tumbuh kembang mereka.
Semoga kita sebagai orangtua tidak lupa untuk menceritakan pengalaman hidup kita bersama Tuhan. Kita menceritakan iman yang hidup dan iman yang kita hidupi. Kita menceritakan bagaimana campur tangan Tuhan dapat kita rasakan melalui proses yang kita jalani dari hari ke hari. Kita bercerita kepada mereka bagaimana kita menikmati penggenapan janji-janji Tuhan . Kita menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib yang kita alami.
Untuk lebih memahami topik tentang: “MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG AJAIB”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 78:1-8 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam Mazmur 78, Pemazmur menyadari adanya kemungkinan umat Allah akan melupakan karya ajaib Allah dan menjadi generasi yang terhilang.
Oleh karena itu, Pemazmur mengajak mereka untuk tidak bosan-bosannya menceritakan kisah lama tentang karya penebusan-Nya kepada generasi-generasi mendatang (ayat 4). Tujuan dari menceritakan kisah sejarah mereka dengan terus-menerus ini bukan semata-mata untuk menghafal data historis, melainkan untuk menumbuhkan iman, ketaatan, dan harapan di dalam Tuhan (ayat 7) dan untuk menjaga agar generasi mendatang tidak tersesat dalam ketidakpercayaan dan pemberontakan seperti generasi sebelum mereka (ayat 8).
Selain itu Pemazmur juga belajar untuk mengingat setiap karya Tuhan dalam sejarah. Semuanya itu dituliskannya dengan lengkap dalam teks Mazmur 78 ini. Ada banyak kegagalan yang terjadi dalam hidup bangsa Israel. Sekalipun demikian, Allah tetap mengasihi mereka. Tuhan juga banyak memberi karya-karya yang ajaib agar mereka tetap percaya pada Tuhan (ayat 7) dan semuanya ini menjadi pelajaran agar generasi selanjutnya, mereka makin setia dan taat kepada Tuhan sehingga tidak merasakan murka Tuhan (ayat 8).
Sahabat, suatu perbuatan yang diceritakan dapat mengilhami pendengarnya untuk merubah cara hidupnya sehingga menjadi lebih baik di hari esok. Dalam kehidupan kita, janganlah lupa untuk menceritakan tentang setiap karya Tuhan. Ceritakan bagaimana Tuhan menggenapi janji-janji-Nya dalam hidup kita. Ceritakan dan perkenalkan Tuhan pada sebanyak mungkin orang agar mereka makin bertumbuh dalam iman dan makin taat. Sungguh indah jika mereka akhirnya menjadi generasi yang memuliakan nama Tuhan karena terinspirasi dari cerita kita.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah salah satu pengalamanmu ketika kamu menceritakan pertolongan Allah yang nyata yang kamu alami kepada anak-anakmu atau temanmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)
-
MEMAKAI KACAMATA KEBAIKAN TUHAN
Bagaimana reaksi kita saat masalah datang menerpa? Kalau masalah sudah berat apalagi datangnya sekaligus. Bahkan terkadang, belum lagi masalah yang satu beres, sudah muncul masalah berikutnya. Kita bisa gelagapan, goyah lalu kemudian panik, di sana rasa takut pun mulai muncul. Kita menjadi ragu apakah kita bisa melewati semua itu sebagai pemenang?
Di saat seperti itu, adakah sesuatu yang bisa kita pakai untuk menguatkan kita agar bisa berpijak tegar di tengah situasi sulit? Apa yang bisa membuat iman kita tidak ikut goyah sebaliknya mampu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa terus tegar dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang?
Sahabat, mengingat kebaikan Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang baik dan perlu supaya keraguan dan keputusasaan dalam menghadapi pergumulan hidup berubah menjadi pengharapan kepada Allah yang hidup. Kita perlu memakai kacamata kebaikan Tuhan.
Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMAKAI KACAMATA KEBAIKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12-13. Sahabat, Mazmur 77 memberitahu kita bahwa pergumulan orang percaya waktu itu sangat berat. Asaf, seorang pelayan Tuhan dari suku Lewi, menyimpulkan bahwa tangan kanan Tuhan Yang Mahatinggi berubah (ayat 11), itu artinya pergumulan terasa semakin berat seolah-olah Tuhan tidak lagi menghiraukan pergumulan orang percaya pada saat itu.
Di bagian pertama, Asaf memakai pergumulan dan kesusahan sebagai kacamata untuk melihat Allah (ayat 2-11). Hasilnya, kesusahan membuat Allah terasa jauh (ayat 2). Kesusahan membuat mengenang Allah terasa memilukan (ayat 3). Gambaran yang ideal tentang Allah terasa sangat mengecewakan bila dibandingkan dengan pergumulan yang dihadapi manusia. Kesusahan membuat Tuhan terasa seperti menolak dan tidak bermurah hati (ayat 8). Kesusahan membuat janji Tuhan terasa seperti tidak berlaku (ayat 9). Kesusahan membuat Allah nampak seperti melupakan janji-Nya (ayat 10).
Sahabat, berita baiknya, di bagian kedua , Asaf memakai kebaikan Tuhan sebagai kacamata untuk melihat kesusahannya (ayat 12-21). Hasilnya, dengan mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, dia mengaku bahwa Allah itu sangat besar dan berkuasa. Saat Asaf mengalami pergumulan, Allah tidak berubah. Kebaikan Tuhan membuat Asaf percaya bahwa Allah akan menuntun umat-Nya keluar dari kesusahan seperti di zaman Musa dan Harun (ayat 21).
Asaf memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk kita ingat saat kita sedang berada di tengah badai kehidupan. “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (ayat 12-13).
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu apa yang harus kita lakukan jika masalah berat atau sakit penyakit sedang menerpa kita. Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan ayat 15: “Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.” (pg)
-
Orang Percaya: HIDUP dalam IMAN
Wilma Rudolph dilahirkan 23 Juni 1940 di St Betlehem, Tennessee, Amerika. Ia dilahirkan dengan polio dan pneumonia, serta pernah menderita demam scarlet saat masih muda. Semua penyakit itu berkontribusi pada pertumbuhan kakinya yang kurang sempurna. “Apakah saya akan bisa berlari seperti anak-anak lain?” Wilma bertanya pada ibunya. “Sayang, kamu harus percaya kepada Tuhan dan jangan pernah berhenti berharap. Jika kamu percaya, Tuhan akan membuatnya terjadi,” jawab ibunya.
Wilma percaya dengan jawaban ibunya dan sejak itu ia bersusah payah belajar berjalan. Pada usia 12 tahun ia bisa berjalan tanpa memerlukan penyangga kaki. Bahkan di tahun 1960, ia berhasil mendapatkan tiga medali emas untuk cabang olahraga lari di Olimpiade. Ia menyapu bersih gelar di lari 100 meter, 200 meter, dan estafet sprint.
Iman adalah prinsip dasar kehidupan orang percaya. Hidup dalam iman berarti memercayai siapa Allah itu, apa yang dikatakan-Nya, apa yang sudah dilakukan-Nya, dan apa yang akan dilakukan-Nya. Iman adalah inti kehidupan kita dari hari ke hari.Untuk lebih memahami topik tentang: “Orang Percaya: HIDUP dalam IMAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 13:1-33. Sahabat, Pengintaian Israel atas Kanaan merupakan perintah Tuhan. Di sini Allah menyoroti aspek kepemimpinan dengan serius. Pengutusan diberikan dengan menyoroti rute dan keperluan penyelidikan Tanah Kanaan. Para pengintai Israel menjalankan tugasnya selama 40 hari. Mereka menemukan bukti hasil bumi berupa satu tandan buah anggur beserta delima dan ara dari lembah Eskol (ayat 17-24).
Meskipun Tanah Kanaan sangat menjanjikan, namun ada persoalan dan perselisihan internal dalam diri 12 pengintai. Di satu sisi, 10 pengintai berpikir logis bahwa bangsa Kanaan sulit ditaklukkan. Mereka merasa mustahil mengalahkan orang-orang Kanaan yang jauh lebih besar dalam strategi dan kekuatan perang untuk melindungi kota mereka. Tidak heran jika 10 pengintai Israel pesimis melihat kenyataan itu. Akibatnya, sebagian besar orang Israel termakan isu negatif yang diberitakan 10 pengintai (ayat 27-29; 31-33)
Di sisi lain, Kaleb dan Yosua melihat dari sisi iman. Berdasarkan pengalaman berjalan di padang gurun sampai di wilayah Kanaan, mereka melihat bahwa Allah selalu ikut berperang bersama mereka. Siapa pun lawan mereka, Allah sanggup memberikan kemenangan bagi mereka. Kaleb dan Yosua sangat optimis berkenaan dengan janji Allah (ayat 30).
Sebagaimana kita dahulu menerima Kristus dengan iman, maka kita seharusnya juga akan berjalan dalam iman dari hari ke hari. Berjalan dalam arti cara kita berperilaku dalam hidup sehari-hari.
Iman kita teruji dan semakin bertumbuh pada saat persoalan menghantam di tengah perjalanan hidup kita. Di tengah tekanan hidup yang mendera, kita pun diingatkan untuk tetap berdiri teguh, memercayai firman-Nya dan juga janji-janji-Nya.Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah secara singkat, apakah kamu tetap berjalan dalam iman kepada Allah sekalipun berbagai ujian menempa hidupmu? Apakah kamu percaya bahwa Allah sanggup melakukan sesuatu dalam hidupmu? Selamat sejenak merenung. Ingatlah! Kita ditantang untuk memercayai Tuhan dan tidak meragukan firman-Nya. (pg)
-
Memercayakan PEPERANGAN ROHANI kepada ALLAH
Sahabat, Rasul Paulus menggambarkan bahwa kehidupan rohani orang percaya seperti berada di medan peperangan. Selama hidup di dunia ini kita akan terus berperang melawan Iblis. Bukan peperangan yang bersifat jasmani, di mana musuh terlihat dan dapat diukur kekuatannya, melainkan peperangan yang bersifat rohani. Jadi musuh kita tidak kelihatan secara kasat mata (Efesus 6:12).
Peperangan inilah yang sangat sulit, karena bisa berlansung kapan saja dalam waktu 24 jam dan di mana saja. Kita juga tidak tahu secara pasti kapan musuh itu akan datang dan menyerang kita, yang jelas dan pasti si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Kita tidak boleh lengah sedikit pun dan harus ekstra waspada dan hati-hati terhadap segala bentuk serangan iblis, karena lengah berarti membuka peluang Iblis untuk menang.
Untuk lebih memahami topik tentang: “Memercayakan PEPERANGAN ROHANI kepada ALLAH, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 76:1-13. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, umat Israel sangat paham bahwa Allahlah yang maju memerangi para musuh mereka (bdk. Yosua 24:12-13).
Demikian juga Mazmur 76 menggambarkan hal yang sama. Pemazmur melihat Allah sebagai Pahlawan Perang yang perkasa. Ia mematahkan panah berkilat, perisai, pedang, dan alat perang (ayat 4). Orang-orang yang berani dan gagah perkasa dari pihak musuh kehilangan kekuatannya dan mereka dijarah oleh Allah (ayat 6). Sebegitu perkasanya, Allah cukup menghardik dan semua musuh serta kuda mereka tertidur lelap (ayat 7). Semua pemimpin atau pun raja patah semangat dan tidak tahan menghadapi murka Allah (ayat 8 dan 13). Bahkan, bumi pun takut dan tertegun mendengar keputusan-Nya (ayat 9). Ternyata, murka Allah itu ditujukan untuk menyelamatkan semua orang yang tertindas di bumi (ayat 10). Karenanya, Pemazmur menutup mazmurnya dengan meminta umat membayar nazar dan memberikan persembahan kepada Tuhan yang ditakuti (ayat 12).
Sahabat, Pemazmur menekankan bahwa dalam setiap peperangan, Allah yang berperang bagi umat-Nya. Di tangan Allah yang perkasa, musuh mereka yang begitu kuat kehilangan kuasanya dan mudah ditaklukkan. Karena itu, umat perlu bersyukur kepada Allah yang memenangkan peperangan bagi mereka. Hal senada juga ditegaskan oleh Rasul Paulus bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12).
Secara manusia kita tidak akan mampu menang melawan serangan Iblis, tetapi bersama Tuhan kita akan dapat mengalahkan Iblis beserta pasukannya. Jadi kita harus kuat di dalam Tuhan, yang artinya kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Ada dua fungsi alat perlengkapan perang itu yaitu perlengkapan untuk bertahan dan perlengkapan untuk menyerang. Perlengkapan untuk bertahan adalah iman, yang berfungsi sebagai perisai (Efesus 6:16); sedangkan perlengkapan untuk menyerang adalah firman Tuhan (Ibrani 4:12 a-b).Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pengalamanmu pribadi apa saja yang telah kamu lakukan agar dapat mengalami kemenangan dalam peperangan rohani dari hari ke hari. Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Bapa, ajarkan kami untuk mengerti bahwa hidup adalah medan peperangan rohani. (pg)




